Fetish berarti suatu obsesi berlebihan terhadap suatu objek, walaupun tidak bermakna seksual, fetish sering kali digunakan untuk menggambarkan obsesi pria / wanita terhadap bagian tubuh tertentu dari lawan jenisnya. Misalnya : foot fetish. Berarti pria tersebut terobsesi dengan kaki wanita, cantik / tidaknya seorang wanita bagi seorang pria yang foot-fetish, ditentukan dari kakinya. Saya sendiri jika melihat seorang wanita lebih pada mata, berarti saya seorang eye-fetish.

Ok itu hanya intermezzo singkat, dan kenapa saya menggunakan istilah fetish pada review kali ini?

Yes, karena memang saya mengalami obsesi berlebihan terhadap mobil ini. Tidak lain dan tidak bukan : The New Honda Civic Turbo 1.5 Liter (10th generation / FC1).

Well, saya memang penggemar berat merek berlogo H ini, dan selalu mengikuti perkembangan merek ini, Bahkan mungkin mobil yang paling sering nangkring di garasi orang tua saya adalah Honda. Bagi saya, mengemudikan sebuah Honda memberikan chemistry tersendiri. All New Civic Turbo, tentu saja bukan pengecualian.

Pertama dari modelnya saja sudah terlihat naik kelas. Saya yakin kalau tidak ada logo H besar di grill, dijejerkan dengan BMW seri-3 atau Mercedes-Benz C-Class anda akan mengira ini juga sedan keluaran Eropa. Kesan Japanese nya memudar dan mobil ini terlihat seksi, padat, dan berotot.

IMG_20170520_090434

IMG_20170501_114846

IMG_20170520_090423

Faktor lain yang membuat bentuknya sangat gagah tentu saja, penerapan model sportback di bagian belakang. Who doesn’t love sportbacks? LED Tail-lamp nya pun membuatnya makin seksi.

IMG_20170501_114950

IMG_20170506_131149

Lampu belakang LED yang seksi (motortrend)

Yah, i can spend a whole day looking at this thing.

Masuk ke mobil ini hmmm… Jujur saja saya paling malas mengomentari bagian build quality dan tetek bengek lainnya. Bagi saya selama nggak ada yang aneh ya jangan dicari – cari… Gitu. Masuk mobil auranya udah kepengen nyalain mesin dan segera jalan.

IMG_20170521_193701

Well apa yang mau dikomentari… Saya selalu suka dengan keteraturan di interior mobil Honda. Layout design dua tingkat seperti di Civic FD dan FB ditinggalkan, digantikan dengan speedometer digital yang jadi satu dengan tachometer. Sayang versi Indonesia speedometer full color TFT seperti di Thailand nya kena PHK. Sayang sekali…

Speedometer versi Thailand… Aaaah teganya Honda… (Paultan)

Speedometer versi Indonesia… (Youtube)

Design keseluruhan seperti ngambil dari BR-V dan beberapa dari HR-V. Tidak terlihat murah dan tidak jelek, diberi banyak sekali sentuhan premium. Kesannya sangat high tech di mobil ini, dan terlihat sekali terinspirasi dari mobil Eropa, contoh? Konsol tengah memiliki dua tingkat seperti di Land Rover, yang juga seperti di HR-V.

IMG_20160429_150323

IMG_20160429_150332

Bagian paling menarik dari mobil ini adalah engineering nya. Civic dibangun dari basis Honda Compact Global Platform yang sama sekali berbeda dari Civic generasi sebelum – sebelumnya. Whole new chassis, whole new engine.

IMG_20160429_150142

Engine yang selama ini Civic menggunakan 1.800cc dan 2.000cc, kali ini bukan ditambah, tapi dikurangi. 1.500cc L15B7. Lebih kecil dari Honda Civic Estilo bermesin D16A 1.600cc. Tapi mesin ini punya power output nggak main – main : 171hp di 5.500 RPM dan torsi 220 Nm flat dari 1.700 – 5.500 RPM. Ini menarik mengingat biasanya Honda memiliki karakter mesin yang sangat peaky dan torsi puncak di putaran yang sangat tinggi dibanding mobil sekelasnya.

Dipasangkan dengan transmisi CVT – bahasan tentang mesin Turbo 1.500cc Honda dan CVT sudah pernah saya bahas di artikel sebelumnya.

Suspensi, mobil ini sudah tidak lagi menggunakan double-wishbone di suspensi belakang. Digantikan oleh suspensi multi-link dengan fluid-filled bushings.

Suspensi belakang multi-link di Civic terbaru (Honda News)

Rangka juga sudah menggunakan baja high-tensile di beberapa bagian sehingga meskipun mobil ini bertambah dimensi cukup signifikan dari sebelumnya, bobotnya hanya bertambah sekitar 70 kg, sekitar satu orang pria dewasa.

Rangka Honda Civic (paultan)

Soooo yah… How does it feel?

Pertama kali yang saya suka adalah posisi mengemudi yang bisa diset sangat rendah, jauh lebih rendah ketimbang Civic sebelumnya. Ini memberikan kesan mantap dan rileks karena sangat dekat dengan lantai. Mirip Рmirip dengan BMW seri-3.  Support jok juga sangat baik di versi terbaru ini, busa cukup tebal dan konturnya suportif, lebih suportif ketimbang Civic lama.

Bicara engine nya, kebetulan mobil yang saya coba sudah dilengkapi blow-off valve, cold air intake, dan race chip. Beringas? Yep. Bisa dibilang beringas meskipun tidak liar. But it actually feels fast, terutama ketika sudah menyentuh range turbo bekerja. Powerband luas yang lebih efektif ketimbang mesin N/A VTEC lama yang walaupun hanya mesin seri R SOHC maupun L SOHC tapi torsi puncak nya di putaran yang tinggi sehingga terasa lemot. Di Civic Turbo, dengan net horsepower lebih tinggi dan diraih lebih cepat membuat mobil ini betul betul terasa kencang.

Lalu transmisi CVT meskipun banyak dibenci – saya suka dengan transmisi CVT di Civic ini, dan benar apa kata saya bahwa CVT sangat cocok dengan mesin turbo dengan powerband luas seperti ini. Saya bisa dengan leluasa meng-explore potensi mesin dengan baik, mendapat torsi yang cukup setiap saat, mengemudi dengan santai di dalam kota, di saat yang bersamaan ketika ingin berakselerasi, tinggal injak pedal gas dalam – dalam dan transmisi CVT ini jauh dari kata lemot, lock-up nya cukup sigap ketika dibutuhkan, dan yang terpenting adalah “simulasi gear” di posisi D.

Yang menyebalkan dari CVT adalah ketika anda meletakkan di posisi D dan langsung injak gas penuh, jarum RPM akan statis di rev limiter – hal yang menyenangkan karena itu berarti akselerasi maksimum selalu terjadi, tidak ada losses power akibat perpindahan gigi di transmisi konvensional, sekaligus menyebalkan karena suara RPM yang statis itu menyebalkan dan berisik. Untungnya Honda memikirkan hal ini, sehingga TCU bertindak seolah – olah ia “memindahkan” gear untuk menghilangkan bunyi statis tersebut.

Lho, berarti kelebihan CVT untuk mempertahankan akselerasi maksimal jadi hilang, terus gimana dong?

Di sini jeniusnya Honda, rev limiter di Civic diletakkan di 6.600 RPM, sementara puncak horsepower ada di 5.500 RPM. Sepanjang saya mengemudikan mobil ini, CVT dapat “berpindah” di 6.500 RPM dan ketika “berpindah” ia tidak drop di bawah 5.500 RPM sehingga akselerasi maksimum tetap terjaga.

Adapun drawback dari CVT ini adalah untuk tuning konon tidak bisa di-push melebihi 270 Nm atau transmisi bisa rontok. Tapi yah memang mobil ini sudah kencang dari lahirnya. Jadi tuning ringan saja tidak akan melebihi 270 Nm.

Soal handling Рinilah yang menjadi drawback terbesar Civic sebelumnya (generasi 9 РFB), steering lock to lock yang tidak wajar sehingga bikin kesan serasa mobil besar dan suspensi belakang yang empuk sehingga limbung ketika dipaksa menikung. Tidak lagi di Civic terbaru ini. Steering lock to lock nya justru sangat pendek, hanya 2.2 x sudah mentok, saya sampai tidak enak dengan pemiliknya karena berkali Рkali mentok muter setir. Ini disebabkan oleh Variable-Steering gear ratio nya, yang memiliki rasio setir variabel sehingga dapat menyesuaikan dengan keadaan. Feedback setirnya pun jauh Рjauh di atas generasi sebelumnya yang terlalu ringan. Berkat adanya dua buah pinion gear di setirnya dan motor elektrik yang kini hanya berfungsi sebagai supplemental Рbergantung pada seberapa besar effort driver menggerakkan setir. Tidak heran bobot setirnya sangat pas dan feedback nya cukup terasa Рwalaupun tidak se-natural hidrolik.

Steering System di Honda Civic (Honda News)

Menyoal body control, well suspensi yang dirancang dengan baik juga membuat mobil ini terasa lincah meskipun terlihat besar di luar. Bagian belakang terasa lebih stabil dari generasi sebelumnya, dan bagian depan lebih tajam. Peredaman suspensinya juga baik, jarak main suspensi / travel nya memang pendek tapi diredam dengan baik setiap lewat jalan tidak rata, sehingga jauh lebih nyaman dibanding generasi 8 maupun 9. Meskipun yah… Harus diakui memang mobil masih terasa agak berat ketika menikung. Mungkin mobil ini ranahnya lebih ke GT Car untuk dibawa santai, long-haul trip. Buat meliuk – liuk di tikungan Mazda3 dan Golf TSI mungkin masih lebih baik.

Soal ini juga didukung dengan peredaman suara yang sangat – sangat jauh lebih kedap dibanding semua Honda yang pernah saya coba. Jarang sekali saya merasakan sebuah Honda itu kedap, ya mungkin memang benar mobil ini orientasinya sebagai sebuah mobil untuk santai.

Setelah mengemudikan mobilnya pun tidak mengecewakan, semakin membuat saya ingin memilikinya… Car-fetish, i guess?

Well, Honda Civic memang sepertinya sekarang menyasar konsumen yang lebih mapan, yang nggak lagi “menggebu-gebu”, feel dari mobil ini sangat relaxed, sangat santai, tapi tidak lemot ketika dibutuhkan, dan masih bisa memberikan senyuman ketika berkelok – kelok di jalanan pegunungan.

Honda Civic FC1 cocok untuk anda yang mencari sedan keluarga yang nyaman untuk perjalanan jauh, untuk yang bisa menghargai teknologi dan pengembangan yang dilakukan oleh pabrikan mobil. Otherwise, silahkan beli Corolla saja, karena nggak worth beli Honda Civic kalau nggak bisa menghargai dan menikmati semua kelebihannya.

Dengan munculnya Honda Civic terbaru ini, Honda seakan memberikan statement keras bahwa ia ingin menyasar mobil Eropa, karena memang segala refinement di Civic sepertinya ditujukan untuk melawan mobil Eropa, bukan lagi Corolla. Apalagi sebentar lagi akan keluar versi hatchback di Indonesia yang juga di luar merupakan pesaing dari VW Golf dan Ford Focus. Civic type-R pun sekarang menyasar kelas hot-hatchback.

 

Honda Civic Hatchback berkode FK7 (between the axles)

2 thoughts on “A Honda Civic 1.5 Turbo Review : Civic-Fetish .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *