Punya mobil yang cacat produk memang ngeselin, apalagi kalau sudah cacat, berjamaah lagi. Dan sayangnya, di Indonesia orang kurang diberi pengetahuan yang memadai mengenai recall atau PUD (Product Update).

Mis-informasi dari pabrikan ke konsumen ini membuat beberapa user bertanya-tanya “ini yang kena sudah banyak loh, kok nggak di-recall?”. Beberapa problem hanya dijawab dengan “garansi”, yang tentu saja membuat orang merasa tidak puas dengan jawaban tersebut. Terkesan “pabrikan tidak bertanggung jawab padahal sudah banyak komplain”.

Apakah benar begitu ? Well, mari kita bahas satu persatu.

(cartoonstock)

Pertama, harus di garisbawahi bahwa urusan recall itu merupakan keputusan yang tidak gampang dan sangat tentu saja, karena penggantian part baik garansi maupun recall itu gratis-tis tanpa dipungut biaya, jadi bengkel dan ATPM jelas rugi dalam hal ini. Untuk sebuah model mendapatkan recall / PUD makanya tidak bisa dalam 1-2 hari, bahkan bisa memakan waktu bertahun – tahun bahkan setelah model tersebut sudah tidak dipasarkan / berganti model.

“Kok lama banget? Duh mau ngerjain konsumen dong!” Eits. Tunggu dulu.

Untuk memutuskan sebuah model mendapatkan recall, harus dilakukan investigasi yang mendalam. Tidak cukup hanya “cacat produk dalam kondisi massal” saja.

Dalam kasus mobil, memiliki komponen sangat banyak. Komponen yang banyak itu tentu memiliki suppliernya masing-masing, komponen bodi, mesin, transmisi, kelistrikan, dll. dan ini yang membuat sangat lama investigasinya. Intinya, investigasi yang melibatkan banyak pihak mulai dari dealer, ATPM, dan penyuplai bahan baku maupun komponen assembly karena harus diakui, tidak semua pabrik meski yang berstatus CKD memproduksi bahan bakunya sendiri. Kebanyakan hanya bersifat perakitan / assembling. Terima barang jadi tinggal dipasang.

Tidak jadi masalah jika investigasi masalah hanya berhenti pada tahap perakitan, tapi yang lebih sulit dan lama tentunya jika masalah berasal dari supplier. Otomatis dari supplier pun harus melakukan investigasi. Jika tidak ditemukan kesalahan pada perakitan komponennya, mundur lagi ke pemasok bahan baku. Pekerjaan yang sungguh tak mudah, dan sangat berpacu dengan waktu karena tentu saja sebagai pabrikan tak mungkin ingin ada penggunanya celaka jika memang berpotensi demikian.

Makanya, jawaban “claim garansi dulu saja” itu merupakan jawaban aman dan solusi yang sifatnya temporary. Setidaknya, berilah mereka waktu untuk menyelesaikan masalahnya.

Kedua, mengingat “ribet” nya proses investigasi produk cacat, maka sangat logis jika recall hanya dibatasi pada cacat produk yang berpotensi membahayakan nyawa / terkait safety. Jika tidak membahayakan nyawa, ya, itu tadi, “claim garansi aja pak”.

Ilustrasi (john eagle honda)

Hal ini didukung oleh pernyataan resmi dari website NHTSA (National Highway Traffic Safety Administration), lembaga pengawas kendaraan bermotor di Amerika :

A recall is issued when a manufacturer or NHTSA determines that a vehicle, equipment, car seat, or tire creates an unreasonable safety risk or fails to meet minimum safety standards. Most decisions to conduct a recall and remedy a safety defect are made voluntarily by manufacturers prior to any involvement by NHTSA.

https://www.nhtsa.gov/recalls

Makanya beberapa kasus recall terkait hal ini dan belakangan yang terjadi adalah kasus inflator airbag merek Takata yang melibatkan ribuan unit mobil lintas merek. Lalu beberapa kasus yang sempat ramai adalah pedal gas “nyangkut” mengakibatkan sudden acceleration, membuat Toyota di USA harus berhadapan dengan payung hukum akibat lambat merespon dan sudah makan korban jiwa.

Perbaikan pada pedal gas Toyota (carscoops)

Intinya, jika dulu sempat dengar kasus “transmisi jedug” dan “turbo kue putu” di Innova/Fortuner bermesin GD, atau Honda HR-V yang cacat di bagian lower arm depan, ya enggak masuk… kembali ke jawaban klasik “claim garansi aja pak”. Karena tidak berpotensi membahayakan nyawa.

Suara Putu di Toyota Fortuner (h1koza1112)

Lalu ini jelas menimbulkan pertanyaan :

Apakah masalah yang tidak memenuhi syarat recall bakal di update ?

Urusan ini kembali ke ATPM dan pihak – pihak terkait, apakah hanya menggunakan solusi gali lubang tutup lubang atau melakukan improvement pada komponen tersebut. Tapi saya rasa masalah seperti itu akan tetap masuk ke pantauan radar ATPM dan entah melakukan “recall diam-diam (silent recall)” atau malah menunggu facelift / penyegaran produk supaya tidak mengganggu alur produksi.

Contohnya adalah pada Suzuki Ertiga keluaran awal pra-facelift yang punya cacat pada axle beam roda belakang, yang akhirnya diganti dengan komponen yang lebih baik di model faceliftnya.

Axle Beam Suzuki Ertiga yang dikeluhkan oleh beberapa pengguna (S3RIOUSKaskus)

Contoh lain adalah Mechatronic unit di transmisi VW Golf TSI MK.6, meski tak ada recall tetapi komponen ini akan diganti secara gratis meski sudah lewat masa garansi.

(The Humble Mechanic)

Untuk komponen – komponen seperti ini, biasanya pabrikan akan memberikan TSB (Technical Service Bulletin) mengenai panduan untuk penggantian / perbaikan komponen tertentu saat service.

Jadi, bagaimana menyikapi permasalahan di mobil yang “belum” masuk daftar recall ?

Pertama, ojo kemrungsung (jangan buru-buru). Apakah masalah itu langsung berhubungan dengan sistem keamanan ? Misal berpotensi kebakaran, tabrakan, dsb ? Jika tidak, kecil kemungkinan akan dilakukan recall, paling – paling hanya penyempurnaan komponen saja. Jangan lupa perhatikan klausul garansi kalau tidak mau masalah berlarut-larut.

Kedua, carilah info di forum – forum luar negeri, terutama jika mobil dijual sebagai model global. Di negara mana saja mobil tersebut dipasarkan dan apakah ada masalah serupa lalu bagaimana penanganannya? Apakah sudah muncul TSB (Technical Service Bulletin) untuk model terkait? Jangan serta-merta percaya pemberitaan media yang terkadang tidak netral dan tendensius.

Ketiga, teruslah  cari info mengenai update terbaru dari ATPM terkait. Apa solusi yang diberikan, dan good will dari ATPM. Meskipun terkadang meminta solusi dari ATPM itu memang harus sedikit pakai kekerasan… suara keras maksudnya.

Intinya, jangan diam jika hak anda sebagai konsumen dilanggar. Anda punya hak untuk menuntut jika terjadi sesuatu yang berpotensi membahayakan nyawa. Hal-hal seperti ini sudah sering masuk ke ranah pelanggaran hukum serius.

Permasalahan sesungguhnya … 

Ngomong masalah keamanan, yang jadi masalah adalah, di Indonesia kita tidak punya lembaga negara independen untuk pengujian kendaraan bermotor seperti NHTSA. Sehingga fungsi pengawasan untuk keamanan kendaraan bermotor hanya berhenti pada Quality Control (QC) Department pabrikan saja. Tidak ada lembaga independen yang spesifik melakukan pengujian.

(nhtsa.gov)

Tapi di Amerika kenapa mobil yang dites dan terbukti tidak aman masih saja beredar?

Satu hal yang pasti : NHTSA tidak punya kewenangan untuk mengubah keputusan pabrikan. Meskipun mobil terbukti “tidak aman” dalam pengetesan mereka ya bisa saja tetap beredar. Tetapi (biasanya) hal ini akan di-sounding ke ATPM terkait dan dilakukan revisi terhadap produknya. Tokh setidaknya dengan adanya lembaga pengujian independen, kita jadi ngerti mana yang aman dan mana yang tidak aman. Hasil tes pun di-publish secara terbuka di websitenya.

Yang jelas, recall merupakan hal yang positif, menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab merek terhadap produknya. Karena barang ciptaan manusia tetap saja ada cacatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *