Renault-Nissan Alliance merupakan salah satu kolaborasi sukses sepanjang sejarah otomotif. Penggabungan keduanya begitu unik, karena memang neither owns the other, seperti dikatakan oleh CEO nya, Carlos Ghosn. Nissan memiliki 15% saham Renault dan Renault memiliki 44% dari saham Nissan, secara posisi Renault lebih unggul, tapi ia tidak memiliki Nissan. Berbeda dengan Toyota dan Daihatsu, karena itu namanya bukan Renault Group, tapi Renault-Nissan Alliance.

Dan sekarang aliansi tersebut bertambah : Renault-Nissan-Mitsubishi Alliance. Nissan membeli 34% saham Mitsubishi Motors Corporation.

Well, we ain’t talkin about business here. 

Di Indonesia, Renault sendiri kurang begitu terdengar. Nampaknya pabrikan Perancis memang kurang punya nama di sini. Renault di Indonesia dipegang oleh grup ATPM yang sama dengan Nissan : Indomobil Group. Tetapi orang Indonesia lebih kenal Nissan.

Tapi cukup wajar jika orang Indonesia ngerti nya Nissan, karena Renault sendiri di Indonesia tidak pernah eksis seperti Nissan.

Tetapi beberapa tahun terakhir, Renault mencoba eksis dengan menawarkan beberapa lini produknya, terutama di segmen SUV. Sebut saja Renault Duster, lalu Renault Koleos, crossover SUV Renault Captur, dan terakhir Renault Kwid sebagai SUV terkecilnya. Selain lini SUV mereka juga menjual lini sport untuk bersaing di kelas hot-hatchback : Renaultsport Megane dan Renaultsport Clio EDC .

Oke, mari kita fokus ke mobil yang akan kita review : Renault Koleos. Koleos sebetulnya sudah dua generasi di Indonesia, generasi pertamanya berbentuk seperti ini :

Saya yakin beberapa dari anda akan mengernyitkan dahi melihat bentuknya. Tenang saja, saya juga sepikiran kalau mobil ini desainnya tidak atraktif, bahkan dibanding saudaranya sendiri, Nissan X-Trail. (trueautosite)

Yang pertama masuk Indonesia adalah model facelift dari Renault Koleos, yang bentuk awalnya sebelum facelift seperti ini :

Tetap errr…. Ya begitulah (top speed)

Entah selera orang Perancis memang begini atau selera saya yang kampungan – karena Perancis, apalagi Renault berbasis di Paris, yang katanya kota mode, kota idaman para fashionista.

Meski begitu Renault Koleos yang masuk ke Indonesia pertama kali ini memiliki kelengkapan yang cukup baik dibandingkan para lawan Jepang seperti Honda CR-V dan saudaranya sendiri, Nissan X-Trail. 6 buah airbag, speaker BOSE, mungkin lawan sebandingnya hanya Mazda CX-5 pada tahun itu.

But I don’t care shit, it still looks weird… 

Tetapi di tahun 2016, SUV Renault ini berubah. Total. Seperti seekor kodok yang berevolusi menjadi pangeran tampan.

Renault Koleos terbaru (paultan)

(Renault Middle East)

Begitu banyak orang yang terkagum – kagum dengan desain Koleos terbaru. Terlihat seperti mini Audi Q7, sangat terlihat Eropa sekali apalagi dibandingkan saudaranya, Nissan X-Trail terbaru.

Dan saya sebagai seorang pengguna Nissan X-Trail generasi terbaru, merasa cukup penasaran dengan apa yang ditawarkan Koleos ini. Oleh karena itu di GIIAS 2017 lalu saya bersikeras ke booth Renault untuk sekedar mencobanya.

Styling

Koleos menggunakan pendekatan desain yang begitu Eropa, dengan clean lines dan banyak lampu. Sedikit lebay, sih. Lampu depannya kayak lagi nangis.

Handel pintunya X-Trail sekali… 

Secara personal, saya bukan penggemar desain mobil seperti ini. Lampunya terlalu bling – bling. Velg nya terlalu kecil, dan wheel arch nya tidak terlihat kekar sama sekali. Kita mendapatkan kesan bahwa mobil ini di satu sisi terlihat cantik, tapi di sisi lain terlihat datar, terutama di bagian sampingnya.

Nah… The side is just too… Meh. (Renault Australia)

Bagian depan dan belakangnya terlihat didesain secara serius, while bagian sampingnya seperti desainernya kehilangan ide bagaimana menyatukan depan dan belakangnya. Masalah yang sama juga ada di X-Trail generasi ketiga (well, they are on the same basis though), wheel arch nya tidak terlihat berotot, menimbulkan kesan mobil ini kurang lebar.

Sama seperti Nissan X-Trail, garis bahunya ramping membuat wheel arch nya tidak terlihat kekar.

Saya lebih menyukai bagaimana Honda dan Mazda mendesain mobil untuk memiliki flow design yang mengalir dari depan sampai belakang. Lihat saja di All New CR-V dan All New CX-5, semua terlihat begitu mengalir.

But well, ini masalah selera. Ketiganya punya pendekatan berbeda : Honda terlihat sangat Amerika, Mazda terlihat sangat Jepang, dan Renault terlihat sangat Eropa. Mungkin karena saya memang bukan penggemar desain Eropa saja.

Dan bagian yang paling saya tidak suka dari mobil – mobil Renault : penempatan logo nya. Kenapa logo jajargenjang itu mesti ditempatkan vertikal menghadap ke depan ? Karena bentuknya seperti bibir… Jadi image nya kayak ngeliat cewek selfie dengan pose duckface … Bedanya ini bibirnya nggak bisa mingkem.

Duckface… Errr… 

Satu modifikasi yang akan saya lakukan jika membeli mobil ini adalah mengubah logo Renault itu di atas kap mesin, atau menghilangkannya sama sekali. Sangat tidak indah dan merusak seluruh proporsi badannya. Kayak liat cewek seksi terus tiba – tiba foto pose duckface alay…

(weknowmemes)

Toh mereka bisa melakukannya di Megane dan Clio, kenapa tidak di Koleos ?

Oh ya, lalu modifikasi velg. Kecil sekali. Ukurannya 225/60/18, sebetulnya tidak kecil, tapi postur badan dan wheel arch nya yang kurang berotot, dan offset velgnya membuat velg mobil ini terkesan kecil …

velgnya terlihat kecil sekali… saya lupa mendokumentasikannya jadi ambil dari google (performancedrive)

Interior

Mobil ini diperuntukkan oleh penggemar gadget dan mainan – which is totally not my kind of car.

*lupa dokumentasi dasbornya, jadi saya ambil gambar lagi (autobuzz.my)

Tapi yah… Okelah, demi mengobati rasa penasaran sebagai pengguna X-Trail.

Renault sepertinya tidak terlalu peduli dengan flow design di interior Koleos, sama seperti di X-Trail yang juga flow design di interiornya terlihat biasa – biasa saja.

Material, tidak terlalu spesial, malah saya merasa masih satu grade di bawah Mazda materialnya, meskipun sedikit lebih baik dari Honda.

Doortrim ada ambient lightnya, tombol – tombol dan kulitnya masih terasa seperti X-Trail.

Tuas transmisi diberi detail lebih mewah dengan kayu nya. Dia sudah menggunakan rem parkir otomatis, berbeda dengan X-Trail yang masih rem parkir kaki.

Renault hanya peduli dengan layar besar di tengahnya – yap. Seluruh desain interior terkesan hanya disesuaikan supaya layar besar ini bisa muat. Layar ini menggunakan software R-LINK 2. Begitu besar, canggih, dan mewah.

Layar ini akan terus menyala meskipun mobil mati, entah berpotensi nyedot aki atau tidak.

Pengaturannya pun sama seperti layar HP android, interface nya begitu canggih, Banyak sekali yang bisa diatur di sini, literally the whole car. Seakan pointnya beli mobil ini adalah beli sebuah HP android raksasa.

Well, hampir seluruh isi mobil dapat diatur disini, termasuk AC juga ngaturnya lewat layar ini. Mirip seperti Toyota Harrier lama dengan G-Booknya, entah bisa rusak atau tidak… 

Audio sudah menggunakan BOSE, sepertinya punya tatanan yang mirip dengan Mazda.

Warna layar speedometer dan desain speedometer pun bisa diatur sesuai selera dan mood, persis seperti BMW.

Punya empat jenis pengaturan style speedometer dan tachometer, dan 5 kombinasi warna, jadi total ada 20 kombinasi yang bisa dipilih… 

Nah… This is more like it. 

Hmmm… Saking sibuknya dengan layar ini saya sampai lupa mendokumentasikan akomodasinya. Tapi secara kurang lebih bagian baris keduanya mirip – mirip saja dengan saudara kembar tidak identiknya. Bagasi juga cukup luas, kurang lebihnya setara dengan Nissan X-Trail dengan baris ketiga direbahkan.

Fitur keamanan mobil ini cukup standar untuk mobil sekelasnya : 6 buah airbag, ABS, EBD, BA, HSA, Blind Spot WarningTraction Control dan Stability Control.

Driving it

Oke… Pertama kunci yang berbentuk seperti henpon jadul… desainnya cukup unik.

Tapi sepertinya kurang praktis…

Mesin mobil ini menggunakan QR25DE – which is bukan mesin yang canggih seperti 1.5 Liter Turbo di Honda maupun 2.5 Liter SKYACTIV di Mazda.

We all know where this all will be going… 

Power di 166 HP @ 6000 RPM dan 233 Nm @ 4000 RPM, dengan transmisi XTronic CVT. Saking terlalu identiknya dengan saudaranya dan saking sudah terlalu lamanya dipakai di X-Trail, saya sampai bingung mau bahas apa.

Start engine dengan tombol dan suara mesinnya…. Sama. Sangat identik. Posisi duduk pun sangat identik, agak tinggi. Tidak bisa se rebah Honda. Visibilitas baik, tapi tetap mobil ini terasa lebar dari dalam.

Pertama, entah setting throttle response atau memang CVTnya dibuat halus – atau simply mobil ini lebih berat dari X-Trail, transmisinya terasa lebih halus dan respon awalnya terasa agak “lemot”. Tetapi mobil ini punya tenaga yang cukup, walaupun ia tetap saja masih tetap kurang bertenaga jika dibandingkan CR-V Turbo atau Mazda CX-5.

Kesan berikutnya, yang terasa adalah suspensi dan ini merupakan pembeda paling besar antara X-Trail dan Koleos. Koleos terasa lebih keras sedikit, terasa lebih “Eropa”, dan feel yang didapatkan lebih refined dibanding Nissan. Mobil ini secara sekilas terasa lebih balanced dibanding X-Trail. Paling terasa pada saat mengerem, di X-Trail sangat terasa efek “diving” atau moncong mobil mengayun ke depan akibat perpindahan bobot, di Koleos efek tersebut dapat dikurangi dengan baik karena lebih keras sedikit. Tetapi konsekuensinya, soal kenyamanan ia kalah dengan Honda CR-V Turbo, yang untuk saat ini paling nyaman di kelasnya.

Menyoal peredaman, ia sangat terasa Eropa – jauh dari kesan berisik, jauh lebih baik dari X-Trail. Suara roda memang masih sedikit terdengar, tapi tetap ia jauh meningkat dari X-Trail.

Salah satu kekurangannya mungkin ada di steering yang terlalu ringan. Sama juga seperti X-Trail yang setirnya terlalu ringan, sehingga kurang mantap di saat bermanuver.

Yah, sepertinya memang tidak banyak yang bisa diceritakan soal pengendaraannya, karena tidak begitu spesial.

Conclusion

Di tengah gempuran Honda CR-V Turbo dan Mazda CX-5 terbaru, sangat sulit untuk menyimpulkan alasan membeli Renault Koleos, untuk orang yang sangat melihat sisi teknis seperti saya, sebuah layar android besar tidak akan menarik saya untuk membeli mobil ini.

Mungkin yang akan membeli Renault Koleos adalah pecinta Nissan yang ingin sesuatu yang “lebih”. Pecinta gadget yang tidak peduli dengan pengembangan di bawah kulit. Karena bagi orang yang tidak mengerti, di atas kulit Koleos lebih terlihat canggih dibanding Honda maupun Mazda, padahal di bawah kulit ia hanyalah sebuah Nissan X-Trail yang teknologinya sudah obsolete.

Mungkin memang Renault Koleos diposisikan sebagai amunisi untuk berhadapan langsung dengan Honda CR-V dan Mazda CX-5 . Hubungan antara Koleos dan X-Trail ini seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia – dimana Renault mengambil pasar yang lebih tinggi sementara Nissan mengambil pasar di bawahnya.

Bagi orang yang tidak peduli dengan urusan driving experience, Renault Koleos adalah mobil yang menarik. Mungkin juga bagi yang ingin “nampang” di depan para klien bisnis. Bagaimanapun tampang Koleos cukup “menjual”, terlihat mewah dan pasti terlihat kaya, karena logonya Eropa. Karena merek Eropa selalu identik dengan mahal.

Entahlah, sebagai pengguna X-Trail, saya hanya melihat Koleos sebagai alternatif lebih mahal dan lebih mewah dari X-Trail yang punya layar handphone android besar dan speaker BOSE plus speedometer digital. Mungkin memang demikian.

Bagaimanapun, pengguna Koleos tidak perlu khawatir dengan after sales service, karena mobil ini identik dengan Nissan, ia bisa diservis di bengkel Nissan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *