Mazda mungkin adalah pabrikan yang nyentrik dalam membuat mobil. Jika sebelumnya kita membahas Honda CR-V yang sudah berevolusi menjadi sebuah proper family car, Mazda tidak pernah berpikir untuk membuat sebuah proper family car.

Semua mobil Mazda selalu diciptakan untuk pengemudi. Semua berfokus kepada pengemudi, dan memang Mazda ingin menciptakan mobil untuk dikemudikan, bukan dinikmati di balik kemudi.

Untuk SUV Crossover mereka, tidak terkecuali. Mazda CX-5 merupakan produk awal Mazda yang menerapkan teknologi SKYACTIV. Merupakan SUV Crossover dengan teknologi yang paling canggih di kelasnya. Pertama diperkenalkan dengan nama “Minagi” Concept.

Mazda “Minagi” Concept (Car and Driver Blog)

Versi produksinya keluar di tahun 2012, di Indonesia diperkenalkan dengan mesin 2.000cc SKYACTIV-Gasoline . Setahun kemudian keluar dengan mesin 2.5 Liter SKYACTIV yang lebih bertenaga. Mazda memiliki harapan yang besar terhadap produk – produknya, apalagi ini merupakan paket teknologi Mazda terbaru setelah lepas dari Ford.

Hasilnya, mobil – mobil Mazda memiliki karakter yang unik yang tidak dimiliki oleh pabrikan – pabrikan lain. Salah satu alasan mengapa saya sangat mendukung pabrikan yang independen, produknya memiliki karakter yang unik.

Mazda CX-5 generasi paling awal.

Versi Facelift tahun 2015, muncul pertama kali dengan MZD Connect dan i-ACTIVSENSE.

Generasi awal Mazda CX-5 cukup sukses di Indonesia dan cukup mengganggu penjualan Honda CR-V yang merupakan market leader. Saat itu tahun 2012 Honda juga meluncurkan CR-V generasi 4. Honda pun terpancing untuk mengeluarkan trim Prestige pada CR-V konon dikarenakan ingin bersaing dengan Mazda CX-5 secara kelengkapan.

Saya juga sempat mengemudikan versi awal 2.0, versi 2.5 GT pertama, dan versi 2.5 Touring facelift. CX-5 memang memiliki karakter yang sangat unik, ia SUV yang seperti diciptakan untuk menjadi “sporty”, dan betul – betul dipikirkan secara serius. Ia tidak tertarik untuk menjadi sensibel seperti Honda CR-V atau Nissan X-Trail – Mazda punya market sendiri dan penggemar sendiri. Volume penjualannya mungkin tidak sebanyak CR-V, tapi profil pembelinya lebih spesifik.

Kini, Mazda CX-5 pun sudah melewati life cycle 5 tahun dan sudah berganti generasi.

Hmmm… Tidak seperti generasi baru.

Dan di beberapa kesempatan saya sudah mencoba Mazda CX-5 ini cukup lama.

Styling

CX-5 terbaru terlihat masih menggunakan gaya yang sama dengan yang lama. Tetapi di All New CX-5 terlihat lebih mancung dan lampunya lebih sipit.

Mungkin Mazda ingin mengakali gaya desain grill besar supaya tidak terlihat seperti mulut ikan koi, seperti di generasi sebelumnya. Terbukti di Mazda CX-5 terbaru ini bagian depannya terlihat lebih stylish. Gaya desainnya terlihat lebih sporti dibanding Honda, Nissan, maupun Renault.

Dari samping sekilas tidak terlihat berbeda…

Bagian belakangnya justru bukan selera saya, terlihat lebih lebar, tapi lampu belakangnya mengecil sehingga terlihat agak kalem, malah CX-5 sebelumnya terlihat lebih agresif.

Roda menggunakan ukuran 19 inch dengan ukuran 225/55/19 Toyo Proxes R46. Sayang mungkin karena desain bodi yang melar, sehingga roda ukuran 19 inch ini terlihat kecil, bahkan terkesan kecil dibanding roda CR-V yang berukuran 18 inch.

Di generasi baru ini hanya memiliki 2 tipe : GT dan Elite. Adapun tipe Elite lebih mahal sekitar 20 juta dengan tambahan i-ACTIVSENSE dan aksesoris. Sayang tipe Elite masih indent cukup lama.

Interior

Mazda mendesain ulang interior CX-5 lebih baik dan memberi lebih mewah. Hampir seluruh bagian interiornya menggunakan soft-touch material. Mazda mengklaim tujuannya untuk meningkatkan peredaman kabin dan kualitas audio BOSE nya.

Mobil ini terlihat mahal dibanding CR-V, kualitas bahannya pun lebih baik dibanding CR-V, X-Trail, bahkan Renault Koleos pun kalah. Renault Koleos di beberapa bagian masih terasa agak murah dan sangat “Nissan”.

Meter cluster masih kurang lebih sama dengan yang lama. 

Layar MZD Connect, simpel dan ukurannya pas tidak terlalu mendistraksi.

Konsol tengahnya terkesan tebal dan seperti meja, terasa premium dan enak disentuh.

Desain doortrimnya berubah, dan sekarang terlihat sangat mahal.

Desain joknya berubah dengan support punggung samping kanan-kiri yang lebih tebal.

Tetapi ada beberapa glitch di Mazda CX-5 terbaru ini, meskipun overall kualitasnya lebih baik dari lawannya, seperti lampu kabin yang masih kuning, belum LED seperti CR-V. Tipe GT juga kurang menggugah bagi para penggemar fitur karena terkesan biasa – biasa saja.

Mengenai akomodasi, baris keduanya memiliki legroom lebih luas, tetapi tidak bisa reclining dan sandarannya kurang rebah dibanding CR-V dan X-trail, ini yang tadi saya sebutkan bahwa Mazda tidak pernah berpikir untuk menciptakan sebuah family car yang proper. Ia unik dan punya penggemar sendiri.

Bagasinya cukup luas dan karena tidak ada baris ketiga, jadi volume efektifnya lebih baik daripada CR-V, meskipun desain mengotak CR-V punya keunggulan sendiri. Kali ini ia memiliki bagasi elektrik.

Ada yang unik di sini : subwoofer BOSE disembunyikan di ban serep, sehingga cukup sulit jika perlu mengganti ban.

Driving it.

Mazda CX-5 terbaru masih menggunakan teknologi mesin lamanya, SKYACTIV-Gasoline berkode PY-VPS. Output hanya berbeda sedikit : naik 3 HP dan 1 Nm dari CX-5 sebelumnya. 187 HP @ 6000 RPM dan 251 Nm @ 3250 RPM.

Hmmm sebuah Mazda, sangat menarik untuk membicarakan pengendaliannya.

Pertama saya atur setir dan jok, posisi duduknya tidak senyaman CR-V, tapi setidaknya tidak membuat badan cepat lelah. Posisi setir dan pedal gas cukup pas meskipun tidak bisa dibilang terlalu rendah.

CX-5 terbaru sama dengan CX-3 dan Mazda2, juga menerapkan teknologi G-Vectoring yang sama. Tetapi perbedaannya mungkin karena dimensi CX-5 yang panjang dan lebih besar serta lebih tinggi, sehingga bodyroll di CX-5 lebih terasa dan pengendaliannya tidak setajam CX-3 maupun Mazda2.

Tetapi tetaplah, CX-5 masih yang terbaik soal pengendalian di kelasnya. Jika dibandingkan dengan CR-V atau X-Trail / Koleos, tetap CX-5 lebih menggugah untuk dikendarai. Memang bantingan suspensi belakangnya cenderung kaku, tetapi ia kaku seperti mobil Eropa – agak mirip BMW.

Soal setir, CX-5 tidak terlalu beda dengan CR-V secara bobot setir, tetapi berkat kombinasi sasis SKYACTIV yang lebih rigid dari Honda serta suspensi yang lebih kaku, membuat CX-5 memiliki kesan seperti mobil SUV kecil.

Faktor lain yang membuat CX-5 terasa sportif adalah mesin dan transmisinya. Sebetulnya karakter transmisinya tidak berbeda dengan CX-3 dan Mazda2, memiliki mode NORMAL dan SPORT. Di mode SPORT ia tetap sama seperti yang lainnya, suka menahan gear sampai puncak torsi, sedangkan di mode NORMAL ia terlalu cepat memindahkan gigi. Perbedaannya, karena mesin yang besar mobil ini sama sekali tidak terasa underpowered. Penyaluran tenaganya lebih linear – dan berkat perpindahan transmisinya yang cekatan ia terasa lebih sportif dibanding CVT + Turbo milik Honda.

Kombinasi dari semuanya ini yang membuat CX-5 masih layak untuk diberi predikat salah satu yang terbaik.

Lalu kabar terbaik hadir di peredaman kabinnya. Insulasi kabin CX-5 meningkat cukup signifikan dibanding generasi sebelumnya. Ia bahkan masih lebih baik dari CR-V yang sudah cukup hening.

Tetapi ada satu kekurangan yang agak mengganggu : mobil ini tidak dilengkapi paddle-shift. Untuk memainkan gigi secara manual kita hanya diberi opsi untuk memindahkan tuas transmisi ke mode manual saja. Memang memberi kesan sportif, tapi terkadang paddle-shift membantu ketika kita butuh refleks cepat.

Conclusion

SUV-Crossover yang menggugah untuk dikemudikan sendiri. Malah mungkin anda tidak akan memberikan kunci ke supir jika membeli mobil ini. Ia adalah mobil yang memang bukan selera kebanyakan orang, karena orang di segmen ini mencari mobil yang nyaman untuk keluarga.

Tetapi, Mazda punya penggemar sendiri. Penggemarnya adalah para pengemudi antusias, orang yang cukup mapan dan belum berkeluarga tetapi ingin sebuah SUV medium yang sporti.

Mungkin ada satu pertanyaan dari pengguna CX-5 lama :

Apakah worth it upgrade dari CX-5 lama ke baru ?

Menurut pendapat saya pribadi kurang worth it, karena CX-5 terbaru ubahannya kurang signifikan dibanding yang lama. Memang ia punya kualitas yang lebih baik, tetapi secara pengendaraan impresinya hampir sama, bahkan CX-5 lama malah terasa lebih lincah karena bodi lebih kompak.

Mungkin jika anda dulunya pakai CR-V lama atau X-Trail, ya bolehlah upgrade ke CX-5. Tapi dari CX-5 GT lama ke GT baru, rasanya tidak worth it. Apalagi mengingat tipe GT yang sekarang menjadi base model sama seperti CX-5 Touring lama yang hanya ganti nama saja.

Mazda, Honda, Renault/Nissan… Ketiganya punya karakter berbeda, tetapi dari ketiga ini Mazda yang paling unik dan memiliki pasar yang berbeda sendiri.

Kesimpulan akhirnya, jika anda menginginkan mobil SUV yang enak dikemudikan sendiri, jelas Mazda jawabannya, tetapi jika ingin yang nyaman untuk keluarga dan untuk perjalanan jauh, Honda lebih baik. Jika anda pecinta gadget…. Mungkin Renault. Kalau budget mepet, Nissan.

 

 

 

4 thoughts on “Review of 2017 Mazda CX-5 Grand Touring – The “Sporty” Utility Vehicle

  1. Menurut Om Chris, suatu mobil yang dapat dikatakan fun to drive bila mobil tersebut memenuhi kriteria apa saja ya?
    Untuk mobil yang beredar di Indonesia, mobil termurah yang memenuhi kriteria di atas apa ya?

    1. Halo oom…

      Nah jujur ane sering banget denger fun to drive itu relatif, tapi sudah jadi suatu common thing di antara para automobile maker dan enthusiast kalo ada beberapa kriteria mobil disebut fun to drive, meskipun tidak eksplisit.

      Singkatnya, semua enthusiast menginginkan kontrol penuh dan rasa menyatu dari mobil, yang diterjemahkan menjadi hal – hal berikut :
      – Feedback dan Feel setir yang responsif.
      – Body yang ringan dan kaku
      – Engine yang balanced (tidak over-power ataupun under-power)
      – Transmisi (preferably) Manual.

      Dari 4 kriteria di atas, kriteria pertamalah yang sekarang udah jarang ditemui, karena mayoritas mobil sekarang menggunakan electric power steering sehingga feedback nya berkurang banyak, tapi sekali lagi, kembali pada ekspektasi pengemudi mau se-fun apa.

      Kalo untuk standar mobil sekarang yang termurah memenuhi kriteria di atas ya Brio Satya Manual, meskipun setir elektrik feedback nya minim tapi memenuhi 3 kriteria di bawahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *