Semenjak kemunculan Mitsubishi Xpander di pasar otomotif Indonesia, publik begitu antusias dengan model ini. Model yang digadang – gadang merupakan “Avanza Killer”. Prestasi penjualan yang memukau dan antrian inden berjubel membuat mobil ini sukses menjalankan misi sebagai “Avanza killer“.

Lha, kok gampang banget, merek lain enggak berhasil-berhasil ini sekali gebrak aja udah menang?

Secara data, betul. Mitsubishi Xpander menduduki tahta “terhormat” yang selama ini dikuasai Avanza tanpa bergeming sedikitpun. Xpander membukukan angka penjualan yang stabil 7000-7500 unit per bulan sedangkan Avanza kesulitan menembus angka 7000 unit sekarang.

Well, masyarakat mulai “membuka mata” kah seperti yang sudah dibilang beberapa netijen?

OK, mari kita analisa sikit. Disclaimer : saya nggak dibayar sepeserpun oleh Toyota ya. Semua murni analisa subjektif saya dan tidak 100% benar.

Pertama, yang kita lihat itu data wholesales

Wholesales itu apa ? Wholesales adalah angka penjualan dari pabrik ke dealer – dealer mobil. Artinya, angka sebanyak itu belum tentu masuk ke konsumen semua. Angka ini bisa fluktuatif tergantung permintaan dan kuota produksi.

Pabrik Mitsubishi (Tempo Otomotif)

Retail sales belum tentu urutannya sama, bisa jadi lebih fluktuatif.

Tentu anda ada yang paham pasar dan bertanya,

“tapi kan wholesales bisa menggambarkan betapa laris/tidak laris nya mobil dong, kan kalau stok dealer selalu ditambah banyak permintaan juga pasti banyak”

Bisa ya dan bisa tidak. Tergantung anda liatnya dari mana.

Dan yang membuat Xpander ini unik adalah antrian yang masih lama walau stok sudah banyak.

Dan ini masuk ke fakta kedua : fakta lapangan.

Minimnya dealer yang punya Xpander ready stock membuat kita berpikir “apakah Xpander sedemikian lakunya sehingga sulit menemukan dealer yang ready stock?”

Dealer Mitsubishi (www.puri.co.id)

Kalaupun ada, itu tipe kurang laris seperti GLS yang hanya sekedar memenuhi kuota produksi. Tipe Sport atau Ultimate, anda mesti bersabar kurang lebih 3 bulan. Lalu unit yang di-supply ke dealer semua itu kemana ?

Yup. Indent.

Melihat dari data yang stabil di angka 7000-7500 tidak nambah dan tidak kurang, MMKSI, ATPM dari Mitsubishi Passenger cars nampaknya sedang berusaha menggenjot bagian produksi untuk memenuhi permintaan indent yang terus mengular dan sepertinya itu angka paling maksimal untuk kapasitas produksinya.

(otospirit)

Harga pun berangsur naik, ya memang faktor harga kita nggak bisa ngomong MMKSI “mentang-mentang laris naikin margin”, please, komponen harga itu ada banyak, hindari pemakaian logika sesat begini. Hukum pasar bahwa more demand needs more supply, google translate sendiri ya artinya. Intinya karena pasar minta lebih maka unit juga harus ditambah, dan jangan lupa buat nambah kapasitas produksi itu pake duit bro, nggak pake daun.

Tentu untuk urusan kapasitas produksi, rasanya pabrik Toyota… eh… Daihatsu… pastinya lebih pengalaman karena jika ditotal Avanza dan kembarannya, Xenia, itu sudah lebih dari 10.000 unit perbulan.

Itu dulu. Sekarang sih enggak. Mobilnya rata-rata ready stock dengan diskon dua digit. Padahal jaman susah dulu, Avanza terkenal pelit diskon. Ya otomatis kuota produksi dikurangin dong. Biar barang gak numpuk.

(iwanbanaran)

Tapi toh gak masalah, Daihatsu tinggal mengalihkan saja ke produksi barang lain seperti Terios dan Rush, kan cuma beda cangkang dan modif modif dikit. Internal ADM dan TAM pastinya sudah dengar kabar kapan Xpander meluncur (hehe, jadi kalian yang berantem di medsos bagusan mana, mereka eksekutif di atas ngupi-ngupi cantik dan ketawa bareng) dan mempersiapkan strategi dari jauh-jauh hari yang oleh netijen dibilang “kemrungsung” atau “buru-buru” padahal bikin produk gak bisa itungan seminggu doang. Logika yang lucu.

Fakta ketiga, Toyota… err… Daihatsu masih mendominasi.

Jika kalian netijen yang berpikir TAM/ADM has fallen karena minim improvement. Errr… Liat lagi datanya deh.

Xpander boleh jadi nomer satu, tapi nomer dua dan seterusnya diisi apa ? Nih sekedar data contoh aja.

Berikut 20 Mobil sepanjang semester I 2018:

1. Xpander 39.948 unit
2. Avanza 39.455 unit
3. Calya 32.286 unit
4. Innova 25,948 unit
5. Sigra 24.338 unit
6. Brio Satya 23.475 unit
7. Rush 19.508 unit
8. Ertiga 18.030 unit
9. HR-V 18.157 unit
10. Xenia 15.164 unit
11. Agya 13.727 unit
12. Ayla 13.376 unit
13. Terios 12.585 unit
14. Pajero Sport 11.728 unit
15. Mobilio 11.718 unit
16. APV 10.290 unit
17. Fortuner 9.072 unit
18. Ignis 7.659 unit
19. Jazz 5.930 unit
20. Brio CKD 5.887 unit

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180711151504-384-313287/20-mobil-terlaris-semester-i-2018

Hmmm… Innova… Calya… Sigra… Rush… Xenia. Sadar nggak sadar 20 besar mobil terlaris masih saja dipegang produk TRD (Toyota Rakitan Daihatsu) secara keseluruhan.

Mitsubishi Passenger hanya ada Pajero Sport, sedangkan produk lain seperti Mirage malah mau discontinued, Outlander Sport dan Delica juga tidak ada.

Kalaupun angka wholesales Avanza menurun, menurut saya ada beberapa hal :
Pertama jelas banget dan ini fakta terkuat yang menurut saya kenapa Avanza penjualannya “menurun” : Pembeli Avanza makin segmented, artinya sekarang pasar mobil di bawah 250 juta sudah memiliki banyak pilihan yang menyesuaikan karakter pembeli. Dulu sebelum kemunculan LCGC, tidak ada produk Toyota/Daihatsu di bawah Avanza/Xenia. Kalau mau mobil murah dan mudah, pilihannya ya cuma itu. Citycar kebanyakan produk Korea seperti Visto/Picanto dan Atoz yang waktu itu mereknya masih diragukan.
(cardomain)
Sekarang pembeli yang usia muda, orang yang belum berkeluarga, atau kalangan emak-emak, saya amati lebih banyak lari ke produk yang lebih murah seperti Ayla/Agya atau Sigra/Calya. Kenapa? Ya karena mereka nggak butuh mobil segede dan semahal Avanza. Premis “Avanza tidak selaris dulu” ya karena pilihannya makin banyak, dan larinya ya ke Toyota Rakitan Daihatsu lagi.
Lalu juga memang faktor beli merek kompetitor jelas ada, tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak calon pengguna Avanza mulai memilah dan beralih ke Xpander, atau Ertiga, atau Mobilio. Walau yaa tetep ada ribuan lainnya gantinya ya Avanza lagi atau produk Toyota yang lebih mahal : Rush, atau Innova.
Dan jangan lupa : premis Xpander lebih bagus dari Avanza itu bukan kebenaran mutlak. Mau bukti? 
Transmover Taksi (Otodriver)
Avanza/Xenia masih jadi favorit kalangan usahawan rental mobil dan taksi online, malah sekarang taksi konvensional juga beralih ke Avanza… eh itu Transmover deng (krn Limo dan Vios aja dibilang beda). Bahkan mak saya sendiri bilang habis naik Xpander orang gereja “tapi kok aku jek luwih seneng Avanza di nggo grasak grusuk… kethok lemu Xpander kuwi, kethok e ora lincah“. (Tapi kok aku lebih suka Avanza buat mobil perang, terlihat gemuk Xpander itu, keliatannya kurang lincah).
So urusan mobil passenger, memang Astra Daihatsu… eh Astra Toyota ini sulit ditandingi. Mereka punya fundamental yang kuat sekali, dan psikologi mayoritas orang sudah tertanam bahwa mobil passenger itu ya Toyota.
Tapi tenang aja, Avanza pun saya yakin akan terus berbenah untuk berkompetisi dengan Xpander. Namanya juga kompetisi, bukan saling menjatuhkan tapi saling mengasah satu dengan yang lain. Kita tunggu gebrakan All New Avanza 2019.
Kalo urusan muat-muat dan usaha baru Mitsubishi….
(mitsubishi)
Yah harus diakui kedua merek ini memang mendominasi pasarnya masing-masing kok. Nggak salah, namanya juga persaingan usaha. Justru gini yang seru. Mitsubishi selalu terbukti jor-joran kalo promosi produk di pasar yang “gemuk”, gebrakan Pajero di tahun 2009 dan sekarang, Xpander.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *