Berbicara tentang Suzuki Baleno, kita selalu ingat bentuk sebuah sedan kecil dari Suzuki sejak tahun 90an hingga 2000an. Mobil ini diciptakan untuk bermain di pasar sedan kompak, yang di zaman itu ada Honda City dan Toyota Soluna.

Suzuki Baleno “millenium”, generasi pertama dari Suzuki Baleno. Menggendong mesin G16B di versi awal, dan versi facelift menggunakan mesin G15B. (cars-directory)

Baleno Generasi ke-2 diberi nama Baleno Next-G. Memiliki kembaran hatchback bernama Suzuki Aerio. Mobil ini menggendong mesin M15A VVT yang juga digunakan oleh Suzuki Swift, SX4 dan Suzuki S-Cross sekarang. (topgir)

Suzuki Baleno Generasi ke-3 diberi nama “Neo Baleno”, atau di beberapa negara “SX4 Sedan” karena memang mobil ini berbasis Suzuki SX4. Sayangnya mobil ini kurang populer dibanding Honda City atau Toyota Vios pada zamannya, sehingga di tahun 2009 berhenti produksi. Mesin sama dengan Baleno/Aerio, masih M15A. (mobilmo)

Saya cukup terkejut ketika Suzuki mengatakan merilis Suzuki Baleno terbaru, pikir saya badge nama Baleno sudah tidak akan digunakan karena digantikan oleh Ciaz, small sedan Suzuki yang baru saja keluar sekitar 2 tahun yang lalu. Lah, lalu kenapa ada Baleno lagi ?

Suzuki Ciaz, small sedan Suzuki yang diluncurkan tahun 2014. Mobil ini memiliki paras yang cantik dan merupakan penerus langsung dari generasi Baleno. Mesinnya turun 100cc menggunakan K14B sama seperti Ertiga dan Swift. (topgear phillipines)

Well… ternyata badge nama Baleno diberikan kepada sebuah mobil berbodi hatchback. Lha, kenapa nggak sedannya aja dikasih nama Baleno dan hatchbacknya diberi nama Ciaz ? Kok jadi aneh begini.

Seperti kebiasaan Suzuki, mereka jual mobil seperti pakaian di distro, di satu level kelas dan harga ada dua model berbeda. Di kelas citycar ada Karimun, Celerio, dan Ignis, di kelas small hatchback ada Baleno dan Swift. Atau ini hanya produk pengganti sementara saja menunggu All New Swift ? Yah, gak tau lah… Langsung masuk ke Review saja.

Styling

Selera itu subjektif, tapi kalau boleh jujur saya merasa desain Baleno ini kurang menggugah.

Bagian depannya cukup sporti dan agresif. Yah, sayang hanya bagian depan saja yang bagus.

…. Oh, dari angle ini terlihat tidak terlalu buruk ternyata.

Mobil ini gendut, membulat, dan tidak seindah Swift bentuknya.

Suzuki Baleno di GIIAS 2017, bagian sampingnya tidak terlihat menggugah, terlihat gemuk dan membulat. Tarikan garisnya sungguh unik, kalau tidak mau dibilang aneh.

Bagian belakangnya sedikit mengotak, mencoba sporti dengan aksesoris warna hitam di bawah yang sayangnya, gagal. Justru terlihat aneh. 

Velg menggunakan 16 inch dengan warna gunmetal dan motif yang terlihat seperti bunga. Ukuran 195/55/16 dengan ban Apollo.

Tidak banyak yang mau saya bahas tentang luarnya, karena tidak terlalu menarik. Sekali lagi ini masalah selera. Mungkin mobil ini lebih cocok untuk wanita, karena desain luarnya lebih ke feminim daripada sporti. Berbeda dengan Swift yang terlihat “laki banget”.

Interior

Secara desain saja, interiornya jujur terlihat jauh lebih menarik dari exteriornya. Lebih menarik dan tidak generik seperti Swift-Ertiga-Ciaz.

Bagian tengah diberi silver finish dan desainnya terlihat sporti sekali. Setir terlihat identik dengan Swift dan Ertiga. Kelebihan lainnya : sudah dilengkapi fitur bluetooth handsfree. Canggih sekali untuk ukuran kelas ini.

Cluster meternya modern dengan model optitron, MID di tengah full-resolution. Sangat modern.

MID nya memiliki banyak display seperti rata Рrata konsumsi BBM, jam, dan yang menarik : power and torque meter. 

Power and Torque meter di Baleno, seperti mobil mewah (indiansautoblog)

Sayangnya, fitur – fitur tersebut kurang diimbangi dengan kualitas buatan yang baik. Ketika diamati dengan baik panel silver di tengah itu terkesan agak murah, bahkan seperti hanya diberi warna silver biasa yang gampang mengelupas.

Sempat juga panel plastik di doortrim ada yang lepas ketika seorang rekan menutup pintu agak kencang.

Banyak panel juga kurang baik fit and finish nya. Jadi untuk interior agak sedikit turn-down. Oh iya, mobil ini masih rakitan India.

Untuk akomodasi, baik headroom dan legroom di baris 2 nya cukup mumpuni untuk membawa keluarga. Sayang kursi bagian bawah di baris kedua agak kurang suportif.

Bagasi luas, tetapi mulut kargonya tinggi sehingga aksesnya cukup sulit.

*tidak ada foto karena lupa mengambil gambar*

Driving and Powertrain

Baleno diberi sumber tenaga dan transmisi yang sama persis dengan Ertiga, Swift, dan Ciaz.

Penampilan mesin dari Suzuki Baleno (OtoVirtual)

K14B bertenaga 90 hp @ 6000 RPM dan 130 Nm @ 4000 RPM. Transmisi juga masih sama 4-speed Automatic.

Tidak banyak yang bisa dikomentari soal pengendaraannya. Posisi duduk terasa agak tinggi tetapi cukup nyaman. Antara setir dan jok tidak terlalu banyak berkompromi sehingga tidak melelahkan.

Merasakan jantung pacunya, Baleno tidak terlalu terasa meledak – ledak. Sweet spotnya di sekitar 3000 – 4000 RPM. Rasio transmisinya cukup dekat dan seakan memang diciptakan untuk penggunaan dalam kota. Hasilnya, yang jadi korban adalah mesin sedikit meraung di kecepatan tinggi. Untuk lari 100 km/h tachometer menunjukkan 2500 RPM. Lumayan tinggi untuk mobil sekelas ini. Transmisinya berkarakter sama seperti Ertiga Automatic, cukup sering memindahkan gigi, sehingga dipadu dengan tenaga mesin yang juga “ngepas“, di beberapa kesempatan ia terasa lambat. Memainkan O/D OFF sangat penting jika berada di perjalanan luar kota atau anda harus sering kickdown karena transmisi selalu punya kecenderungan ke gigi tinggi. Terkadang kehilangan momentum ketika ingin menyalip kendaraan besar. Dan kabar buruknya, mobil ini tidak punya mode sekuensial / tiptronic. Performa versi Automatic sangat kontras dengan versi Manual, yang pernah saya coba di GIIAS 2017 kemarin.

Untuk pengendalian, jujur kalau Suzuki Swift terasa sporty dan direct, Baleno sangat kontras dengan Swift. Setirnya sama sekali tidak terasa direct, bahkan setup suspensi seakan memang untuk kenyamanan. Suspensinya agak mirip Ertiga, goyangannya sedikit terasa. Paling berasa ketika dibawa bermanuver di kecepatan lebih dari 100 km/h, mobil terasa melayang. Diperparah oleh ban yang sama sekali tidak terasa nge-grip. Sehingga untuk kecepatan tinggi ia agak kurang cocok.

Bagusnya, tenaga mesinnya memang kurang mumpuni untuk kencang sehingga yah, lebih cocok disetir secara “normal”. Berbeda dengan Swift yang disetting untuk performa dan sangat enak untuk dipakai bermanuver. Seakan ini versi “cross-breed” dari Swift dan Ertiga, mendapatkan kelebihan Swift dengan bodi ringan dan kenyamanan Ertiga. Walau soal kenyamanan juga tidak terlalu empuk seperti Ertiga.

Saya ingin memperlakukan mobil ini sebagai sebuah hatchback, justru mobil ini bertingkah seperti sebuah MPV. Sungguh membingungkan. Entahlah, untuk urusan ini saya lebih memilih Suzuki Swift. Terasa lebih mantap dikemudikan dan diperlakukan seperti sebuah hatchback.

Hal positif lain datang dari konsumsi bahan bakarnya. Suzuki K-series selalu terkenal dengan konsumsi yang ekonomis. Dalam kondisi normal MID menunjukkan 13 km/l, jika kita pakai standar deviasi 10%, bisa dianggap konsumsi dalam kota nya sekitar 11 – 12 km/l. Cukup hemat. Sepertinya memang pasar mobil ini cenderung ke wanita.

Conclusion

Oke, mobil ini build qualitynya kurang baik, styling nya aneh, dan performanya biasa saja. Untuk standar sebuah hatchback, ini bukan mobil pertama yang akan saya lirik. Dan opini pribadi saya, mobil ini kurang pantas menyandang badge “Baleno”, karena sekali lagi dia bukan direct successor, Ciaz yang adalah penerus Baleno sesungguhnya, dan ia tidak lebih baik, malah terasa downgrade dari Baleno sebelumnya. Terlalu inferior untuk menyandang nama “Baleno”.

Tapi sekali lagi, saya tidak mau terlalu kejam terhadap mobil ini. Setidaknya, apa yang dia offer sudah “cukup” untuk mayoritas masyarakat yang kakinya tidak seberat saya (baca : suka nginjek pedal gas).

Ditambah, penawaran harga yang ditawarkan menarik, sangat menarik. Mobil ini seperti alternatif bagi orang yang ingin mobil di bawah 200 juta tetapi tidak mau citycar mungil seperti Mitsubishi Mirage dan Honda Brio RS, atau bahkan Suzuki Ignis AGS. Sangat value for money.

Simply, saya akan memaafkan segala kekurangan mobil ini karena harganya saja. Gap harganya lumayan jauh dibanding pesaing – pesaingnya.

Kalau saya ? Ah saya nunggu Suzuki Swift terbaru saja… Modelnya jauh lebih menarik.

Suzuki Swift terbaru, tidak sabar rasanya menunggu mobil ini masuk ke Indonesia (carblogindia)

Varian Sport di generasi terbarunya, menggunakan mesin Turbo 1.4 Liter. (daily express)

 

One thought on “2017 Suzuki Baleno Automatic Review – The Economical Hatchback

  1. Bah ! mesin sama dg ertiga. Kenapa suzuki senang bermain di mesin yg tanggung sih (suip, ertiga & ciaz)? padahal sudah ada mesin M15A. Toh logika ane, pajeknya juga ga beda jauh sama suip. cmiiw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *