Apa yang terpenting dalam sebuah mobil ?

Rasa – rasanya pertanyaan itu akan sangat bervariasi jawabannya. Bergantung pada kebutuhan, orientasi, selera, dan tentunya isi dompet.

Tapi jika kita mau sedikit berpikir tentang esensi dari sebuah mobil itu sendiri. Mengapa sebuah mobil dibuat ? Apa sebenarnya yang mendefinisikan mobil bagus itu ?

Mungkin jawabannya bukan sekedar memasukkan jutaan sensor elektronik ke dalamnya. Atau membuatnya sekencang mungkin. Atau jawaban lainnya. Dan sebagai orang yang sudah mencoba banyak mobil – menurut saya jawabannya jauh lebih dalam : refinement.

Dan menurut saya itulah yang membuat Toyota Mark X menjadi menarik.

Btw, Toyota Mark X tuh mobil apa ?

Toyota. Merek mobil paling populer di Indonesia dan dunia.

Jika diberi dua kata kunci : Toyota dan sedan. Biasanya ada beberapa nama yang akan langsung teringat.

Corolla , Camry , Crown, Corona, Vios / Limo. Sangat wajar apabila yang terpikir adalah nama – nama ini karena nama – nama ini seringkali melintas di jalanan Indonesia, atau setidaknya, pernah melintas seperti Corona.

Ya, tidak ada Mark X disana karena mobil ini tidak pernah menjadi salah satu lineup utama sedan Toyota.

Tapi mungkin pernah mendengar Toyota Mark II ? Atau Toyota Cressida ?

Kalau generasi millenial zaman now kebanyakan juga tidak mengerti pastinya, tapi coba tanya orang tua kalian, mungkin mereka pernah dengar. Karena mobil ini memang pernah dipasarkan walaupun sebentar.

Nah, Toyota Mark X adalah penerus tidak langsung dari Toyota Mark II / Cressida.

Toyota Cressida / Mark II dulu merupakan sedan yang dipasarkan di tengah – tengah antara Corona dan Crown karena dulu harga Crown terlalu mahal di tahun 1984.

Toyota Mark II / Cressida

Sedangkan Mark X, sebenarnya merupakan sedan sekelas Camry, tetapi dikembangkan secara berbeda bahkan tidak menggunakan platform “S” seperti Crown dan Lexus GS. Mark X mempertahankan ciri khas dari Mark II terdahulu : “X” Platform, tentunya dengan modifikasi sektor mesin dan kaki – kaki. Untuk Mark X kodenya adalah X120 di generasi pertama (2004-2009) dan model yang masuk Indonesia adalah generasi kedua, X130.

Toyota Mark X generasi pertama berkode X120 (wallpapers-innovative.blogspot)

Jadi secara akarnya, mobil ini sudah dikembangkan berbeda dari Toyota – Toyota kebanyakan. Tidak berbagi basis dengan Toyota manapun yang kita kenal.

Sayangnya, Toyota Mark X di Indonesia sebenarnya datang dengan “tidak sengaja”.

Yup. Toyota Astra sebenarnya tidak pernah bermaksud untuk menjual Mark X ke konsumen umum. They already got Camry, dan pasar sedan bapak – bapak di Indonesia kurang cocok dengan Mark X yang sedikit terkesan “sporty“. Terutama dari desainnya.

Mark X yang masuk Indonesia sebenarnya dari awal diperuntukkan untuk taksi premium, sayangnya, Toyota saat itu kalah tender dan sudah terlanjur memasukkan beberapa unit Mark X.

Ya mau tidak mau, mobil ini mesti cepat – cepat dijual. Akhirnya dijuallah mark X ke publik dengan harga sekitar 500 juta-an saat itu tahun 2013, meskipun karena tuntutan harus cepat menghabiskan stok, akhirnya mobil ini diobral dengan diskon sangat fantastis, bahkan sempat dijual dengan promo beli Mark X bonus Avanza kalau saya nggak salah ingat.

Karena itu jika ingin mencari Mark X, tidak perlu menyebutkan detailnya, karena sudah pasti : tahun 2013, warna hitam.

Styling

Untuk sebuah sedan besar, Mark X mempunyai pendekatan desain yang sangat unik dan cenderung ke arah sporty ketimbang Camry atau Corolla. Tapi sisi sporty di Mark X ini lebih terkesan tradisional dan tidak vulgar.

Mengapa saya katakan tidak “vulgar” ?

Karena di saat banyak sedan besar zaman sekarang justru menyukai desain ala sloping roof yang memangkas headroom belakang, desain MarkX seakan tidak mau mengorbankan ruang kepala penumpang belakang meskipun terkesan “sporty“. Roof line di belakangnya justru terkesan mengotak untuk mempertahankan , mempertahankan ciri khas sedan besar Toyota, dan ini jika kita ingat mengadopsi desain dari Mercedes – Benz W140 S-Class.

Ya… sepertinya Toyota benar – benar terinspirasi dari ini. Nyaris seluruh produk sedannya menggunakan profil pilar C yang mirip. (masbukti.com)

Lampu belakangnya juga malah mengingatkan dengan sports car Toyota 86 dengan dua bulatan seperti lampu belakang Corolla Altis 2008-2010.

Dan FYI saja, desainnya sudah dari tahun 2009, dan tidak terlihat tua sampai sekarang bukan ? Meskipun sebenarnya sudah ada model faceliftnya, dan beberapa pemilik Mark X di Indonesia juga ada yang mengubah ke model facelift ini.

Toyota Mark X Facelift

Interior

Khas Toyota : Konservatif dan fungsional. Tak banyak lekuk – lekuk berlebihan. Cenderung main aman, dan sederhana.

Tak banyak yang bisa dibahas di Interiornya, yang jelas bahan soft touch banyak, tombol start stop, ada wood panel, dan err… sudah kayaknya itu aja fitur kemewahannya. Nggak beda jauh sama Yaris tahun 2007 atau Camry tahun 2003.

Head unit multimedia nggak ada, bluetooth telephone nggak ada karena spek taksi. Karena ini sebenarnya spek yang audioless. Bahkan jok aslinya pun fabric bukan kulit. Kalo cari gadgets, percayalah, Toyota Rush baru lebih banyak.

Yang kosong di kanan ? Iya, itu untuk bluetooth telephone.

Tapi jangan salah, meskipun fiturnya minim, mobil ini punya standar keamanan yang sangat khas mobil JDM : 7 buah airbags dan kontrol stabilitas tidak absen disini. ABS EBD masak perlu disebut ya…?

Oh maaf, nyaris kelupaan, ada sunroof.

Untuk ruang, bahkan Mercedes E-Class modern pun masih belum sanggup memberikan ruang sebaik Mark X.

Untuk sebuah sedan berpenggerak roda belakang yang biasanya terpangkas space nya akibat gardan, Mark X masih memiliki ruang belakang yang nyaman. Legroom nya luas, dan bahkan meskipun mobil ini memiliki sunroof, atapnya masih lega berkat kehebatan engineer Toyota mendesain atap sedemikian rupa dengan adanya “cekungan” di belakang dudukan sunroof sehingga penumpang belakang memiliki ruang kepala luas.

Untuk bagasinya sendiri bisa dibilang standar mobil sedan besar seperti ini. Tentunya tidak perlu diragukan lagi kapasitasnya. Ia hanya kalah besar dari Camry karena layout penggerak roda belakangnya.

Driving

Format teknikal Mark X sangatlah tradisional, tidak ada embel – embel teknologi apapun, khas sedan besar zaman dahulu : mesin besar dengan jumlah silinder minimal 6 dan penggerak roda belakang.

Mesinnya berkode 4GR-FSE 2.500cc dengan jumlah silinder 6 berkonfigurasi V (halah ngomong V6 aja susah). Teknologinya hanya Dual VVT-i saja. Output tenaga sekitar 212 hp @ 6400 RPM dan 260 Nm @ 3800 RPM. Dipadukan dengan transmisi Automatic 6-percepatan biasa.

Dan karena menggunakan mesin seri GR, kode bodi Mark X menjadi GRX130. Versi lainnya juga menggunakan mesin GR seperti di Jepang ada versi 3GR 3000cc dan 2GR 3500cc sama seperti Camry 3.5 Q.

Mesin 2.5 Liter 6 silinder di zaman sekarang sudah jarang terdengar, kebanyakan sudah diubah menjadi 4 silinder. Bahkan Nissan Teana dulu satu – satunya pengguna 2.5 Liter 6 silinder di kelas big sedan pun “turun” 2 silinder menjadi 4 silinder di generasi terbarunya.

Yang paling terasa pertama di Toyota Mark X adalah posisi duduknya yang nyaman dan rendah. Kontur joknya cenderung nyaman ketimbang sportif, tapi juga tetap menopang tubuh dengan baik. Berbeda dari kecenderungan sedan – sedan Toyota yang lain yang posisi duduknya tinggi.

Pencet tombol start engine dan mesin menderum halus khas 6 silinder. Kesan awal yang didapatkan adalah mesinnya begitu responsif dan cekatan untuk digunakan di dalam kota, meskipun untuk tarikan awal ia cenderung tidak sekuat Camry 2.4 XV40 bermesin 2AZ. Karakter mesin 4GR ini cenderung lebih merata dan kuat di putaran menengah-atas, tapi bukan juga mesin berkarakter “teriak” seperti mesin VTEC N/A Honda. Mesin seperti ini sangat nyaman ketika dibawa untuk perjalanan jauh ke luar kota.

Selain itu, konsumsi BBM luar kota nya juga cukup irit – sekitar 1 liter untuk 12 KM. Sedangkan konsumsi BBM dalam kota nya justru agak boros sekitar  1 liter untuk 6-7 KM. Yah, setidaknya terbayar dengan performanya yang baik.

Setir mobil ini juga well-balanced. Bukan yang terlalu dull seperti setir Camry tetapi juga bukan yang terlalu agresif, padahal mobil ini menggunakan power steering elektrik bukan hidrolik seperti Camry, tetapi feel nya justru lebih direct dibanding Camry. Dipadu dengan ubahan pada sektor per dan ban yang diganti Michelin Pilot Sport 4 oleh pemiliknya, handling mobil ini terasa sempurna. Bukan sempurna pada level mobil sport – sempurna untuk level sedan besar. Ditambah fakta bahwa distribusi bobot nyaris sempurna – karena ini mobil FR (Front engine – Rear wheel drive)

Bagaimanapun sasis mobil ini tetap tidak seperti Mazda6 GJ yang cenderung kaku dan sportif. Setting suspensi dan sasisnya cenderung ke nyaman. Bodyroll masih ada ketika menikung kencang, dan mempunyai kecenderungan pantat “ngebuang” saat menikung, meskipun sudah diberi serangkaian modifikasi suspensi dan ban oleh pemiliknya.

Bahkan melewati paving block perumahan dan gundukan, mobil ini terasa sangat nyaman. Bantingannya tidak terlalu mengayun seperti Camry, juga tidak terlalu kaku.

Secara keseluruhan ride nya mobil yang sangat balanced dan menyenangkan, ada perasaan “I could drive this car all day long” saat membawa mobil ini.

Lalu, bagaimana dengan kekurangannya ?

Menurut saya hanya 1 hal saja yang kurang dari sektor pengendaraan : kontrol stabilitas yang begitu intrusif. Hampir semua kehebatan pengendaraan dari mobil ini harus terganggu dengan kontrol stabilitas yang sedikit mengurangi kesenangan berkendara. Meskipun kita sudah mematikannya, kontrol stabilitas akan menyala sendiri saat mendeteksi gejala selip / skidding.

Ya, beberapa kali saya “push” mobil ini sampai ke batas gripnya dengan kontrol stabilitas mati, tetapi saat ban belakang mulai skidding ia menyala kembali sehingga memberikan perasaan janggal waktu menikung. Jangan bermimpi mau power-slide menggunakan mobil ini kecuali anda disable langsung dari ECU / cabut sekring nya.

Ayolah Toyota, ini sedan V6 penggerak roda belakang, tidakkah kami boleh sedikit bersenang – senang dengan mobil ini ? Kontrol stabilitas di mobil ini seperti orang tua yang over-protective : baru liat anaknya berantem cubit-cubitan sama temennya udah dihukum.

Ya bagaimanapun, setidaknya mobil ini punya kontrol stabilitas ketimbang SUV 500 juta Toyota yang belum punya itu.

Conclusion

Untuk millenials atau orang yang baru ngerti mobil, Mark X jelas bukan mobil yang menarik. Tidak memiliki gadget yang banyak, bahkan untuk urusan fitur sekarang semua sudah ada di Toyota Yaris dan Rush terbaru, bahkan ya, kalau mau ngomong kasar, Wuling Cortez pun lebih banyak fiturnya. Cari kemewahan, jelas Camry terbaru lebih mewah. Performa jelas Mazda6 terbaru sudah bisa mengimbangi. Unik ? Ya cuma orang ngerti mobil aja yang akan nanyain, orang nggak ngerti mobil paling ngirain ini Camry atau Corolla.

Intinya, positioning Mark X ini agak bisa dibilang “nanggung”. Sporty ya nggak sport sport amat, Nyaman ya nggak nyaman – nyaman banget, mewah nggak mewah – mewah banget, bahkan fiturnya juga dikit karena base model.

Tetapi mengemudikan Mark X, semua terasa “tepat”. Ia adalah definisi “compromise” yang dilakukan dengan benar. Mobil yang terasa seimbang di segala hal. Tidak terjebak pada harus menjadi mobil yang “sempurna” sehingga semua fasilitas dimasukkan tanpa jelas arah dan tujuan mobil itu dibuat.

Bukankah begitu yang terjadi pada mobil modern sekarang ? Memasukkan segala jenis fasilitas, bluetooth, layar multimedia terintegrasi, MID full colour, sensor – sensor elektronik, parking brake elektronik, hanya untuk menutupi fakta bahwa teknikalnya kurang refined dan diperparah nilai reliabilitas yang berkurang drastis akibat banyaknya elektronik di dalamnya.

Mark X adalah contoh bagaimana sebuah mobil seharusnya dibuat. No-nonsense, dan sempurna di bagian yang esensial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *