Sebagai orang yang berkecimpung di dunia otomotif dan aktif di forum diskusi, tidak jarang, bahkan sangat sering saya mendengar keluhan tentang fitur mobil.

“Gue suka mobil A tapi sayang nggak punya cruise control”

“Gue suka mobil B tapi sayang kok fiturnya dikurang – kurangin ya?”

“Gue suka mobil C tapi kok nggak punya stability control”

“Gue suka mobil Z tapi lampunya nggak HID”

dan lain – lain….

Cruise Control

Sumber : CarSizzler.com

BMW iDrive

Sumber : Auto Evolution

Err… Satu sisi, kadang kesel kalo memang fitur apalagi keselamatan di”hemat” oleh pabrikan mobil. Kita beli mobil sudah mahal tapi kelengkapan masih nggak kumplit, tombol masih bolong – bolong. Sedangkan kompetitor di harga sama bisa memberi lebih, jauh lebih banyak.

Terkadang ketika ditanya soal kenapa fitur A fitur B nggak ada di mobilnya, jawaban petinggi ATPM pun bikin capek. Alesan “ngeles” nya banyak, dan kebanyakan alasannya “konsumen merasa belum butuh”. Hell?

Mungkin alasan ATPM itu agak konyol, tapi coba kita mikir, jangan – jangan itu benar?

Jangan – jangan konsumen kita memang gak butuh “mainan” sedemikian banyak?

Atau lebih parah, sorry to say, konsumen kita gak butuh “safety” ?

Saya rasa petinggi ATPM bukan anak kemarin sore yang baru belajar jualan mobil. Alasan untuk “ngeles” ? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin memang gak butuh aslinya.

Pertanyaan saya simpel, berapa persen konsumen yang protes karena airbag di mobil 2 tidak 10? Berapa persen konsumen yang protes karena tidak ada ABS di mobilnya? Berapa yang protes beli SUV baru 500 juta nggak ada kontrol stabilitasnya?

Saya masih banyak menemukan kok orang yang bilang “ah saya nggak pake ABS juga nggak mati!” atau ridiculous comments seperti “kontrol stabilitas emang ngebut dimana?”.

Untuk fitur krusial aja cuma segelintir yang protes dan merasa “nggak butuh”.

Terus berharap fitur gak penting seperti lampu HID auto-levelling, cruise control, dan sensor-sensoran gak penting ?

Supply and Demand

Supply and Demand graph

Sumber : investopedia

Hukum Ekonomi Dasar. Supply akan selalu mengikuti demand. Ketika ada demand (permintaan) maka supply (ketersediaan) harus juga dipenuhi. Keduanya harus seimbang.

Pertanyaannya, adakah demand untuk mobil dengan segenap teknologi canggih? Jika tidak dipenuhi oleh produsen, logikanya berarti memang tidak ada permintaan yang serius.

Maksudnya begini, konsumen Indonesia rata – rata itu simpel. Permintaannya dasar banget : kenyamanan, kekedapan, mesin lebih irit, jok lebih tebal, kursi belakang lebih nyaman. Sedikit yang minta cruise control, lampu HID auto-levelling, apalagi layar infotainment besar di tengah dasbor.

Makanya improvement dari pabrikan biasanya ya sebatas itu saja. Perbaikan di sisi suspensi supaya lebih nyaman, perbaikan di kekedapan dengan noise cancelling atau nambah peredam, perbaikan di efisiensi mesin supaya lebih hemat (karena kata “hemat bahan bakar” adalah jurus sakti memenangkan hati rakyat Indonesia), nambah busa kursi, ngerebahin sandaran kursi, nambah varian 3 baris, dll. Semua kembali lagi ke analisa pasar. Kebutuhan konsumen berbeda, maka dari itu ada studi pasar.

Studi Pasar

Ilustrasi segmentasi pasar 

Sumber : spidolbekas.wordpress.com

Ada istilah yang namanya “studi pasar” sebelum peluncuran sebuah produk. Orang marketing seharusnya lebih paham, saya orang teknik tapi juga pernah dapat satu mata kuliah pemasaran 2 SKS dan nilai saya lumayan bagus, dan mata kuliah Technopreneur 4 SKS yang mana belajar merencanakan produk sampai strategi pemasarannya.

Singkat aja, saya nggak perlu berbuih – buih jelasin apa itu STP (Segmenting, Targeting, Positioning). Studi produk bukan one-sided dari produsen ke konsumen, tapi juga melibatkan survey pengguna dan calon konsumen, tentang apa yang diharapkan konsumen dari produknya. Bisa berupa formal (angket evaluasi) atau juga informal seperti wawancara user atau sekedar keluhan yang disampaikan di bengkel resmi waktu servis, atau masukan ke salesman. Intinya input user bisa ditemui dimana saja.

Saya belum pernah berkecimpung dalam studi ini, tetapi masukan yang diperhatikan saya yakin mayoritas pasti dari mantan user produk tersebut. Karena ini potential buyer, banyak orang yang akhirnya punya let’s say Toyota Avanza sampai 3 model, Honda CR-V sampai 4 generasi, Honda Jazz 3 generasi, etc. Potential buyer adalah orang yang sudah pakai produknya dari lama, dengan harapan adanya end-user ini akan membantu “penjualan” produk ke orang – orang yang belum tau soal produknya.

Ilustrasi gambar : 3 generasi Honda Jazz. Banyak orang yang akhirnya selalu membeli generasi baru karena puas.

Sumber : MotorTrader Malaysia

Tentunya mobil SUV atau MPV 400 – 500 juta segmentasinya bukan untuk orang muda, lebih ke family use. Mobil citycar 100 jutaan tentu segmentasinya bukan untuk eksekutif muda, kebanyakan untuk first-end buyer dan anak muda kuliahan yang baru dikasih mobil.

Customer Oriented x Product Oriented

Perbedaan pabrikan mayoritas dan minoritas adalah orientasinya. Merek mayoritas, biasa lebih berfokus ke hal – hal yang bersifat customer support ketimbang menghiasi produknya dengan fitur, yang 80% gak akan kepake juga di pengendaraan normal.

Mengapa merek mayoritas itu sudah rakitan lokal tapi tetep mahal? Karena anda nggak cuma beli mobilnya. Anda beli fasilitas juga.

Bengkel resmi merupakan bentuk support ATPM kepada konsumen, pabrikan besar kebanyakan lebih berfokus ke pengembangan bengkel dan spare parts ketimbang memenuhi mobil dengan fitur.

Sumber : Info Surabaya

Kalian pikir keuntungan dealer jual mobil itu banyak? No. Margin profit jual mobil itu sedikit. Mesin uang dealer adalah layanan service dan spare parts. Service dan spare parts pun kembalinya ke anda lagi. Misalnya free jasa servis dan spare parts. Makanya pabrikan besar begitu getol bikin jaringan dealership ketimbang jor-joran fitur.

Perluasan jaringan dealer penting demi menjangkau konsumen di daerah penting untuk menjaga consumer trust.

Sumber : autonetmagz

Lagian dealer banyak yang enak siapa? Konsumen juga kan? Main ke kampung nggak perlu jauh – jauh kalo ada emergency dan butuh servis.

Paling terlihat mobil “jual fasilitas” adalah merek premium seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Lexus. Ada program service inclusive dimana kita tinggal pakai mobil aja, servis dan layanan lain nggak kena biaya apapun. Harganya skyrocketing? Lah iya, anda beli mobil dan paket servis kok. Honda juga sudah menerapkan hal ini tapi dengan menambah biaya di “paket cermat”. Bayar servis di depan istilahnya.

Service Inclusive program merupakan program dimana anda “bayar servis di depan”. Jadi paket servis sudah termasuk ke dalam harga mobil.

Sumber : Frank Keane BMW

“Ah, nipu donk namanya, gue cuma mau mobilnya gak mau fasilitasnya”

Well, justru semua kemudahan itu yang akhirnya meningkatkan consumer trust. Kepercayaan konsumen kepada suatu brand ya karena mereka di-“treat” sedemikian. Beli mobil mahal – mahal dapet fasilitas dan layanan kayak raja.

Istilah saya : “beli merek”. Istilah “beli merek” biasa dianggap negatif, tapi di dunia otomotif “beli merek” itu positif. Anda beli merek yang bisa menjamin “kelangsungan hidup” mobil anda dengan layanan aftersales mumpuni dan fasilitas lengkap.

Berkat meningkatnya consumer trust ini akhirnya pembeli tersebut jadi konsumen repeat order, keluar generasi baru beli lagi, dan otomatis banyak yang terpengaruh.

Namanya bisnis ya pasti gak mau rugi, realistis aja. Toh keuntungannya juga dinikmatin konsumen.

Sementara brand baru sedang berjuang dengan brand image, menawarkan mobil fitur lengkap harga setara dengan lawan CKD nya, membangun jaringan bengkel dan customer service. Mereka masih bersifat product-oriented.

Tidak ada yang salah dengan strategi ini, tapi terkadang kesalahannya adalah customer service seakan dinomor duakan. Makanya tidak heran ketika berhubungan dengan misal pemesanan parts, banyak sekali keluhan utamanya soal waktu. Belum lagi bicara soal produk yang kebanyakan tidak sesuai dengan standar kebutuhan orang Indonesia, sehingga tidak laku.

Bukan perkara SDMnya, sekali lagi, itu variatif. Tapi lebih ke perkara ketersediaan parts dan fasilitas. Anda di merek “minoritas” belinya mobil bagus tapi fasilitas penunjangnya masih sedikit, makanya bisa murah. Fasilitas free jasa atau free service cenderung jarang, layanan lain – lain yang gratis pun juga jarang. Jaringan dealer dan parts pun sedikit pula.

Tetapi dua hal ini menjadi dua sisi, jika tidak ada brand “minor” yang berani jor-joran fitur maka market leader akan sulit berkembang. Begitu pula jika brand “major” tidak mengembangkan customer service maka brand “minor” pun akan jalan di tempat dan semakin banyak konsumen tidak puas.

Begitulah namanya kompetisi. Bukan saling membunuh tapi saling memperbaiki.

Tapi pertanyaan saya yang berikutnya, butuhkah anda dengan fitur – fitur tersebut

Apakah waktu mengemudi anda main dengan cruise control? Heck. Di jalan tol Indonesia yang banyak ngeremnya ? Seriously?

Sunroof memang keren, tapi setaun berapa kali ngebuka sunroof? Orang tua saya ada Honda HR-V Prestige 1.8 yang punya panoramic sunroof dan ya udah gitu aja. Dibuka nggak pernah. Rempong di perawatan malah kotor dikit keliatan banget.

Sunroof, fitur yang sangat jarang sekali terpakai di Indonesia.

Sumber : Autotoyz

Layar infotainment? Yang mostly akan diutak-atik oleh anak dan istri yang duduk di sebelah sementara anda nyetir. Itupun kalo udah nikah, kalo single? Paling cuma setel lagu udah.

MZD Connect, layar infotainment terkini dari Mazda. 

Sumber : mazda.co.za

Yang lebih parah, ributin soft touch material di dasbor. Memang soft touch material di mobil mid to high-end wajib karena harga mahal dan kelasnya udah luxury, tapi kalau mobil LCGC atau low-MPV masih ribut nggak ada soft touch material? Ada harga ada rupa bos.

I don’t have problems with features, saya hanya capek lihat orang mendewakan fitur – fitur yang kurang fungsional dan kurang terpakai.

Saya tidak dibayar ATPM, saya juga user. Kepresisian engineering seperti mesin, transmisi, steering, suspensi, semua bagi saya lebih mandatory ketimbang fitur yang tidak akan terasa ketika mengemudi, cuma dinikmati paling maksimal 1 bulan habis itu bosen juga. Saya lebih mengapresiasi mobil dengan engineering yang sangat baik ketimbang luxurious but poorly engineered car.

Why not both?

A good driver’s car never distract its driver with unnecessary things. 

 

Adapun juga harganya nggak murah.

 

 

 

2 thoughts on “Fancy Car Features : Do You Need One?

  1. “I don’t have problems with features, saya hanya capek lihat orang mendewakan fitur – fitur yang kurang fungsional dan kurang terpakai.

    Saya tidak dibayar ATPM, saya juga user. Kepresisian engineering seperti mesin, transmisi, steering, suspensi, semua bagi saya lebih mandatory ketimbang fitur yang tidak akan terasa ketika mengemudi, cuma dinikmati paling maksimal 1 bulan habis itu bosen juga. Saya lebih mengapresiasi mobil dengan engineering yang sangat baik ketimbang luxurious but poorly engineered car.”

    wow setuju bgt sy bro
    justru fitur2 tambahan yang hmm.. kadang aja terpakai (bikin keren spek di atas kertas fitur nya bederet ampe bawah) cuma jd gimmick utk nutupi kelemahan lainnya (ex: engineering)

    1. Hehehe pemikirannya sama seperti saya rupanya… betul biasanya kebanyakan gimmick gak terpakai justru malah buat menutupi kelemahan di sisi engineering nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *