Belakangan beredar wacana standar emisi akan dinaikkan menjadi Euro-4.

JAKARTA— Pemerintah RI memfasitasi percepatan upaya penerapan Standar Emisi Euro4. Pada Selasa 20 September 2016, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menggelar focus group discussion (FGD) membahas penyusunan kebijakan Pemerintah tentang baku mutu emisi kendaraan bermotor.

FGD menghadirkan Bastian Halim (Asisten Deputi Industri Ekstraktif, Deputi Tiga Menko Perekonomian), Dasrul Chaniago (Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), dan Kukuh Kumara (Sekretaris Umum GAIKINDO), Ahmad Safrudin (Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, serta Direktur Pemasaran PT Pertamina).

FGD ini tindak lanjut dari Pemerintah untuk mendorong indusri otomotif kea rah yang lebih baik. Pertama, untuk meningkatkan ekspor mobil dari Indonesia. Kedua, untuk menmperbaiki kualitas udara dan lingkungan hidup dari pencemara.

Seiring dengan peningkatan ekonomi, sektor transportasi meningkat tinggi, dan menjadi perhatian khusus Pemerintah. Meningkatnya kendaraan bermotor juga berimbas pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Itu juga berarti terjadi peningkatan emisi yang mengandung zat kimia berbahaya bagi kesehatan dan polusi pencemaran udara.

Pada awal 1990 Uni Eropa mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penggunaan bensin dengan Standar Euro. Standar Euro kini banyak diadopsi oleh negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Di beberapanegaar maju, saat ini standar penerapan emisi sudah mencapai Euro 6. Standar emisi bertujuan penggunaan teknologi transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Indonesia sendiri masih menggunakan Euro 2. Untuk mesin diesel harus menggunakan solar dengan kadar sulfur di bawah 500 parts per million (ppm). Dalam Euro 3 kadar sulfur di bawah 150 PPM, Euro 4 dan Euro 5 kadar sulfur di bawah 50 PPM, dan Euro 6 reduksi sulfur di mesin bensin dan solarpun jauh menurun dan hasilnya juga lebih ramah lingkungan.

Indonesia jauh tertinggal dengan negara tetangga seperti Malaysia yang menggunakan Euro 4. Bahkan Singapura yang sudah mau menerapkan Euro 5. Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga terkait industi otomotif dalam negeri.

“Pemerintah Pusat sudah menyiapkan draf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan juga ESDM, lalu juga teknologi dan spesifikasinya untuk mempercepat penerapan Euro 4,” kata Bastian.

Dengan penerapan Euro 4, Indonesia dapat meningkatkan kualitas dan daya saing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean dan pemberlakuan ratifikasi ASEAN Mutual Recognition Agreement (MRA).

Penerapan Euro 4 juga dampak positif dunia perindustrian otomotif. Produsen mobil Indonesia tak perlu lagi memberlakukan dua standar, untuk pasar dalam negeri Euro 2 dan ekspor Euro 4— yang memakan biaya tinggi. Kualitas udara di perkotaan Indonesia nantinya akan jauh lebih baik. (*) – Gaikindo

Sesuatu yang terdengar wow. Selama ini ngomongin standar emisi di Indonesia kayak mimpi di siang bolong.

Ehm…. Euro2 tembus gak ini? (Aneh tapi Nyata)

Konon katanya standar di negara kita sudah Euro2. Iyakah? Nggak cuma wacana tuh? Jujur aja, saya skeptis kalo orang Indonesia ngomong standar emisi. Terutama miris kalo liat di pom – pom bensin masih menjual BBM kualitas rendah, dan seperti gambar di atas, banyak mobil “ngebul”.

Uji Emisi sempat digembor – gemborkan oleh pemerintah yang nyatanya? Sama saja. Terutama uji KIR yang praktek lapangannya… Bisa liat sendiri kan banyak truk yang udah layak masuk “scrapyard” masih berkeliaran di jalan.

 

Percayalah, ini hanya satu dari sekian banyak truk yang “mengenaskan” di negara ini (Sriwijaya Post)

Sekarang miara mobil dengan standar emisi yang bersih terkadang membuat kita berat di ongkos, karena requirement dari mobil tersebut menuntut BBM kualitas tinggi. BBM kualitas tinggi, bagi masyarakat yang katanya “mampu” beli mobil ini = berat di ongkos.

Standar kandungan sulfur untuk mobil berbahan bakar bensin / diesel dari EURO 1 – 4 (ADB)

Yah tapi gimana, mobil jalan pake bensin, kok. Jadi masalah emisi nggak lepas dari kualitas bahan bakar yang tersedia. Namanya gas buang kan “output“, namanya “output” ya pasti bergantung sama “input”. Tokh, hemat di ongkos jalan bukan berarti hemat di perawatan. Mana tau filter bensin / solarnya lebih cepet rusak, atau injektornya mampet, blom busi kalo mobil bensin umur pake nya berkurang, mana mobil sekarang businya banyak yang udah pake iridium. Iridium claim nya bisa 100.000, kena BBM jelek, 50.000 udah tamat riwayatnya. Rp. 200.000,- sebiji loh, kaliin empat jadi Rp. 800.000,- . Duit tuh bukan daun.

Bahan bakar Diesel di negara kita itu yang paling bagus baru nyampe Euro 2. Iya, “baru” di bawah 500 ppm. Itupun orang masih ogah ngisi loh. Alesannya “berat di ongkos”. Well, memang sih, nambah dari 5.150 ke 8.350 itu bedanya 3.200,- / liter, masih wajar buat pengusaha yang ngomong mahal di truk atau bus, karena memang nggak wajib juga teknologi masih 90an belum CRD.

Tapi untuk mobil diesel pemakaian pribadi, yang sekarang rata – rata sudah commonrail seharusnya sudah wajib pakai yang Euro 2, tokh masih pada bandel ngisi yang 3000 ppm terus mengklaim “oh gakpapa kok udah pake sekian tahun pake juga nggak rusak”. Luar Binasa. Iya, beruntung banget ATPMnya pengertian , sehingga gak sampe rusak karena tekanan injeksinya udah dikurangin dan di maintain di bengkel resmi terus. Tapi begitu dikasih yang canggih dikit dengan injector pressure tinggi, ada yang bermasalah kok, gak sampe ratusan ribu kilometer. Lalu bilang brand merek X itu nggak reliabel, *sigh*. Hobi ngerusak barang emang.

Berlaku juga buat yang bensin, pada hobi ngisi yang selangnya warna kuning. Lalu bilang “nggak ada bedanya ngisi yang selangnya warna kuning, putih, biru. Sama aja tenaganya juga segini – segini aja”. Iya, buat yang jarang ngegas atau nyetir di bawah 2000 RPM terus ya enggak terasa, tokh mobil sekarang canggih timing bisa dimundurin otomatis lewat knocking sensor. Coba setelah jalan 10.000 – 20.000 kilometer bongkar deh itu filter bensin dan busi. Yakin mau diterusin? Selang putih cuma beda dikit aja masih pada pelit ngisi yang selang kuning. Saya ngisi selang putih aja gak mau karena spek mobilnya minta minimal selang biru. Saya sering dibilang “segitunya” sama mobil karena ngisi selang biru. Lha speknya minta itu.

Sekali lagi, giliran ada mobil yang fuel pump nya jebol kena selang kuning, terus pada komentar mobil X ini gak tahan banting. Gila! What the heck is happening with you guys? 

Mampu beli mobil yang harganya ratusan juta sampe miliaran, ngisinya? Duh.

Kenapa sih ngisi BBM berkualitas harus “dihimbau” sama ATPM dulu baru mau ngisi yang bener? Sebagai orang yang sadar lingkungan seharusnya pakai BBM berkualitas itu sudah jadi bagian dari gaya hidup.

Enggak heran juga, pabrikan mobil males masukin mobil teknologi baru kesini, wong masyarakatnya bandel disuruh ngisi yang bagusan enggak mau. Jangan melulu bilang pabrikan mobil hobinya cari untung, situ udah bener belom ngisi bensin?

Ngomongin Euro4, banyak mobil bensin sekarang sudah mendapat Euro4 compliance. Beberapa model Honda diklaim sudah memiliki standar Euro4. Saya menyambut baik kebijakan ini (karena sudah seharusnya dilakukan dari tahun – tahun lalu), tentunya supaya mobil – mobil berteknologi canggih bisa dipasarkan disini tanpa repot – repot mengubah spesifikasi / settingan.

Masalahnya, masyarakatnya siap nggak? Berharap pemerintah bisa tegas dengan aturan Euro4 ini sehingga nggak makin ketinggalan dengan negara – negara lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *