Di zaman sekarang mobil semakin banyak macamnya, dan semakin canggih pula teknologinya. Mulai dari berubahnya teknologi dari karburator ke fuel injection lalu populernya mobil – mobil bermesin kecil dengan turbo dan hybrid. Bahkan teknologi komponen – komponen pendukungnya pun juga tidak kalah.

Walaupun begitu di Indonesia banyak sekali pendapat – pendapat awam yang tidak relevan dengan perkembangan teknologi otomotif saat ini.

Nah, apa saja sih pendapat – pendapat yang udah nggak relevan dengan masa kini?

1. Mesin mobil perlu dipanasin sebelum jalan.

Topik ini selalu menjadi perdebatan di kalangan pengguna awam apakah mobil sekarang perlu “dipanasin” terlebih dahulu atau tidak.

Nah, sekarang mari berpikir sebentar, kenapa sih mesin mobil perlu dipanasin?

Pada saat pertama dinyalakan, temperatur mesin mobil itu masih dingin. Di suatu mesin pembakaran dalam pasti memerlukan yang namanya temperatur optimal, atau suhu kerja. Tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Ini juga sebabnya mobil memerlukan sistem pendinginan supaya tidak terlalu panas / overheating. Tetapi juga tidak boleh terlalu dingin. Nah, makanya kenapa pada saat suhu dingin / cold start itu jarum tachometer / RPM selalu bergerak ke titik lebih tinggi dari idle normal. Di mobil Karburator istilah ini dinamakan “choke-start“. Ini adalah upaya memperkaya campuran bahan bakar di ruang bakar, karena temperatur yang rendah bahan bakar sulit terbakar, jadi campuran harus dibuat lebih kaya. Inilah mengapa memanaskan mesin itu penting : menunggu mesin mobil mencapai suhu optimal.

Di fase kritis ini tentu saja hal yang sangat krusial adalah temperatur, dan peran oli sangat signifikan untuk menjaga temperatur supaya tidak terlalu tinggi / overheating. Masalahnya di saat temperatur rendah / dingin oli sulit mengalir, sehingga di jaman dahulu memanaskan mobil perlu cukup lama – supaya oli bisa bersirkulasi dengan baik.

manual_choke

Choke Start di mobil – mobil berkarburator

Nah di zaman yang sudah canggih dan semua mobil menggunakan fuel injection, campuran bahan bakar sudah diatur oleh ECU, sehingga memanaskan mobil tidak perlu lama – lama, relatif singkat. Tidak ada patokan waktu pasti, yang harus diperhatikan adalah jarum temperatur, atau jika mobil tidak menggunakan jarum temperatur cukup perhatikan apabila indikator suhu Cold sudah hilang berarti sudah memasuki suhu kerja. Akan lebih baik jika memanaskan mobil ini dilakukan sambil jalan pelan / digelindingkan saja supaya semua komponen seperti differential dan transmisi juga mendapat pelumasan yang baik.

stock-photo-motor-temperature-gauge-of-a-car-390552499

Jarum Indikator temperatur, biasanya tepat sebelum garis tengah

Pun oli sekarang rata – rata multi-grade full-synthetic yang sanggup bersirkulasi di temperatur di bawah nol derajat celcius sekalipun (winter, ditandai dengan huruf W di spek oli) sehingga waktu sirkulasinya menjadi relatif lebih singkat.

oilchange

Oli Full Synthetic Multi-grade. Spek yang direkomendasikan pabrik bisa dilihat di buku manual pemilik. Di Indonesia yang terpakai biasanya hanya angka belakangnya saja (misal 5W-30 bisa di substitute ke 10W-30 yang lebih murah) karena di Indonesia suhu tidak pernah di bawah nol. 

2. Mobil sekarang ‘tuh lembek – lembek. Beda sama mobil dulu kokoh bodinya.

Ini komentar yang sering kali saya dengarkan, masih banyak yang beranggapan bahwa keras = kuat. Memang, mobil sekarang terkesan “lembek” karena bumper plastik, fender plastik, dan kebanyakan diganti dengan plat lebih tipis. Lagi – lagi ini teori yang paling enggak relevan di 2 dekade terakhir ini.

Keras belum tentu baik. Banyak yang udah mikir jelek “ni pabrikan mau ngurangin ongkos dan nambah cuan (cuan = keuntungan)?”. Wowowowow… Don’t get too rushed.

Harus diingat bahwa mobil itu fungsinya membawa penumpang dan memiliki ruang kabin. Ruang kabin ini yang harus dilindungi ketika terjadi tabrakan parah. Jadi bagaimana caranya? Yap, dengan adanya bagian yang menyerap benturan. Bagian ini dinamakan “crumple zone“. Bagian yang “sengaja” dibuat lembek untuk menyerap benturan dan melindungi rangka utama. Bumper, sebagai  bagian yang paling awal menerima benturan harus terbuat dari bahan yang elastis. Itulah mengapa plastik dipilih untuk “melindungi” anda dibanding besi yang malah “membunuh”. Besi tidak elastis dan tidak menyerap benturan dengan baik, sehingga alih – alih diserap, impak dari benturan malah diteruskan ke kabin. Makanya enggak heran kita menemui mobil lawas yang masih bemper besi kecelakaan, mobilnya utuh tapi penumpangnya patah tulang bahkan meninggal dunia.

crumple-zones

Gambaran crumple zone

Yea, “Lembek”

Yang harus dibuat kuat itu sasis atau shell / cabin. Bukan bempernya. Karena itu mobil sekarang rangka nya ada yang dari aluminium bahkan carbon fiber, bahan yang ringan tapi kuat. Semua teknologi safety sekarang memiliki tujuan untuk melindungi penumpang di dalamnya, seperti Collapsible Steering Column dan Engine Drop. Untuk teknologi safety akan kita bahas di artikel lain. Ini yang menjadi indikator aman  / tidaknya mobil di suatu safety testing / NCAP (New Car Assessment Program) selain Airbag.

Selain itu manfaat dari mobil yang “lembek” ini selain lebih aman juga mengurangi bobot sehingga mobil lebih ringan dan bahan bakar tentu lebih irit.

3. Mobil Matik rawatnya susah dan lebih gak awet.

Nope, seriously not. Malah sebaliknya, mobil matik bisa lebih awet jika rutin mengganti oli. Mobil matik malah tidak ada ritual ganti kopling. Seriously, untuk perawatan mobil matik cukup memperhatikan kondisi ATF atau CVTF saja. Diganti setiap 10.000 – 20.000 Km tergantung pemakaian. Mengapa saya tidak merekomendasikan setiap 40.000 atau 80.000 seperti pada rekomendasi pabrik? Karena di Indonesia, transmisi bekerja dengan keras ketika melakukan stop and go pada suhu yang ekstrim dan lalu lintas yang “ekstrim”. 40.000 dan 80.000 itu asumsi saya dealer selalu menganjurkan untuk langsung kuras / flushing. Tapi jika rutin diganti tiap 10.000 km saya rasa kuras di 80.000 juga masih relatif aman.

automatic_transmission_fluid_06-18-11

Sistem Kerja Oli Transmisi Matik (repairpal)

Automatic Transmission Fluid

Proses Flushing ATF

Cukup perhatikan oli transmisi, jangan menahan rem di posisi D karena berisiko membuat transmisi panas dan mengurangi usia ATF. Gunakan mode L dan 2 ketika menanjak. Di Matik yang ada mode shiftronic / tiptronic gunakan mode tiptronic nya saat menanjak.

Matik atau manual, jika sama – sama rutin dirawat keduanya akan sama – sama awet. Transmisi manual jika pemakaiannya kasar juga tidak menjamin awet.

4. Mobil Berat lebih Stabil.

Not really. Stabilitas itu bergantung pada titik gravitasi dan aerodynamics mobil. Distribusi bobot juga memegang peran penting dalam kestabilan mobil. Walaupun dengan titik gravitasi sama, mobil berat akan menang stabil.

blog-4

Ilustrasi Center of Gravity (carscience). 

Monggo bagi yang penasaran

http://carscience.net/how-to-calculate-center-of-gravity/

kalau nggak suka itung – itungan, cukup lihat di gambar saja. G itu center of gravity.

Contoh paling mudah adalah : Sebuah minibus tidak pernah lebih stabil dibanding sebuah sedan. Karena sedan memiliki titik gravitasi yang rendah dan tingkat aerodinamika lebih baik. Selain itu juga konstruksi suspensi dan sasis memiliki peran utama yang membuat sebuah sedan bisa lebih stabil dari SUV atau Minibus yang beratnya bisa 2x lipat.

 

Carbon Fiber Chassis (composites manufacturing magazines)

Mobil sekarang, malah alih – alih dibuat lebih berat, justru mengejar pengurangan bobot demi efisiensi dan performa, dan menggunakan sasis berbahan aluminium bahkan carbon-fiber. Contohnya beberapa supercar memiliki bobot setara citycar. Tapi soal kestabilan jangan ditanya, meskipun ringan justru mobilnya sangat stabil dan sanggup mencapai lebih dari 300 km/jam. Mobil yang ringan juga memiliki kelebihan di handling, karena bobot ringan jadi mobil berasa lincah untuk meliuk – liuk dan mudah dikendalikan.

Walaupun faktanya membuat mobil ringan dan stabil itu tantangan bagi divisi RnD pabrikan, tapi mobil yang ringan tetap lebih baik dari mobil yang berat karena lebih efisien. Tokh untuk sebuah citycar, yang lebih utama adalah efisiensi dan bukan kestabilan. Karena tidak akan dipakai ngebut di atas 200 km/jam.

Inilah kenapa saya sampai hari ini sangat appreciate pabrikan yang bisa membuat mobil ringan sekaligus stabil walaupun punya interior berisi plastik daur ulang semua daripada yang kaya fitur nggak guna tapi belok 40 km/jam udah mau keguling, atau lari 80 aja udah geal-geol. Engineering effort nya jauh lebih sulit dan lebih mahal dibanding marketing gimmicks yang terkadang pasang sendiri juga bisa.

5. Mobil sekarang koq rasanya lamban ya? Beda sama mobil dulu yang kalo diinjek gas langsung kontan.

 

Mekanisme sederhana Throttle-by-wire (aa1car)

Kebanyakan orang salah mempersepsikan throttle response sebagai indikator mobil bertenaga atau tidak. Dan fakta ironisnya, mobil sekarang throttle response nya memang dibuat lembut – kalau tidak mau dibilang lamban berkat peranan DBW (Drive-by-Wire), atau throttle-by-wire. Otomatis karena gas dikontrol oleh sensor response nya tidak akan se-kontan mobil yang masih menggunakan tali gas/throttle sling di zaman dulu.

Tentu, throttle sling / tali gas memiliki kelebihan lebih direct karena sensor tidak harus membaca bukaan pedal gas dulu baru membuka butterfly valve di throttle body. Tapi tali gas tidak memiliki level kepresisian seperti Drive-by-wire. Sekali lagi, goal nya adalah efisiensi. Dengan level akurasi yang baik, bahan bakar juga bisa lebih hemat, plus memberikan rasa lebih halus dalam berakselerasi, yang diinginkan oleh mayoritas konsumen.

Selain itu juga goal berikutnya adalah pengurangan komponen bergerak. Semakin banyak komponen bergerak di suatu sistem semakin sulit perawatannya dan tingkat error nya semakin banyak. Pernah seorang rekan saya tiba – tiba pedal gasnya tidak bisa kembali karena tali gas nya nyangkut. Dan untuk masalah response saya rasa zaman sekarang bisa membeli throttle controller / throttle module untuk mengatur sesuai selera.

throttleassembly

Throttle Sling di mobil – mobil lawas (newcelica.org)

Sensor juga memiliki resiko error, tetapi dengan segala sistem terintegrasi dengan ECU maka jika terjadi error biasanya ECU memiliki tindakan antisipasi / fail-safe seperti memutus sinyal ke TPS (Throttle Position Sensor) sehingga gasnya kosong / mobil tidak bisa berakselerasi. Saya sempat mengalami di Suzuki SX4 saya yang terpasang throttle module tiba – tiba tak bisa berakselerasi / gas kosong, ternyata ada masalah di throttle nya ketika dicek dengan scanner.

Masalah apapun yang terdeteksi di ECU juga biasa langsung terdeteksi dengan Check Engine warning light, masalah sekecil apapun (walaupun terkadang juga enggak penting masalahnya sekedar sensor mendeteksi campuran terlalu kaya dari exhaust karena tuned engine *sigh*).

 

Check Engine Light (Safford Jeep Chrysler Dodge of Fredricksburg)

Dummy tips : Jangan keburu panik ketika warning light ini menyala di dasbor anda. Bisa jadi itu hanya masalah kecil. Lebih mudahnya bawa saja ke bengkel terpercaya untuk di-reset atau di diagnose kalau tidak memiliki scanner. Biasanya Error Code akan muncul di Scanner.

Semoga artikel ini membantu teman – teman yang masih bingung tentang hal – hal yang harus dan tidak harus dilakukan. Atau ada lagi “mitos” zaman dulu yang menurut teman – teman sudah nggak relevan dengan zaman sekarang? Silahkan komentar di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *