Small MPV, seperti yang pernah saya tulis, merupakan jenis mobil yang diminati oleh orang Indonesia.

Kecil, irit, muat banyak. Sesuai dengan kebutuhan orang Indonesia dan jalanan di Indonesia yang …… macet.

Dan dengan pajak Hybrid Murni yang tinggi di Indonesia, alternatif lain selain mesin bensin adalah mesin Diesel, yeap, small MPV bermesin Diesel merupakan ide yang sangat bagus. Dan itu yang sedang berusaha dijawab oleh Suzuki – dengan meluncurkan Ertiga bermesin Diesel dan berteknologi mild hybrid. Suzuki memperkenalkannya sebagai “SHVS” – Smart Hybrid Vehicle by Suzuki.

suzukibandung-ratno-mesinhybrid

SHVS Technology (Suzukibandung)

Sebetulnya small MPV bermesin diesel dulu pernah dipopulerkan oleh Spin Diesel, tetapi seperti kita tahu pabrik GM Indonesia yang memproduksi Spin tutup dan mobil tersebut discontinued sekarang. Dan factually, Ertiga Diesel menggunakan mesin yang sama dengan Spin Diesel dengan tambahan VGT (Variable Geometry Turbo) dan Mild Hybrid System. Sehingga dengan penggunaan VGT ini tenaganya lebih besar 15hp dari Spin Diesel (90hp, Spin Diesel 75 hp), dan torsi 200Nm, lebih besar 30 Nm dari Spin Diesel.

Hybrid? Well, ini bukan Hybrid yang kalian pikirkan. Hybrid di Ertiga tidak menggunakan motor listrik terpisah.

Hybrid di Ertiga ini istilahnya mild-hybrid. Berfokus pada satu komponen bernama Integrated Starter Generator (ISG).

integrated-starter-generator-isg-suzuki-ertiga-diesel

ISG (Integrated Starter Generator) (Suzuki)

Singkatnya, ISG memerankan peran sekaligus sebagai motor dan alternator. Jadi di mobil dengan ISG tidak memerlukan motor starter dan flywheel konvensional. Digantikan motor pada ISG ini. Oleh karena itu disebut “Integrated Starter Generator” yang artinya Starter dan Generator (Alternator) terintegrasi / menyatu.

shvs

Gambaran singkat cara kerja SHVS (2bp.blogspot.com)

Klaimnya, selain mengurangi energi pada saat penyalaan / starter (yang membutuhkan energi besar), juga membuat proses starter lebih halus. Juga memungkinkan proses auto start-stop menjadi lebih halus dan minim getaran. Utamanya karena ini mesin diesel yang getarannya kuat.

Motor ini juga memiliki peran untuk torque-assist pada kondisi high-load walaupun tidak seperti hybrid pada umumnya, efeknya bisa jadi tidak terlalu signifikan. Yah, kita tunggu saja impresi berkendaranya.

Nah, karena motor ini melakukan peran torque-assist, kita pasti bertanya – tanya, dari mana sih motor ini dapat energi? Well, di SHVS ini ada sebuah baterai Lithium-Ion tambahan yang berperan menyalurkan energi ke motor listrik ini sehingga dapat melakukan kinerja torque-assist. Baterai ini menyimpan energi listrik yang dikonversi dari energi kinetik pengereman. Tapi hanya torque assist, mobil ini tetap tidak bisa full EV mode seperti Prius atau Camry Hybrid.

Pada saat low-load / cruise, baterai Lithium-ion dan accu menjalankan peran untuk suplai kelistrikan mobil seperti biasa, dan fungsi alternator juga bergerak seperti biasa untuk mengisi accu.

Lebih jelasnya kita bisa lihat video di bawah ini.

Official Tech Highlight SHVS by Suzuki

Kurang lebihnya, seperti i-ELOOP pada Mazda SKYACTIV, bedanya Mazda SKYACTIV tidak menggunakan ISG dan regenerative brake digunakan untuk mengisi capasitor karena hanya berperan mensuplai listrik saat i-STOP berfungsi.

Ini juga alasan mengapa mobil ini tidak dibebani pajak ganda seperti mobil Hybrid pada umumnya. Semoga saja aturan konyol itu segera dihapuskan *sigh* biar pabrikan enggak takut-takut lagi masukin mobil bersumber tenaga alternatif ke Indonesia.

Suzuki Ertiga Diesel SHVS ini dihargai 219juta-an OTR di Jakarta. Harga yang cukup kompetitif. Seandainya mobil ini bisa masuk skema LCGC, sayangnya mobil ini nggak CKD, masih rakitan India. Padahal syaratnya sudah terpenuhi, Diesel dibawah 1500cc, konsumsi lewat dari 20 km/l. Dan saya yakin 20 km/l nya beneran. Karena pengalaman dengan saudara sejantungnya, Spin Diesel, waktu saya di Lombok kemarin berhasil mencetak 22 km/l di jalanan pulau Lombok yang lengang. Ertiga seharusnya bisa lebih irit lagi karena sudah VGT dan torsi lebih besar plus dibantu SHVS nya. Apapun itu, intinya saya juga masih penasaran dengan performa asli mobil ini. Karena terdengar sangat menjanjikan.

Mengapa nggak ada matik nya?

Ertiga Diesel SHVS dipasarkan dengan 1 jenis transmisi saja : Manual 5 percepatan. Di India sendiri memang Ertiga Diesel tidak memiliki matik karena orang India masih menyukai transmisi Manual, dan belum ada blueprint untuk Ertiga Diesel Matik. Sehingga harus dilakukan Research and Development (RnD) kembali bila perlu.

Itupun kalau memang dirasa demand / permintaan pasarnya cukup besar, kalo enggak memenuhi, kata orang Cina sih bocuan alias nggak untung! Riset susah – susah yang beli dikit.

Dan saya rasa di Indonesia permintaan transmisi matik hanya tinggi di kota besar yang macet. Di kota – kota kecil transmisi Manual masih lebih populer. Belum lagi transmisi matik yang masih “ditakuti” oleh pengguna awam. Padahal nggak se-horror itu.

Jadi kesimpulannya belilah Ertiga bensin Matik supaya Suzuki sadar transmisi manual aja enggak cukup dan mau riset untuk Ertiga Diesel Matik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *