Mungkin anda adalah seorang pengguna Toyota Fortuner, atau anda seorang pengguna Honda HR-V ? Jika anda pengguna 2 mobil tersebut mungkin sering mendengar bahwa Fortuner adalah “Kijang yang ditinggikan” , atau bagi pengguna HR-V “Jazz yang ditinggikan”.

Toyota IMV Project, merupakan sharing platform antara pickup Toyota Hilux dengan Fortuner dan Innova (TouseLinza)

20150211_115342

Honda HR-V, compact SUV Honda yang dikembangkan dari platform Jazz.

Apa sih sebenarnya maksudnya ? Darimana sih istilah itu berasal ? 

Tentu itu bukan sekadar istilah ngawur yang diciptakan oleh orang gak ngerti mobil, istilah – istilah tersebut muncul karena memang sebenarnya ada dua mobil atau lebih, yang berbagi rancang bangun yang sama.

Yap, kali ini kita akan membahas tentang “platform sharing“. Ini adalah “arsitektur” nya mobil, jadi kata arsitektur nggak lagi dikapitalisasi oleh bangunan rumah dan gedung. Mobil pun punya arsitektur.

Ilustrasi “Platform” (Tesla)

Apa itu platform ?

Platform bisa dikatakan merupakan satu atau banyak komponen dan desain engineering yang sama, yang diterapkan oleh suatu pabrikan kepada dua atau lebih mobil yang berbeda.

Biasanya part yang disamakan adalah floorpan / lantai, sistem steering, sistem suspensi, mesin, dan transmisi.

(Motor Trader)

Jadi, mobil anda hari ini nyaris tidak mungkin tidak punya kesamaan dengan mobil lain. Karena sangat costly untuk mendesain satu mobil dari nol.

Mengapa platform sharing ?

Dengan definisi platform di atas, jika mau di sum-up, kelebihannya adalah efisiensi di banyak sektor.

Efisiensi waktu pengembangan, karena engineer tidak perlu lagi mendesain mobil dari nol, ibarat bangunan, platform adalah “pondasi”, sudah ada tinggal didesain sesuai kebutuhan apakah itu sebuah SUV, MPV, atau sedan / hatchback. Sebagai hasilnya, hari ini life cycle mobil semakin cepat, jika dulu mobil butuh 7 sampai 10 tahun untuk berganti generasi, saat ini hanya butuh 5 – 7 tahun.

Efisien di cost pengembangan, tidak perlu lagi melakukan prototyping platform baru setiap membuat satu mobil, cukup melakukan tweaking di sektor – sektor yang perlu disempurnakan.

Efisien di cost manufaktur, untuk orang – orang yang berkecimpung di manufaktur, semakin banyak benda yang sama dapat dibuat, maka akan semakin murah pula cost per unitnya.

Efisien di part inventory, karena banyak mobil menggunakan part yang sama, pengaturan inventori part menjadi lebih mudah dan tidak makan waktu serta biaya.

Jadi, semisal ada sedan dan SUV berbagi platform, kira – kira apa saja yang dibuat beda ?

Jika kasusnya sedan dengan SUV / MPV, biasanya yang dibedakan adalah hal – hal minor seperti geometri suspensi, jarak main / travel suspensi, tuning final gear di transmisi dan gardan, ukuran PCD / wheel hub (misalnya Toyota Kijang punya PCD 5 lubang, sedangkan Fortuner punya 6 lubang), wheelbase, dll, intinya ubahan biasanya bersifat minor dan tidak berkaitan dengan arsitektur utama mobil.

Ilustrasi variabel yang bisa diubah – ubah pada sharing platform (car and driver blog)

(The Truth About Cars)

Terkadang juga ada beberapa mobil yang menggunakan unit mesin yang sama, tapi dibedakan dari desain engine mountingnya, atau jika tuning suspensi, bisa jadi ada part khusus yang membuatnya terasa berbeda dari beberapa “kembaran” nya, terutama jika mobilnya kelas Luxury.

Apakah ada sisi negatif dari platform sharing ? 

  • Generik

Mobil terasa tidak memiliki distinct character yang spesifik. Ini adalah hal yang baik ketika brand mobilnya sama seperti mungkin Honda Civic dan Accord, atau Mazda3 dan Mazda6, masalahnya otomotif adalah bisnis besar, aura kapitalis nya terasa, dan yang besar pasti mencaplok yang kecil. Sehingga sekarang mobil dengan brand berbeda bisa punya karakter yang mirip – mirip dan generik.

Contoh paling jelas adalah MINI dan BMW. Ada sebuah distinct character yang hilang di MINI setelah generasi F56 (2014-now), karena pengembangannya 80% dilakukan oleh orang jerman dan 20% oleh orang Inggris. Seorang kawan yang merupakan penggemar MINI sangat merasakan hal ini, dan berikut saya quote salah satu tulisannya ketika mengomentari MINI generasi terbaru dibandingkan dengan generasi yang lama.

Akhirnya didapatlah mobil yang berkarakter seperti anjing kecil; twitchy, angry, wobbly, but fast. Setiap nyetir Cooper S sebelumnya akan selalu mendapatkan sense bahwa bagian depan mobilnya mau melarikan diri dari mobilnya, dan mobil bisa kelipat dua saat belok super tajam dengan kecepatan tinggi. Perasaan tidak aman, yang anehnya malah menjadi huge fun saat berkendara. Dan karena sasis ini dibuat ekslusif hanya untuk MINI, tidak sharing platform, maka feel seperti ini hanya akan didapatkan di MINI.

This new car though, target pertama BMW saat membuatnya adalah menghilangkan semua kekurangan sasis MINI, dan yang menyedihkan, MINI ini dibangun di atas platform yang sama persis, plek, dengan BMW 2 series Active Tourer, kendaraan FWD pertama buatan BMW. MINI dan 2-series AT menjadi “kelinci percobaan” modular sasis mereka yang nantinya akan jadi basis banyak mobil, seperti PQ35 di MQB Volkswagen. Dan bisa kebayang di masa depan ketika semua mobil menggunakan basis yang sama, maka feel yang ditawarkan juga akan 11-12 antara 1 produk dengan produk lain, maka tidak menutup kemungkinan akan ada BMW seri 5 yang memiliki feel sama dengan MINI :glodak: walaupun kemungkinan besarnya adalah MINI kedepannya akan berkembang menjadi se-civilized seri-7. :frm_bang_head: 

https://www.serayamotor.com/diskusi/viewtopic.php?f=19&t=21285&start=25

Saya sendiri pernah mengemudikan MINI Countryman S generasi R60 yang berbasis MINI Cooper R56, dan memang seperti yang dideskripsikan, seperti “anjing kecil”, sangat betul bagian depan seakan ingin “melarikan diri”, begitu punya karakter yang unik, dan sekaligus menyenangkan.

Terakhir saya sempat mengemudikan MINI Clubman S generasi terbaru, saya tidak mengatakan ini mobil yang buruk, tapi rasanya “generik” – seperti mengemudikan BMW. Hanya casing nya saja MINI. Semua interface, software, dan karakter pengendaraan akan sangat terasa BMW sekali. And that’s not a good thing, for MINI enthusiast. Hal yang sama akan kita temukan di Rolls-Royce yang juga segrup. Kalau BMW seri-3 dan seri-5 generik, masih bisa saya maafkan karena ya mungkin itu karakter BMW seperti itu, tapi kalau BMW dan MINI punya karakter yang sama… Saya rasa ini akan sangat berbahaya.

MINI Cooper terbaru menggunakan platform bernama UKL milik BMW Group, berbagi platform dengan BMW 1-series dan 2-series. Membuatnya semakin generik dengan BMW (m3forum)

Contoh lain yang ada dan jelas sekali adalah VW Group. Salah satu yang paling berpengaruh di dunia, nyaris seluruh major brands berada di bawah naungan VW Group : Audi, Lamborghini, Porsche, Skoda, Bentley, Bugatti, dll. Sayang saya minim pengalaman dengan brand ini, jadi tidak bisa menceritakan bagaimana karakter mobilnya masing – masing dan apakah sudah se-generik BMW-MINI.

VW Group, merupakan salah satu grup besar di dunia yang memegang banyak merek (bimmerboost)

Merger perusahaan merupakan hal yang baik, tapi downside nya terkadang membuat setiap produk jadi memiliki karakter yang nyaris mirip – mirip alias generik. Akhirnya skema kapitalis tidak terhindarkan, persaingan hanya terjadi di brand – brand besar, brand kecil hanya pelengkap saja. Grup yang besar akan mencaplok merek yang kecil, dan merek yang kecil akan membiarkan dirinya dicaplok karena memang mereka “butuh” dicaplok alias butuh dana untuk menyambung nafasnya. Sedikit merek yang berhasil lepas dari skema kapitalis ini, contoh suksesnya adalah Mazda yang berhasil membeli sahamnya kembali dari Ford Motor Company dan berdiri sebagai single-brand.

Mazda, pabrikan yang berhasil membeli sahamnya kembali dan mem-branding semua produk kendaraan bermotornya dengan SKYACTIV-Technology dan juga melakukan pendekatan arsitektur yang baru. (Mazda of Manchester)

Contoh paling generik dari platform sharing : badge engineering. Casingnya pun sama persis hanya dibedakan equipment nya saja. Contoh paling obvious : Avanza dan Xenia.

Badge Engineering yang paling sukses di Indonesia : Avanza dan Xenia. Masih ada contoh lain seperti Rush dan Terios, lalu Agya-Ayla, dan Calya-Sigra. (Otonity)

 

All in all, this is about business… 

  • High Recall Rate

Dengan skema global platform, berarti akan banyak sekali part yang mirip, dan tanggung jawab pabrikan sekaligus supplier untuk memastikan semua sesuai dengan standar kualitas yang ada, karena jika terjadi recall mengenai 1 bagian, akan sangat besar skalanya dan tingkat kerugian juga sangat besar.

Dengan jumlah produk yang semakin beragam dan common part yang berarti semakin banyak, resiko recall juga semakin tinggi.

  • Consumer Perception

Sering tidak kita mendengar “ah ngapain beli Fortuner, kan cuma Kijang dikasih ban gede”. Well, tidak sepenuhnya salah walaupun tidak sepenuhnya benar juga.

Platform sharing sedikit – banyak akan memberikan persepsi bahwa produk A dan B adalah generik. Tidak sedikit orang yang punya pandangan bahwa Audi hanyalah VW yang dimahalin dan dikasih luxuries, atau Rolls-Royce Phantom hanyalah seri-7 yang dikasih baju lebih mewah saja.

Mobil – mobil dengan platform sharing (ahram weekly)

Persepsi mungkin hanya sekedar omongan orang, tapi persepsi juga memberikan kesan tentang apa yang kita pakai / beli. Jika mobil yang kita beli rasanya generik dengan yang lebih murah, tentu kita tidak akan merasa mobil itu spesial bukan ? Ini adalah PR besar bagi pabrikan untuk tetap memberikan distinct character meskipun berbagi platform, sehingga tidak memberikan persepsi yang kurang baik di mata konsumen.

Contoh mobil dengan platform sharing di Indonesia :

Banyak, dan sangat banyak. Berikut daftarnya, dan maafkan kalau sampai ada yang kelewat – saking banyaknya.

Audi

  • Audi A3 – Audi Q3 – VW Golf – VW Tiguan – VW Polo – VW Scirocco
  • Audi A4 – Audi A5 – Audi Q5 – Porsche Macan
  • VW Touareg – Audi Q7 – Porsche Cayenne

BMW

  • 1-series, 2-series Active Tourer, X1, MINI Cooper series (Hatchback 3-door, 5-door, Countryman, Clubman).
  • 3-series – 4-series – X3 – X4
  • 5-series – 6-series – X5 – X6
  • 7-series – Rolls-Royce Phantom

 

Chevrolet

  • Chevrolet Colorado – Isuzu D-Max
  • Chevrolet Trailblazer – Isuzu MU-X

Daihatsu

  • Daihatsu Ayla – Toyota Agya – Peugeot 107
  • Daihatsu Sigra – Toyota Calya
  • Daihatsu Xenia – Toyota Avanza
  • Daihatsu Terios – Toyota Rush

Ford

  • Ford Fiesta – 2009-2014 Mazda2
  • Ford Ranger – Mazda BT-50
  • Ford Escape – Mazda Tribute
  • Ford Focus – 2003-2015 Mazda3

Honda (yang paling banyak… *sigh*)

  • Brio – Mobilio – BR-V
  • Jazz – Freed – City – HR-V
  • Civic – CR-V
  • Accord – Odyssey

Hyundai

  • Hyundai i10 – KIA Picanto / Morning
  • Hyundai i20 – KIA Rio
  • Hyundai Tucson – KIA Sportage
  • Hyundai SantaFe – KIA Sorento
  • Hyundai Sonata – KIA Optima

Isuzu

  • Isuzu Bison – Mitsubishi L300

Lexus

  • Lexus IS 1st generation – Toyota Altezza
  • Lexus GS 1st generation – Toyota Aristo
  • Lexus LS 1st generation – Toyota Celsior
  • Lexus RX 1st and 2nd generation – Toyota Harrier
  • Lexus LX – Toyota Land Cruiser
  • Lexus ES – Toyota Camry

Mazda

  • 2014-now Mazda2 – Mazda CX-3
  • 2012-now Mazda3 – Mazda6 – Mazda CX-5
  • Mazda8 – Mazda CX-7 – Mazda CX-9
  • Mazda VX-1 – Suzuki Ertiga

Mercedes-Benz

  • A-Class – GLA-Class – CLA-Class – B-Class
  • C-Class – GLC-Class
  • E-Class – GLE-Class
  • S-Class – GLS-Class

Mitsubishi

  • Pajero Sport – Triton
  • Outlander Sport – Lancer EX
  • Mitsubishi Maven – Suzuki APV

Nissan

  • Nissan X-Trail – Nissan Altima – Renault Koleos

Suzuki

  • Suzuki Ertiga – Suzuki Swift – Mazda VX-1

Toyota

  • Yaris – Vios – Sienta
  • Kijang Innova – Fortuner – Hilux (IMV)
  • Alphard – Vellfire

Platform sharing, bagaimanapun, sudah membantu banyak sekali pabrikan untuk survive di era sekarang dimana persaingan semakin ketat, dan tentunya menguntungkan juga bagi konsumen karena ketersediaan suku cadang menjadi lebih mudah. Tetapi tentu, setiap pabrikan harus memperhatikan supaya tidak terkesan seperti jualan mobil sejenis yang hanya ganti casing saja. Harus lebih “kreatif” menciptakan diferensiasi terutama di sektor mekanikal.

Tentu sangat tidak elit ketika suatu saat mengemudikan sebuah Audi A8 terasa seperti mengemudikan VW Polo.

 

3 thoughts on “The Architecture of Automobile – Platform Sharing

  1. Agya-Ayla sepertinya tidak sharing platform dengan Peugeot 107, hanya sharing mesin yang basisnya sama (1KR). Mungkin maksudnya Peugeot 107 dengan Toyota Aygo, yang sharing platform juga dengan Citroen C1. Di Wikipedia sendiri disebutkan Agya-Ayla mengambil platform dari Daihatsu Mira e:s.

  2. Thnks for your marvelous posting! I certainly enjoyed reading it, you
    can be a great author. I woll remember to bookmark your blog and will eventually come back someday.
    I want to encourage you to definitely continue your
    great writing, have a nice day!
    kepanjangan sks kuliah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *