Fast and Furious series merupakan film balapan mobil, dan semua pecinta mobil pasti excited dengan film ini.

Movie Poster The Fast and The Furious pertama (Netflix)

Pernyataan di atas betul, tapi untuk 3 seri awal saja.

Ketika saya melihat The Fast and The Furious, 2 Fast 2 Furious, dan The Fast and The Furious : Tokyo Drift, 3 film ini sangat jauh dari kesan serius. Oke ceritanya serius tapi unsur fun nya masih jauh lebih banyak dibanding sekuel – sekuel berikutnya. Mobil – mobil dengan aksesoris dan decal lebay tapi eye catching, dan memang di situlah point nya. Mobil di 3 sekuel pertama ini sangat ikonik, dan 3 film ini porsinya 40% story dan 60% balapan. Berimbang sehingga penonton gak bosan, dan tentu saja munculnya cameo Keiichi Tsuchiya sang real Drift King di Tokyo Drift, menjadi hiburan tersendiri bagi para petrolheads.

Brian’s Skyline, one of my fav. (blogspot)

Han’s Veilside Fortune RX-7 (pinterest)

Keiichi Tsuchiya Cameo di Tokyo Drift

The Fast and The Furious, adegan balapan di film ini seperti menghiasi semua bagian dari film, sampai pada akhir dilema Brian O’Connor untuk melepaskan Dominic Torretto karena merasa berhutang “ten-second car”.

“You Owe Me a Ten Second Car” (pinterest)

“Winning’s winning!” (quotesgram)

Dilanjut dengan 2 Fast 2 Furious yang menurut saya, terbaik dibanding sekuel lain tidak lain karena munculnya Tyrese Gibson sebagai Roman Pearce yang merupakan karakter sidekick yang lebih cocok dengan Brian O’Connor (Paul Walker) karena menonjolkan sisi humoris, dan akting mendiang Paul sangat pas dengan Tyrese. Saya lebih suka perpaduan Brian dan Roman dibanding Brian dan Dominic.

Roman, he’s stupid but I like him. (DrivingLine)

Di franchise ketiga Tokyo Drift kita disuguhkan nuansa berbeda dengan cerita Sean Boswell (Lucas Black) yang dipindahkan ke Jepang akibat suka balapan liar, bertemu dengan seorang sidekick character yang tidak kalah kocak bernama Twinkie (Bow Wow) dengan VW Touran dengan dekorasi Hulk nya yang nyentrik, dan harus berhadapan dengan Takashi “DK” (Brian Tee) beserta gembong mafia nya, lalu juga muncul seorang tokoh lain yang menjadi “mentor” : Han (Sung Kang).

“You make choices, and you don’t look back” – Han (pinterest)

Oh maaf, spoiler kah? Ah, kan filmnya udah lama, saya yakin banyak yang udah nonton kok. #ngeles. Ketiga franchise ini disajikan dengan alur cerita yang ringan dan tidak memaksa penonton untuk “mikir” apalagi berujung ke plot twist yang terkesan dibuat – buat. Karena bukankah itu memang esensi dari Fast and Furious franchise, bukan? Kita dibuat senang dengan mobil – mobil kencang dengan tampilan ricey dan NOS, plus ikonik dan mudah diingat.

Adegan balapan terakhir di FnF 1 (youtube)

Sayangnya di franchise keempat, kebingungan pertama kita adalah mengapa Han kok hidup lagi? Di Tokyo Drift jelas – jelas dia mati. Setelah tiga sekuel baru kita dapat jawabannya bahwa 4-6 terjadi sebelum Tokyo Drift. Dan entah kenapa, empat sekuel terakhir ini Fast and Furious berubah menjadi film yang serius dengan alur cerita yang berat. Tidak ada mobil yang ikonik. Kita dipaksa untuk mencerna cerita yang minim unsur fun dan plot twist yang berat, plus sangat forgettable. Saya kalau dipaksa mengingat cerita Fast 4 sampai 7, saya harus berusaha keras mengingatnya. Berbeda ketika ngomongin sekuel pertama sampai ketiga, saya dengan mudah mengingat setiap adegan di kepala karena semua adegannya ikonik dan kental unsur fun.

Fast and Furious berubah menjadi film action. Mobil yang bisa bawa brankas bank, pesawat yang mau take off butuh runway sepanjang China sampe Timur Tengah, mobil yang dijatuhkan dengan terjun payung. Segalanya menjadi tidak logis. Adegan balapan diganti dengan pukul – pukulan dan banting – bantingan antara duo botak Hobbs (The Rock/Dwayne Johnson) dan Dom Torretto. Saya sampe lupa bahwa 4 franchise terakhir ini ada adegan balapannya. Karena memang nyaris tidak ada. Hanya adegan kejar – kejaran ala film James Bond dan The Transporter, cerita tentang agen rahasia, perampokan bank, penyelundupan narkoba. Sejak kapan Fast and Furious jadi cerita serius gini?

Dan hal ini berlanjut ke sekuel ke-8 yang entah kenapa, makin tidak jelas ceritanya mau dibawa kemana. Mungkin karena dipaksakan Brian O’Connor harus dikondisikan sudah meninggal karena aktor aslinya, Paul Walker meninggal. Cerita di FnF 4 sampai 8 berubah menjadi 80% cerita dan 20% balapan… atau 90% cerita dan 10% balapan, karena nyaris tidak ada adegan balapnya.

“See You Again” Scene di FnF 7, scene paling emotional (Through the Shattered Lens)

Mungkin hal yang membuat FnF 4 sampai 8 berubah total adalah : mereka berusaha untuk tetap membuat duet Brian – Dom menjadi ikonik yang akibatnya harus “menanggung dosa” menyatukan kedua universe : Brian’s Universe dan Tokyo Drift Universe. Karena Dom muncul di ending Tokyo Drift. Penyatuan dua universe ini pun seperti dipaksakan.

Dom Toretto di Tokyo Drift (actionagogo)

Ketika kedua universe ini mau disatukan, tentu saja yang terjadi adalah catastrophy. Karena karakter yang terlalu banyak : Brian, Dominic, Roman Pearce, Tej Parker (Ludacris), Han (Sung Kang), Giselle (Gal Gadot), belum munculnya kembali Letty (Michelle Rodriguez) dan tentu saja our beloved Mia Torretto (Jordana Brewster) yang dari sekuel pertama sudah menggoda. I am a fan of her, also. Plus munculnya Hobbs dan Deckard Shaw (Jason Statham). Berharap film akan menjadi hit karena aktornya kelas dunia semua, malah merusak esensi dari FnF sendiri.

 

Vin Diesel & Jason Statham in FnF7 (Business Insider)

Jordana Brewster inside Honda NSX… I really approve this scene as a Honda fan. (pinterest)

…. and also Gal Gadot, the Wonder Woman…. I mean, Giselle (Real Style Network)

Tidak ada ruang untuk pengembangan karakter, film menjadi terlalu sibuk karena tiap karakter harus berbagi screen time. Berbeda dengan di Fast 1 dimana tokoh utamanya practically hanya Brian dan Dom (tokoh lain hanya pendukung), karena ceritanya berfokus pada konflik Brian x Dominic. Fast 2 hanya Brian dan Roman, ceritanya berfokus tentang bagaimana Brian sebagai ex- undercover police membantu Roman untuk boleh dihapuskan track record kriminalnya jika berhasil menangkap Verone Carter. Tokyo Drift dengan Sean, Han, dan DK yang penuh dengan konflik.

Fast and Furious 4 sampai 7 bukan film yang jelek, ratingnya bahkan lebih tinggi dari 3 sekuel pertama terutama di sekuel ke-6 dan 7. Tapi bagus atau jeleknya film, lebih dari sebuah rating yang subjektif bukan? 3 sekuel pertama memang ratingnya jelek (dan bagi saya memang filmnya biasa saja), tapi banyak hal yang ikonik dan sangat memorable.

FnF 8 Poster, Hope it will be the last… (Universal Pictures)

Jadi saya berharap supaya FnF 8 ini yang terakhir, anggap saja perpisahan dengan mendiang Paul Walker (karena ybs juga yang berharap FnF 8 tetap ada). FnF sudah menjadi sangat complicated dengan 8 sekuel dan 5 yang terakhir berubah menjadi film action dengan alur cerita yang enggak jelas dan terkesan dipaksakan. Please, no FnF 9.

One thought on “Fast and Furious Franchise : Please, No FnF 9. (SPOILER ALERT)

  1. betul setuju banget..
    Mungkin ini karena produser nilai target audiencenya yang ngikutin ff 1-3 juga udah pada dewasa dan sengaja dibuat film yang lebih mature dari sisi cerita dan actionnya mengikuti SES audiencenya.

    Btw congrats, Webnya keren..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *