Mungkin beberapa dari anda yang membaca judul akan heran mengapa saya harus menyematkan hitungan 6 / 2 = 3.

Tapi sebenarnya itu adalah ilustrasi saja. Jika kita ingat bahwa produk Mazda agak – agak mirip dengan mobil Eropa dengan menggunakan angka untuk penamaan, pasti anda ngeh apa arti 2, 3, dan 6 di judul.

2 adalah produk terkecil Mazda yang menggunakan format hatchback dan didesain untuk menjadi compact car yang lincah dan dinamis. Garis – garisnya pun lebih ke ingin terlihat anak muda banget ketimbang saudara – saudaranya yang lain.

6 tentu kita tau adalah sedan besar Mazda yang lebih berorientasi ke konsumen yang mapan dan tarikan garisnya pun lebih simpel dan elegan dibanding saudaranya yang lain, meskipun tetap ingin menonjolkan kesan sporty dibanding lawan senegaranya seperti Honda Accord dan Toyota Camry yang cenderung untuk konsumen yang lebih berumur.

Nah 3 ? Tentu kita ingat bahwa 3 adalah produk “tengah – tengah” dari Mazda. Bukan 4 karena 4 adalah angka jelek bagi orang Jepang (shi artinya mati), 5 sudah digunakan di MPV mediumnya. Tapi mungkin ada alasan lain mengapa produk tengah – tengahnya disebut 3.

Mazda3, entah kenapa, seperti perpaduan kemewahan dan elegannya Mazda6 yang dipadukan dengan feel sporty dari Mazda2.

Looks

Pertama saya lihat Mazda3 dari jauh, saya pikir ini kok Mazda2 tapi velgnya gede yah ? Terus atapnya kok agak rendah. Setelah saya liat lebih dekat, dugaan saya benar bahwa ini adalah Mazda3.

Dari jauh terlihat agak landai tapi bermodel hatchback, sehingga secara model saja seperti perpaduan antara 2 dan 6. Jika 2 seperti cewek ABG SMA yang masih agak norak, 6 keliatan seperti model perempuan dengan dress yang simpel tapi elegant, maka 3 adalah perpaduan keduanya : anak kuliahan yang jadi selebgram, model foto, dan sering diminta endorse produk. Terlihat muda dan dinamis tapi sekaligus mandiri.

Wajah juga tipikal produk – produk Mazda, tapi ini seperti perpaduan antara kesan sporty di 2 dan kesan elegant di 6.

 

Well, even if you’re an automobile fan you will have a hard recognizing them…

Ukuran roda terlihat lebih berisi dibanding Civic, menggunakan roda berukuran 215/45/18 Dunlop Sport Maxx.

Getting Inside

Sekali lagi, perpaduan antara aura interior 2 dan 6 sangat terasa, tapi yang terasa seperti Mazda2 hanyalah cluster meternya yang lebih berkesan sporty.

Sisanya banyak mengambil dari Mazda6 yang lebih terkesan premium. Dari bahan interior saja, 3 sudah terasa lebih mahal daripada Civic.

Hmmm yah… Feelnya terasa begitu generik sekali lagi.

Satu satunya di kelasnya yang dilengkapi sunroof.

Driving it

Mungkin saya adalah orang pertama di Surabaya yang berkesempatan mencoba Mazda3 terbaru ini. Oke, saya sangat penasaran dengan mobil ini, terutama karena saya adalah pengguna Honda Civic Hatchback terbaru. Meskipun jujur, saya merasa kedua mobil ini agak sulit ditandingkan secara head-on.

Unit yang saya bawa ini masih sangat baru dengan angka 20 KM di odometernya, dan yang menyenangkan lagi : warnanya juga warna signature Mazda, Soul Red!

The Good

Begitu masuk mobil, seating position Mazda3 begitu rendah dibanding Mazda2, mungkin juga dibanding Mazda6, mengaturnya pun begitu mudah dengan pengatur jok elektrik meskipun hanya di bagian pengemudi saja. Posisi mengemudi begitu sporty dan engaging. Lalu mengutak – atik MZD Connect, dan ternyata yang masuk adalah tipe tertinggi karena ada i-ACTIVSENSE nya.

So much for a 426millions IDR car, eh ? Kalau lihat dari kelengkapan saja Civic Hatchback tipe tertinggi saja terasa mahal.

Well, ritual pertama jelas, MATIKAN SEMUA i-ACTIVSENSE. Not actually, hanya SCBS saja yang saya matikan sih, karena itu yang paling ganggu.

Mungkin karena faktor displacement yang 2.000cc, 3 terasa lebih responsif di putaran bawah dibanding Civic, ditambah faktor ia menggunakan Matic 6-speed gear sehingga respon lebih cekatan dibanding Civic yang CVT. Rasa berkendara di 3 terasa lebih natural dengan mesin N/A 2.0 Liter dan matik konvensional.

Sedangkan untuk pengendalian sendiri seperti ciri khas Mazda, pengendaraannya sangat terasa sporty, bahkan dibanding semua Mazda modern 3 yang terasa paling balanced. Jika dibandingkan 2 dan CX-3, Mazda3 terasa lebih solid di jalan, terutama di kecepatan tinggi, terasa jauh – jauh lebih stabil dibanding kedua adiknya itu. Baik 2 dan CX-3 terasa cukup limbung jika sudah melewati kecepatan tertentu.

Sedangkan dibanding Mazda6 dan CX-5, mengendalikan Mazda3 terasa sangat lincah. Bagi saya Mazda6 saja sudah sangat lincah, ini lebih lincah lagi. Dimensinya yang lebih pendek membuat Mazda3 tidak terasa bulky di jalan saat bermanuver cepat.

Mungkin ini fakta bahwa Mazda3 dikembangkan pada “level” yang berbeda dibanding 2 dan CX-3. 3 menggunakan platform yang sama dengan CX-5 dan 6, suspensi belakangnya juga berjenis multi-link sama seperti 6, sehingga secara feel saja ia terasa solid seperti Mazda6 tapi punya kelincahan setara Mazda2.

Ditambah, G-Vectoring does the job well. Mobil melakukan adjustment terbaik ketika melakukan manuver di kecepatan tinggi sehingga terasa sangat balanced.

Bantingan 3 juga terasa seperti mobil Eropa, seperti biasa Mazda melakukan benchmarking ke pabrikan Eropa sehingga mengemudikan 3 rasanya boleh diadu dengan mobil Eropa.

The Bad

Okay… Ready ?

Sejujurnya di balik semua kelebihannya saya kurang puas dengan performa Mazda3. Terutama di sisi mesin dan transmisinya.

Saya nggak tau apakah ECU mobil sekarang diprogram untuk tidak mengeluarkan performa optimalnya sebelum masa break-in 1.000 KM, karena saat dibawa di tol dengan gas penuh, performa Mazda3 terasa kurang memuaskan, terutama di putaran tinggi sekitar 5.000 – 6.000 RPM, sulit mengatakan bahwa Mazda3 adalah mobil yang bertenaga kuat, ini juga diperkuat oleh data dari hasil review mas Fitra Eri di channel Youtube Otodriver yang menyatakan akselerasi 0-100 km/jam Mazda3 dalam waktu 9.7 detik.

Padahal jantung pacu Mazda3 ini di-tune untuk mengeluarkan performa yang kuat, hanya 5 hp lebih kecil dibanding mesin L15B7 di Honda Civic dan torsi yang hanya berselisih 10 Nm lebih kecil.

Saya memang tau mesin N/A memang tidak punya jambakan sebuas mesin Turbo, tapi please, figur angkanya nggak beda jauh loh… Mesin turbo Honda itu terasa sangat kuat jambakannya di putaran atas.

Jantung dari Mazda3 versi Indonesia, 2.0 Liter yang sama dengan Mazda CX-3, tetapi dengan tuningan berbeda yang menghasilkan 165 HP dan 210 Nm. (carlist.my)

Yep, kecurigaan saya ada pada ECU yang memang seperti “ditahan” untuk tidak mengeluarkan tenaga terbaiknya di masa break-in… Karena setelah cross-check dengen pengetesan di luar, akselerasi Mazda3 0-100 ada di angka 8 detikan. Jika mengambil asumsi perbedaan kualitas BBM dan kondisi udara, di Indonesia bisa jadi ada di angka 8.5 detik.

Lalu transmisi, seperti biasa, mode normal nya terasa seperti eco, sedangkan mode sportnya malah membuat mobil meraung – raung karena menahan gigi di putaran tinggi. Jadi agak serba salah pakai mode yang mana di dalam kota.

Keluhan lain ada pada bantingannya, meskipun memang ada feel Eropa, tapi bantingan 3 terasa agak harsh di beberapa kondisi jalanan yang agak berlubang. Yah, meskipun saya yakin nggak akan terlalu mengganggu bagi konsumen Mazda.

Terakhir, ini yang mungkin membuat saya akhirnya akan tetap memilih Honda Civic. Yaitu karakter dari Mazda3 sendiri. Seperti kebanyakan produk Mazda, tidak diciptakan untuk fellow user. Jadi anda harus terima jika ia terasa sangat sportif, bahkan bagi mungkin yang terbiasa pakai Toyota atau Nissan, terlalu sportif.

Mesin N/A nya selalu minta digas agak dalem daripada dibawa santai, bantingannya keras, sasis terasa kaku dan agresif. A good formula for an aggressive driver, but not for fellow – relaxed driver. Pengemudi yang suka nyetir santai akan terganggu dengan karakter transmisinya, family man akan terganggu dengan suspensinya yang keras.

Sangat berbeda dengan Civic. Civic mungkin tidak terasa se-sporty dan se-natural Mazda3 sebagai driver’s car, tapi Civic lebih memiliki kepribadian yang fleksibel. Ia bisa diajak santai sekaligus kencang di saat anda membutuhkannya.

Conclusion

Not a car for everyone, i guess.

Mazda3 punya distinct character sendiri, mengincar pasar yang lebih kecil, orang yang suka mengemudi agresif ketimbang santai. Feel mobil yang cenderung sportif belum tentu cocok dengan karakter berkendara semua orang.

Membandingkan 3 dengan Civic sama seperti membandingkan saudara – saudaranya : CX-5 dan CR-V, Mazda6 dan Accord. Anda akan kesulitan mencari siapa yang terbaik karena konsumen yang diincar juga berbeda.

Mungkin secara kelengkapan dan kemewahan Mazda lebih baik, tapi secara feel berkendara karakternya sangat berbeda.

Bagaimanapun, salute buat Mazda yang kembali ikut meramaikan kelas medium hatchback, meskipun ini langkah yang sangat berisiko bagi Mazda karena namanya kurang dikenal, dibanding Honda.

Sayangnya, mungkin tidak lama lagi Mazda akan memperkenalkan Mazda3 bermesin HCCI SKYACTIV terbaru, sehingga bagi yang berminat dengan Mazda3 mungkin harus berpikir baik – baik sebelum meminangnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *