Halo, lama tidak menulis artikel karena dilanda berbagai kesibukan di kantor. Dan di tengah kesibukan saya yang bermacam – macam, saya banyak mengamati lalu lintas kita (karena kesibukan saya juga lumayan sering mobile).

Sebagai penduduk Indonesia kita tidak asing dengan yang namanya : MACET. Kemacetan di Indonesia adalah salah satu yang terparah di dunia. Peringkat 3 menurut TomTom, berdasarkan perbandingan tingkat kemacetan dengan kondisi normal.

Indonesia terparah ke-3 setelah Mexico dan Bangkok (TomTom)

dan Peringkat 1 menurut studi dari Castrol, berdasarkan jumlah stop-and-go.

So next time you’re stuck in a jam, just remember drivers in other cities have it worse. Although that’s really no comfort if you have to pee and won’t reach a rest stop for 15 minutes. The 10 worst:

10. Buenos Aires, Argentina – 23,760
9. Guadalajara, Mexico – 24,840
8. Bangkok, Thailand – 27,480
7. Rome, Italy – 28,680
6. Moscow, Russia – 28,680
5. St. Petersburg, Russia – 29,040
4. Surabaya, Indonesia – 29,880
3. Mexico City, Mexico – 30,840
2. Istanbul, Turkey – 32,520
1. Jakarta, Indonesia – 33,240

Semua capek, semua kesel dengan yang namanya macet. Cuma orang gila yang suka macet. Habis waktu, habis tenaga, habis bensin.

macet-di-indonesia_20160708_140633

Ibukota yang terkenal dengan macetnya (Tribun Solo)

Gara-gara macet, untuk menempuh jarak 10 kilometer saja kita perlu waktu satu jam, dimana dalam kondisi normal 10 kilometer itu hanya perlu sekitar 10 – 15 menit untuk ditempuh. Saya termasuk orang yang suka mengemudi malam – malam (ya apa lagi kalo bukan karena jalanan lancarnya diatas jam 11 malam) dan untuk rute sama yang biasa di siang hari ditempuh dalam waktu 30 menit, bisa saya tempuh dalam waktu 5 menit. Betapa tidak efisien waktu kita. Banyak bensin terbuang dan polusi udara yang bikin udara kita tambah panassss…

screenshot_2016-07-07-21-48-59-1

“Brexit”, kemacetan paling gila di libur lebaran 2016 kemarin.

Kita juga ingat peristiwa legendaris “Brexit” alias Brebes Exit. Kemacetan parah – mungkin kata parah terlalu enteng untuk peristiwa ini. Kapan lagi ada kemacetan yang menyebabkan korban jiwa? Puluhan jam mobil dipaksa membakar bensin hanya untuk diam.

Jalan tol pun berubah jadi sekedar “jalan berbayar / toll road” bukan lagi bebas hambatan… Bebas hambatan gimana? Tetep aja lewat toll macet di jam sibuk.

Macet itu padahal dampaknya bukan cuma habis waktu, tapi juga bikin nggak produktif karena waktu habis itu. Perjalanan yang seharusnya 5 menit bisa jadi 20 menit, yang 20 menit bisa jadi 1 jam. Waktu kita habis di jalan, bukan di aktivitas yang produktif.

Jadi, apa sih yang bikin macet di Indonesia?

  1. Nyaris Semua Orang pake Kendaraan Pribadi!

Coba sekali – kali kalau ada rejeki berpikniklah ke Singapore saja, nggak usah jauh – jauh. Singapore tuh negara yang luasnya paling nggak lebih gede dari provinsi DKI Jakarta, tapi lalu lintasnya jaaaaaaauh lebih nggak macet. Coba lihat bagaimana orang Singapore pergi ke kantornya atau pelajar disana ke kampus / sekolahnya, kebanyakan jalan kaki, naik bus, atau MRT. Selain pajak mobil mahal disana (sengaja dimahalin biar nggak macet), orang – orangnya juga ogah pake mobil. Pajaknya mahal, sewa parkirnya per jam mahal.

Di Indonesia, ke kantor naik sepeda motor / mobil pribadi. Yang naik sepeda motor jangan senang dulu, jumlah kalian jauh lebih banyak, jadi sama aja bikin macet! Yang anak muda kuliah dan sekolah udah dibawain kendaraan, yang lucu sekolahannya fasilitasin tempat parkir *sigh* …

Pekerja di Jepang

Saya pernah piknik ke Jepang, negara produsen mobil terbesar di dunia. Udaranya bersih, jalanan nggak padat, jalan bebas hambatan pun bisa dinikmati sebagai jalan “bebas hambatan” bukan “jalan berbayar”. Sistem transportasinya begitu teratur, waktu bagi mereka itu berharga, walau sedetikpun (bukan lebay, ini serius, orang Jepang itu teratur soal waktu). Transportasinya begitu ramah penduduk sehingga mobil / motor bukan lagi kebutuhan primer. Pelajar jalan kaki / naik sepeda ke sekolahnya, di sekolahnya nggak ada tempat parkir mobil. Sebuah ironi dimana negara pembuat mobil / motor terbesar malah tidak bergantung pada kendaraan pribadi.

2. Transportasi Publik yang Tidak Proper

Yang bikin orang Indonesia suka naik kendaraan pribadi, ya karena transportasi publik / mass transport nya nggak proper sama sekali. Harus diingat bahwa Taksi dan Taksi Online BUKAN merupakan transportasi publik karena dikelola oleh swasta dan bukan model “mass transport”.

rsz_asap-kendaraan-560x364

Kondisi angkutan umum di Indonesia yang tidak terawat (Aneh tapi Nyata)

Di jam – jam sibuk, transportasi umum ini udah… Paling layak dihindari deh. Penuh sesak dengan manusia, panas, kendaraan tidak terawat, blom supir nya ugal-ugalan dan keamanan yang tidak terjamin, misalnya pelecehan seksual (banyak manusia – manusia oportunis yang memanfaatkan kesempatan sesek-sesekan ini), atau bahkan kecopetan udah sering banget kita denger kasusnya, plus mental kejar setoran jadi suka ngetem seenak jidat. Di saat kita mau buru – buru ke kantor nyelesaikan project, si supir malah ngetem. Sial? Iya, sial banget. Blom kantor yang nerapin potongan gaji buat karyawan yang telat. Nambah masalah, bukan ngurangin masalah. Daripada ambil resiko, mending naik kendaraan pribadi deh. Jadi memang bukan salah kita, memang sistemnya udah salah kelola dari dulu. Ini yang juga sedang diperjuangkan oleh Gubernur DKI Petahana, Basuki Tjahaja Purnama, yaitu meningkatkan standar untuk bus TransJakarta dengan menggunakan bus Scania. Termasuk proyek – proyek yang mangkrak dari zaman Gubernur sebelumnya digarap semua.

Bus Transjakarta (Republika)

DKI ini pasti jadi role model untuk kota – kota besar lain di Indonesia. Bayangin kalo suatu saat MRT di Jakarta udah jalan, lalu diikuti oleh kota – kota lain, kebayang betapa enaknya kita bepergian walaupun kantor kita jauhnya 10 – 20 kilometer tanpa harus kecapekan sampe kantor karena bangun subuh – subuh buat hindarin macet jam kerja, mana semalem ngantuk habis lembur. Performa kerja meningkat, produktivitas meningkat, ekonomi membaik.

3. Pada Suka Melanggar Aturan.

Traffic Light, objek yang sering dilanggar (redaware)

Loh, apa hubungannya?

Saya sering mengamati di jam – jam sibuk, terutama di pertigaan atau perempatan yang banyak traffic light dari arah berlawanan. Banyak pengemudi atau pengendara sepeda motor yang seakan “nggak mau ketinggalan rombongan”, akhirnya lampunya udah merah tetep nempelin kendaraan di depannya, lucunya mobil / motor di belakangnya juga nempel nempelin terus yang akhirnya menghambat arus lalu lintas dari arah lain, yang harusnya udah hijau terpaksa berhenti nungguin. Baru lewat 1-2 mobil udah merah lagi. Ya gimana mau nggak macet?

 

143479395310710548180

Motor yang berhenti di depan marka jalan (Kompasiana)

Populasi pengendara sepeda motor yang mayoritas cuma ngerti ngegas-ngerem doang juga menjadi alasannya, kurang pengetahuan soal marka jalan dan rambu lalu – lintas. Berhenti di depan marka jalan yang mana harus diklaksonin baru mau jalan (krn mereka nggak ngerti lampunya udah hijau… *sigh*). Hal menyebalkan lain adalah ketika mereka berhenti di jalur yang tulisannya “KE KIRI JALAN TERUS”, diklakson pura-pura tuli, diklakson panjang berkali – kali ngamuk mukul mobil yang nglakson. Mungkin otaknya udah banyak keracunan gas CO karena nggak pake helm dan masker waktu naik sepeda motor jadi logikanya nggak jalan. Situ sehat, mas?

Truk di Jalan Tol (Suara Pembaruan)

Pengemudi truk di jalan toll juga kebanyakan nggak ngerti marka jalan, selain overload itu udah ngelanggar aturan, tapi karena hukum di negara kita yang… begitulah dan mental kejar setoran… Lihat truck overload itu “wajar”. Lalu jalannya pelan – pelan di tol (cuma 40 km/h maksimal men!) di lajur kanan. Truk lainnya yang bermuatan lebih ringan terpaksa ambil jalur tengah (yang larinya juga nggak kenceng….), yang pake mobil? Antara ngantri sejalur di jalur paling kiri (itu juga kalo nggak ada yang kampret jalannya kayak siput), atau ngawur ambil bahu jalan. Terus cilaka nabrak orang ngeban, tambah macet lagi.

Ah sudahlah… Kepanjangan kalau semua dosa – dosa pengemudi di Indonesia ditulis disini. Blom saya sebutin kan ibu – ibu naik motor matic yang bisa sein kiri beloknya kanan terus diklakson ngamuk balik.

(Hipwee.com)

4. Males Antri

Yang membedakan kemacetan di negara maju dan di Indonesia adalah, budaya ngantri nya. Waktu liburan di Jepang saya liat kemacetan itu teratur. Semua kendaraan tetap pada jalurnya. Di Indonesia? Semua berlomba cari celah kosong dan jalur yang paling lancar. Ironisnya, bukan makin lancar malah makin macet. Belom ngomongin para pengendara sepeda motor yang sangat “efisien tempat”… Nggak mau kelewatan satu milimeter pun buat berhenti. Nyenggol spion? Ah cuek aja. Yang penting gue lewat. Pengemudi mobil mau pindah jalur eh kehalang sepeda motor nyerobot. Karena hukum nggak kuat, jadinya semua orang punya hukum sendiri – sendiri.

Serobotan di kemacetan (Republika Online)

Nggak cuma mobil sih, memang dari manusianya naturnya males ngantri. Di minimarket yang antriannya paling panjang 5 orang itupun karena mba-mba kasirnya masih trainee atau PCnya trobel juga nggak sabaran. Kebawa sampe ke jalan raya dengan ribuan orang, kacau deh.

5. Pola Pikir yang Salah dan Kebijakan yang Salah Sasaran.

Kebijakan LCGC

Di Indonesia, mobil dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Pemerintah bukan sadar bahwa kita perlu ngurangin jumlah mobil dan nambah infrastruktur dan transportasi massa, malah mendukung kepemilikan mobil. Kebijakan paling luar biasa “bijak” adalah kebijakan LCGC. Waktu Jokowi-Ahok masih berstatus Gubernur-Wagub di Jakarta mereka berdua sangat kontra dengan LCGC karena risiko makin macet. Masalahnya LCGC ini terlanjur direstui oleh pemerintah pusat saat itu.

Luar biasa, bukan mengedukasi masyarakat untuk pakai transportasi umum biar nggak macet, justru mendorong masyarakat untuk punya mobil. Dengan berbagai program cicilan yang sangat menggiurkan, membuat masyarakat berbondong – bondong membeli mobil LCGC ini. Kebijakan yang salah sasaran dan enggak jelas tujuannya. Belum kualitas mobil dan keamanan yang sangat-sangat diragukan dan berisiko menjadi bom waktu karena mayoritas konsumennya yang rata-rata baru bisa nyetir. Makin membuat kacau jalanan dan menjadi penyebab macet berikutnya setelah segala kesalahan sistem. Saya blom ngomongin pemilik LCGC yang saya amati di beberapa forum otomotif juga delusional dan malah ribut adu top speed dan akselerasi bukan malah bahas gimana ngurangin konsumsi bahan bakar dan safety driving kan?

Regulasi Kei-Car (VWVortex)

K-Car di Jepang dan LCGC di Indonesia, tujuannya nyaris sama, beda waktu penerapan, beda pola pikir masyarakat, implementasinya juga beda. K-Car digagas di Jepang sejak Perang Dunia 2, karena di saat itu orang Jepang tidak bisa membeli mobil full-sized, juga tujuannya adalah untuk membantu usaha – usaha kecil yang membutuhkan moda transportasi praktis. Tidak heran, K-Car bentuknya kotak-kotak semua dan bahkan ada varian K-Truck, semacam pikap kecil yang juga salah satunya dimasukkan oleh Astra Daihatsu di akhir tahun kemarin : Daihatsu Hi-Max. K-Car disana tujuannya buat bantuin ekonomi negara dengan mempermudah akses orang desa untuk beli mobil, disini? Malah bebanin ekonomi negara. Mau orang nggak kepanasan kehujanan ya kasihlah bus atau kereta yang nyaman, bukan malah disuruh beli mobil dengan gaji mereka yang pas-pasan!

6. Infrastruktur Mangkrak

“Saya kan sudah bilang, Jakarta di masa saya akan tambah macet,”

Suatu statement keras dari gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Artikel lengkapnya :

http://news.metrotvnews.com/read/2015/08/27/424979/ahok-ke-ahmad-dhani-jakarta-di-masa-saya-akan-tambah-macet

Pembangunan di Jakarta (Merdeka.com)

Masalah laten di negara kita : korupsi. Proyek dari puluhan taun yang lalu terbengkalai, yang akhirnya sejak Jokowi-Ahok menjabat mulai digarap lagi. Tentu saja ini berdampak ke kemacetan, banyak jalan akhirnya ditutup karena ada pembangunan infrastruktur. Intinya, kemacetan di Jakarta sebetulnya adalah kesalahan yang sudah menahun, lama sebelum Jokowi-Ahok menjabat.

7. Hajatan Nutup Jalan dan Parkir Liar

 

Biasa terjadi ketika kita tinggal di kampung di pinggiran kota. Dan saya sering sekali mengalaminya.

Saya nggak nyalahin orang nikah atau sunatan atau lainnya, itu sah – sah saja dirayakan. Nggak salah kok, mau merayakan momen bahagia bareng tetangga dan saudara.

Mungkin alasannya adalah hemat ongkos sewa gedung jadi perayaannya dilakukan di rumah dengan nyewa tenda dan peralatan pesta saja. Tapi dengan bikin susah orang yang mau lewat? Well, ternyata setelah saya googling ada aturannya, yang diatur oleh UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Pasal 127

(1) Penggunaan jalan untuk penyelenggaraan kegiatan di luar fungsinya dapat dilakukan pada jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan desa.

(2) Penggunaan jalan nasional dan jalan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diizinkan untuk kepentingan umum yang bersifat nasional.

(3) Penggunaan jalan kabupaten/kota dan jalan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diizinkan untuk kepentingan umum yang bersifat nasional, daerah, dan/atau kepentingan pribadi. Paragraf 2

Tata Cara Penggunaan Jalan Selain untuk Kegiatan Lalu Lintas

Pasal 128

(1) Penggunaan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (1) yang mengakibatkan penutupan Jalan dapat diizinkan jika ada jalan alternatif.

(2) Pengalihan arus Lalu Lintas ke jalan alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sementara.

(3) Izin penggunaan Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 ayat (2) dan ayat (3) diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Masalahnya, terkadang mereka hanya menutup 1/2 badan jalan lalu menyuruh orang yang lewat dari 2 sisi lewat bergantian. *sigh*. Mending situ tutup sekalian deh jalannya lalu dialihkan lewat jalan alternatif, lebih baik ketimbang harus gantian lewat, mana volume kendaraannya banyak.

Parkir Liar (Suara Pembaruan)

Lalu masalah parkir liar juga. Jalan dikasih lebar – lebar 3 jalur, 1 jalur paling kanan untuk puter balik, wajarnya 2 jalur di kiri ini bisa untuk lewat kan? Nyatanya tidak. Justru untuk parkir liar beberapa restoran atau warung yang gak punya tempat parkir layak. Jadi jalur efektifnya cuma 1. Di jam – jam sepi nggak masalah, di jam sibuk? Disaster. Yang dari jalur tengah mau ke kiri nunggu lama untuk diarahin tukang parkir. Akibatnya mobil di belakangnya harus nunggu. Macet, deh.

 

Intinya kalau boleh saya simpulkan, semua lagi – lagi kembali ke manusianya. Infrastruktur hanyalah faktor pendukung, mau selebar apapun jalanannya kalau pola pikir manusianya tidak diperbaiki rasanya macet akan selalu ada. Penjualan kendaraan bermotor tentu baik untuk pertumbuhan ekonomi dan industri dalam negeri, tetapi ketika penggunanya tidak diedukasi untuk bijak menggunakan kendaraan tentu akan sia – sia.

Langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah tentunya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor untuk bepergian yang nggak penting. Misalnya hanya belanja ke minimarket yang jaraknya gak sampe sekilo dari rumah, ya ngapain pake mobil.

Pemerintah juga ada baiknya memperbaiki sistem transportasi umum dan membuat orang males kemana – mana naik kendaraan sendiri dan memilih pakai transportasi umum.

Nggak apa-apa punya kendaraan, tapi bijaklah menggunakannya.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *