indonesia-map

Indonesia, negara yang memiliki lebih dari 200 juta penduduk. Dengan penduduk sebanyak ini tentu saja anda sudah berpikir pasti banyak penduduk yang mempunyai kendaraan. Ya, ada lebih dari 100 juta kendaraan di Indonesia terhitung sampai 2016, dengan sekitar 10 sampai 15 persen adalah mobil. Lebih dari sepuluh juta mobil!

Indonesia juga kaya akan budaya dan Sumber Daya Alam. Tidak heran apabila kendaraan niaga seperti pick-up, truck, dan bus sangat populer dalam kemajuan ekonomi dan pariwisata di Indonesia.

Toyota telah menjadi salah satu pemain utama di dunia otomotif Indonesia. Mereka sangat menganggap Indonesia sebagai pasar yang strategis. Permintaan kendaraan sangat besar, dan investasi milyaran dolar pun dilancarkan untuk membuat pabrik serta memperluas jaringan penjualan dan after sales service. Saking luasnya, saya pernah ketika berlibur melewati kota kecil banyak dealer resmi Toyota bentuknya hanya ruko yang muat 1 mobil. Ini gila! Segitunya mereka membangun jaringan penjualan sampai tempat sekecil itu pun bisa jadi dealer.

Mengapa Toyota populer? Karena mereka disebut – sebut memiliki produk yang “sesuai kebutuha masyarakat”. Apa sih kriteria “kebutuhan masyarakat” di Indonesia? Mari ulas satu persatu.

1. Spacious

Bukan, bukan Kijang yang ini…..

toyotakijang

Toyota Kijang generasi ke-empat, Kijang paling populer, dan memiliki julukan “Kijang Kapsul” karena bentuknya yang membulat mirip kapsul dibanding model sebelumnya.

Toyota sangat terkenal dengan produk mereka Kijang. Kijang, merupakan nama hewan. Tetapi sebenarnya merupakan akronim dari “Kerjasama Indonesia JepANG”. Berikut adalah video perjalanan Toyota Kijang.

Official Video dari akun Toyota Motor Manufacturing Indonesia tentang perjalanan Toyota Kijang

Kijang, sebenarnya adalah kendaraan niaga, tetapi karena kepopulerannya, dan demi memenuhi permintaan masyarakat, Kijang disulap menjadi minibus / mobil keluarga. Dimulai dari Kijang Doyok (generasi kedua) yang sering di-modifikasi dengan bodi minibus, hingga akhirnya Toyota mengeluarkan sendiri Kijang minibus di generasi ketiga (Kijang Kotak). Dari sinilah Kijang menjadi ikon mobil keluarga Indonesia. Orang Indonesia sangat suka bepergian bersama – sama mengajak semua sanak saudara, karena itu mobil yang muat banyak menjadi populer. Bersamaan itu pula Kijang mulai memiliki kompetitor seperti Isuzu Panther dan Mitsubishi Kuda…. Kijang, Panther, Kuda… Sepertinya lebih mirip rantai makanan dibanding persaingan.

Sampai sekarang pun kalau lihat penjualan mobil di Indonesia, mobil keluarga 3 baris masih paling populer dibanding mobil kompak atau SUV.

2. Harga Murah, Irit bahan bakar, Irit perawatan.

Naiknya harga Kijang membuat Toyota memutuskan untuk membuat “adik” dari Kijang, bernama Toyota Avanza,  merupakan produk kerjasama antara Toyota dan Daihatsu. Avanza memiliki saudara berlogo Daihatsu, Xenia.

hargamobiltoyotaavanzatahun2004-2009bekas

Toyota Avanza generasi awal.

Dengan harga mulai dari  80 juta rupiah untuk Avanza (E 1.300cc M/T) dan 60 juta untuk Xenia (Mi 1.000cc M/T). Publik begitu antusias menyambutnya. Kedua mobil ini menjadi sangat populer hingga sekarang. Kenapa sangat diminati ? Ada faktor lain selain kemampuan angkut yang menjadi permintaan masyarakat Indonesia : Harga.

Orang Indonesia sangat sensitif soal harga. Kijang menjadi mahal ketika berevolusi ke generasi kelima (Innova), dan saat kedua mobil ini diperkenalkan, tidak ada mobil lain yang sanggup mengangkut 8 penumpang dengan nyaman, bermesin depan, yang lebih murah dari Avanza/Xenia. Selain itu ada hal lain yang membuat kenapa Avanza begitu diminati : Irit bahan bakar. Kijang bermesin bensin memiliki kapasitas 2000cc yang sangat boros bahan bakar. Berbeda dengan Avanza yang hanya bermesin 1.000 – 1.300 cc saat itu berkode EJ-DE (1.000) dan K3-DE (1.300), kemudian dikembangkan menjadi EJ-VE dan K3-VE, lalu diperkenalkan 3SZ-VE (1.500cc) yang sudah diberi teknologi VVT-i, pastinya jauh lebih hemat bahan bakar. Walaupun Kijang memiliki varian diesel, tidak semua masyarakat Indonesia menyukai mesin Diesel karena berasap dan getarannya kuat. Murah, muat banyak, irit bahan bakar. 3 hal yang sudah menjadi jaminan mobil ini laku.

Tidak hanya murah, Avanza/Xenia juga mudah dan murah perawatannya. Bisa berjalan dengan normal dan tanpa ngelitik / knocking walaupun memiliki rasio kompresi 10 : 1 dan menggunakan bahan bakar bersubsidi oktan 88. Keluarga kami sudah dua kali memiliki mobil ini : Daihatsu Xenia 1.3 Automatic 2011 dan Toyota Avanza Veloz 1.5 Automatic 2012. Saya cukup kaget ketika mengetahui shock absorber belakang mobil ini hanya seharga 300 ribu rupiah satu buah. Sangat murah! Tapi tentu saja, ada harga ada rupa. Mobil ini kurang nyaman melintasi jalan bergelombang. Tetapi untuk orang yang cuek dengan perawatan, Avanza/Xenia adalah pilihan yang pas, hampir semua montir di setiap pelosok Indonesia bisa merawat Avanza/Xenia. Bahkan saking umumnya, mobil ini menjadi mobil yang “susah disalip” karena setiap anda menyalip Avanza, di depannya ada lagi.

wpid-10421610_370408663133554_6368059226908595894_n

Bagaimanapun, Avanza tetap memiliki banyak isu di balik kepopulerannya. Regulasi pemerintah yang belum mewajibkan safety equipments seperti Airbag dan ABS membuat Avanza digadang – gadang menjadi mobil yang sangat tidak aman. Avanza generasi pertama tidak memiliki Airbag, ABS hanya di tipe S 1.500cc, dan tidak memiliki Side Door Impact Beam, yang sering dijadikan bahan black campaign merek kompetitornya. Avanza dan Xenia mendapat pukulan telak soal safety dan kenyamanan semenjak diserang oleh Suzuki Ertiga, dan terakhir pukulan telak dari Honda Mobilio di tahun 2014 yang sempat hampir menggoyahkan takhta Avanza di awal kemunculannya. Akhirnya Avanza mendapat pembenahan di sisi kenyamanan dan keselamatan di tahun 2015 dengan disematkan airbag dan ABS di semua tipe, termasuk Side Door Impact Beam yang sudah terpasang sejak model generasi kedua (2012), dan peredaman suspensi yang ditingkatkan menjadi lebih baik.  Baik Avanza/Xenia, Mobilio, dan Ertiga kini menjadi pilihan utama keluarga Indonesia sebagai transporter mereka.

Tetapi melonjaknya harga Avanza dan Xenia membuat Toyota-Daihatsu kembali menciptakan proyek “mobil kembar” ke-empat setelah Rush-Terios dan Agya-Ayla… yaitu Calya-Sigra yang juga bagian dari proyek LCGC (Low Cost not-so Green Car). Dengan konsep “muat banyak irit BBM harga murah” kembali, mobil ini mulai memadati jalanan Indonesia mengalahkan kakaknya, Avanza dan Xenia.

 

(Astra) Toyota Calya, Best Selling Car berikutnya?

3. Good Resale Value

 

Masyarakat Indonesia sangatlah ahli dalam hitung – hitungan ekonomis. Karena itu harga jual kembali menjadi faktor yang juga menentukan apakah mereka akan membeli suatu mobil atau tidak. Depresiasi diperhitungkan dengan baik bahkan sebelum mobilnya dibeli. Dan karena mobilnya populer plus permintaan banyak, mobil seperti Kijang dan Avanza juga populer di pasar mobil bekas dan harganya sangat bertahan.

Seorang rekan saya di tahun 2010 membeli sebuah Avanza G Manual, tipe terlaris dari Avanza. Tahun depannya mobil itu dijual, dan diganti dengan apa? Avanza G Manual baru. Dan yang mengejutkan ia tidak perlu menambah sepeserpun dari harga Avanza lamanya. Jika tanpa menghitung inflasi saja, Avanza rekan saya yang lama ini berarti terjual lebih mahal dari harga barunya, alias terapresiasi. Mengerikan bukan?

Tetapi dengan ketatnya kompetisi dan makin banyak jenis mobil, Avanza tidak lagi “gila” di pasar mobil bekas. Tahun lalu bapak saya membeli Avanza Veloz 2012 Automatic bekas hanya senilai 140juta Rupiah. Pada tahun 2012 ketika masih baru, mobil itu seharga 187 juta Rupiah. Bukan, bukan karena ini tipe Veloz yang kurang populer. Tipe populernya, G Manual juga tidak se-kuat dulu lagi. Walaupun tidak bisa dibilang hancur juga harganya.

Inilah 3 hal yang menurut saya adalah “kebutuhan masyarakat di Indonesia”. Walaupun menurut saya lagi, merek lain seperti Honda dan Suzuki membuat mobil yang lebih baik, dan saya bukanlah penggemar Toyota (malah saya cenderung kurang menyukai produk Toyota), tetapi bagaimanapun mereka adalah market leadernya, itu faktanya.

Disclaimer : Saya tidak dibayar atau terafiliasi dengan Toyota.

Beberapa gambar disini bukan properti saya, hanya mengambil dari Google saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *