Ah, mengingat Suzuki SX4, saya punya banyak sekali kenangan dengan mobil ini. Sejauh ini terhitung sudah ada 4 ekor Suzuki SX4 yang mampir ke garasi kami. 1 unit X-Road berwarna hitam tahun 2008, 1 unit X-Over Facelift silver tahun 2011 yang dijual karena tabrakan, 1 unit X-Over Facelift Silver tahun 2010 yang menggantikan mobil yang pernah tabrakan, dan 1 unit X-Over Facelift putih tahun 2011 yang dulu pernah dipakai adik saya.

Bukan tanpa alasan keluarga kami memilih SX4 sampai 4 kali, ya, sebenernya 3 kali kalo nggak tabrakan. Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya bahwa SX4 adalah seperti mobil yang “all-in-one”. Kepengen mobil citycar sekaligus SUV murah dan kaya fitur – tidak lain jawabannya adalah SX4.

Dulu saya begitu menyukai SX4, menurut saya mobil ini tergolong sangat refined dan lengkap dibanding lawan – lawan sezamannya, let’s say… Honda Jazz GE, Toyota Yaris “telor” NCP91, Nissan Livina X-Gear…

Bahkan dibanding Nissan Juke yang muncul belakangan sebagai rival dan sukses menghantam pasar SX4, saya tetap tidak goyah, bagi saya SX4 tetap adalah mobil yang superior.

I’m not a fan of Juke, by design, by quality, and by practicality. Buat saya Nissan Juke itu mobil yang gaya maksimal fungsi minimal… Ya buat saya Nissan Juke jelek tapi buat banyak orang model Juke kan gaya… Kekinian, coba tahun 2011 sudah ada istilah kids zaman now, pasti Juke dibilang mobil zaman now…

Nissan Juke (motortrend)

Secara design SX4 generasi pertama buat saya sangat berkarakter dan feel Eropanya sangat terasa, karena didesain oleh ItalDesign Studio, sehingga badge Jepang tetapi tampang Itali. Bahkan punya kembaran dari negara Itali : Fiat Sedici. Cantik, dan sangat timeless. Masih terlihat cantik sampai sekarang.

Fiat Sedici, saudara kembar Suzuki SX4 generasi pertama. (omniauto)

SX4 sayangnya, berhenti di tahun 2013. Figur angka penjualan yang terus menurun sepertinya membuat Suzuki tidak lagi berminat meneruskan SX4. Padahal di saat itu kompetisi compact SUV belum terlalu ketat.

Di tahun yang sama Suzuki S-Cross baru diperkenalkan di negara lain, mobil ini disebut sebagai penerus SX4, walaupun di Australia dijual bersamaan. Saat itu publik bertanya – tanya apakah SX4 akan diteruskan, Suzuki tetap bungkam.

Tetapi, kembali lagi, sepertinya Honda begitu jago membuat suatu “hype” market dan hobi “manas-manasin” pesaing. Kemunculan HR-V di 2015 membuat pesaingnya mulai ingin berkompetisi merebut pasar, dan di tahun 2016, Suzuki tidak mau kalah, S-Cross pun diperkenalkan sebagai penerus legenda SX4. Secara tidak langsung, Honda lah yang membuat SX4 bangkit kembali.

S-Cross yang diperkenalkan sayangnya adalah model yang belum facelift, padahal model faceliftnya sudah diluncurkan di beberapa negara.

Jujur, dahi saya berkerut saat melihat langsung Suzuki S-Cross ini. Bagi saya yang adalah seorang pengagum SX4 generasi pertama, desain luar S-Cross tidak punya aura yang kuat seperti pendahulunya. Terlalu bland, bahkan tasteless, muka depannya seperti bibir “ndhower” kalo istilah orang Jawa. Gagah enggak, elegan enggak. Nanggung.

Don’t get me wrong, sekali lagi, desain subjektif, walaupun secara kelengkapan S-Cross sangat saya acungi jempol. Karena banyak yang bilang I put too much hate on this car. No, seriously, this is not a bad car. Mesin lama M15A yang (bagusnya) tidak diganti dengan K14B , dan dipadu dengan transmisi 6-speed, secara spek nggak malu – maluin. Tapi desain exterior adalah hal yang penting buat saya.

Saya adalah penganut slogan “jika anda tidak noleh ke belakang saat selesai memarkir mobil anda, anda beli mobil yang salah”, dan S-Cross tidak mampu memberi saya impresi itu. Berbeda dengan SX4 lama saya. As a fan of the old SX4 design, I really disapprove this car’s looks.

Bahkan yang menyedihkan adalah fakta bahwa S-Cross didesain oleh orang Jepang, yang saya kira ini bikinan orang India pada awalnya.

S-Cross Concept, padahal bentuk konsepnya ganteng, lho. (autoblog)

Bagian belakang jauh lebih baik dibanding versi produksinya… (automobilemag)

Tetapi di penghujung tahun 2017, Suzuki Indonesia akhirnya memperkenalkan S-Cross Facelift. Well, lifespan yang sangat singkat untuk S-Cross non-facelift, hanya 1 tahun.

Looks

Meskipun saya tetap bukan penggemar desainnya, harus diakui, S-Cross facelift ini jauh lebih macho dibanding model sebelumnya. Ini seperti front-end S-Cross sebelumnya dipotong total dan diganti halfcut muka baru.

IMG_20160828_180844

S-Cross lama dengan wajah yang… ah sudahlah… 

Nah, jauh lebih ganteng. 

Muka barunya sangat ke Eropa-Eropaan. Banyak yang bilang seperti BMW X1, tapi baru saja saya ingat ini juga mirip dengan Mercedes AMG GT.

Hasil rekayasa digital / photoshop dari X-TOMI Design yang memasang grill BMW ke S-Cross. (xtomi)

Mercedes AMG GT, baru saja ada seorang rekan yang bilang grillnya mirip ini dan saya pikir bener juga… (cnet)

 

Sayangnya, saya masih kesulitan mencerna bagian belakang mobil ini. Karena jika dilihat dari sudut yang salah rasanya desain mobil ini berantakan…

Lampu belakang kini mengadopsi model LED huruf C. 

Lingkar roda yang sayangnya terlihat terlalu kecil, padahal ini ukuran 16 inch. Ban masih sama menggunakan merek JKTyres 215/60/16.

Seandainya menggunakan velg berukuran besar seperti ini pasti tampilannya akan lebih macho. (indians autoblog)

Still, not a fan of its design, terlalu banyak ornamen, garis desain keseluruhan juga tidak berubah. Terkesan kaku dan maksa, desain depan-belakang seperti kurang match, depan udah garang bentuk belakangnya malah cupu…

tapi dibanding versi awal, boleh lah…

Still my favourite… Suzuki SX4 generasi awal, terasa jauh lebih berkarakter (conceptcarz)

Getting inside

Desain dasbor S-Cross membuat mobil ini terkesan lebih luas dibanding SX4. Sayangnya desain dasbornya biasa saja, tidak terlalu menarik meskipun bahan yang digunakan cukup baik.

Oh ya, mobil ini sudah dilengkapi jok kulit. So much for a 260-270mio car. 

Secara fitur, mobil ini sudah dilengkapi auto levelling headlights dengan DRL dan lampu HID, auto wiper, cruise control, steering switch, auto-dimming mirror dan lampu pada vanity mirror (AHEM!). Sangat lengkap.

Kapasitas ruang bagasi cukup bagus, bibir bagasi tinggi tapi dek sejajar dengan lantai bagasi sehingga cukup mudah saat membawa barang.

Jadi sejauh ini sudah cukup bagus, bagaimana dengan sisi teknisnya ?

Driving It

Bagi yang belum ngerti, S-Cross secara teknikal tidak berubah banyak dari SX4 generasi pertama. Mesinnya sama persis, secara fisik hanya terlihat perbedaan di cover mesin dan engine mounting saja.

Power figure ? 110 HP @ 6000 RPM , 138 Nm @ 4400 RPM, meningkat sedikit dari SX4. 

Untuk versi Automatic menggunakan 6-speed bukan lagi 4-speed, sedangkan versi manual tetap 5 speed.

Dan yang kita coba adalah versi manualnya…

The Good

Meskipun ini terlepas dari selera saya yang lebih suka posisi duduk rendah, tapi posisi duduk di S-Cross terasa tinggi dan commanding. Berbeda dengan SX4, S-Cross lebih terasa di mobil SUV. Ia lebih tinggi. Memberikan rasa percaya diri bagi yang suka mobil SUV. Setir pun tilt dan telescopic, mudah mengatur posisi terbaik dan tidak ada komplain di sektor ini.

Visibilitas, tidak lagi terhalang pillar A besar seperti di SX4, S-Cross punya jarak pandang ke depan yang luas. Dampaknya adalah mudahnya mengendarai S-Cross di perkotaan yang padat.

Tenaga mesin memang tidak bisa dibilang terlalu berlimpah, tapi terasa lebih bertenaga terutama di putaran 5000 sampai 6000 RPM, baru kita merasakan kenaikan 10 HP dari SX4 lama, karena di SX4 lama pada putaran segitu nafas mobil sudah mau habis.

Dengan cara berkendara yang wajar, konsumsi BBM juga kami mampu mencetak 12 km/l di MID, tentu jika asumsi miss 10%, sekitar 10-11 km/l. Akan berbeda untuk tipe transmisi Matik nya.

Sektor kenyamanan juga meningkat dibanding SX4. Meskipun rasa bantingannya mirip, tapi yang berbeda adalah redaman shock absorber, yang walaupun tidak bisa dibilang terlalu empuk tapi juga tidak lagi terasa keras seperti SX4.

S-Cross juga secara bodyroll tidak lagi se-melayang SX4 saat bermanuver di kecepatan tinggi. Sepertinya ada sedikit modifikasi di suspensinya. Saat bermanuver juga flexing di bagian belakang tidak sebesar pendahulunya.

Ground clearance dan departure angle yang baik juga membuat S-Cross bisa dibilang kapabel bagi anda yang bekerja di proyek.

The Bad

Setirnya ringan, sehingga rasanya kurang terkoneksi ke roda, feel nya tidak ada. Yah, ini bukan kelemahan krusial sih, tapi menurut hemat saya sebaiknya setir jangan terlalu ringan karena faktor keamanan juga.

Lalu perseneleng / shifter yang masuk giginya agak keras, tidak bisa dipakai untuk short shifting.

Tetapi, kelemahan terbesar di S-Cross ini bagi saya ada di ban yang digunakan. Jika di atas saya sebut pengendaliannya lebih baik, itu awalnya saya agak ragu karena S-Cross terasa “lembek” dibanding SX4. Dan setelah mencoba lebih lama terjawablah sudah bahwa faktor yang menyebabkan rasa “lembek” di S-Cross adalah ban yang digunakan. Hmm, bagaimana mendeskripsikan rasa “lembek” nya ya… Bahasa sederhananya, kurang solid. Kurang mantap.

Contoh jelasnya gini, saya udah pede mengambil haluan untuk cornering, tapi setelah mobil diajak cornering, badan mobil tidak terasa limbung atau melayang, tapi seperti ada yang bikin mobil ini berbelok nggak pede… Kurang lebih feel yang saya rasakan sama dengan waktu mengemudikan Mazda2, sasis masih sanggup tapi rasanya grip sudah limit, dan penyebabnya sama : ban.

Saran saya, baiknya jika membeli S-Cross segeralah ganti ban. Sekali lagi bukan karena kebut – kebutan, ini masalah keamanan…

Conclusion

Nyaris tidak ada yang salah dengan mobil ini jika hanya sekedar mencari mobil yang mampu mengakomodir mobilitas anda yang tinggi. Kekurangannya hanya kekurangan minor yang bisa di antisipasi. Tidak ada yang substansial.

Sisanya, ia adalah mobil yang fleksibel, all-in-one, tetap mempertahankan DNA pendahulunya dengan rancang bangun yang mirip. Pantas untuk menjadi pilihan kendaraan sehari – hari.

Yah, kecuali desain mobil adalah salah satu faktor penentu anda memilih mobil, sepertinya hanya di situ saja S-Cross bisa gagal.

 

 

3 thoughts on “The First Crossover in Indonesia Returned : Review of 2018 Suzuki S-Cross M/T

  1. Senang akhirnya bisa baca review plus test drive dari blog ini. Hehe
    Setelah mondar mandir cari review nih mobil, akhirnyaaa ada yg lengkap. Bisa buat salah satu panduan buat beli mobil ini☺️
    Sukses terus!!

    Btw… bannya emang kekecilan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *