Yap, postingan kali ini adalah cerita pribadi saya dengan mobil harian yang sekarang saya pakai.

Sebuah Honda Civic generasi ke-9, berkode bodi FB2, rakitan 2012, transmisi Matik.

Civic generasi ke-9 adalah sebuah kontroversi, mobil ini begitu….. dibenci oleh para penggemar Civic termasuk mendapat review negatif dari para jurnalis otomotif terkemuka karena dianggap kemunduran dari generasi sebelumnya yang dianggap sebagai Civic paling baik dan awal naik kelasnya Civic ke level yang lebih tinggi. Civic berkode FD, generasi sebelum FB, memiliki desain yang lompat jauh dari zamannya, dari generasi sebelumnya, model dasbor bertingkat multiplex dengan digital speedometer yang terlihat canggih dan futuristik.

Dan kenapa sih, saya seorang penggemar Honda kok memilih mobil yang dianggap “gagal” oleh mayoritas fans Honda di dunia ini sebagai mobil harian?

Jujur aja setelah CR-V 2011 keluarga kami terjual pada awal 2016 kami bingung mau beli mobil apa, mulai dari Mazda CX-5 2013 yang batal beli di detik terakhir karena kurang teliti dikira 2.500cc ternyata 2.000cc, lalu berakhirlah kami di situs jual-beli mobil bekas online. Sebelumnya berpikir mau cari mobil kecil saja seperti Yaris, tapi bapak saya lalu menemukan sebuah Civic 2012 yang dijual murah. Yea, literally murah, dibawah harga pasaran. Dan lebih murah dari Toyota Yaris kondisi baru sekalipun, dimana Toyota Yaris merupakan mobil yang paling saya hindari. Keesokan harinya nego harga dan kami mendapat deal yang cukup bagus, langsung diDP saat itu juga.

Sayangnya kami harus menunggu sekitar 3 hari supaya mobil tersebut selesai dilucuti. Karena mobil tersebut bekas modifikasi cukup banyak, pemilik lamanya seorang mahasiswa. Dan saya baru sempat merasakan mobil ini …….. 3 bulan setelah dibayar karena banyak hal… Termasuk karena saya kuliah di Surabaya dan harus menyelesaikan skripsi S-1 saya.

Singkat cerita selesai saya skripsi dan ingin lanjut kerja di Surabaya, mengingat mobil yang lama sebuah Suzuki SX4 yang sudah cukup tua (2010) dan mileage nya cukup tinggi (Sekitar 82.000) dengan berbagai masalah… Civic ini akhirnya yang bernasib menggantikan SX4 tua saya.

Ada cerita lucu tentang SX4 itu, pembelinya adalah salah seorang teman bapak saya yang juga akan membelikan anaknya mobil untuk keperluan kuliah. Mobil tersebut akhirnya dilepas, dan anaknya kuliah di salah satu universitas negeri ternama di Surabaya juga. Ujung – ujungnya mobil itu bernasib kembali ke Surabaya….

Ketika saya dapatkan Civic ini memiliki odometer sekitar 37 ribu dan sekarang sudah 45 ribu. Sudah sekitar 6 bulan saya menggunakan mobil ini terus menerus untuk keperluan harian, dari awal saya bekerja yang mengharuskan saya pulang-pergi total 20 KM sehari sampai sekarang bahkan tidak perlu mengeluarkan mobil sama sekali dan mobil hanya dipakai untuk hang out dengan teman atau cari rekreasi di akhir minggu…

Riwayat mobil ini dulunya adalah mobil Test Drive dari salah satu Dealer Resmi Honda di kota Semarang. Waktu tangan kedua sudah tersentuh modifikasi hampir di semua sektor. Tidak heran, kondisi mobil ini sudah tidak bisa dibilang perfect lagi. Cacat – cacat minor sangat mudah dideteksi di mobil ini. At least masih belum masuk kategori “Lemon”.

Body and Design

Desain mobil ini mmmm gimana ya, tarikan garisnya sleek, agak mirip coupe, landai di depan dengan buntut pendek. Tapi tampangnya terlihat konservatif, cenderung mature dibanding FD1. Terlihat tidak menarik di jalanan, mungkin kalau badge Honda nya dilepas orang akan mengira ini sejenis Corolla saking tidak noticable-nya.

32602900751_cac2701d7c_c

dsc_3657

Waktu kami dapatkan body mobil ini mulus tanpa penyok tapi banyak bagian yang repaint, sudah belang di bagian fender depan kanan. Penyok tidak ada dan hanya lecet – lecet bekas pemakaian. Mobil ini sudah menjalani repaint hampir satu bodi, maklum namanya mobil dipake…

Clear coat hasil repaint mengelupas di pintu belakang dan bumper depan…

Yang saya suka lampu depan sudah mendapatkan modifikasi ringan dengan garis LED, bikin kesan eye catching kalo malam.

31883069544_75603082e4_c

31883203884_4860c51204_c

dsc_3646

32726064885_a1505963a3_c

Interior

Bagian favorit saya di FB adalah clusternya yang tetap mempertahankan multiplex two-level tapi terlihat lebih nikmat dipandang daripada FD. Jauh lebih tidak terlihat murahan di bagian cluster. Sisanya… Begitulah. Cheap materials dimana – mana, design bagian dalem tidak lagi terlihat menarik. Handbrake dan handle pintu tidak lagi berbentuk boomerang seperti FD. Pedal gas kembali menggantung, padahal FD dulu menempel ke tanah seperti mobil Eropa.

Kondisinya jangan ditanya… Too much scratches di bagian handbrake, setir, dan doortrim. As usual Honda…Doortrim yang asalnya warna abu-abu gelap diberi aksen carbon oleh pemilik lamanya dan….. sama sekali tidak rapi.

Rattle di glove box tengah dan door trim sebelah kiri.

img_20160702_145132

img_20160702_145153

img_20160702_144854

Flipkey nya juga terlihat sangat menyedihkan. Emblem mengelupas semua, penyakit kunci Honda dari zaman dulu. Lalu kunci yang tidak bisa melipat dengan sempurna.

img_20160702_165507img_20160702_165513

Di malam hari, interiornya terlihat cukup berkelas, mirip dengan kokpit pesawat

img_20160702_195853

Engine

img_20160702_144956

Mesin relatif tidak ada masalah, runs well, fuel consumption nya normal. Mungkin masalah yang mulai muncul adalah engine mounting mulai melemah karena getaran sedikit terasa. Tapi overall mesinnya masih tergolong sehat. Perawatan standar hanya tune-up, bersihkan filter bahan bakar (yang dugaan saya sudah ternoda dengan BBM subsidi. Jadi please, stop pemakaian BBM subsidi demi kesehatan mobil anda), dan ganti oli mesin di ODO 42k dengan Liquimoly Specialtec AA 5W-30.

Mesin R18Z1 ini mendapatkan minor refinement dari R18A1 di FD1, dengan teknologi i-VTEC yang sebenarnya, kalau mau ngomong VTEC kick in di mobil Honda bermesin R series SOHC ini agak kurang relevan, karena VTEC nya bertujuan untuk economy. VTEC nya berupa Eco-cam yang aktif di 1000 – 3500 RPM. Eco-VTEC dengan Variable-Length Intake Manifold. Agak terbalik dengan VTEC normal, high-output cam justru aktif ketika VTEC tidak menyala, untuk mengoptimalkan konsumsi bahan bakar ketika beban rendah / cruise. Ketika beban tinggi / high load justru VTEC nya OFF berganti ke cam default nya (high output cam).

1800ivtec_range

Range Operasi eco cam (paultan)

Dan ini sangat berbeda dengan VTEC performance, justru mobil ini performanya padat di mid-rev, mencapai high-rev di 5500 – redline power nya agak memble. Tapi seperti teorinya, mobil ini akan sangat hemat kalau dalam kondisi cruise terus menerus ketika Economy Cam nya bekerja. MID mencatatkan 15 km/l jika mobil ini dikendarai konstan 60 km/jam. Rata-rata yang saya dapatkan mengendarai mobil ini di kepadatan kota Surabaya adalah 9 km/l, teririt 9.3 km/l dengan oktan 92. Terhitung hemat karena ini sama dengan rata – rata konsumsi bahan bakar hatchback 1.500cc. Dan MID Honda ini salah satu yang cukup saya percaya karena deviasinya minim (sudah bandingkan real dan MID hasilnya paling banyak miss 0.2 saja).

Mobil ini sudah mengalami modifikasi di sektor Exhaust System menggunakan produk dari ORD Exhaust di bagian downpipe, resonator, dan muffler jenis ORD V2+. Saya pilih ORD karena faktor penasaran saja. Upgrade Exhaust System ini paling berasa peningkatannya di atas 4000 RPM, untuk di bawah itu peningkatannya sedikit. Belum diukur dengan mesin Dyno, tapi memang nafasnya lebih kuat di atas, mengcover kelemahan bawaan Engine R18 yang high-rev nya agak loyo, presumably karena mechanical loss bawaan akibat design SOHC. Konsumsi BBM setelah penggantian Exhaust tidak ada perubahan, malah dalam beberapa kasus lebih hemat bahan bakar. Kelemahan dari exhaust system ini menurut saya adalah suara dengung yang mengganggu di range kerja Eco-VTEC nya. Ketika VTEC nya sudah nonaktif suaranya seketika berubah menjadi kering, samar-samar terdengar seperti B-series. Nanti akan saya buat artikel sendiri mengenai modifikasi di sektor Exhaust System.

Transmission

Mobil ini menggunakan transmisi Otomatik 5-Percepatan dengan Sequential Mode / Paddle Shift dan Grade Logic Control. Bukan transmisi terbaik yang pernah saya coba. selipnya agak keterlaluan kalau creeping di lalu lintas, untuk nanjak pun kewalahan milih gear karena crawling ratio yang cukup rendah hanya 11.82.

Transmisi 5-AT Grade Logic Honda ini sebetulnya dari dulu diciptakan untuk mengoptimalkan efisiensi. Saya sum-up dalam bentuk poin – poin saja supaya nggak kepanjangan.

  1. Transmisi ini SANGAT anti pake gear 1 dan bisa shift as early as 10 kph ketika launch dan throttle hanya diinjak sedikit, sangat possible untuk mobil ini berjalan 50 kph di gear 5 dengan rev yang relatively very low. Relaxing untuk nyetir santai, annoying ketika butuh momen untuk nyalip harus gas penuh atau at least 1/2 throttle dia akan pakai gear 2 atau 3 which is enough untuk nyalip kendaraan seperti bus AKAP. Nyalip trailer, well harus gaspol supaya dapat momentumnya.
  2. Transmisi ini lock-up nya relatif cepat dan ketika mendeteksi high-load dari throttle, maka mobil ini bisa berubah dari mobil santai seperti point 1 menjadi “dijambak setan”. Imagine lagi cruise di 60 kph lalu butuh buat akselerasi berat transmisi akan naikin rev dan in a blink of eye… Mobil tiba – tiba berubah menjadi ganas karena gear 1 nya cukup agresif.
  3. Paddle shifters sangat-sangat membantu minimalisir hunting gear dan override lock-up nya ketika berakselerasi dan tidak akan upshift otomatis, memungkinkan untuk rev bouncing di limiter. Hal gak penting tapi menyenangkan untuk pengemudi antusias.
  4. Gear 3 ke 4 nya terlalu jauh, lalu gear 4 ke 5 nya terlalu dekat. Ini bisa dipahami karena gear 4 nya in some cases akan berfungsi seperti gear 5 di low speed (under 50 km/h) alias “overdrive” / mengurangi rev. Tapi ketika driving di jalan lancar / tol akan sangat terasa gear hunting di mode D. Antara mobil terlalu meraung di gear 3 untuk berakselerasi atau mode overdrive di gear 4/5. Solusinya tentu saja menggunakan paddle shifters.

Sempat ada masalah di awal pemakaian dimana ketika masuk gigi mundur saat cold start ada dengung kasar. Setelah dilakukan penggantian oli matik menggunakan Honda ATF DW-1 dengung tersebut hilang. Pada saat flushing terlihat kondisi ATF lama yang sudah menghitam padahal Odometer baru menyentuh 40ribu-an saat diflush. Lebih mengejutkan lagi, rekomendasi Honda melakukan flushing di odometer 60ribu. Lhah?

img_20160803_110424

Kondisi ATF yang sudah menghitam di 40ribu km.

img_20160803_104632

Direkomendasikan menggunakan Honda ATF DW-1  yang merupakan penyempurnaan dari ATF Z-1 sebelumnya.

Di tengah kebingungan saya dengan rekomendasi Honda ini, saya menghubungi mantan service manager Honda kenalan saya, beliau cukup kaget dengan temuan saya dan menyimpulkan, bisa jadi ini akibat dari penggunaan stop and go, kondisi jalan, dan cuaca yang cukup ekstrim. Jadi beliau merekomendasikan kepada saya untuk mengganti per 20ribu kilometer.

Handling, Braking, and Suspension

Mobil ini sudah menempuh jarak pemakaian sebesar 45ribu kilometer dan tidak ada issue di kaki – kaki, padahal konon katanya kaki – kaki Honda kurang awet. Nah saya buktikan sendiri, nih kalo kaki-kaki Honda gak se horror yang digosipkan. Kakinya pun masih senyap.

Tapi kalau berharap sporty driving di mobil ini sepertinya agak salah. Mobil ini walaupun EPS nya masih cukup memberikan feedback yang terasa sedikit, tapi ratio steeringnya slow. Heran padahal lock-to-lock nya juga pendek tapi steeringnya terasa slow, tidak punchy seperti Mazda. Mobil ini tidak limbung, tapi sepertinya orientasinya lebih ke smooth driving bukan sporty driving. Ini yang kebanyakan dikritik oleh jurnalis – jurnalis luar negeri. Steeringnya tidak terasa sharp.

Menyoal kenyamanan spring rate nya cenderung lembut tapi dengan karakter damper yang agresif membuat mobil ini sedikit terasa keras kalau dinaiki sendirian. Karena begitu ada penumpang di belakang spring rate nya malah jadi pas. Untuk kenyamanan FB2 lebih superior daripada FD1.

Satu hal yang saya praise dari mobil ini adalah karakter grip bagian belakangnya yang luar biasa. Bodyroll nya sedikit terasa ketika menikung tapi bagian pantat mobil tidak terasa membuang keluar atau liar, sangat sulit membuat bokong mobil ini bergeser karena gripnya luar biasa. Mungkin karena mobil ini memiliki batang stabilizer tambahan di mounting suspensi belakang (bisa terlihat di balik jok belakang ada batang melintang panjang seperti strut bar antara suspensi kanan-kiri) sehingga stability bagian belakangnya luar biasa. Mungkin ini juga yang membuat mobil ini sedikit keras kalau muatan kosong.

Braking mobil ini agak dalam, tapi feelnya mudah dapet dan mudah diprediksi. Untuk saat ini brake pads nya masih tersisa 50%. Sudah pernah dilakukan pengurasan minyak rem di ODO 40ribu kilometer. Walaupun setelah pemakaian 5000 KM entah mengapa minyak remnya sudah menghitam lagi…

Conclusion

So ends the first part of ownership review.

Dan berikut kesimpulan – kesimpulan tentang mobil ini :

Mobil Gagal?

Ya, ini adalah mobil gagal ketika kita bicara mengenai sebuah Honda, sebuah brand yang selalu meluncurkan inovasi – inovasi terbaiknya ketika mobilnya berubah model. Di Civic generasi ke-9 ini however, adalah generasi yang paling stagnan dan tidak membawa perubahan signifikan dari pendahulunya, yang malah terjadi penurunan kualitas akibat perusahaannya dilanda badai krisis keuangan. Tidak ada hal inovatif yang signifikan secara teknologi. Mobil ini juga gagal secara looks yang tidak menimbulkan rasa penasaran orang yang melihatnya. Presence mobil ini di jalan kalah dari pendahulunya, FD, apalagi penerusnya, FC yang kita tau kalau logo H nya ditutupin kita akan ngira itu mobil Eropa. Bahkan saya sebagai pengguna pun menempatkan FB ke jajaran Honda yang paling tidak saya sukai.

2016-honda-civic-112-vti-lx

Honda Civic FC, mimpi siang bolong saya.

Tapi ketika kita menggunakan kacamata orang awam dan menyingkirkan semua ekspektasi kita terhadap sebuah Honda dan berpikir bahwa kita ingin mobil yang enak dikendarai dan nyaman plus tampilan understated, Civic generasi ke-9 adalah mobil yang baik untuk dimiliki. Mobil ini enak dikendarai, mekanikalnya refined, pengendaliannya baik, dan dengan sedikit sentuhan di exterior mobil ini akan terlihat menarik. Intinya, bahkan sebuah kegagalan yang dibuat oleh Honda pun masih terasa cukup baik sebagai sebuah mobil.

Puaskah saya terhadap mobil ini?

Ketika mengemudikan mobil ini saya selalu berusaha menempatkan diri sebagai pengguna awam. Jadi jika ditanya puas atau tidak, jawaban saya : puas. Ya, saya cukup puas jika dibandingkan mobil lama saya (SX4). Dari segi power, pengendalian, kenyamanan, model, Civic FB unggul hampir di semua aspek.

Tapi ketika saya menempatkan diri saya sebagai pecinta Honda saya tentunya mengimpikan sebuah New Accord CR2 atau New Civic FC1 sebagai mobil harian… Jauh lebih ganteng dan jauh lebih proper. New NSX? Oh tentu saja saya kepengen dengan syarat ada yang mau sponsorin dari beli sampai ngerawatnya.

And Kudos to Honda, yang sekarang sudah kembali ke trah awalnya dengan lahirnya mobil – mobil seperti New Civic Type R dan NSX. NSX sendiri mendapatkan praise yang cukup baik dari jurnalis otomotif ternama – Chris Harris dengan predikat “budget Porsche 918” alias versi Pahe dari Porsche 918. Karena literally mobil ini resepnya lebih mirip trio hypercar LaFerrari/Porsche 918/Mclaren P1 yang menggunakan teknologi Hybrid dan carbon fiber chassis , dibanding Nissan GT-R.

2016-acura-nsx-top-inline-new-photo-657477-s-original

2016 Acura/Honda NSX, the wait is over.

Sebetulnya banyak orang yang salah kaprah memahami Honda saat ini dengan mengatakan Honda sekarang boring karena pake transmisi CVT – itu nanti lah, kepanjangan kalau dibahas disini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *