Suzuki merupakan brand yang identik dengan mobil kompak atau citycar, di Indonesia sendiri salah satu pelopor “mobil kecil” adalah Suzuki Karimun a.k.a Wagon R, di tahun 2000an mobil ini muncul dan sempat populer karena kecil dan mudah digunakan, terutama untuk kaum wanita.

Suzuki Karimun

Karimun sudah tiga generasi berada di Indonesia, di tahun 2007 muncul Karimun generasi kedua yang diberi nama Estilo (not mistaken with Civic Estilo), dan Karimun WagonR dari tahun 2013 yang juga ikut dalam skema LCGC. Sayang Karimun WagonR disini adalah model India, bukan model JDM. Karena model Suzuki di Indonesia dan pasar ASEAN sepertinya mengacu pada Maruti Suzuki India.

Yep, JDM model (kiri) lebih ganteng. Agak sedih yang masuk Wagon India. (Jan’s group)

Tapi kali ini kita tidak akan bicara soal Karimun.

Di luar Karimun, Suzuki memiliki banyak lineup citycar seperti Alto, A-star, Splash, Celerio, Swift. Tidak jarang lineup Suzuki bertabrakan satu sama lain secara range harga dan kelas. Alto dan A-Star masuk beberapa untuk test unit, yang resmi dipasarkan adalah Splash, Celerio, Karimun Wagon R. Bisa dibayangkan gimana mepetnya price range keempat produk ini? Yep. Tumpang tindih. Karimun diposisikan dari 105 sampai 135 juta, Celerio di 156 – 168 juta, Splash terakhir di 170 – 180 juta kalau saya gak salah ingat (krn sudah tidak ada pricelist resminya di web Suzuki). Target consumer nya tidak segmented. Pricing dan kelasnya terlalu aneh.

Dan di tahun ini Suzuki men-discontinue Splash lalu meluncurkan Ignis. dengan harga 139 – 169 juta. Well, sepertinya jelas bahwa Celerio juga akan di-discontinue sebentar lagi karena angka penjualannya menyedihkan. Suzuki sepertinya ingin merapikan line-up. Jadi tersisa Karimun dan Ignis, dan pembelinya lebih segmented.

Ignis menggunakan konsep small-SUV, agak seperti Renault Kwid. Jadi pesaing sebenarnya Ignis bukan Brio RS atau mobil lain, tapi Kwid. Sayangnya Kwid disini speknya sangat terondol. Sedang Karimun Wagon R sendiri pure city car.

Saya sendiri merasa mobil ini agak over-rated karena di forum diskusi jawaban Suzuki Ignis akan selalu muncul setiap orang bertanya mobil baru. Dan efek hype nya sangat kuat. Seperti yang bisa dilihat di gambar saat peluncurannya, mobil ini menarik perhatian. Nyaris saya tidak bisa menemukan mobil yang tidak dikerumuni manusia, jadi sangat sulit untuk explore di pameran.

Tapi di lain kesempatan saya mendapatkan sebuah Ignis GX bertransmisi Manual untuk di-explore. Tanpa berlama – lama saya langsung menjajalnya berkeliling kota Surabaya.

The Looks

Jika model Honda Brio masih belum cukup aneh, Ignis bentuknya lebih aneh lagi. Suzuki sepertinya sedang terobsesi dengan model kotak – kotak. Bentuknya sangat minim lekukan dan unik. Bagian depan terlihat unik dengan lampu depan melingkar seperti kacamata dan projector headlights yang terlihat seperti mobil sudah modifikasi lampu.

Mobil yang saya tes berwarna tinsel blue pearl, dan merupakan warna yang menurut saya terbaik di Ignis. Putih sudah terlalu mainstream, dan saya kurang suka hitam untuk warna mobil kecil.

Kap mesin, design cue dari Suzuki Vitara. Menguatkan kesan retro-modern.

Mungkin kaum gadis akan suka karena bentuknya lucu… dan mungkin alasan kenapa saat launching ramai juga karena sudah selesai UN SMA dan banyak orang tua ingin membelikan anaknya mobil untuk persiapan masuk kuliah… Bisa jadi.

Garis bodi bagian belakangnya terutama yang sangat kontroversial, seperti mobil yang bagian belakangnya dipotong menggunakan gunting raksasa. Aneh tapi… Unik. Jika anda penggemar otomotif pasti mengingat style hatchback tahun ’80 – ’90an seperti Lancia Delta Integrale, dan bagian belakang Ignis mengingatkan pada mobil tersebut.

Lancia Delta Integrale… Ignis kalau dibuat gaya rally begini cocok juga sepertinya. (Speedhunters)

14 inch wheels dengan… Bridgestone Ecopia. Khas mobil – mobil level ini yang menggunakan ban eco sebagai standar. Velg diberi warna hitam yang dijamin susah bersihin kalau nanti kotor… Not a very wise choice for rim color… Kalau kena banjir dan lumpur dijamin keliatan dekil sekali.

Kalau boleh jujur…. Ignis ini sama sekali nggak masuk selera saya sih modelnya. Nggak cuma Ignis, citycar Suzuki yang didesain di India a.k.a Maruti Rebadged menurut saya modelnya aneh semua… dari Karimun WagonR, Celerio, Splash… lalu Ignis. Brio RS lebih masuk modelnya buat saya.

Tapi dibandingkan Renault Kwid, Ignis masih lebih masuk modelnya. IMHO.

Tapi ya sudahlah… itu perkara selera.

Inside

Lagi – lagi Ignis terlihat menarik bukan hanya sebatas di luar. Di dalam terdapat perpaduan warna two-tone dengan dasbor bernuansa retro – modern. Bahan yang digunakan pun cukup baik, sangat berbeda dengan lawan – lawannya.

Di foto ini dasbor Ignis tipe GL, pembedanya ada di tombol setir, tombol AC, shifter transmisi di GX lebih mewah finishingnya, AC diberi finishing polished di tipe GX.

Setir sudah dilengkapi tombol – tombol, dan punya tombol panggilan telepon di tipe GX. Citycar dengan fitur panggilan telepon… Hmmm… Anak muda banget.

Cluster nya bagian favorit saya… Terlihat seperti mobil balap dengan jarum di posisi jam 6. Mengingatkan pada Mazda – Mazda lawas seperti Mazda CX-7, RX-8, Mazda6 lama, dan MX-5 lama.

 

Jadi ini Mazda apa Suzuki sih?

Driving time ermmm… Cocok buat yang hobi ngukur jalan (?)

Tipe GX juga dilengkapi start-stop engine button, sepertinya di kelas ini baru Ignis dan Mitsubishi Mirage yang punya.

Kisi AC dengan motif carbon fiber. Motif doang, carbon fiber asli sih mahal.

Kisi AC tengahnya diberi finishing polish di tipe GX

AC nya keren, sudah digital seperti di Honda Brio, tapi ini sudah auto climate control single-zone. Tombolnya berasa nyetir Lamborghini…

Dan AC ini mungkin akan menjadi salah satu selling point Ignis tipe GX… karena Ignis GL ACnya… Menyedihkan.

Tombol AC di Ignis tipe GL.

Head unit original nya bukan ini, PHP doang ini, untuk versi display dan test unit pakai HU dari Suzuki Genuine Accessories.

Nggak ada fitur spesialnya juga, jadi sebenernya pointless. Cuma ubah tampilan aja. No Navigation, no reverse parking camera. 

Aslinya cuma begini…

Yah. Sederhana. (suzukiignis.com)

Handle pintu di doortrim ini keren, dia diberi finishing warna sesuai dengan warna exterior.

Ruang kaki baris kedua lumayan besar walaupun tidak spesial.

Bagasinya, lumayan besar… Tapi nampaknya masih kalah besar dibanding Agya / Ayla.

Well lihat interiornya saja terasa Ignis cukup layak buat dimiliki, lalu bagaimana dengan pengendaraannya?

Engine, Drivetrain, and Driving

Menilai mobil tentu tidak cukup hanya dari lihat-lihat saja, tidak cukup model bagus dan interior berkualitas yang membuat sebuah mobil dinilai baik.

Suzuki / Maruti Ignis, disenjatai mesin K12M DOHC VVT. Unit serupa dengan Suzuki Splash. Memang mobil ini secara tidak resmi merupakan penerus dari Splash. Yah setidaknya mereka punya satu kesamaan : sama-sama punya model bokong yang tidak normal.

Power rated di 83 Hp @ 6000 RPM dan torsi 113 Nm @ 4200 RPM. Peak power nya lebih rendah dari Honda Brio yang 87 Hp @ 6000 RPM dan Agya 1.2 yang 85 Hp @ 6000 RPM  tapi torsinya lebih tinggi 3 Nm dibanding Brio yang 110 Nm @ 4800 RPM dan 5 Nm dari Agya 1.2 yang 108 Nm @ 4200 RPM. Mirage paling rendah disini dengan 77.5 Hp @ 6000 RPM dan 100 Nm @ 4000 RPM.

Rasio kompresi mesin ini tergolong tinggi, 11 : 1. Jadi sepertinya tidak direkomendasikan menggunakan Bahan bakar oktan 88…

Transmisi mobil ini menggunakan 5-speed Manual (GL & GX) dan 5-speed Auto Gear Shift (AGS) atau AMT (Automated Manual Transmission). Versi AGS hanya ada di tipe GX.

Banyak yang menyayangkan kenapa mobil ini menggunakan transmisi AGS yang terkenal kurang nyaman dibanding 4-speed Automatic ataupun CVT. Well penghematan ongkos ? Karena transmisi AGS tidak memerlukan komponen yang terlalu banyak maupun desain khusus, hanya penambahan modul kopling otomatis saja. Jujur pengalaman dengan AGS Suzuki tidak terlalu bagus. Di Karimun WagonR AGS rasanya lemot sekali dan kasar… Rasio gigi AGS dan MT sama, tetapi final gear di versi AGS lebih besar di angka 4.7 sedangkan versi manual 4.3 .

Di Ignis? Well, beruntung saya tidak mendapat kutukan AGS, karena unit nya bertransmisi Manual.

Pengaturan posisi duduk di Ignis hanya ada height adjuster, sliding, dan tilt steering. Itupun sangat terbatas. Sehingga sulit menemukan posisi mengemudi yang nyaman di mobil ini. Tangan terlalu jauh kalau mau kaki selonjor, tapi jika dimajukan kaki terlalu nekuk. Posisi setir pun terlalu tinggi meskipun sudah paling bawah. Tapi joknya cukup enak, dibandingkan dengan kompetitor seperti Agya / Ayla.

Injak kopling masuk gigi 1, jika banyak orang bilang transmisi manual Suzuki feelnya aneh, terjadi juga di Ignis ini. Agak sulit nemu selah nya di gigi 1. Antara gas nya terlalu dalam atau stalling. Sama seperti dulu ketika mengemudikan New Swift milik teman saya. Tapi begitu sudah menemukan sweet spot nya, transmisi ini sangat halus.

Impresi awal, mesinnya sangat halus dan bersemangat di putaran tinggi, terutama setelah melewati 4000 RPM karena peak torque di 4200 RPM. Untuk tipikal eco-driver, rasanya kurang cocok mengemudikan mobil ini karena jika berusaha ngoper gigi di 2000 RPM tidak terasa apa-apa.

Lucunya, gearing mobil ini cukup pendek – pendek. Gigi 1 di 50 km/h, gigi 2 di 90 km/h, dan gigi 3 130 km/h. Gigi 4 bisa sampai 170 km/h tapi sudah sangat berat.  Mungkin untuk ngakalin mesin yang berkarakter hi-rev, gearingnya dibuat pendek. Tapi konsekuensinya di dalam kota akan cukup sering ngoper gigi, di dalam kota idealnya cruise menggunakan gear 2 dan 3 jika ingin irit sekaligus power tetap ada. Sayangnya, di mobil ini ketika sampai redline tidak terjadi “rev-bouncing” , sedikit mengurangi kesenangan berkendara.

Knob shifter nya pun terasa cukup mantap dibanding lawan – lawan sekelas, sayangnya jarak antar gigi agak jauh. Tidak seperti Honda yang mudah digunakan untuk quickshift.

Mobil ini di jalan tol berputar 2700 RPM pada 100 km/h . Dan dengan cara mengemudi yang tepat mobil ini bisa sangat irit. Tercatat di MID dengan cara mengemudi sering berpindah di atas 3000 RPM saja masih sanggup menorehkan angka 14 km/l kombinasi tol dan perkotaan. Jika berasumsi MID punya deviasi 10 % saja, berarti rata – rata konsumsi BBM mobil ini dengan BBM oktan 92 setidaknya bisa 12 – 13 km/l . Jika dikemudikan dengan lebih santai bisa lebih dari 15 km/l tentu saja.

Bicara pengendalian, walaupun bodyroll nya tetap ada, tetapi tidak sulit mengontrol mobil ini. Suspensinya cukup keras sehingga body controlnya baik dan terasa mantap di jalan, jauh lebih mantap dibanding Agya / Ayla yang terlalu mengayun suspensinya sehingga body control nya buruk dan rawan kehilangan grip ketika manuver di kecepatan tinggi.

Tapi tentu saja, mobil ini tidak bisa dibilang nyaman. Sangat jauh dari kata nyaman. Melewati jalanan bergelombang akan cukup terasa guncangan di dalam mobil, didukung faktor mobil ini tinggi. Karakter dampingnya agak mirip dengan Suzuki SX4, sedikit agresif. Beruntung joknya cukup nyaman sehingga mengemudikan mobil ini tidak terasa melelahkan.

Catatan lain datang dari steering nya. Memang semua resep mobil ini seakan membuatnya fun to drive, tapi tidak dengan steering nya. Steering nya terlalu ringan dan kurang responsif sehingga kurang layak disebut fun to drive. Tapi yah sepertinya orientasi orang membeli mobil ini juga bukan fun to drive. Ukuran setir juga terlalu besar, siku tangan saya ketika memutar setir sering mentok ke doortrim.

Lalu bicara peredaman juga menjadi salah satu kelemahan. Memang peredaman kolongnya cukup baik untuk mobil sekelas ini, tapi entah kenapa justru suara angin yang masuk ketika berlari di tol.

The Conclusion?

Solid, Fuel Efficient, yet Powerful. The real pocket rocket.

Mobil ini sangat cocok untuk anda yang masih muda, masih single, dan menyukai tampil berbeda. Ignis menjawab kebutuhan orang muda untuk tampil beda dan unik dengan style retro-modern nya. Dan memang mobil ini dipasarkan untuk kaum muda yang dinamis.

Kekurangan – kekurangannya terbilang minor, dan bisa diabaikan jika anda tipikal daily driver yang jarang ngebut dan karena jarang bawa penumpang kenyamanan jadi prioritas ke sekian.

Untuk yang berkeluarga well, mungkin tidak akan menyukai karakter bantingan suspensinya yang keras. Bagi yang berkeluarga akan lebih cocok membeli Toyota Calya atau Daihatsu Sigra saja.

Pesaing mobil ini secara harga adalah Honda Brio RS, walaupun jika maksa dikit sebenernya bisa juga diadu dengan Mitsubishi Mirage Exceed . Secara kelas seharusnya ia bersaing dengan Renault Kwid, sayang kelengkapan Renault Kwid terbilang trondol dan selisih harganya jauh. Sedangkan Toyota Agya 1.2 dan Daihatsu Ayla 1.2 masih masuk skema LCGC dan secara harga juga terpaut lumayan jauh.

Yah, jadi selamat memilih. Semoga tidak hanya hype sesaat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *