Beberapa saat lalu di Surabaya Barat, terjadi sebuah kecelakaan yang melibatkan sebuah Mercedes-Benz CLS dan sebuah Honda Jazz.

(jawapos)

Kalau ada kecelakaan seperti ini, biasanya yang namanya netizen pasti sudah banyak spekulasi, kolom komentar berita pasti diisi oleh orang sok tau yang nggak tau kejadian di lapangan dan sok berspekulasi – bahkan lebih parahnya, kadang malah komentarnya bahas hal lain yang nggak relevan kayak plat body mobil Jepang tipis. Oh c’mon

Masalah plat body dan safety akan saya bahas di artikel lain supaya nggak kepanjangan. Mari kita fokus ke masalah utama.

Accident seperti ini sudah sangat menjamur, sangat umum, anak muda bawa mobil ugal – ugalan di jalan lalu nabrak.

Yang bikin saya geli, terkadang ada komentar seperti jangan ngasih anak muda mobil sembarangan. Memang, rata – rata kasus pelanggaran lalu lintas di negara – negara luar juga mayoritas didominasi oleh anak muda, kalau di Indonesia bahkan beberapa masih under-age. Ini argumen yang sangat relevan dan saya setuju kalau secara data kuantitatif, tapi kesimpulannya tidak se-simpel itu.

Problem mengemudi sebetulnya bukan faktor “panasan” nya anak muda, faktanya orang tua pun bisa panasan di jalan, dan itu juga tidak sedikit. Anak muda memang cenderung panasan, tapi bukan berarti yang tua juga nggak bisa panas.

Dan saya mendapatkan satu kesimpulan yang mengerikan…

Bukan, saya gak akan memberi jawaban klise kayak “SIM nembak” atau “calo SIM”. Karena bejat enggaknya orang di jalan nggak ditentukan dari cara dia dapet SIM.

Prosedur permohonan SIM di Indonesia (chubbylicious)

Akarnya bermula dari apa yang diuji oleh aparat polantas ketika ujian SIM. Coba perhatikan ujian SIM di Indonesia yang terdiri dari ujian teori dan praktek.

Ujian SIM di Indonesia (autobild Indonesia)

Ujian teori terdiri dari sederetan soal untuk menguji pemahaman peserta terhadap rambu – rambu dan aturan di jalan raya.

Ujian praktek mengemudi terdiri dari maju-mundur lurus, maju-mundur zigzag, parkir seri maju-mundur, tanjakan, dan parkir paralel. Dilakukan di tempat yang terkontrol.

Tutorial ujian praktik SIM oleh Mas Wahid, seorang youtuber dan instruktur mengemudi dari Semarang. Ada beberapa part.

Sekilas terdengar begitu normal, tapi menurut pendapat saya, kekurangan fatal dari ujian SIM ala Indonesia adalah sama fatalnya dengan pendidikan di Indonesia. Pola “belajar yang ada di ujian supaya lulus” selalu terjadi nggak cuma di sekolah, ujian SIM pun begitu.

Akibatnya, ini pola yang diikuti oleh para instruktur atau lembaga kursus mengemudi. Coba kalau teman – teman sempat ikut kursus, apa yang diajarkan oleh sang instruktur ? SAMA PERSIS dengan apa yang diujikan oleh polantas saat ujian SIM. Tujuan les nyetir adalah supaya lulus ujian SIM, supaya bisa main gas rem kopling dengan lancar, bukan SUPAYA BISA NYETIR DENGAN BENAR.

Ilustrasi sekolah mengemudi, biasanya di Indonesia juga diberi tanda mobil kursus (EZ learning driving school)

Sedangkan hal yang menyangkut unsur keamanan dan kesadaran di jalan, hanya diujikan secara teori. Ujian SIM tidak dilakukan di jalan raya, polantas tidak menilai bagaimana peserta berpindah jalur, mengambil haluan, bagaimana peserta memanfaatkan spion, bagaimana konsentrasi peserta ketika berjalan, bagaimana peserta menghargai hak pengguna jalan lain seperti berhenti waktu di traffic light penyeberangan. Semuanya teori, prakteknya tidak diujikan.

Kalau ini dilakukan, saya yakin kok 90% pengemudi di Indonesia gak lulus. Wong spion aja cuma pajangan. SIM di Indonesia cuma persyaratan supaya lolos dari razia, bukan bener – bener “izin mengemudi” karena orang itu layak untuk diberikan “izin”.

Banyak pengemudi kita jago banget main gas rem kopling, tapi giliran ngambil jalur serabutan. Jangankan ngambil jalur, semudah berhenti di belakang marka saja sulit.

Mari kita berkaca di negara maju seperti Jepang, yang jadi benchmark untuk segala sesuatu yang “teratur”. Dikutip dari Jalopnik.com, berikut prosedur orang mendapatkan “izin mengemudi” di Jepang.

When you convert your old license to a Japanese license, you will not be required to go to drivers’ education school. Anyone getting a brand new license will have to do so. Brand new license seekers usually pass on their first time. But there are trade offs which might not be worth it. First, they have to spend about $3000-4000 on drivers’ education. It’s incredibly expensive. And the reason why a new license seeker passes is because they have how to pass the tests (driving and written) drilled into them—regardless of whether it matches reality or not. Second, they will have a very, very long written exam with 100 questions in Japanese. I’m not sure I could read it now, let alone seven years ago.

Kasus di situ, penulis artikel yang ingin meng-convert SIM nya menjadi SIM Jepang sehingga ia tidak perlu masuk ke sekolah mengemudi. Tapi bagi pemohon SIM baru, mereka wajib masuk ke sekolah mengemudi dan mengikuti serangkaian test.

1) You’re driving a taxi cab:

Because the old Toyota Crown taxi model is surely comparable to whatever vehicle you’ll be driving, right? Noooooope. Not only does it seem huge by comparison to most of the vehicles you’ll be driving, it has a steering wheel mounted automatic shifter (luckily I learned on a 1976 Crown Victoria at 14/15, so I can use one) and… Oh who am I kidding? It’s just in general nothing like what you’ll probably own/rent/drive.

2) Act like a mime:

This advice comes from my old friend and coworker Gary Cook. Having arrived in Japan a couple of years before me, he warned me (and I didn’t really understand until I understood, if you get me) about this. Every single action you do for the entire test, you have to make super exaggerated. In my opinion, almost dangerously exaggerated. Checking your mirrors, stopping, rolling down windows and checking for trains, checking your blind spots, any kind of necessary shifting. It all must be done like you’re trying to get a few pity bucks from the drunken rabble strolling along Sixth Street outside of Esther’s Follies.

3) Make a big show of checking the vehicle before you get in:

How many of us actually spend five minutes walking around the vehicle, checking tire tread, checking air pressure, checking for anything unusual or weird, any kind of obstructions (or small furry mammals), every time we go to use our car? Maybe we should. Maybe it’s a great habit to get into. Yet… Few of us do it at all, and even fewer of us do it with any kind of regularity. You’ll not only need to do it, see #2, because you’ll need to put on the Ritz to put the should-have-retired-years-ago metro police officer grading your test in a good mood.

4) Japanese Driving Is Bizarro World

Okay, so not entirely, but there are parts of the test which represent standard Japanese rules of the road which I found absolutely frightening. I actually failed twice due to my inability to fully commit to these rules because my entire driving experience screamed at me that doing so was terribly unsafe—even on a fake road course with no other vehicles. Here are two examples:

In Japan, when you approach a nearside turn (that’s a left turn in Japan), you need to move over pretty close to the curb before you turn if you have a red light or as you approach a turn and complete it if you have a green light (no nearside turns at all on red). This is to intentionally cut off someone on a two wheeled vehicle which may come up on your blind spot. Given the way that many scooter drivers and motorcyclists will try to squeeze into whatever space is available, this seemed (and still seems if I stop and think about it) terribly dangerous. My natural inclination would rather be to pull AWAY from the curb and give potential two wheelers as much space as they want, that way I can see them and allow them to go ahead of me. Do that in a test, and you will fail. Only tepidly commit to approaching the curb before a nearside turn, and you will fail. You need to get used to the idea that you are going to cut off two wheelers before your turn, and they damn well better like it.

Another potential failure point: brushing the curb. If you do a curb check, you can’t go forward. If you go forward, you fail. Instead, you must stop, back up, reorient the vehicle and then proceed forward. Again, this just seems extremely dangerous and in most traffic situations would probably cause an accident. This is especially true in rush hour traffic which is bumper to bumper. If you hit the curb, it is unlikely that you will have the space to stop, back up, reorient the vehicle, and proceed forward. The ultimate rule of the road is avoid accidents at all costs, and backing into a tailgater just so you can follow proper procedure for a curb check helps absolutely no one.

5) There are ways to lose points and there are automatic failures:

I have to admit, I never quite understood which was which, and here’s betting that you won’t figure it out either. If you do an automatic fail (crossing over a stop line at a stop sign, not adequately checking for trains, curb checking and proceeding immediately forward), then the test simply stops and Mr. Omawari-oyaji-san (grandpa patroleman) will tell you to return to the beginning of the course. It doesn’t matter if you have everything else perfect, which is why it is an automatic fail. If you avoid automatic fails, then the pass rate is 70%, but good luck understanding where your points are docked. I never did.

Artikel lengkap bisa baca di sini : https://jalopnik.com/you-will-definitely-fail-your-japanese-driving-test-1707574079

Cukup pusing bacanya ? Yap, ngebayangin saja sudah pusing. Intinya, orang Jepang betul – betul menganggap driving sebagai sesuatu yang serius, really damn serious, and it actually is. 

Di Indonesia, jarang ada yang menganggap mengemudi adalah sesuatu yang serius dan berkaitan dengan nyawa orang banyak. Mentaati aturan cuma sebatas teori, common sense tidak ada, kalo nggak ada polisi ya ngelanggar. Nyetir bukan dianggap sebagai tanggung jawab tapi sebagai sebuah kemampuan buat show-off.

Ngapalin rambu, marka, begitu jago, tapi prakteknya nol besar. Karena cuma takut ditilang.

Orang taat aturan di Indonesia kebanyakan bukan karena sadar, tapi karena takut ditilang (nasional.tempo.com)

Padahal, esensi diberikan aturan di jalan itu apa tho ? Cuma buat diapalin ? 

Jalan raya adalah fasilitas umum, infrastruktur yang dibangun untuk memudahkan arus transportasi satu tempat ke tempat lain. Berawal dari ide bahwa jalanan adalah fasilitas umum, supaya kita manusia nggak jadi kayak binatang di hutan, mesti diberikan aturan – aturan baku dan rambu – rambu.

Contoh simpel : mengapa lampu merah mesti berhenti ?

Traffic light, biasanya diletakkan di persimpangan jalan (wonderopolis)

Lampu bangjo, atau traffic light, biasa diletakkan di persimpangan jalan. Apa yang terjadi ketika semua orang mau duluan lewat ? Mobil satu akan dengan mudah memotong jalur mobil yang lain, dengan sengaja atau tanpa disengaja, akhirnya bukan lancar yang didapat, kacau yang ada. Dari situlah mengapa kita perlu traffic light untuk ngatur kapan jalan dan berhenti. Istilah bodohnya : bertoleransi di jalan raya. Kau sama aku sama – sama perlu pake jalan, supaya kita nggak rebutan, kita butuh aturan yang mengatur tentang hak masing – masing individu.

Masalahnya, orang cuma peduli aturan tanpa ngerti esensi. Akibat bobroknya pendidikan yang mengutamakan nilai 100 di kertas ujian daripada isi dan esensi mengapa mesti belajar matematika. Akibatnya ketika giliran aturannya dihapus, barbar. Manusia punya kesadaran buat cari celah, dan hukum Indonesia banyak celahnya, miris. Mereka lupa, kalau di jalan harus berbagi dengan yang lain, kita sama – sama punya hak buat pake jalan.

Kembali ke topik kecelakaan, kejadian seperti ini sangat banyak terjadi. Entah karena sadar tapi meleng, ataupun nggak sadar seperti dalam pengaruh narkoba / minuman keras, atau bahkan texting. Di beberapa negara, nyetir dalam pengaruh distraksi bisa kena denda tilang. Mengapa mesti ditilang ? Karena MEMBAHAYAKAN YANG LAIN. Di beberapa night club mereka ada driver-for-hire. Yang udah sakau parah disuruh pulang naik taksi supaya nggak bikin celaka orang lain di jalan. Setau saya, di beberapa night club di Indonesia juga sudah ada.

Sebuah campaign untuk mencegah drunk driving yang berpotensi membahayakan pengguna jalan lain. (ukiah police department)

Rambu dan traffic light diletakkan di tempat tertentu selalu ada tujuannya. Tujuannya untuk melindungi kepentingan orang banyak. Misal larangan parkir di beberapa spot, ya karena tempat itu digunakan untuk aktivitas yang mana harus steril tidak boleh ada kendaraan parkir. Tentu anda tidak mungkin parkir di depan pagar / rumah orang kan ?

Sejumlah kendaraan di beberapa tempat bahkan dikunci rodanya jika terdapat parkir di tempat yang tidak seharusnya. (viva)

Kunci aman di jalan raya adalah mikirin bahwa yang pakai jalan bukan cuma kita.

Anda buru – buru sampai tujuan ? Kepengen cepet – cepet sampai tujuan karena mungkin mesti ngejar deadline ? Ingat orang lain juga terburu – buru, mungkin buru – buru ke rumah sakit karena anak atau istrinya sakit, atau hampir ketinggalan pesawat atau kereta untuk urusan kerjaan. Ingat bahwa yang punya kepentingan di jalan bukan cuma anda. Semua orang punya kepentingan masing – masing dan tugas masing – masing orang juga untuk bertoleransi terhadap sesama pengguna jalan.

PR besar juga bagi instruktur mengemudi supaya menekankan lebih terhadap safety dan toleransi terhadap pengguna jalan lain, tidak hanya melancarkan teknis seperti main gas, rem, kopling, tanjakan dan parkir.

Saya juga harap ada aparat polantas yang membaca artikel ini dan melakukan evaluasi mengenai ujian SIM. Mungkin harapan saya terlalu muluk – muluk dan masih panjang untuk sampai ke sana, tapi tidak ada perubahan jika tidak ada yang memulai kan ? Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna jalan.

Patuhi rambu dan marka jalan, bukan supaya tidak ditilang, tapi karena kita menghargai hak pengguna jalan lain, terutama kebanyakan pengendara sepeda motor dan angkot yang suka sesuka – sukanya di jalan.

Tidak ngebut bukan supaya tidak ditilang atau kena speed camera, tapi supaya tidak mencelakakan orang lain. Beberapa hari lalu ada kecelakaan di dekat tempat tinggal saya yang sampai menimbulkan korban jiwa, dan saya hanya membayangkan bagaimana respon keluarga korban ketika mendengar kabar tersebut. Anda tidak ngebut bukan melindungi diri sendiri, tapi melindungi orang lain.

Ngebutlah di tempat yang memang didesain untuk ngebut. Kenali kemampuan mobil dan kemampuan anda supaya tidak mencelakakan orang lain.

Mengemudi adalah aktivitas yang menyenangkan tapi serius dan penuh tanggung jawab. Kuncinya adalah bagaimana menghargai sesama pengguna jalan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “The Driving Problem – What’s Wrong with Indonesian Drivers (and Bikers)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *