Kendaraan Diesel belakangan cukup diminati di Indonesia. Kendaraan diesel populer karena memiliki torsi besar di putaran rendah dan konsumsi bahan bakarnya irit. Sehingga memenuhi ekspektasi masyarakat tentang mobil yang “kencang” tapi irit…. Walaupun aslinya juga mobil diesel nggak kencang-kencang amat, cuma ngangkatnya lebih enak aja karena torsi besar… Hehehe…

black-isuzu-panther

Isuzu Panther, salah satu pionir mobil Diesel di Indonesia (otomaniac)

Mobil Diesel juga memiliki tingkat thermal efficiency yang tinggi dibanding bensin dan 1 gram bahan bakar diesel memiliki tingkat energi lebih besar dari bahan bakar bensin, sehingga torsinya besar.

Di bagian dua ini kita akan ngomongin bahan bakar Diesel. Mesin diesel memiliki cara kerja yang berbeda sekali dengan bensin. Mesin ciptaan Rudolf Diesel ini bekerja memanfaatkan suhu dan tekanan di ruang bakar untuk membakar BBM, atau biasa disebut compression ignition / penyalaan kompresi. Dengan kata lain, kalau kendaraan bensin perlu dipercik dahulu sehingga bahan bakarnya harus memiliki resistansi yang baik terhadap suhu dan tekanan supaya tidak terjadi auto-ignition, bahan bakar diesel justru sebaliknya. Ketika disemprot ke ruang bakar harus mudah terbakar. Memilih bahan bakar di mesin Diesel ini tidak se-kompleks mobil bensin, tapi tentu ada banyak yang harus diperhatikan. Mesin Diesel juga sangat minim gejala knocking / ngelitik, apalagi untuk mesin diesel modern yang sudah Direct-Injection.

Direct dan Indirect Injection (Jensales)

Cetane Number 

0900c152801c810a

Perbedaan Cetane dan Octane Number (autozone)

Cetane Number (CN) bisa dibilang adalah lawan dari Octane Number di bensin. Semakin tinggi angka Cetane, semakin mudah BB Diesel untuk dibakar. Tipikal motor bakar diesel bekerja dengan CN sekitar 40 – 55.

Untuk yang beredar di Indonesia, Solar bersubsidi memiliki CN 48, DexLite CN 51, dan PeratminaDEX CN 53. Tetapi yang menentukan kualitas dari suatu bahan bakar diesel juga adalah kandungan sulphur nya. Angka cetane boleh sama, tetapi kandungan sulphur nya berbeda. Dan ini yang jadi masalah di Indonesia.

Sulphur

12

Ilustrasi Ngebul (blog Toyota)

Kalau anda bertanya – tanya kenapa mobil secanggih Pajero Sport baru atau Fortuner baru ngebul, ya ini jawabannya. Asap hitam di mobil Diesel itu antara filter solarnya sudah kotor, atau mobil tersebut sudah di-tuning / ditingkatkan tenaganya sehingga rasio udara-bahan bakarnya dibuat lebih kaya.

Tingkat sulphur di bahan bakar diesel di Indonesia sangatlah tinggi, apalagi mayoritas pengguna mobil diesel ogah mengisi BBM menggunakan BBM Diesel yang mahal seperti PertaminaDEX. Padahal hanya PertaminaDEX yang memiliki kandungan sulphur dibawah 300 ppm (part per million) dan sudah memenuhi Euro2 compliance. BioSolar kandungan sulphurnya masih sekitar 3000 ppm. Sangat tinggi! Dan sejujurnya sudah tidak cocok dengan mesin Diesel Commonrail karena tekanan pada Diesel Commonrail lebih tinggi. Kotoran pada solar berisiko membuat filter solar cepat kotor, dan lebih parahnya untuk jangka panjang dapat membuat injektor mampet. Mesin menjadi kasar dan tidak bertenaga karena semprotan injektornya tidak merata.

Chevrolet Captiva merupakan salah satu mobil Diesel di Indonesia yang cukup over-spec dan tekanan injektornya tinggi (2000 MPa kalau saya tidak salah ingat, dimana 2KD-FTV di Innova masih 1.200 MPa dan 4D56T Pajero Sport di 1.800 MPa), dulu orang tua saya sempat memiliki Captiva 2008 Diesel dan kami mengisi Biosolar. Setahun kemudian sempat saya mencoba Captiva tahun 2010 yang lebih baru dengan mesin serupa. Guess what? Captiva saya rasanya loyo kalau dibanding yang terbaru. Jauh lebih loyo, jauh lebih kasar. Wondering…. Sepertinya faktor bahan bakarnya. Apalagi keluarga kami jarang memiliki mobil diesel sehingga tidak rajin membersihkan filter solar nya.

 

Diesel Particulate Filter (GEM Motoring Assist)

Ini juga alasan mengapa pabrikan – pabrikan Eropa seperti Audi masih maju mundur memasukkan line-up dieselnya. Kebanyakan diesel di luar negeri masih menggunakan alat bernama Diesel Particulate Filter (DPF) yang sudah menjadi standar untuk menekan emisi Diesel di luar negeri. Di Indonesia, DPF tidak bisa tahan dengan kandungan sulphur yang tinggi.

Jadi Bagaimana Memilih Bahan Bakar Diesel yang cocok untuk mobil anda?

Kalau masih menggunakan mobil diesel non-commonrail, penggunaan Solar kualitas rendah masih dapat ditoleransi. Tekanan injeksi nya masih rendah.

Tetapi ketika memiliki mobil diesel dengan teknologi common-rail, seperti Innova, Fortuner, Pajero Sport, sangat tidak direkomendasikan mengisi solar kaya sulfur. Belum lagi kandungan air dan lumpur di Solar subsidi cukup tinggi. Memang dapat di antisipasi dengan rajin mengganti filter solar dan rajin purging, tapi ketika komponen seperti injektor jebol, ngirit kantongnya nggak seberapa dengan ganti injektornya. Apalagi dengan diesel modern yang sudah menggunakan turbocharger, bukan tidak mungkin hasil pembakaran yang penuh dengan kotoran tersebut dapat merusak komponen turbo. Dilihat kasat mata saja sudah seperti cumi – cumi. Lagian mobil nya udah mahal, hemat bahan bakar lagi. Masak buat beli bahan bakar bagus aja itungan?

Untuk yang sudah sadar, isilah mobil Diesel anda dengan BBM Diesel yang berkualitas baik dan memenuhi standar Euro2 Compliance seperti PertaminaDEX.

Untuk yang belum sadar, rajin – rajinlah ganti filter solar dan purging, kasian orang yang menghirup asap kendaraan anda.

.diesel_purge_2_150113090158_ll

Purging merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan kalau hobi mengisi solar subsidi.

Disclaimer : Saya tidak dibayar oleh Pertamina atau pihak manapun.

Gambar – gambar disini merupakan gambar yang saya catut dari Google dan bukan properti saya.

 

2 thoughts on “[Perawatan] Memilih Bahan Bakar – Part 2 (Diesel)

    1. mobilnya standar atau sdh modifikasi om ? Di bengkel sdh pernah diperiksa pakai scanner apakah keluar DTC (Diagnostic Trouble Code) nya ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *