Brand Image, atau citra suatu brand, sangat menentukan bagaimana produk kita dipandang oleh masyarakat. Tidak hanya dalam lingkup otomotif, tapi juga dalam produk apapun – dari makanan, perhiasan, furnitur, tas, sepatu, dll.

global_branding

Contoh brand (TutorialsPoint)

Menurut BusinessDictionary, Brand Image didefinisikan sebagai berikut :

The impression in the consumers’ mind of a brand’s total personality (real and imaginary qualities and shortcomings). Brand image is developed over time through advertising campaigns with a consistent theme, and is authenticated through the consumers’ direct experience. See also corporate image.

Read more: http://www.businessdictionary.com/definition/brand-image.html

Bukan, saya disini bukan mau ngasih kuliah tentang branding atau marketing karena nggak punya cukup ilmu. Tapi saya ingin bicara realita. Saya ingin menyikapi dan melihat dari sudut pandang konsumen maupun marketing tentang pertanyaan – pertanyaan laku / tidak lakunya suatu merek mobil. Tentunya juga klarifikasi berdasarkan pengalaman pribadi.

Sering ada yang bertanya “mobil A ini harganya bersaing, fasilitas lengkap, tapi kok enggak laku ya?” atau “mobil B ini fiturnya sunatan harganya mahal kok banyak yang beli?” “bosen nih jalanan isinya mobil itu-itu melulu”.

Berbagai hipotesa mulai dari after-sales service, ketersediaan spare-parts, kru marketingnya mba-mba jutek hobi macak, atau jarangnya ngiklan keluar semua di forum diskusi.

Tapi apapun hipotesanya, hal paling riil yang bisa kita simpulkan, semua hal itu berkaitan dengan brand image atau citra suatu brand. Dan citra suatu brand sadar nggak sadar akan mempengaruhi seberapa bangga kita menggunakan brand tersebut, atau kerelaan kita ngeluarin duit untuk produk itu.

https://www.ftcguardian.com/articles/wp-content/uploads/2016/08/2017-mercedes-benz-e-class-inline2-photo-665249-s-original.jpg

Mercedes-Benz E-Class (FTC Guardian)

Anda rela ngeluarin 1 milyar untuk sebuah Mercedes-Benz E-Class, tapi anda akan sangat berat mengeluarkan 600juta untuk sebuah Hyundai SantaFe Fullspec All-wheel Drive, atau 700juta untuk sebuah Honda Odyssey. Meskipun anda akan berdalih bahwa Mercedes-Benz lebih nyaman, fiturnya lebih canggih, bla-bla-bla, percayalah bahwa anda beli mobil tersebut kebanyakan nggak pake fiturnya, atau nggak peduli seberapa nyaman / nggak nyaman, yang penting ini sebuah Mercedes-Benz. Kasta sosial saya meningkat pakai mobil ini.

http://cars.mercedes-benz.ca/mbusa/the_best_or_nothing_-_landing_page/image/Header5-3.png

Definisi dari Branding “The Best or Nothing” Mercedes-Benz

Hal itu bermain di alam bawah sadar anda. Believe it or not. Itu mayoritas alasan orang kaya membeli sebuah Mercedes, karena kalau alasannya kenyamanan, menurut saya, Honda Accord atau Nissan Teana pun sudah cukup nyaman. Tapi anda tidak mau dipandang sebagai mere mortals yang pakai sedan Jepang, kolega bisnis anda pun memandang rendah kalau anda cuma naik sebuah Honda atau Nissan.

Lain lagi ketika yang mem-branding Mercedes Benz adalah tuner inhouse nya, AMG. Mereka tidak mem-branding Mercedes-Benz sebagai mobil mewah, justru sebagai mobil bertenaga monster. Lucu ya? Sebuah mobil yang sama di-branding berbeda menghasilkan citra yang berbeda pula. Walaupun memang faktanya – Mercedes Benz dengan badge AMG merupakan monster bertenaga besar yang sulit dikendalikan.

http://media.emercedesbenz.com.s3.amazonaws.com/magazine/wp-content/uploads/418978_347545445269542_151234121567343_1226510_1748528046_n.jpg

Citra Berbeda yang ditampilkan oleh line-up AMG (Mercedes Benz)

Sadar tidak sadar faktor emosi akan sangat bermain ketika anda membeli sebuah mobil. Dan itu yang dimainkan oleh divisi marketing, mereka bermain dengan logika dan emosi anda.

Oke sekarang kita balik ke realitas. Di mobil Jepang yang kita pakai sehari – hari.

http://s.kaskus.id/images/2014/02/25/5877153_20140225011013.jpg

Toyota Avanza (Kaskus FJB)

Kenapa sih mobil yang laku tetap Avanza dan Innova? Padahal kalau objektif saja, banyak mobil lebih nyaman dari Avanza dengan rentang harga sama, dengan naikan lebih nggak limbung dan pengendalian lebih mantap. Anda pasti akan bicara soal “kebutuhan angkut”, “daya tahan”, “spare parts murah”. Point terakhir, saya juga mengamini bahwa Avanza spare partsnya lebih murah dari saingannya, Ertiga dan Mobilio karena pakai.

Tapi kebutuhan angkut? Mobilio bisa menyaingi, untuk angkut 7 penumpang dengan nyaman.

https://www.honda-indonesia.com/uploads/img/models/sliders/588ef6b4a99c8-bannerhomedepan2.jpg

Honda Mobilio Facelift 2017 (Honda Indonesia)

Daya tahan? Saya punya Avanza 2 generasi, bagi saya ketahanannya biasa saja. Shock absorber tetap ko’it di 50.000 kilometer, link stabilizer udah kena di Avanza generasi pertama saya di odometer 40.000 kilometer. Kalau ngomong saya pakenya kasar, nih mobil jalannya dalem kota terus kok. Paling jauh cuma Semarang-Bandungan, apalagi kota Semarang itu jaraknya pendek-pendek. Cuma ngegantinya nggak berasa aja karena cuma 300 ribu.

Sekali lagi itu image yang terbentuk di kepala kita : Avanza itu mobil yang tahan banting. Makanya mau Mobilio dan Ertiga sebagus apapun, penjualannya tetap tidak bisa ngalahin. Karena Avanza memang di-branding seperti itu baik oleh tim marketing Toyota, maupun oleh konsumen yang sudah pakai puluhan taun. Begitu pula dengan Kijang. Makanya Toyota ogah melepas logo Kijang di Innova, supaya tetap melekat semua image baik dari sebuah Kijang yang kita kenal. Branding tidak melulu bicara dari prinsipal, tapi branding juga bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri.

Contoh branding masyarakat lain yang kuat adalah Honda. Honda tidak pernah membranding diri sebagai mobil mewah, citra itu timbul dengan sendirinya di mata masyarakat yang menganggap Honda sebagai merek yang cukup berkelas, karena suka nggak suka memang terlihat demikian. Orang beli Honda karena menganggap Honda lebih bergengsi dari Toyota atau Daihatsu, walaupun Honda itu sebuah LCGC sekalipun.

https://www.youtube.com/watch?v=O0ikW7pVa_I

Sedangkan branding dari company sendiri yang cukup kuat adalah Mazda dengan filosofi “jinba-ittai” dan slogan “zoom-zoom“. Mereka konsisten membranding diri sebagai merek yang fun to drive, mereka ingin orang melihat Mazda sebagai mobil yang menggugah untuk dikemudikan, dan kenyataannya memang demikian.

Brand image, sama sekali bukan sesuatu yang buruk. Banyak istilah di forum – forum otomotif bilang “beli mobil kemakan merek doang”. Padahal saya yakin yang ngomong juga masih ababil nggak tau mobil dan dunia marketing. Nggak mungkin orang beli benda ratusan juta tanpa menimbang – nimbang terlebih dahulu. Semua punya alasan masing – masing membeli sebuah mobil, dan branding tidak terpisahkan dari alasan – alasan itu – mungkin malah alasan terkuat.

Kebanyakan merek yang gagal di Indonesia ataupun dunia, karena mereka hanya fokus di angka penjualan, bukan di branding. Akibatnya karena reputasi merek yang lemah, volume penjualan stagnan, harga barang naik terus, lama kelamaan bangkrut.

 

Implikasinya adalah, anda tidak bisa memisahkan brand image dari alasan anda membeli sebuah mobil. Mungkin fitur – fitur pendukung dan gimmick merupakan pertimbangan anda. Tapi saya percaya mobil dengan fitur lengkap, harga murah saja tidak cukup. Ketika mobil itu datang dari brand yang masih istilah kerennya “anak kemarin sore”… Masihkah anda mau beli mobil itu? Pastinya tidak. Branding adalah sesuatu yang kompleks dan tidak akan berhasil hanya dalam semalam karena menyangkut reputasi produk.¬†Di dunia nyata, membeli benda apapun tidak mungkin lepas dari pandangan kita terhadap merek tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *