Small SUV merupakan kelas yang sangat membingungkan.

Ada sangat banyak pilihan dengan rentang kelas dan harga yang sangat luas. Anda punya Honda HR-V, Nissan Juke, Chevrolet Trax, Mitsubishi Outlander Sport, dan Mazda CX-3. However, kelas ini menjadi sangat complicated sejak munculnya Outlander Sport.

Complicated nya kelas ini disebabkan karena Outlander Sport berada di kelas tengah – tengah : ukurannya tidak sebesar Honda CR-V atau Mazda CX-5, plus harganya lebih murah. Tapi mobil ini tidak bisa digolongkan sekelas dengan Nissan Juke, karena kapasitas mesin yang besar (2.000 cc).

Kelas ini menjadi semakin ketat sejak keluar Honda HR-V dengan varian mesin 1.5 dan 1.8, yang praktis membuat Honda menjadi pemain di “dua kelas” : small SUV 1500cc dan small SUV 1800cc – 2000 cc. Walaupun secara ukuran baik 1.500cc maupun 1.800cc tidak berbeda. Hanya satu bodyshell HR-V yang diberi unit mesin berbeda.

Lalu di tahun 2017 muncullah Mazda CX-3 yang banderol harganya lebih gila lagi karena full spec. Sehingga tipe tertingginya setara dengan Nissan X-Trail 2.500cc. Bayangkan seberapa ketatnya rentang kelas dan harga di kelas ini sehingga tipe full spek bisa menyentuh kelas di atasnya.

Kali ini saya akan membandingkan 3 buah mobil di kelas yang ketat ini : Honda HR-V Prestige sebagai market leader, Mitsubishi Outlander Sport PX, dan Mazda CX-3 Touring, ketiganya punya rentang harga yang mirip dengan posisi Outlander Sport yang paling murah.

The Design

Tak bisa dipungkiri bahwa di sini Outlander Sport adalah kontender yang paling terlihat obsolete. Masih dengan jet-fighter nose dan ini versi facelift dimana bumper dibuat lebih kalem. Velgnya entah kenapa saya tidak suka, terlalu plain dan kurang besar. Tetapi mobil ini punya lampu depan yang paling terang di malam hari, berkat reflektor tambahan yang membuat sorotan HID nya menjadi lebar – super wide HID.

20141223_162726

Muka mengandalkan jet-fighter nose ala Lancer, bumper berubah dari model non-facelift menjadi lebih kalem…

20141223_162344

Super Wide HID, fitur unggulan Outlander Sport hanya ada di tipe PX.

20141218_154423

 

Bagian belakang, mudah sekali terlihat obsolete style nya. 

Honda HR-V terlihat biasa saja walaupun tampilannya tidak se-obsolete Outlander Sport. Hal yang berbeda di HR-V dan rival lainnya adalah handel pintu belakang yang disamarkan di pilar sehingga terkesan seperti mobil 3 pintu. Tapi desain mobil ini sejujurnya tidak terlihat spesial… Biasa saja… Hanya punya lampu LED yang cantik dengan DRL… itu saja.

 

IMG_20160611_123150

Honda HR-V menggunakan lampu model LED dengan DRL

20150211_115342

Purplish Grey Metallic, salah satu warna favorit saya, hanya untuk type 1.8 Prestige

IMG_20160611_135136

Bagian samping Honda HR-V terlihat konservatif, mirip dengan Honda CR-V generasi ketiga. Velg disini bukan velg asli dari HR-V Prestige.

20150210_120102

Velg asli HR-V Prestige.

Styling Mazda memang yang paling terlihat menyenangkan, cantik, agresif, dengan konsep floating roof dan double muffler di belakang. Siapapun yang lihat akan jatuh cinta. Tidak perlu banyak kata – kata untuk mendeskripsikan, foto berbicara banyak dan ia terlihat sangat cantik di bawah matahari dengan warna soul red nya.

IMG_20170604_093705

Mazda CX-3 berwarna Soul Red terlihat paling modern di sini.

IMG_20170604_084158

IMG_20170604_084203

IMG_20170604_084223

Satu-satunya kontestan dengan dua buah muffler tip…

The Interior and Features

Lagi – lagi Outlander Sport harus ngalah. Ia harus mengakui baik Honda maupun Mazda punya tampilan yang jauh lebih modern dan fitur – fitur yang lebih canggih. Desain dasbor cenderung konservatif dan single-toned warna hitam, walaupun punya MID Full-Color TFT di tengah speedometer yang jadi daya tariknya. Meskipun perkara bahan ia masih lebih baik di beberapa bagian dibanding Honda, doortrim dan dasbor plastiknya lebih solid dibanding Honda. Soal fitur Mitsubishi tidak bisa berbicara banyak di dalam. Daya tariknya di Panoramic Glass Roof di tipe PX dan ambient lighting dengan 3 level kecerahan. Tidak ada stability control, hanya sektor pengereman saja seperti ABS EBD dan BA. Audio steering switch ada tetapi tidak ada cruise control.

20141223_162215

Kabin Mitsubishi Outlander Sport terlihat paling sederhana. Fitur juga paling minim dibanding kedua rivalnya.

20141218_154536

…. Tetapi kesan modern terpancar dari cluster nya yang punya full HD TFT, lebih canggih ketimbang layar kalkulator di Honda maupun Mazda.

20141223_184509

Panoramic Glass Roof di Mitsubishi dengan ambient lighting, sayang kaca nya tidak bisa dibuka.

Honda punya konsep yang lebih elegan, center console menyambung semua sehingga memberi kesan bagian tengah seperti meja, desainnya sangat terkesan smart dan agak terinspirasi mobil Eropa. Sayang soal bahan ia yang paling buruk, plastik atas dasbor terasa fragile, tombol – tombol terasa kasar. Fiturnya cukup royal seperti Auto brake hold, VSA, ECO Indicator, 6 airbags, ABS, EBD, BA.

IMG_20160611_214345

Honda lebih menonjolkan kesan elegant, walau perpaduan warnanya bukan selera semua orang.

20150211_114749

Kontrol stabilitas, salah satu poin plus Honda HR-V, sudah tersedia dari type 1.5 E. Pelopor fitur kontrol stabilitas di kelasnya.

20150211_114728

Panoramic Sunroof yang memberikan nilai plus karena bisa dibuka penuh beserta kacanya.

Mazda punya bahan yang berkualitas, desain yang sporti dan perpaduan warna yang lebih segar, plus layar infotainment MZD Connect, lalu punya kualitas bahan setingkat di atas rival – rivalnya. Soal fitur ia paling lengkap : i-STOP, kontrol traksi, layar infotainment, head-up display, cruise control, 4 buah airbag, dan pengereman ABS, EBD, BA.

IMG_20170604_084354

Mazda clusternya terlihat simpel tapi sporty

IMG_20170422_105132

Kabin mirip dengan Mazda2, punya layar infotainment, satu satunya di kelasnya. Kualitas kabin paling baik.

Accomodation and Practicality

Soal praktikalitas kali ini Mazda yang harus mengalah. Meski ia yang paling bontot keluar tapi baris keduanya sempit dan tegak, bagasinya kapasitasnya juga terbatas.

IMG_20170422_105011

Baris kedua Mazda adalah yang paling sempit, dan sandaran joknya kurang nyaman meskipun busa jok lebih enak daripada Mitsubishi.

IMG_20170422_105221

Bagasi mempunyai kapasitas terbatas dan akses yang sulit.

Outlander Sport menempati posisi kedua di soal akomodasi dan praktikalitas. Baris kedua Mitsubishi punya ruang kaki lebih luas, walaupun kursinya lebih keras dibanding Honda maupun Mazda. Lantai bagasi Mitsubishi adalah yang paling tinggi tetapi rata dengan dek, walaupun konsekuensinya mengurangi daya tampung.

20141223_162111

Mitsubishi punya lantai dek yang tinggi sehingga mengurangi kapasitas bagasi. Sayang sekali saya tidak menemukan foto baris kedua Mitsubishi Outlander Sport, tapi baris keduanya lebih luas dari Mazda, walaupun masih terasa tegak, dan kursi baris kedua keras.

Honda HR-V menempati posisi paling pertama urusan ini. Honda dari dulu tidak pernah gagal mendesain baris kedua mobilnya supaya nyaman, sesuai filosofi : man maximum, machine minimum. Kursi baris kedua paling nyaman dengan sandaran yang paling rebah, walaupun ruang kepala agak terbatas. Bagasi juga yang terluas di kelasnya.

20150211_114714

Baris kedua Honda HR-V adalah yang paling cocok untuk keluarga, luas, nyaman, sandaran joknya juga paling rebah.

20150211_114616

Honda bagasinya paling luas, dan di HR-V mampu memuat satu kandang anjing berukuran besar dimana Mitsubishi maupun Mazda sudah pasti tidak muat. 

Technical Facts and Driving

Oke, di sini Mitsubishi boleh berbangga diri karena dia satu – satunya kontender dengan suspensi belakang multi-link sementara baik Mazda maupun Honda menggunakan Torsion Beam. Wajar karena kedua lawannya merupakan turunan dari Honda Jazz dan Mazda2, sedangkan Mitsubishi Outlander Sport merupakan derivatif dari Lancer.

Engine? Secara output, Mazda dan Mitsubishi outperform Honda. Keduanya punya output yang mirip, Mazda di 155hp / 197 Nm , Outlander Sport di 150 hp / 197 Nm, sedangkan Honda di 139 hp / 174 Nm. So Honda lost? Well, meski punya output mirip – mirip, Mitsubishi punya bobot sekitar 100 kg lebih berat dari Mazda dan Honda. Mitsubishi di 1425 kg, Honda di 1306 kg, dan Mazda di 1275 kg. Sehingga secara power to weight ratio, Honda dan Mitsubishi mirip – mirip, Mazda yang paling unggul secara bobot. Torsi puncak Mazda juga sudah tercapai di 4000 RPM sedangkan Honda di 4400 RPM dan Mitsubishi di 4200 RPM.

20141223_183334

Unit Mesin di Mitsubishi menggunakan 4B11 DOHC MIVEC, 150hp @ 6000 RPM dan 197 Nm @ 4200 RPM.

IMG_20160611_123331

Honda menggunakan mesin R18Z1 SOHC i-VTEC bertenaga 139hp @ 6.600 RPM dan 174 Nm @ 4.400 RPM. Terkenal andal digunakan oleh Honda Civic generasi ke-8 (FD1)

IMG_20170604_093213

Unit mesin di Mazda berkode PE-VPS DOHC VVT. Bertenaga 155 hp @ 6000 RPM dan 197 Nm @ 4000 RPM.

Transmisi Mazda menggunakan 6-speed SKYACTIV-DRIVE, Honda dan Mitsubishi sama – sama menggunakan CVT.

Ketiga mobil sudah dilengkapi dengan 4 buah rem cakram dengan ABS/EBD/BA. Hanya Honda dan Mazda yang punya kontrol stabilitas / kontrol traksi.

Wheelbase Mitsubishi di 2670 mm, Honda 2610 mm, Mazda terpendek di 2570 mm.

Secara ergonomi, kursi Honda HR-V adalah yang paling nyaman di sini. Posisi mengemudinya sangat enak dan memberikan feel seperti sedan. Mazda di posisi kedua, kursi pengemudi nya kurang lebar dan agak keras dibanding HR-V, legroom pengemudi juga lebih nyaman di HR-V. Mitsubishi yang terburuk soal posisi mengemudi. Kursinya keras, dasbor terlalu tinggi, dan memberikan kesan mobil lebih lebar dari aktualnya.

Secara pengendaraan, Mitsubishi terasa paling mature. Secara fitur dan desain memang paling obsolete tapi baik Honda maupun Mazda tidak ada yang memiliki karakter mature seperti Mitsubishi. Suspensi belakang multi-link membantu performanya di jalan bergelombang dan di kecepatan tinggi ia terasa paling mantap. Karakter peredaman suspensinya paling enak di antara tiga kontestan, tidak terasa terlalu keras tetapi juga tidak limbung, terasa paling meredam di jalanan tidak rata.

Tenaga mesinnya cukup besar tapi karakter CVT seperti di-tune untuk santai dengan lock-up yang lambat dan tidak terasa agresif, tetapi memiliki karakter engine-note yang sangat padat dan menggugah di rev tinggi.  Sayang di dalam kota CVTnya terasa agak lamban dibanding CVT di Honda HR-V.

Sayangnya soal handling bukan yang terbaik, ketika berbelok mobil terasa bulky / berat, dan lock to lock setir besar. Dikemudikan tidak bisa selincah Honda / Mazda yang punya bobot lebih ringan. Mobil ini lebih cocok untuk long-haul trip secara handling dan tenaga. Tetapi ganjalan untuk long-haul trip adalah joknya yang keras, terutama di baris kedua, dan kurang nyamannya posisi mengemudi yang membuat Outlander Sport terasa lebih lebar dari dimensi aktualnya dari dalam. Kurang nyamannya Outlander Sport bukan dari suspensi, lebih ke joknya.

Honda HR-V memiliki karakter yang lebih cocok untuk di perkotaan. CVTnya lebih cepat melakukan lock-up, dan karakter torsi mesin R18 SOHC memiliki karakter putaran bawah – tengah yang lebih baik ketimbang 4B11 di Outlander Sport. CVTnya menyalurkan tenaga dengan baik, sayang nya terasa agak kasar, dan ketika berakselerasi penuh dan jarum tachometer mencapai rev limiter, jarum itu statis sehingga memberikan suara berisik, khas CVT. Tapi itu tdk jadi masalah karena anda nggak akan ngebut mencapai rev limiter, apalagi di jalanan Indonesia.

Suspensi HR-V terasa soft, meredam guncangan dengan cukup baik bahkan lebih baik dari Honda CR-V generasi ketiga yang keras. Tetapi sayangnya ia tidak sebaik Outlander Sport, tidak memberikan kesan firm, bagian belakang terasa terlalu limbung karena suspensinya empuk, bagian depannya juga tidak memberikan kesan “sharp” sehingga tidak memberi kesan mantap ketika ngebut. Mobil dan pengemudi terasa terlalu distant. Bagi saya – ini Honda dengan karakter pengendalian paling messed-up. Tetapi masih punya posisi mengemudi dan kenyamanan baris kedua yang lebih baik dibanding kedua lawannya.

Belum ditambah suara “glutuk-glutuk” khas Honda HR-V yang selalu dikeluhkan pengguna – yang merupakan defect di hampir semua Honda HR-V rakitan Indonesia. Kelincahan di dalam kota hanyalah bonus karena bobotnya yang ringan.

Mazda CX-3 mendominasi di sektor pengendaraan. Bobot lebih ringan memberikan mobil ini keunggulan dalam segi manuver di dalam maupun luar kota – walaupun tidak terasa firm dan se-stabil Outlander Sport yang menggunakan suspensi belakang multilink.

Poin plus nya, handling CX-3 bisa dikatakan yang terbaik. Feel setir paling natural dan tajam, transmisi paling sigap dan punya SPORT mode yang bisa diaktifkan supaya rev mesin bisa dipertahankan di atas 3000 RPM, dan mesin dengan tenaga yang besar, dipadu bobot sasis ringan membuat CX-3 terasa paling fun to drive di antara ketiganya. Untuk penggunaan dalam kota, CX-3 terasa paling well-engineered, dan sesuai dengan habitatnya yaitu SUV perkotaan.

Sayangnya, this doesn’t come clean. CX-3 punya spring rate yang kaku di bagian belakang. Tujuannya untuk meminimalkan understeer, ini bagus untuk handling, tetapi disaster untuk penumpang belakang. Bantingannya terasa keras, dan dengan ruang kaki dan kepala yang terbatas di belakang, makin clear bahwa CX-3 adalah yang terburuk di sektor kenyamanan. Guncangan suspensi di bagian belakang kurang nyaman dibanding Honda HR-V apalagi Outlander Sport.

Conclusion

So, how this comes out?

Baik Mitsubishi, Honda, dan Mazda punya karakter sendiri – sendiri. Mitsubishi cenderung kalem dan enak digunakan untuk berkendara santai, berkebalikan dengan Mazda yang justru cocok untuk pengendaraan agresif. Honda? Di antara keduanya, dengan bonus ruang kabin paling besar dan duduk baris kedua yang lebih nyaman, sehingga lebih proper untuk family.

Secara teknologi, Mitsubishi adalah yang paling obsolete, sudah terlalu tua dan saatnya peremajaan model. Bukan facelift, tapi harus all-new model supaya tetap bisa keeping up dengan Honda dan Mazda. Tetapi kenikmatan suspensi belakang multi-link memang tidak bisa dikalahkan oleh Torsion Beam di Honda dan Mazda, sebagus apapun mereka melakukan setting suspensi. Mobil yang sangat baik dan subtle untuk long-haul cruise, hanya saja jika anda baru menikah dan belum punya anak. Jika sudah punya anak rasanya mobil ini sangat un-practical dan tidak nyaman baris keduanya. Yah setidaknya kerasnya jok baris kedua bisa diakali pakai child seat dan ruangnya tidak separah Mazda. Tidak masalah jika ingin punya anak dalam waktu dekat pakai mobil ini, karena masih sedikit proper dan anak anda tidak akan mabuk darat karena suspensinya enak, dan dana yang dihemat bisa untuk investasi – siapa tau bisa beli Honda CR-V atau Nissan X-Trail 5 tahun lagi ketika anak udah gede.

Honda memang all-rounder, tapi sayang sekali Honda seperti merancang mobil ini setengah – setengah. Di satu sisi ia laku – masih market leader di kelasnya, karena punya praktikalitas yang didambakan semua keluarga di Indonesia. Tetapi catatan “kriminal” nya banyak… Terutama isu di kaki – kaki yang belum sepenuhnya beres – bahkan mungkin Honda Indonesia sendiri belum menemukan solusi pastinya. Tapi bagi anda yang keluarga muda, mobil ini sangat cocok. Bagasinya sangat luas, dapat menampung keperluan bayi anda dan barang bawaan untuk road-trip. Baris keduanya nyaman untuk baby sitter maupun istri anda menyusui. Posisi mengemudinya paling ideal, walau joknya agak tipis, tetapi tidak keras seperti Outlander Sport. Bantingan suspensinya juga lebih nyaman dari Mazda, walau tidak se-mature Mitsubishi. Untuk anda yang tidak peduli dengan sensasi mengemudi – mobil ini sangat cocok. Ia sensibel, nyaman, sekaligus paling membosankan… but hey, jika anda membawa keluarga anda akan lupa fakta bahwa mobil ini punya handling paling messed up untuk sebuah Honda modern – sama seperti saya menggambarkan handling Civic FB yang payah untuk ukuran sebuah Civic, lebih cocok disebut sebuah Corolla – atau Prius.

Mazda memuncaki kompetisi kali ini, ia memang bukan yang terbaik soal kenyamanan dan akomodasi, harga juga paling mahal. Tapi sekali lagi, fitur nya lengkap, teknologi paling baru, interior paling well-built, dan mesin plus transmisi paling refined. Anda membayar extra dari HR-V maupun Outlander Sport untuk semua itu. Memang belum tentu anda butuh, tetapi harus diakui ia yang terbaik. Di luar engineering nya, styling nya juga sangat oke, paling outstanding dibanding Honda maupun Mitsubishi. Mobil yang terasa sangat dirancang dengan baik dan dipikirkan dengan baik. Tapi sekali lagi, jika anda berkeluarga lupakanlah mobil ini. Anak anda mungkin masih bayi tapi 5 tahun lagi ia pasti akan ngeluh dan akan repot jika anda belum punya budget untuk upgrade ke CX-5. Jika masih pacaran,  ya oke lah. Jika baru nikah muda, pikirkan baik – baik kecuali tidak berencana punya anak dalam waktu singkat. Jika ingin membelikan istri mobil untuk beraktivitas, ini cocok. Apalagi istri sekarang modelnya sosialita… Harus pakai mobil yang menunjang aktivitas sekaligus gaya. Istri anda akan terlihat trendi dibanding menggunakan HR-V maupun Outlander Sport.

3 thoughts on “350 to 400 Millions Small SUV : The Tight Competition.

  1. Iya harusnya outlander sudah all new sudah 5 tahun mengaspal di indonesia harusnya model mini pajero interiornya kayak pajero rubah sedikit sasis evo mesin errr hanya ada delica kalau yang 2000cc dan fitur harus tambah vsc biar lebih stabil kualitas interior sitingkatkan suspensi ditingkatkan harapan buat outlander baru

  2. menurut saya solusinya adalah pilih CX-3 dan punya 1 mobil lagi macam MPV macam Innova atau Alphard

    ini terjadi dengan catatan kita adalah cucunya mbah sangkil

    *peace

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *