Jika anda sedang mencari citycar dengan budget terbatas, mungkin post ini bisa memberi anda sedikit pandangan baru mengenai sebuah citycar.

Citycar, secara literal artinya : mobil kota. Tentu, dengan terminologi seperti ini kita mengharapkan sebuah mobil yang ideal untuk dipakai di perkotaan, utamanya di Indonesia yang macet dan banyak gang senggol. Tidak perlu seorang sarjana atau pakar, dan betapa variatifnya ekspektasi masyarakat, kita semua setuju satu hal yang namanya citycar itu bukan mobil sebesar Land Cruiser atau Alphard. Bayangan kita akan tertuju pada mobil berukuran kecil yang terkesan gesit dan bisa kemana – mana.

Sayangnya, dengan ukuran kecil, hampir semua citycar nyaris memiliki kelemahan serupa : akomodasi terbatas. Untuk sekedar membawa teman untuk hang-out bersama mungkin cukup, tapi bagaimana jika harus membawa barang ?

Tahun 2013, selain digunakannya kembali brand Datsun oleh Nissan Motors, Datsun juga merupakan satu – satunya pabrikan yang paling inovatif menggunakan skema LCGC. Saat itu Datsun hadir dengan produk yang sangat berbeda dibanding duo Astra (Toyota Agya / Daihatsu Ayla), Honda (Brio Satya), Suzuki (Wagon R) – Datsun Go+ Panca.

Go+ Panca bukanlah 7-seater yang proper karena memang tidak pernah dipersiapkan untuk itu. Go+ Panca disebut oleh Datsun sendiri sebagai LCGC 5+2, 5 seater dengan 2 extra seat untuk “emergency”. Selebihnya : It’s a station wagon – on a budget.

Sayangnya, hanya ada opsi transmisi manual dan kualitas serta fitur yang jauh di bawah pesaingnya membuat Go+ Panca tidak bertahan lama, bahkan dilibas sejak munculnya duo 7-seater Calya dan Sigra.

Tetapi Datsun tidak tinggal diam.

Di awal tahun 2018, Datsun Indonesia meluncurkan secara resmi produk terbarunya. Meskipun lahir dari konsep GO-CROSS, tetapi versi produksinya diberi nama : Datsun Cross.

Dan mungkin Datsun Cross bisa menjadi mobil bertipe citycar yang sempurna untuk anda.

The “Perfect” Citycar ?

Tidak ada mobil yang sempurna. Itu sudah pasti.

Tapi terbaik dalam level tertentu ? Mungkin iya. Karena setiap orang tentunya punya deretan kriteria yang mereka harapkan ketika membeli sebuah mobil.

And let’s put Datsun Cross to the test.

Style

Mungkin anda mengenali benda ini sebagai sebuah Datsun. Tidak sulit melihat ciri khas Datsun Go+ Panca yang masih sedikit tergambar dari garis-garis bodinya. Either way, Datsun Go+ Panca bukan mobil dengan desain yang jelek.

Redesign di bagian depan membuat Cross nampak lebih garang, lalu penggunaan lampu LED dan lampu kota yang berdesain atraktif. Datsun seakan memberikan distinction yang jelas antara Go dan Cross. Penggunaan velg alloy 15 inch juga memberi kesan macho dibanding Go yang menggunakan velg kaleng.

Jangkung ? Yup. Mobil ini memiliki ground clearance sebesar 200 mm. Tidak heran terlihat sangat tinggi. Soal kapabilitas, akan kita bahas di pengendaraan.

Hubungan antara Cross dan Go+ Panca dan Go Hatchback sedikit mengingatkan saya dengan hubungan antara Honda BR-V / Honda Mobilio / Honda Brio. Mereka memiliki beragam kemiripan secara timeline : Cross lahir setelah Go+ dan Go, sama seperti BR-V lahir setelah Mobilio dan Brio. BR-V dan Cross sama-sama dibuat lebih modern ketimbang dua adiknya dengan redesign dasbor baru, adiknya mengikuti (Go Panca dan Go+ Panca juga baru saja mendapat facelift).

…. Meskipun tentu saja, Cross tidak diberi harga se-mengerikan BR-V yang 2x lipat dari Honda Brio. Cross CVT termahal lebih mahal 30juta daripada Go CVT terbaru. Ini wajar mengingat Go CKD dan Cross masih CBU India, belum lagi Go Facelift dan Cross tidak masuk skema LCGC.

Jadi, apakah Cross termasuk atraktif dalam hal styling ? Err… Bisa jadi.

Interior, Design and Accomodation

Cross meninggalkan ciri desain interior adik – adiknya dan diganti dengan desain dasbor yang lebih upclass. Dominan warna hitam dan beberapa aksen kemewahan terdapat di sini.

Di clusternya, kini terdapat tachometer (akhirnya) … ya, akhirnya kita tau Datsun Go redline nya di RPM berapa.

Sayangnya pemutar AC masih sangat sederhana.

Automatic ? Yes. It’s a CVT!

Handbrake sekarang sudah tidak lagi menggunakan model tarik … Akhirnya Datsun sadar ini taun 2018, bukan taun 1980…

Yang paling saya apresiasi adalah keputusan Datsun memasukkan fitur stability control di mobil ini. Yup, stability control! Mobil 200 juta kurang dengan stability control pertama di Indonesia.

Ini yang saya heran, kenapa sih kok pada ribut debat kusir fitur ini itu tapi nggak ada yang pasang stability control ? Terutama itu merek W fitur segitu banyak tapi stability control nggak ada.

Bagaimanapun, stability control sangat penting untuk menghadapi cuaca yang tidak menentu saat ini.

Akomodasi ? Kurang lebihnya sama seperti Go+ Panca.

Ya, lebih baik dilipat saja.

Kekurangannya adalah jok baris ketiga tidak bisa diratakan lantai, tapi fine lah, setidaknya kita dapat sebuah citycar dengan bagasi terluas.

Dan jika anda membandingkan Cross dengan Calya-Sigra, itu sudah salah besar karena Datsun memposisikan Cross bukan untuk menjadi MPV 7-seater ditambah ia tidak masuk skema LCGC. Cross diposisikan sebagai mobil citycar. Dengan kata lain saingan terdekatnya adalah Suzuki Ignis. Yup, sama-sama citycar dengan konsep “urban crossover” karena sama – sama tinggi.

Cross lebih cocok disebut sebagai wagon – atau meminjam istilah om Fitra Eri, mobil ini seperti Volvo Cross-country series, on a budget tentu saja.

Jadi, apakah Cross lulus dalam hal akomodasi ? Tentu saja. Jika saingannya Suzuki Ignis yang sama – sama urban crossover.

The Drive

Ekspektasi orang tentang mengemudikan sebuah citycar sebenarnya tidak muluk – muluk. Satu-satunya yang penting bagi konsumen citycar kebanyakan adalah konsumsi BBM. Istilahnya, mau larinya segimana kenceng kalo boros ya nggak bakal dilirik. Titik.

Disinilah Datsun Cross boleh berbangga hati. Sebagai salah dua (ya karena citycar yang pake CVT ada Honda Brio) mobil citycar yang menggunakan CVT, konsumsi BBM seharusnya bukan PR yang berat bagi Cross – apalagi fakta bahwa ia punya one less cylinder dibanding Ignis maupun Brio.

Unit yang berada di balik kap mesin Cross adalah 1.2 Liter HR12DE yang juga menghuni kap Go Panca, Go+ Panca, dan Nissan March 1.2L.

Datsun Cross hanya memiliki pilihan mesin ini dan satu tipe saja dengan dua pilihan transmisi : Manual dan Automatic CVT.

Lucunya, di Cross bertransmisi CVT memiliki spek tenaga lebih besar 10 hp dibanding Cross Manual.

Masuk ke pengendaraannya, karena jok Cross ini bukan model “sambung” seperti Go+ Panca, jadi joknya terpisah, bagi yang nggak terbiasa atau berpostur badan “terlalu bergizi” akan merasa joknya “ambles” atau kekecilan – mirip dengan yang saya alami di Nissan March 10kg yang lalu…

Pertama menginjak gasnya, mobil ini sangat jauh dari kesan “lemot” di CVT – CVT pada mobil “murah”. Surprisingly CVTnya sangat refined untuk jalan perkotaan, dan fits well dengan mesin 3 silindernya yang kuat di putaran bawah. Paduan transmisi CVT dan mesin 3 silinder ini seakan memang pas untuk jalanan di kota yang padat. Kadang malah terasa terlalu responsif.

Yang sayangnya, ya jangan berharap lebih ketika dibejek. Tenaganya mulai bengek di putaran atas sehingga hanya raungan mesin dan suara dengungan CVT saja yang terdengar di putaran tinggi – tapi nggak lari. Bagaimanapun, itu overrated untuk sebuah citycar.

Mengenai konsumsi BBM – karena ini CVT, mobil ini selalu stay di putaran rendah, 100 km/jam di bawah 2000 RPM, meraih 15 km/l di dalam kota bukan perkara sulit saat berkendara konstan.

Mengenai rasa stir dan pengendalian, stirnya ringan tapi bukan pada level tidak ada bobotnya sama sekali, bobotnya cukup reasonable, dan untuk suspensi : keras. Mungkin kompensasi dari tingginya ground clearance Datsun Cross sehingga Datsun mesti tuning suspensinya untuk menjadi keras. Padahal, travel suspensinya cukup tinggi.

Sayangnya ya karena ini suspensi keras di mobil sekelas Datsun – jadi redaman suspensinya cukup terasa harsh. Kabar baiknya ia terasa lebih stabil dibanding Datsun Go atau Go+, tetapi kabar buruknya di soal kenyamanan tadi. Meskipun sebenarnya, hal ini masih bisa diakali dengan penggunaan ban yang lebih bagus. Bagaimanapun, namanya juga mobil di bawah 200 juta.

Conclusion ?

Ukuran kecil, tinggi, bagasi luas, irit BBM. Fitur keamanan juga terbaik di kelasnya.

Apa lagi yang kurang dari Datsun Cross ? Ia memang bukan mobil yang sempurna, suspensinya keras, joknya tidak suportif, tapi ini merupakan pilihan yang cukup masuk akal.

Ya, mungkin anda bisa dapat sebuah Wuling Confero untuk mengangkut seluruh keluarga anda, tapi pointnya bukan itu kan ? Ngapain beli family car kalau anda butuh city car yang fleksibel dibawa kemana – mana.

Mobil ini cocok untuk anda yang sering melewati daerah banjir / jalan rusak, dan punya garasi rumah terbatas sementara hanya punya budget 200 juta untuk membeli sebuah citycar untuk segala kebutuhan. lalu belum membutuhkan mobil keluarga karena masih merintis karir.

Memang positioningnya agak “nanggung”, tapi DatsunĀ still has a market.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *