Mobil Tiongkok.

Mobil yang mungkin tidak pernah jadi opsi utama anda. Jangankan Tiongkok deh, mobil Korea aja masih banyak dipandang sebelah mata.

Stereotype pembeli mobil di Indonesia dibagi dua  : Kalau anda kasta rakyat jelata mobilnya pasti merek Jepang, kalau anda kaum jetset yang punya gunung emas pasti mobilnya merek Eropa, kalopun merek Jepang pasti sebangsanya Lexus atau Alphard. Suka tidak suka, pemikiran orang Indonesia selalu berkutat di dua pemain besar ini : Jepang dan Eropa, atau spesifiknya : Jerman. Krn Eropa seperti mobil Inggris juga kurang diminati. MINI ? MINI itu fashion icon, dan MINI sekarang sudah jadi mobil Jerman (BMW).

Well, saya tidak menyalahkan. Karena baik merek Korea maupun merek Tiongkok terkesan tidak serius menggarap pasar di Indonesia. Dua merek Korea besar yang populer di Amerika bahkan worldwide penjualannya sudah masuk 5 besar, disini nasibnya juga terseok – seok. Produknya tidak memberikan break-through, secara spesifikasi kurang menarik, selain itu status produk yang semuanya CBU tidak memberikan kelebihan soal harga, dan gagalnya merek Korea karena mereka tidak berhasil memenuhi formulasi standar orang Indonesia dalam membeli mobil : harus muat banyak (7-seater), harus lincah, irit, dan bisa lewat banyak medan, plus paling penting murah. Dengan kata lain harus mobil dengan fleksibilitas tinggi seperti Kijang dan Avanza, which is bukan kekuatan mobil Korea. Mereka cuma punya Hyundai Starex / H-1 yang gambot sebesar Alphard dan harganya tidak murah, kebanyakan pembeli Starex hanyalah instansi seperti Rumah Sakit untuk keperluan Ambulans.

Hyundai Starex, populer sebagai mobil ambulans, tapi kurang laku di pasar passenger (Karoseri Ambulance)

Merek Tiongkok ? Selama ini merek Tiongkok yang besar ada Geely dan Chery, tapi keduanya juga kena TKO korban keganasan merek Jepang. Problemnya sama : alih – alih menyediakan mobil 7-seater irit dan murah, mereka justru jualan sedan dan citycar. Plus isu kualitas juga menimpa kedua merek ini, daaan tidak lupa di era Motor Tiongkok banyak yang masih trauma dengan produk Tiongkok.

Chery QQ, sempat populer di Indonesia sebentar saja. Modelnya menjiplak Chevrolet Spark generasi awal. (sgcarmart)

Geely LC “Panda”, salah satu citycar andalan Geely yang kurang berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia (geely argentina)

Selain masalah produk, baik Tiongkok maupun Korea juga punya problem kurangnya brand awareness di mata masyarakat akibat minimnya iklan di TV maupun media cetak. Tidak ada yang consider Hyundai SantaFe sebagai substitusi dari Honda CR-V atau Nissan X-Trail, kecuali anda penggemar otomotif yang sering window shopping ke pameran mobil besar *seperti saya*. Atau siapa yang consider Geely Emgrand sebagai substitusi dari Honda Jazz ?

Geely Emgrand7 Hatchback, seharga Honda Jazz yang sayangnya kurang dikenal masyarakat (topspeed.com)

Kemunculan Wuling di awal dipenuhi oleh skeptisisme orang yang memandang sebelah mata mobil Tiongkok *bahkan sekarang juga masih banyak*. Pasca di-shutdown nya fasilitas perakitan GM di Bekasi, tersiar kabar bahwa fasilitas perakitan tersebut akan digunakan oleh merek Wuling, yang merupakan salah satu brand subsidiary dari GM.

Pabrik GM Pondok Ungu Bekasi, dulunya digunakan sebagai basis produksi Chevrolet Spin (KONTAN)

Pikir saya pertama, gile ! Merek Tiongkok berani amat ? Bahkan tidak tanggung – tanggung trilyunan dana sudah disuntikkan oleh Wuling di Indonesia. Sinting ! Kau seperti tidak tau gimana mainnya pabrikan Jepang disini, nekat amat! Kalo rugi gimana? Tapi pikiran saya tiba – tiba berubah sejak liat banyak dealer merek yang “tumbang” seperti blue oval dan beberapa dealer merek Korea tiba – tiba plangnya berubah jadi Wuling.

Belum lagi gencarnya media memberitakan Wuling dan cyber-army di medsos. Terutama di komunitas otomotif yang mempopulerkan hashtag #mendingwuling #apikwuling . Nampaknya Wuling betul – betul tau bagaimana memanfaatkan medsos dengan baik, daripada bayar iklan di media cetak satu halaman kan mahal, cyber army aja digencarin, bikin viral hashtag #mendingwuling . Dengan strategi “gak tau malu” tersebut, akhirnya sekarang publik aware dengan merek baru bernama “Wuling”, dan bahkan di GIIAS 2017 kemarin mereka berani buka booth yang cukup luas memamerkan seluruh jajaran lini Confero dari yang termurah sampai termahal dan salesperson yang sigap di setiap sisi menyambut calon konsumen Wuling.

(yudibatang.com)

Plus, mengundang media otomotif kekinian seperti Otodriver dengan mas Fitra Eri dan mba Diandra, plus MotomobiTV yang followers IG nya banyak, otomatis perhatian publik tersedot dan mau nggak mau juga penasaran dengan Wuling.

Termasuk saya. Ketika lagi asik di booth Hyundai tiba – tiba dengar perdebatan khas mas Fitra dan om Mobi tentang Turbo, saya pikir dimana, eh di booth Wuling. Ketarik juga deh saya, ngeliat – liat mobil Wuling juga, dan tertarik buat test drive, karena banyak skali review positif tentang mobil ini. Dan entah kenapa saya ngeliat Wuling gak akan bernasib sama seperti kawan – kawan seperjuangannya dari Tiongkok.

Bersama mas Fitra Eri dari Otodriver.

…. dan om Mobi dari MotomobiTV

Ya oke deh, mari dibahas satu persatu.

Styling

Wuling Confero punya 3 tipe : Confero 1.5, Confero S 1.5 C, dan Confero S 1.5 L. Dimana Confero tipe entry level sepertinya ditujukan untuk keperluan fleet / kantor / rental. Sedangkan tipe C dan L (Lux) untuk penggunaan pribadi. Perbedaan tipe C dan L ada di rem belakang L sudah cakram tipe C belum, lalu tipe L menggunakan Captain Seat sedangkan C menggunakan bench seat. Well, rem cakram di mobil seharga 165 juta, dimana rivalnya bahkan Xpander yang paling baru masih menggunakan tromol. Walaupun cakram dan tromol di kelas mobil 1.500cc tidak terlalu berpengaruh karena rem tidak menahan beban tenaga yang besar, tapi ini merupakan nilai plus.

Detail bagus lainnya, bagian depan memiliki DRL dan desain lampu utama yang ganteng. Jarang ada di mobil kelas ini.

 

Wuling Confero tipe terbawah, perbedaan di desain headlamp.

Secara styling, mobil ini seperti punya kaca yang terlalu lebar. Terlihat besar dan kotak…. Tapi di saat yang sama terlihat mewah, upclassed dibanding rival Jepangnya. Dari luar saja mobil ini terlihat sangat luas, sayangnya mungkin untuk lingkar roda perlu di upsize menjadi 16 atau 17 inch, karena terlihat sangat imut…

Bagian belakang cukup terlihat mewah dengan desain mengotak

Roda terlihat kecil dibanding ukuran mobilnya. Roda belakang sudah dilengkapi rem cakram, satu satunya di kelasnya, hanya di tipe tertinggi.

Tapi overall mobil ini terlihat megah, dan berbeda dengan mobil – mobil Tiongkok kebanyakan. Sangat layak diberi applause pabrikan Tiongkok bisa mendesain mobil sebagus ini.

Confero S yang sudah dimodifikasi, terlihat cocok sebagai mobil keluarga untuk long-trip (?)

Interior

Harus diakui, secara sekilas Confero S terlihat seperti mobil 300 juta-an kalau lihat interiornya dari jauh. Terlihat begitu mewah dengan jam analog di tengah dan color scheme interior nya yang memberikan kesan mewah, lalu juga memiliki cluster yang cantik dengan TPMS (Tyre Pressure Monitoring System). Lagi – lagi jarang ada di kelas ini.

Interior Wuling Confero S tipe tertinggi.

Interior Wuling Confero tipe terendah, sudah diberi Head Unit walaupun cukup sederhana.

Tyre Pressure Monitoring System (TPMS). Satu-satunya di kelasnya!

Sayangnya hal itu hanya muncul ketika dilihat dari jauh.

Kalau dilihat dari dekat, tetap terasa murah dan beberapa bagian masih kurang presisi atau goyang, tapi bisa dimaafkan karena tidak separah mobil Tiongkok yang dulu – dulu dan mengingat harga mobil ini 40 juta lebih murah dari sebuah Toyota Avanza tipe terbawah, jadi bisa dimaafkan.

Meskipun lengkap beberapa tombol terasa “murah”.

Hanya tersedia transmisi Manual 5 percepatan.

Seperti tagline nya, The Real Spacious Family MPV, Wuling Confero S betul – betul lega di bagian tengah maupun paling belakang. Sayangnya ya karena mobil ini punya penggerak roda belakang, jadi bagian tengah tidak bisa benar – benar rata. Hanya saja jika dibandingkan Toyota Avanza yang sama – sama penggerak belakang, Wuling Confero S sudah cukup oke.

Captain Seat di tipe tertinggi. Jarang ada di kelas Small MPV.

 

Engine, Powertrain, and Driving It

Wuling Confero S ditenagai mesin 1.500cc S-TEC III DOHC buatan GM, identik dengan Chevrolet Spin yang sudah discontinue. Mesin ini menghasilkan tenaga 107 hp @ 5800 RPM dan torsi 142 Nm @ 3800 – 4400 RPM.

Di Confero S dilabeli “P-TEC DVVT” …. terdengar seperti VTEC Honda versi KW…

Masuk ke dalam mobil pertama kali saya tidak terlalu berekspektasi untuk sebuah mobil keluarga buatan Tiongkok. Karena ini low-MPV maka benchmark pertama saya jelas sang market leader : Toyota Avanza. Berbekal pengalaman memiliki Toyota Avanza / Daihatsu Xenia 2 generasi (1.3 AT dan 1.5 Veloz AT) dan Suzuki Ertiga GL AT, saya expect mobil ini tidak terlalu tinggi, sedikit di bawah pun tidak masalah karena harganya lebih murah.

Yang mengesankan mobil ini joknya cukup nyaman, setirnya ringan, koplingnya ringan. Nyaman untuk pengemudi pemula. Posisi mengemudi tidak terlalu rendah, yang bukan selera saya, tapi tidak terasa tinggi seperti Toyota Avanza, dan posisi setir lebih enak dan bisa diatur secara tilt.

Sayangnya koplingnya terlalu ringan dan memiliki jarak terlalu pendek, feel nya nyaris tidak ada, agak sulit menyesuaikan dengan kopling Wuling karena nyaris tidak terasa feedback kopling, tapi masih lebih baik daripada kopling Nissan Livina.

Mesinnya biasa saja, mungkin karena bobot mobil ini berat dan penggerak roda belakang. Cukup untuk membawa penumpang banyak, tapi tidak terlalu responsif juga. Mirip – miriplah dengan Toyota Avanza, minus suara bearing berisik yang khas di Toyota Avanza generasi lama ketika berakselerasi – Wuling jauh lebih halus. Akselerasi Wuling halus kalau tidak mau dibilang berat. Rasio giginya tidak “nyentak” seperti Toyota Avanza bertransmisi Manual.

Suspensi ? Yang saya rasakan bantingan suspensinya nyaman untuk bawa penumpang banyak, tidak memabukkan, mungkin tidak senyaman Mitsubishi Xpander, tapi yang jelas lebih empuk dari Honda Mobilio, shock absorbernya lebih nyaman meredam guncangan dibanding Toyota Avanza. Karakter bantingannya lebih mirip Suzuki Ertiga – yang saat ini paling nyaman di kelasnya. Sangat mengejutkan mengingat mobil ini harganya jauh lebih murah dan dibuat oleh pabrikan yang belum semapan Toyota, Honda, maupun Suzuki.

Sudah… Itu saja rasanya yang bisa saya bahas. Belum sempat test drive untuk jarak jauh.

Initial Conclusion

Mobil yang sangat layak disebut value for money. Mobil dengan fleksibilitas ruang luar biasa, kualitas yang cukup baik, dan harga yang SANGAT kompetitif. Inilah calon mobil sejuta umat berikutnya – jika Toyota dan Daihatsu tidak berhati – hati.

PR Wuling berikutnya adalah mendiferensiasi produk. Meskipun Confero S merupakan mobil yang bagus, tapi Wuling harus tetap mempertahankan sesuatu yang menjadi ciri khas nya. Tidak cukup hanya menjual mobil yang value for money, Wuling tetap harus memiliki karakter yang spesifik sehingga diingat banyak orang.

Brand ini sangat serius menggarap pasar Indonesia, mengerti potential customer mereka. Saya tidak tau siapa yang ada di balik Marketing Team Wuling, tapi hats off saya kepada kepala divisi marketing yang sukses mem-branding Wuling sedemikian rupa dan ekspansi secara “gerilya” di daerah.

Wuling merupakan alarm yang mana pabrikan Jepang harus bersiap jika tidak ingin bernasib sama seperti Y*hoo! atau ponsel N*kia.

Saya tidak bisa memberi jaminan apakah mobil ini akan bermasalah atau tidak ke depannya, tapi jaminan bahwa mobil ini mesinnya diracik oleh General Motors yang merupakan pemain lama di kancah Otomotif, tidak perlu diragukan lagi setidaknya ketahanan mesinnya.

Setidaknya, gagal atau berhasilnya Wuling akan menjadi pintu gerbang bagi pabrikan Tiongkok lain untuk “menghajar” pasar Indonesia. Jika Confero S berhasil saya kira Wuling tidak akan ragu untuk memperkenalkan MPV besar andalan mereka yang akan berlaga dengan Toyota Kijang : Wuling Baojun 730.

Wuling Baojun 730, MPV Wuling pesaing Kijang Innova (otojatim)

 

 

6 thoughts on “GIIAS 2017 Special : Wuling Confero S 1.5 Lux M/T

  1. Mobil yg bagus, saya jg udah test drive confero s di giias, dan buat saya mobil ini lbh unggul sisi value for money nya di banding xpander. Mgkn nanti klo dealer wuling sudah ada di Palembang saya akan ambil satu. Btw nice review chris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *