Merawat kendaraan bisa dimulai dari hal sesimpel pemilihan bahan bakar. Karena kendaraan anda bergerak dengan adanya bahan bakar sebagai sumber energi. Dan yang namanya pembakaran, tentu kualitas sumber energinya sangat berpengaruh terhadap performa dan ketahanan komponen – komponen yang terlibat.

Di Indonesia bahan bakar bensin memiliki  banyak jenis : Oktan 88, Oktan 90, Oktan 92, dan Oktan 98. Oktan 95 masih tersedia di beberapa SPBU swasta. Bahan bakar diesel juga ada 3 jenis. Tidak banyak dari kita yang paham apa artinya dan bingung mau mengisi yang mana. Berikut sedikit bantuan saya untuk kalian yang bingung.

 

Ngelitik / Knocking

 

Kiri: Pembakaran Normal, Kanan : Premature / Auto ignition (lawrence selim)

Tentu kita nggak asing dengan istilah ngelitik. Ngelitik / knocking adalah sebuah gejala yang disebabkan oleh bahan bakar yang terbakar sebelum waktunya (auto ignition). Mengapa bahan bakar terbakar sebelum waktunya? Disinilah kita bicara tentang rasio kompresi.

93572-034-26c16785

Prinsip Kerja Motor Bensin 4-langkah (Kids.britannica)

Motor bakar bensin 4-langkah bekerja dengan urutan :

  • Campuran Udara + Bahan Bakar dimasukkan dari Intake Valve (Langkah Masuk / Intake)
  • Campuran dimampatkan (Langkah Kompresi/Compression)
  • Busi memercik dan mendorong piston ke bawah (Langkah Pembakaran / Combustion)
  • Piston naik untuk mendorong gas sisa pembakaran yang tersisa. (Langkah Buang/Exhaust)

Dengan memahami bahwa busi itu memercik saat piston/torak mencapai titik mati atas (TMA), kita tahu bahwa bahan bakar tidak boleh terbakar sebelum dipercik oleh busi. Bahan bakar yang tidak memiliki resistansi yang baik terhadap suhu, rawan akan terbakar sendiri (auto-ignition), inilah fenomena yang disebut knocking. Knocking berisiko mempercepat penumpukan kerak di kepala piston dan kepala valve, yang mengakibatkan menurunnya efisiensi dan keawetan mesin karena harus bekerja lebih keras.

Rasio Kompresi

tma_tmb

TMA dan TMB (Eko Godex)

Rasio kompresi adalah perbandingan volume ruang bakar ketika piston berada di TMB (Titik mati Bawah) dan TMA (Titik Mati Atas). Misal sebuah mobil memiliki Rasio Kompresi 10 : 1, berarti volume ruang silindernya 10 kali lebih banyak dibanding ketika piston di TMA. Semakin tinggi rasio kompresi, semakin baik udara termampatkan, semakin rendah suhu gas buang, dan semakin tinggi tingkat efisiensi termalnya. Tentu kita akan menginginkan mesin dengan rasio kompresi tinggi karena memiliki efisiensi termal lebih baik.

Tetapi mesin dengan rasio kompresi tinggi sangat rawan dengan ngelitik / knocking jika diisi dengan bahan bakar yang tidak memiliki resistansi terhadap suhu yang baik. Untuk itulah dikembangkan teknologi knocking sensor. Knocking sensor dapat secara otomatis memerintahkan mesin untuk memundurkan ignition timing / waktu pengapian ketika mendeteksi knocking sehingga tidak terjadi knocking. Akan tetapi tentu saja konsekuensinya adalah tenaga berkurang.

728px-adjust-timing-step-12-version-3

Memundurkan Timing Pengapian secara Manual di mobil – mobil lama (wikiHow)

Sebetulnya kalau praktek di mesin – mesin lama, ini sama saja dengan menggeser – geser baut distributor atau Delco.  Hanya saja perannya sekarang digantikan oleh ECU dan sensor knocking. Makanya jangan heran kalau mobil sekarang diisi BBM Subsidi oktan 88 nggak ngelitik walaupun rasio kompresinya 10 : 1.

 

Mazda Skyactiv-G (truthaboutcars)

Mobil sekarang seperti Mazda dengan teknologi SKYACTIV juga menggunakan direct injection seperti Diesel, sehingga bahan bakar langsung disemprotkan pada langkah kompresi. Mengurangi gejala knocking. Jadi mesin ini walaupun memiliki rasio kompresi 13 : 1 masih bisa menggunakan Bahan Bakar Oktan 90.

Honda VTEC TURBO, Contoh Mesin Turbo Modern (autosarena)

Untuk mobil bensin dengan induksi paksa (forced induction : Supercharger / Turbocharger) rasio kompresinya biasa dibuat rendah karena udara yang masuk sudah dimampatkan. Tetapi apabila udara yang sudah dimampatkan ini bercampur dengan bensin oktan rendah maka akan langsung terbakar. Oleh karena itu walaupun mesin turbo memiliki rasio kompresi rendah, bensin harus menggunakan oktan tinggi untuk mencegah auto-ignition. Solusi lainnya adalah Direct Injection untuk menghindari bercampurnya udara panas dengan bahan bakar sehingga tidak terjadi pre-detonation / auto ignition.

RON (Research Octane Number)

hybrid-all-octane-types

RON biasa digunakan sebagai indikator kualitas bahan bakar di Indonesia. Di beberapa negara seperti Amerika, yang digunakan adalah AKI (Anti-Knocking Index). Jadi jangan kaget kalau di Amerika bilang ada bensin RON 88, sebetulnya itu bensin dengan AKI 88, bukan RON 88. AKI sendiri merupakan angka yang didapatkan dengan menjumlahkan RON dan MON lalu dibagi 2. Tapi karena kita di Indonesia, yah, ngomongin yang di Indonesia aja deh, daripada pusing itung – itungan.

Intinya, makin tinggi angka RON, makin kuat resistansinya terhadap auto-ignition, atau bahasa lebih simpelnya ngelitik / knocking.

Angka Oktan adalah indeks penundaan pengapian dan seberapa tahan bahan bakar tersebut terhadap tekanan. Tetapi hal ini memiliki batas maksimal, semakin tinggi angka oktan TIDAK BERARTI semakin baik untuk kebutuhan mesin. Karena bicara ketahanan terhadap kompresi, apabila terlalu kuat berisiko ada bahan bakar yang tidak terbakar (unburnt fuel). Jika menggunakan bahan bakar oktan rendah harus dimundurkan Delco nya, menggunakan bahan bakar oktan tinggi harus dimajukan untuk menghindari adanya BBM tidak terbakar ini. Di mobil sekarang tentu ignition timing juga bisa maju otomatis, tetapi ada batasnya dengan mempertimbangkan kemampuan dari mesin itu sendiri. Intinya, ECU akan berusaha terus menyesuaikan dengan kondisi mesin saat itu.

Korelasi antara Rasio Kompresi dan Oktan Bahan Bakar, berikut dengan batas minimal-maksimal nya, dapat dilihat di tabel berikut.

compression-ratio-57b2b1d7ce9273d50c02f276

Sumber : Kompasiana ( http://www.kompasiana.com/yosepefendi/jangan-asal-latah-menjajal-pertamax-turbo_57b2ae38af9273fb101cac9e )

Bahan Bakar yang Terbaik adalah yang Direkomendasikan oleh Pabrikan

Industri Otomotif berisi orang – orang yang sudah berkecimpung di dunianya dan sudah ahli di bidangnya. Karena itu apapun yang direkomendasikan oleh pabrikan adalah yang terbaik untuk mobil anda.

Bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari pabrikan akan berisiko merusak mesin dan komponen – komponen di dalamnya. Internal mesin mungkin tidak rusak karena dibantu knocking sensor, tetapi fuel system lain akan terkena dampaknya. Fuel injectors, Busi, Fuel rail, Fuel pump. Karena zat – zat pengotor yang lebih berisiko terdapat pada bahan bakar oktan rendah. Bahan bakar oktan tinggi biasanya memiliki zat detergent sebagai pembersih di fuel system. Ngirit biaya nya nggak seberapa, dampak nya yang mengerikan.

Sebaliknya bahan bakar beroktan lebih tinggi dari rekomendasi pabrikan hanyalah pemborosan. Tidak ada dampak signifikan pada performa maupun kehematan bahan bakar. Bahan bakar oktan tinggi TIDAK membuat mesin anda menjadi lebih kencang, karena yang menentukan output adalah densitas / kepadatan energi yang terdapat pada bahan bakar. Bahan bakar oktan rendah dan tinggi bisa saja memiliki densitas yang sama. Berpindah ke bahan bakar oktan lebih tinggi tidak menambahkan oksigen maupun hidrogen, tenaga mobil tidak akan bertambah. Jangan mudah termakan iklan dari perusahaan bahan bakar!

Cara mengetahui bahan bakar yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan, bacalah pedoman pemilik.

References :

https://en.wikipedia.org/wiki/Octane_rating

http://www.kompasiana.com/yosepefendi/jangan-asal-latah-menjajal-pertamax-turbo_57b2ae38af9273fb101cac9e

Disclaimer : Gambar – gambar diatas bukan properti saya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *