Handling – mungkin ini suatu istilah yang sangat general. Sering kita dengarkan tapi terkadang kita sendiri juga nggak paham apa itu handling. Jangankan yang awam, bahkan sorry, banyak reviewer mobil juga nggak paham artinya handling, definisinya ngaco, penjelasannya mbulet.

Bukan saya mau ngeminteri, percayalah, saya sendiri juga masih perlu banyak belajar dan banyak ngutip sumber lain. Tapi menurut saya, kalo mau bikin review mobil yang bagus memang kudu banyak belajar, kok.

Handling, kalau di bahasa Indonesia artinya : pengendalian.

Kalau dari arti katanya pengendalian sendiri, berarti seberapa banyak seorang pengemudi bisa merasa “in-control” dengan mobilnya. Dengan kata lain, seberapa banyak pengemudi merasa “mengendalikan” mobil.

Dan saya adalah orang yang beruntung pernah merasakan mobil yang dinobatkan sebagai “best handling car” : Mazda MX-5 Miata generasi 3 (NC). Berdasarkan pengalaman saya, saya akan sangat senang berbagi tentang bagaimana handling mempengaruhi semua aspek dari sebuah mobil.

Hanya ilustrasi saja, saya lupa nyimpen fotonya MX-5 teman saya dimana. (autobild Indonesia)

MX-5 merupakan mobil yang lahir dari mimpi besar sebuah pabrikan kecil Jepang, dimana sumber idenya berasal dari seorang jurnalis otomotif bernama Bob Hall (well, jurnalis otomotif pun bisa punya dampak ke industri otomotif, karena itu jurnalis otomotif Indonesia pun seharusnya demikian).

You are the man, Mr. Bob Hall! (pinterest)

Apa yang spesial dari MX-5 ? Apakah luxury gadget ? Apakah fitur tertentu yang tidak ada di mobil pada zamannya ? Nope. MX-5 terlihat as raw as it can be. Sebuah roadster sederhana berformat front-engine, rear-wheel drive, mesin 1.600cc di generasi pertamanya, terlihat cupu, tapi begitu membawa dampak. Semua wartawan otomotif memujinya karena sangat “pure“. Mobil yang sederhana, terlihat cupu, tidak mewah, tapi begitu fun, begitu engaging, begitu menyenangkan, murah lagi. Cheap and cheerful car. Bahkan menjadi pakem pengembangan roadster – roadster sekarang.

Mazda MX-5 generasi pertama, mobil yang terlihat sederhana tapi begitu dicintai oleh banyak orang (carthrottle)

Apakah dulu Mazda berpikir mau meniru Mercedes atau BMW ? Tidak. Mazda just happy being Mazda, Mazda is happy being as Japanese as it is. MX-5 adalah mobil dengan “best handling“, juga “best sellingroadster.

Pesona MX-5 yang begitu raw ini juga kita temukan di pabrikan sebelah : Honda, mereka bahkan punya roadster juga : S2000 , dan menciptakan sebuah supercar yang berani melawan supercar Italia : Honda NSX.

Honda S2000, mobil yang juga terkenal memiliki handling bagus dan melegenda (autoblog)

Honda NSX, merupakan supercar Jepang yang menggunakan teknologi full-aluminium chassis F1 pertama kali untuk road-legal car dan berani menantang hegemoni supercar Italia seperti Ferrari. (favcars)

Ada apa ? Mengapa mobil – mobil seperti ini yang justru mendobrak pada zamannya ? Bukan mobil mewah dengan fitur dan gadget yang katanya kita butuh itu ? Atau kenapa bukan mobil dengan kulit – kulitan mahal yang mendobrak zaman ? Atau orang yang bilang bahwa fun to drive itu relatif, mengapa justru selera para jurnalis otomotif profesional ini tidak se-“relatif” yang dibilang ?

People Seeks Joy in Driving

Mengemudi, adalah sama seperti bekerja. Anda bisa begitu menikmatinya karena anda sudah cinta dengan pekerjaan tersebut, atau anda bisa melakukannya sehari – hari, ya simply karena anda perlu melakukannya, kalau bisa anda tidak perlu bekerja – itu lebih baik.

(beach mazda)

Pengendalian, atau sense of engagement dalam berkendara merupakan faktor yang penting, yang dapat membuat kita menikmati aktivitas mengemudi itu. Ketika kita tau seberapa banyak kita berbelok, seberapa cepat mobil kita bergerak, seberapa baik mobil kita ngerem, seberapa cepat setir kita, semua mengikuti kemauan kita. Istilahnya : mobil itu seharusnya jadi kepanjangan tangan kita. Jinba Ittai : warrior and horse in one motion , istilah yang dipakai oleh Mazda.

Percayalah, bahkan orang yang tidak ngerti mobil pun tau, kalo mobil tidak bergerak sesuai input yang kita berikan, itu ada yang salah dengan mobilnya. Contoh gampangnya kita gaspol kalo gak narik – narik saja kita tau itu ada yang salah. Sama seperti pisau yang dipakai motong buah duren nggak tembus – tembus, kita yakin ada yang salah dengan pisau itu. Bicara handling, se-serius itulah pengaruhnya.

Ironisnya, dunia berputar mengikuti orang – orang yang menganggap mengemudi adalah suatu hal yang melelahkan dan membosankan. Akhirnya muncul absurditas sejenis autonomous car , atau mobil yang bisa jalan dan ngerem sendiri. Padahal point dari punya mobil pribadi bukan sekedar alat transportasi.

Akan sangat mengerikan apabila di masa depan mobil tidak berbeda dengan radio control raksasa berukuran 1:1 (car and driver blog)

Percayalah, mengapa ada aplikasi semacam Uber dan Grab itu untuk memfasilitasi orang yang butuh transportasi, atau mengapa ada MRT, LRT, pesawat terbang, karena ada orang yang memang butuh transportasi praktis, mudah, dan tidak menguras energi sehingga bisa lebih produktif.

Well, kalau hanya butuh transportasi… Bukankah lebih mudah pakai Grab atau Uber saja ? (topgear phillipines)

Orang yang butuh transportasi praktis, tidak akan menghabiskan ratusan juta untuk beli mobil. Rugi, dan capek. Saya bahkan sering bilang ke orang, kalau memang tidak menikmati nyetir, beli mobil itu sesuatu yang salah dan merugikan.

Jadi, apa yang mendefinisikan handling yang baik ? 

Banyak, I mean it, literally, the whole car.

Anda harus membuat mobil tersebut betul – betul seperti kepanjangan tubuh anda sendiri.

Steering – meliputi steering ratio dan feedback. Setir harus diatur supaya memiliki rasio setir – perbandingan antara putaran setir dengan derajat gerakan roda, tetap halus tapi di saat yang sama harus responsif dengan gerakan tangan anda. Feedback – seberapa besar koneksi yang anda rasakan saat membelokkan roda melalui setir, apakah anda mudah memprediksi arah mobil tersebut saat berbelok.

Chassis and suspension – kombinasi tuning chassis dan suspensi yang baik diperlukan untuk mereduksi bodyroll mobil – atau menciptakan bodyroll yang terkontrol dalam taraf tertentu. Bodyroll – tendensi mobil untuk berguling berkaitan erat dengan suspensi dan sasisnya. Suspensi terlalu empuk dan sasis yang terlalu lentur dapat menyebabkan body mobil mudah terguling, sulit mengontrol mobil dengan bodyroll besar. Di era sekarang sudah banyak pabrikan yang mengembangkan sasis supaya ringan tapi juga kaku – seperti menggunakan material komposit atau full-aluminium. Suspensi juga semakin banyak pengembangan dan variasinya sehingga kombinasi antara kenyamanan dan pengendalian juga mudah tercapai.

All-Aluminium body di Jaguar XJ, terbayang kalau 10 tahun lagi mobil passenger juga dapat menggunakan sasis full carbon fiber ? (paultan)

Sayangnya, masih banyak mobil murah yang tidak diberi stabilizer antara roda depan kanan dan kiri – padahal ini juga menyangkut keamanan mobil tersebut. Agility, is also a safety.

Tapi jangan salah, bodyroll dalam toleransi tertentu dapat memberikan rasa “fun” dalam berkendara. Di beberapa mobil malah bodyroll sengaja dibiarkan. Ingat, pakem nomer satu adalah mobil harus ada dalam kendali kita. Selama bodyroll dalam batas toleransi tertentu, ia bisa memberikan unsur fun. Mazda MX-5 pun juga masih ada tendensi bodyroll nya. Bahkan terkadang skidding / oversteer juga intensional, disengaja, untuk memberikan unsur “fun” dalam batasan tertentu.

Oversteer… Terkadang disengaja (turnology)

Weight Distribution – sebisa mungkin mendekati 50 front – 50 rear. Karena itu mobil dengan handling baik biasanya bermesin depan dan penggerak roda belakang karena lebih balance. Efeknya adalah tidak banyak perpindahan bobot ketika menikung maupun ngerem, mengurangi gejala oversteer / understeer ketika menikung.

BMW merupakan pabrikan yang terobsesi dengan 50:50 weight distribution (carthrottle)

Center of gravity – titik gravitasi rendah, karena itu mobil SUV tidak pernah memiliki handling lebih baik dari sebuah sedan / roadster akibat titik berat yang tinggi. Titik berat yang tinggi berarti tendensi bodyroll semakin besar.

Titik berat mobil, semakin rendah akan semakin baik. Subaru merupakan salah satu pabrikan yang menggunakan flat / boxer engine, karena posisi piston yang tidur, titik berat mobil bisa sangat rendah. Salah satu keunggulan mobil dengan boxer engine adalah titik beratnya rendah. (revved)

Tyres – ban yang baik juga memberikan sumbangsih untuk handling yang baik. Kelenturan karet ban, motif alur ban, ketebalan alur ban, lebar tapak ban, lalu settingan camber, caster, dan toe, mempengaruhi pengendalian mobil. Ini sangat obvious sekali, karena roda adalah bagian yang kontak dengan jalan.

Memilih jenis ban yang tepat dapat meningkatkan handling mobil kita (vivaautorepair)

Semua hal ini memerlukan riset yang matang dan effort yang besar, lebih dari sekedar memasang sensor dan menambah layar nggak jelas di mobil. Tidak sedikit mobil yang suffer di handling, dan berakhir mempunyai potensi bahaya seperti mudah terguling. Untuk itu di beberapa negara – fitur seperti kontrol traksi dan kontrol stabilitas menjadi sangat penting. Handling dan safety, sangat berkaitan.

Moose test merupakan suatu pengujian standar yang dilakukan untuk menguji karakteristik handling mobil. Banyak mobil – dari pabrikan besar yang gagal dalam pengujian ini. (teknikens varld)

Pastikan anda memiliki mobil yang aman dan tidak tergolong “failed” dalam moose test ini. Kalaupun iya, pastikan anda tidak ugal – ugalan di jalan.

Jadi itulah mengapa saya lebih suka mengupas mobil dari sisi handling dan tenaga – karena memang di saat genting anda tidak akan peduli berapa banyak sensor di mobil anda, anda hanya akan berfokus menggunakan gas, rem, kopling, dan setir untuk menyelamatkan diri anda dari bahaya. Di acara Chevrolet : Dare to Drive yang diadakan di Surabaya bulan lalu, saya bahkan mencoba rintangan slalom menggunakan SUV besar, dan begitu merepotkan karena rasio setir SUV besar seperti ini tidak seperti sedan – cenderung lebih lambat, sehingga tidak lincah dan saya harus banyak memutar setir karena diperlukan putaran setir banyak untuk mencapai derajat belokan ban yang sama dengan sedan / hatchback biasa.

Bahkan di Mazda, MZD Connect tidak pernah jadi sesuatu yang diunggulkan di video presentasi Mazda. Apa yang diunggulkan ? Mereka justru lebih tertarik menjelaskan tentang G-Vectoring nya yang begitu luar biasa – nanti saya bahas di artikel lain.

Bagaimana fitur G-Vectoring di Mazda dapat memberikan pengalaman berbeda, akan saya bahas di artikel lain.

 

Jadi kesimpulannya ? 

 

 

Pengendalian / Handling adalah suatu term yang sangat kompleks – tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja. Tapi yang jelas, handling yang baik dihasilkan dari usaha engineering yang sangat luar biasa dan bagaimana suatu desain engineering mobil bisa menterjemahkan bahasa gerakan tubuh manusia.

Point dari pengendalian sebetulnya adalah safety, tetapi banyak orang yang tidak paham. Mereka menganggap bahwa pengendalian hanya dibutuhkan untuk yang “ugal – ugalan”. Poin dari kita mendapatkan kontrol atas mobil kita adalah safety dan bukan perkara kenceng atau tidak bawanya. Safety dibutuhkan kapanpun, karena kejadian buruk tidak peduli kita nyetir hati – hati maupun kenceng. Untuk itu saya sangat mendukung pabrikan mobil yang peduli dengan konsumennya dan membekali konsumennya dengan pelatihan singkat skill mengemudi.

Rasa “fun” sebetulnya adalah bonus, jika kita dapat mengontrol mobil tersebut sepenuhnya – kita akan merasa mobil itu “fun“, jika mobil itu dapat bergerak seirama dengan kita, kita akan menikmatinya. Sama seperti berkencan dengan seorang wanita yang kita cintai – kita akan menikmati sebuah kencan jika ada koneksi emosional – sama halnya dengan mobil. Mobil adalah suatu benda yang memiliki “emosi artifisial”.

Dunia otomotif tau apa yang mereka butuhkan, mereka butuh lebih banyak “joy in driving” daripada “semi-autonomous car“. Sayang, banyak yang menyangkalnya.

(BMW blog)

Mobil yang outstanding dan mendobrak di zamannya selalu mobil yang menyenangkan dikemudikan, karena pointnya beli mobil adalah mengemudikannya. Saya masih percaya fun to drive itu tidak relatif, ada beberapa mobil seperti Mazda MX-5, Honda S2000, Toyota 86 yang memang memiliki pesona tersendiri dan mendefinisikan kata fun to drive. You can have fun in any car, but fun to drive is not a subjective matter.

Semoga kata handling tidak lagi terlalu banyak misused.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *