Ini adalah satu pertanyaan yang menggelitik saya selama mengarungi jagat otomotif Indonesia, lintas lokasi, lintas manusia, lintas forum. Di forum seperti apa pun – ada saja orang yang selalu berpikiran demikian.

Nope, you are not wrong. Memang power gede – gede mubazir toh tiap hari ketemu macet dan cm dibawa rumah-kampus, rumah-kantor, rumah-arisan mamak-mamak sosialita, rumah-rumah pacar atau istri kedua di akhir minggu. Momen yang memang ngga memungkinkan kita untuk “ngebut” – kecuali ujian jam 8 pagi baru bangun jam 7.45 dan rumah ke kampus butuh 30 menit. Kita lebih butuh “kapasitas” buat ngangkut teman – teman kita yang terkadang pelitnya setengah mati gak mau ngeluarin kendaraan dan diajak urunan bensin banyak alesan.

Lamborghini Aventador overheat setelah kena macet karena ngga mendapatkan pendinginan mumpuni. Nampaknya power besar memang mubazir…

Sumber : Detik

Ngga, ngga salah kok, makanya merek market leader kita ngga pernah inovasi dalam hal teknologi mesin, kalopun inovasi dilakukan 15 tahun sekali, wong memang konsumennya lebih mau yang irit dan bisa angkut sekampung – ya tau lah ini merek apaan… makanya mesin 1.000 cc Naturally-aspirated bertenaga di bawah 70 horsepower yang mau nafas aja engap – engapan karena torsinya juga ngga sampe 100 Nm pun bisa dijejalkan ke mobil 7 penumpang dengan bobot 1 ton… Irit? Pasti. Muat banyak? Iya. Absurd? Jelas.

Mesin kecil 1.000cc yang sempat menghuni ruang mesin mobil terlaris di Indonesia… Yah anda tau lah ini mobil apa tanpa harus saya sebutin merek dan jenisnya.

Sumber : Autobild Indonesia

Nggak salah kok berpikir demikian dan akhirnya belinya juga mobil market leader dengan tenaga ngepas. But sometimes they are taking it too far.

To be honest, hal kedua setelah exterior yang saya amati dari sebuah mobil adalah : angka horsepower dan torque di brosur, termasuk bobot dan jenis transmisi mobilnya. Bukan pusing ama fitur yang 80% gak kepake atau warna joknya. Setiap ada info mobil baru selalu saya tanya “mesinnya apa? Power berapa? Transmisi apa?”. Dan banyak orang yang bilang saya rewel membandingkan power mobil A dan B, lalu mengeluarkan statement seperti di judul. Seakan saya rewel barang gak penting dan gak kepake.

So I will explain, why power and torque figure are important. For me, and maybe for you.

Penjelasan dari MattsMotorz tentang power dan torque. 

Sebagai orang yang menikmati long-haul driving dan mengemudi di malam hari, saya paling tidak bisa menikmati mobil yang tenaganya loyo. No, seriously, percaya atau tidak, anda akan selalu menginginkan mobil yang ketika anda mbejek gas power nya langsung instan keluar dan makin dalam di-bejek makin kencang.

Jadi, apa sih gunanya power ?

Overtaking

Bayangin ketika harus nyalip trailer dengan panjang 10 – 15 meter di jalan dua arah, sementara mobil kita diinjek gas malah ngedhen ? Ngambil selahnya susah – ya kecuali anda nggak masalah nyetir di belakang trailer yang jalannya paling kencang 30 km/h. Ini bukan perkara nyali, perkara perhitungan jarak aman. Dengan mobil power “mumpuni” (saya nggak pakai term “besar” supaya nggak misleading) anda akan lebih mudah memperkirakan jarak anda menyalip. Kalo anda punya skill mepet-mepet yang jago dan nggak sayang nyawa silahkan, tapi saya akan prefer menggunakan mobil dengan power *dan handling* yang mumpuni supaya aman.

Menyalip kendaraan trailer di jalan dua arah, jika power mobil tidak mumpuni akan sulit menemukan selah yang tepat dan menjaga jarak aman.

Sumber : shofior.com

Slip Recovery

Di mobil dengan power yang mumpuni, anda bisa melakukan kontrol dengan memainkan gas dan rem. Seriously, menyelamatkan mobil anda dari oversteer dan understeer di jalan, atau sekedar selip karena tumpahan oli, hanya bisa dilakukan dengan permainan setir dibantu gas dan rem – dan itulah mengapa lebih baik tenaga “mumpuni” daripada “underpowered”. Unless mobil anda punya sistem AWD dengan clever torque-split, ya tidak masalah.

Teknologi active-torque split Subaru, membagi torsi sesuai kebutuhan roda dan kondisi jalan. Jika kendaraan anda tidak punya sistem ini, tidak ada cara lain selain bermain gas, rem, dan setir.

Sumber : Subaru Global

Better Controlability

Mobil dengan tenaga yang extra-besar pun asal dilengkapi dengan kontrol stabilitas dan pengemudinya punya skill, akan lebih bisa dikendalikan ketimbang yang underpowered.

Power di tangan yang tepat bisa berubah menjadi sebuah “keindahan”… alih – alih celaka malah “kecelakaan” tersebut berubah menjadi manuver cantik. 

Sumber : BMW Blog

Yah kecuali sekali lagi – cuma dibawa di dalam kota dengan speed gak sampai 50 km/h ngajak selingkuhan ke hotel – itupun power harus mumpuni supaya bisa kabur dari kejaran polisi waktu digrebeg.

Overpower memang bahaya di tangan yang salah, tapi underpower jauh lebih berbahaya. Yang benar adalah power yang “cukup”.

But again, yang bisa mengukur kapan “cukup” adalah “cukup” ya anda sendiri.  Nggak ada patokan pasti, semua pilihan di pasar memberi anda kebebasan mengenai mobil apa yang cocok dengan preferensi dan karakter mengemudi anda. Lakukan test drive sebelum membeli mobil, jangan cuma dibawa lari 40 km/h di dalam kota, cari jalan tol atau tempat sepi dan GAS POL! Dari situ anda akan tau apakah anda cocok dengan karakter tenaga mobilnya atau tidak.

Sooo… Semoga ini meluruskan pandangan “nggak butuh power besar” … karena tanpa kita sadari… we all need such “power” …

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *