Jurnalis otomotif itu pekerjaan yang paling menyenangkan. At least bagi saya. Itu adalah sebuah passion.

Membawa mobil keluaran terbaru dalam berbagai macam varian dan “menguliti” satu per satu bagiannya. Apalagi ketika sebuah ATPM meminjamkan unit tersebut bagi anda dan boleh dipakai seminggu penuh! Wow! Bukan sebuah kepercayaan yang main – main. Itu adalah tanggung jawab besar – tanggung jawab yang menyenangkan.

However sebagai orang yang “hobi” mengulas mobil, khususnya di forum umum (SerayaMotor) terkadang saya dapat kritikan dari user – user mobil yang saya ulas ketika saya bicara terutama soal kekurangan. Bahkan ada yang bilang : user review itu lebih akurat karena sudah pakai lebih lama.

Oh ya?

Dalam bicara sebuah review / ulasan produk, manusia itu sering kali biased, dan saya mengamini terkadang saya juga biased. Itu tidak salah, karena bagian dari natur manusia. Karena itu untuk mengurangi biased review, saya berusaha untuk merasakan mobil itu selama mungkin, minimal sehari penuh. Tapi bicara review siapa lebih akurat, harus kita lihat dari sudut pandang yang lebih dalam.

Review jurnalis, mereka adalah orang yang sudah mencoba berbagai macam mobil, sehingga feeling nya lebih terasah. Bahkan saking terasah nya feeling seorang jurnalis, baru mendengar nama mobil berdasarkan brand nya saja terkadang sudah terbayang bagaimana rasa pengendaraan dari mobil itu.

Tetapi, review jurnalis itu bias antara takut mencela atau malah terlalu tega buat mencela. Dan natur kita sebagai manusia, suka sekali dengan hal yang kontroversial, karena itu kita menganggap jurnalis yang cuma membahas kelebihan mobil saja itu membosankan (saya juga termasuk), dan doyan jurnalis yang ceplas ceplos membahas kekurangan mobil, apalagi dengan bahasa sarkas dan (terkadang) guyonan yang maksa. Menurut kita, itu adalah review yang akurat. Nyatanya, saya melihat ini biased juga. Terlalu fokus dengan kekurangan sampe lupa kelebihan mobilnya. padahal yang dibahas kekurangannya nggak terlalu penting.

Dulu saya juga termasuk “kejam” kalau menulis review, sekarang gaya bahasa saya cenderung menghindari frasa-frasa kasar dan tidak kontekstual, saya malah lebih tertarik membahas dalam di teknikal, sehingga mengurangi bias.

Kesalahan utama dari review jurnalis adalah mereka sangat terpengaruh dengan trio TopGear lama (sekarang The Grand Tour) : Clarkson, Hammond, dan May. Yang sering menggunakan sarkasme dan “kejam” dalam melakukan review. Sehingga gaya nya tidak original. Fakta lain adalah TopGear UK (GrandTour) lebih ke entertainment purpose ketimbang serius.

Well, perlu diingat kita hidup di budaya timur, yang sangat menghargai kesopanan.

TopGear Trio Hammond, Clarkson, May. (Clipartfox)

TG Trio ini bukan orang sembarangan, punya pengalaman dengan banyak mobil, dan ngerti soal teknikal mobil, especially Hammond. Masalahnya, kebanyakan jurnalis lokal males googling atau belajar soal teknikal mobil sedikit aja. Bahkan sampai menggiring opini yang salah.

Plus, jurnalis ini biasa hanya fokus ke benda (mobil) nya, bukan faktor – faktor pendukung. Sehingga brand yang tidak memiliki fasilitas / fitur memadai biasanya punya nilai negatif di mata jurnalis, walaupun brand tersebut bisa jadi memang satu – satunya pilihan masyarakat di daerah karena dealernya cuma ada itu. Karena pengalaman saya juga orang daerah, beli mobil liat fitur justru susah karena kita orang daerah masih mikir faktor pendukung lain. Termasuk mudah/sulitnya mobil dijual.

Frasa “beli mobil untuk dipake dan bukan untuk dijual” menurut saya kurang tepat. Karena kita nggak akan pernah tau kapan kita butuh duit, kapan kita bosen dengan mobil itu. Apa nggak sayang ketika lagi BU (Butuh Uang) lalu mau jual mobil terpaksa jual dengan harga sangat murah saking sulitnya mobil itu dijual?

Tapi ya terserah, itu hak orang kok. Persepsi masing – masing aja.

Lalu, beralih ke user review.

Saya tidak menampik, user punya pengalaman yang banyak dengan mobilnya. Tentu, berjalan ratusan ribu kilometer dengan sebuah mobil sangat berbeda dengan pengalaman berjalan ratusan kilometer saja. Apalagi dengan pengalaman merawat mobil tersebut sehingga lebih komprehensif membahas soal spare parts dan aftersales nya.

Tapi yang saya tanyakan adalah, user ini sudah pengalaman dengan mobil apa saja? Seberapa banyak pengalaman user ini dengan mobil yang bervariasi? Jangan – jangan ini mobil pertamanya sehingga dia menganggap apapun di mobil ini bagus? Jangan – jangan dulu mobilnya sebuah Toyota Avanza lalu sekarang berganti ke Honda CR-V sehingga Honda CR-V dibilang bagus semua?

Kedua, faktor emosional. Ketika anda memutuskan membeli sebuah mobil, karena itu adalah hasil jerih payah nabung, mau nyela mobilnya pun jadi enggak tega, apalagi kalo mobil baru. Saya suka menyebutnya “honeymoon syndrome“. Masa dimana anda lagi senang – senangnya dengan mobil itu sehingga apapun kelebihan / kekurangan mobil itu ya anda anggap wajar. Sama seperti bulan – bulan awal pernikahan, masih romantis, begitu lewat setengah tahun jadi biasa aja, bukan begitu? Membeli sebuah mobil, anda suka nggak suka akan merasa puas karena itu hasil jerih payah anda. Dan review yang diberikan pasti bias ke positif bukan ke negatif.

Point saya adalah, keduanya punya plus minus.

Review jurnalis sebaiknya dibaca ketika anda sedang akan memilih mobil. Review Jurnalis juga harus dianggap sebagai referensi, ingat itu hanya pendapat orang. Ketika bingung memilih mobil, datanglah ke dealership, mintalah test drive dan mana yang cocok untuk anda. Review hanya referensi, bukan pengarah anda harus beli mobil apa.

Review user sebaiknya dibaca ketika anda SUDAH TAU akan beli mobil apa, atau bahkan sudah beli duluan juga masih sah. Bukan, bukan untuk menggoyahkan iman anda. Sekali lagi, bacalah sebagai referensi dan persiapan di masa mendatang problem potensial yang harus diperhatikan selama pemakaian jangka tertentu.

(CarThrottle)

2 thoughts on “Review Jurnalis vs Review User : Mana yang Lebih Layak Dipercaya?

    1. Hallo,

      Yup, situs chzautoblog.wordpress.com sudah tidak saya gunakan lagi. Ini alamat situs yang baru. Semua konten sama persis.

      Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *