foto-headline-biaya-service-lcgc-30000-km

Harga mobil semakin mahal, orang semakin sulit mempunyai mobil. Itulah ide awal dari “Low Cost Car”. Pemerintah Indonesia membuat regulasi “Low Cost Green Car” atau “LCGC”. Ini adalah regulasi bebas pajak untuk mobil dengan spesifikasi tertentu, berdasarkan aturan pemerintah no. 41 tahun 2013 tentang Pajak Kendaraan Mewah :

  1. Harus dirakit di Indonesia (CKD) dengan minimal 60% konten lokal.
  2. Konsumsi bahan bakar harus minimal bisa menyentuh 20 km/l dengan bensin oktan 92
  3. Kapasitas mesin tidak lebih dari 1.200cc untuk bensin dan 1.500cc untuk Diesel.
  4. Harus menggunakan nama brand lokal dan logo yang mencerminkan Indonesia

LCGC adalah regulasi yang baik, membuat mobil semakin terjangkau untuk masyarakat bawah. Orang yang dulunya hanya memiliki sepeda motor, sekarang bisa mengajak keluarganya jalan – jalan dengan aman dan nyaman, tanpa kuatir kepanasan dan kehujanan. Beli mobil itu tidak salah, semua orang punya hak asal ada duitnya, dan penjualan mobil baik berarti ekonomi maju.

Tetapi ada banyak sekali masalah dengan “LCGC” ini :

1. “Green”

daihatsu-ayla-engine_

Mereka mengklaimi mobilnya “green”, memangnya apa yang “green” dari LCGC? Masih menggunakan motor bakar konvensional, bahkan kebanyakan tidak mempunyai teknologi bukaan katup, padahal itu teknologi sudah lama sekali. Turbocharger? Nope, jangan harap. Masih diperparah dengan kewajiban konsumen level ini menggunakan BBM oktan 92 yang tidak disubsidi supaya tidak “membebani” subsidi BBM… Hellooo? Yang pake mobil mewah masih ngisi BBM bersubsidi banyak. Kok masyarakat yang katanya cuma mampu beli “mobil murah” malah disuruh ngisi oktan 92?

Bagi saya, kata “green” itu memiliki makna yang dalam. Bukan sekedar hemat bahan bakar lalu dikatakan green, tetapi juga pemanfaatan energi alternatif. Mobil listrik atau fuel-cell, boleh dikatakan green karena menggunakan energi alternatif. Lah ini, boro-boro teknologi bukaan katup. Kei-Car Jepang yang kapasitas kecil pakai Turbo aja nggak ngaku-ngaku Green loh. Kalo masih pakai bahan bakar fossil, jangan pakai embel – embel “green”. Tidak masuk esensi sama sekali. Padahal Kei-Car itu dijamin pasti lebih “green” daripada LCGC kita.

Jadi, tolong nggak usah bawa – bawa istilah “green”. Cukup “low cost car” aja.

Jadi pada nangkep kan kenapa saya pake gambar Lamborghini warna hijau? =)) . Karena sebuah Lamborghini Aventador V12 bahkan masih lebih “green” karena jarang dipake.

2. Jenis Mobilnya Citycar / Hatchback

review-mobil-lcgc

Jika tujuannya adalah masyarakat supaya bisa mudah punya “mobil”, masyarakat desa lebih butuh mobil sebenarnya. Saya beberapa kali lewat jalan pedesaan, sangat sering lihat pekerja – pekerja menggunakan motor atau pick-up butut mereka yang tinggal tunggu waktu kapan rontok, buat angkut komoditas mereka. Beberapa bahkan harus berjuang dengan jalan yang licin dan berlumpur dengan mobil yang kebanyakan 2-wheel drive.

Kenapa tidak membuat pick-up four wheel drive kecil untuk mendukung ekonomi masyarakat desa? Four-wheel drive dengan locking differential akan sangat membantu masyarakat desa yang jalannya sudah tidak wajar.

Tetapi sedihnya, mobil four-wheel drive atau dobel gardan malah dikenai pajak lebih disini. Padahal mobil seperti ini lebih berguna di jalanan Indonesia.

Mobil dengan konsep “low-cost” harus pula bisa mendukung ekonomi.

3. Transportasi Umum

Bus TransJakarta, moda transportasi umum yang populer di Ibukota

 

Ketika anda mengaku “green”, bukan hanya mobilnya yang “green” tetapi gaya hidup kita juga harus “green”. Punya mobil itu nggak salah, tapi bahkan ke warung kopi yang jaraknya cuma beberapa meter dari rumah aja pakai mobil / motor. Pergi ke sekolah, kampus, kerja, jalan – jalan, pacaran, liburan keluarga, semua pakai mobil. Lebih parahnya banyak motor bebek / skutik dipakai untuk perjalanan luar kota, dan mobil citycar yang memang diciptakan untuk perkotaan juga dipakai untuk luar kota. Padahal kedua benda ini tidak diciptakan untuk perjalanan jauh. Menurut saya ini bukan hal yang ideal. Membuat beli mobil di Indonesia rasanya merupakan ide buruk karena menambah kemacetan.

Kenapa hal ini terjadi? Karena kita nggak punya transportasi umum yang memadai. Image transportasi publik di Indonesia buruk karena seringnya terjadi kriminalitas, plus tidak nyaman juga. Bahkan pengemudi transportasi umum ini juga tidak aman, nyetir ugal – ugalan, ngetem sembarangan. Mobil murah itu bukan solusi kalau transportasi umum masih belum diperbaiki.

4. Target Konsumen Salah

 

Mobil murah SEHARUSNYA mentarget konsumen menengah ke bawah. Orang yang dulu pakai sepeda motor, bisa punya mobil. Tapi hasilnya? Dari pengamatan saya kebanyakan pengguna LCGC adalah :

  • Anak muda yang baru belajar nyetir dan dikasih mobil sama orang tuanya
  • Orang yang ganti mobil lama mereka tapi merasa mobil baru sekarang kemahalan jadi beli yang murah aja.
  • Ibu – ibu rumah tangga yang pelit dengan anggaran bulanan sehingga beli mobil yang asal jalan dari A ke B, murah, irit bahan bakar.

Faktanya, mobil – mobil “murah” ini tidak lagi murah. Mari kita simulasikan dengan LCGC termurah yang bisa kita dapat : Daihatsu Ayla D Manual, 88.7 Juta Rupiah. Dengan 30% DP dan cicilan 5-tahun, bulanannya masih lebih besar dari 1 juta per tahun, belum terhitung dengan bunganya. Belum jika masih ada tagihan sewa rumah, pengeluaran bahan bakar, dan kebutuhan harian. Seorang dengan gaji 5 juta sebulan tidak akan sanggup, kecuali anda single. Dan itu tentu saja Ayla paling murah, tidak ada ACnya! Siapa hari gini yang mau beli mobil gak ada ACnya? Kayak pick-up aja. Safety? Jangan harap. Inilah mengapa target konsumen mobil murah ini meleset.  Low cost car hanya pilihan, bukan solusi.

Adapun yang memang “naik kelas” dari sepeda motor, rata-rata nggak tau aturan semua, kebiasaan roda duanya masih kebawa. Jalan pelan di lajur kanan, lebih buruk lagi jalan di tengah – tengah jalur, berhenti di depan garis marka, parkirnya sembarangan. Lupa mas kalo ukurannya udah lebih gede 4 kali lipat?

b1vkvn_ceaekand

motorway_sign

5. Safety

car_crash_ah_22423

Fuhh…. Harus sedih kalau bicara safety di dunia otomotif Indonesia. Regulasi yang ngatur? Nggak ada. Cuma diwajibin punya seat belt 3 titik tok.

Akibatnya? Perangkat safety jadi jurus paling ampuh buat kurangin cost dan ningkatin profit. Saya miris…. Miris liat kenapa cuma orang berduit yang layak dapet safety memadai? Emang Tuhan di kitab agama manapun pernah bilang yang berduit lebih layak hidup? Mereka wujudnya sama, tangannya dua, kakinya dua, matanya dua, mulutnya satu. Cuma beda tebel kantong doank. Kenapa yang namanya ABS cuma ada di tipe tertinggi? Dan lebih parah terkadang tipe manual nggak dikasih rem ABS? Mereka tetep manusia walaupun jago nyetir manual. Bisa meleng sesaat kalo liat cewek cakep jalan.

2012_honda_fit_4dr-hatchback_base_fq_oem_1_500

Yang namanya ngurangin cost, ya gantilah velg racing / alloy dengan velg besi, power window jadiin engkolan juga gakpapa, spion lipat elektrik masih oke buat diilangin, bumper bisa kan gak usah dicat? Aksesoris diilangin, peredam dikurangin, jok kulit lepas deh. Gak harus pangkas keamanan demi kurangin harga kan? Itu bahaya, apalagi kalau musim libur lebaran dimana mobil pada bertebaran di jalan dipadu dengan skill driver yang sangat beragam karena SIM nya entah dapetnya pake cara apa, plus capek capeknya mereka di jalan. Resiko cilaka nya gede.

Harapan saya, tolong kalau bikin regulasi dipikirkan baik – baik. Hapus pajak buat mobil hybrid dan 4WD, kalo bisa subsidi berdasarkan tingkat emisi. Makin bagus pajak makin ringan, dan tentu saja soal safety harus dibuat regulasi ketat biar enggak terjadi lagi ABS atau Airbag dipangkas biar murah.

Sangat lucu kalau orang main ke Indonesia dengar harga Prius seharga dengan Camry, padahal Prius bukan mobil mewah sama sekali tapi kena pajak dobel karena dianggap punya dua mesin.

Plus, hilangkan kata green. Low-cost Car lebih terdengar oke.

Disclaimer : Gambar – gambar disini hanya saya catut dari Google. Bukan properti pribadi saya.

3 thoughts on “[Article] The Low Cost (not-so) Green Car

  1. Pertamax…..makasih ulasan tentang mobil lc(g)c nya..
    Bener juga, belum bisa di katakan green car sepenuhnya.

    Akhirnya, meski sambil ingat2 dan mikir ternyata bahasa inggris yg sy pelajari waktu skolah n kuliah masih nyantol dikit d kpala ane..
    btw kalau bisa kasih pilihan bahasa indonesia jg om chz.
    jujur sy yg sudah jarang sekali pakai bahasa inggris, agak lali lali eling bahasa inggris, coz sehari2 pakai bahasa indonesia n jawa
    (faktor pekerjaan, lingkungan juga)

    Blog ini blm afdol kalau blm ada ulasan/review innova diesel a/t…
    Ngoahahaa..

    Semoga aja blog`nya semakin banyak d kenal masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *