Judul ini muncul dari komentar orang mengenai hasil uji tabrak – mobil apapun, nggak cuma Wuling Confero yang kemaren rame. Ya saya rasa dengan ramenya media memberitakan ini mungkin sales atau buzzer merek Wuling akan ketar-ketir penjualannya jelek. Memang wajar pasti ada respon seperti ini. Belum lagi officials di jajaran manajemen Wuling Motors yang dikejar-kejar wartawan.

Wuling Confero S (Wuling Motors)

Sek tho sek tho, sabar, ojo grusa-grusu. Memang, namanya orang beli mobil jelas nggak mau kejadian naas terjadi, wong lecet kesenggol kucing aja udah bingung.

Tapi ya segala sesuatu yang terburuk mesti ada preventifnya tho? Misal situ jadi dokter, kalo ada pasien ngomong “saya gak butuh dokter, saya kan hidup bukan buat sakit-sakitan”, paling sampean bilang “wong edian“.

Makanya, uji tabrak itu perlu. Sifatnya preventif, antisipatif. Masalahnya, dengan makin menjamurnya safety standards di sekitar kita, dengan penerapan teknologi – teknologi baru – seperti yang saya sebutkan di artikel sebelumnya bahwa dunia teknik itu terus berkembang – tentu uji tabrak mesti dikaji ulang.

Crash Test itu Apa ‘sih?

Crash test – atau nama resminya “New Car Assessment Program” – Program Penilaian Mobil Baru, merupakan pengujian dari semua aksesoris kelengkapan penunjang keamanan suatu mobil baik aktif maupun pasif. Pengujian ini dilakukan oleh lembaga independen, dan dirilis secara terbatas hasilnya oleh pihak penguji.

Logo ASEAN NCAP

Ibaratnya, pabrikan boleh jor-joran fitur keselamatan, masalahnya sampai sejauh mana semuanya berfungsi baik? Tentu jika hanya claim pabrikan belaka – itu sangat tidak reliabel dan bias sekali. Mesti ada lembaga independen yang menguji.

Di crash test sebenarnya berfungsi untuk melihat bagaimana deformasi rangka, perlindungan terhadap penumpang, goncangan dalam kabin ketika ditabrak dari depan-samping-belakang, bahkan frontal-offset (tabrakan separuh), dan rollover (kewuling… eh keguling…), lalu bagaimana jika bertabrakan dengan mobil lebih besar dan berat di beberapa pengetesan. Uji tabrak sendiri dilakukan di kecepatan rata-rata dalam kota : 64 km/h.

Ilustrasi pengujian frontal crash test (ASEAN NCAP)

Uji tabrak “adu kambing” untuk menguji kekuatan pada tabrakan dengan mobil lain (Daimler AG)

Mengapa perlu crash test?

Gampangnya, tuntutan zaman.

Di awal-awal mobil pertama diciptakan, tuntutan safety di sebuah mobil belum se-urgent sekarang. Ya mungkin dulu kecelakaan mobil bisa dihitung jari, wong yang punya mobil juga enggak sebanyak sekarang. Walaupun sekali tabrakan di mobil keluaran awal tahun 1900-an, ya minimal cedera patah tulang lah, dan angka kematian karena kecelakaan mobil juga tinggi.

Lah piye, wong seat belt aja belum ada. Selain itu dulu mobil juga tidak se-cepat sekarang.

Volvo merupakan merek mobil pertama yang menggunakan seatbelt 3 titik sebagai fitur keamanan yang tercanggih saat itu. Ditemukan oleh Nils Bohlin pada tahun 1959, seorang insinyur di Volvo. (jalopnik)

Sekarang ? Di zaman dimana nyaris semua orang bisa beli mobil, teknologi berkembang sehingga mobil makin kencang, populasi mobil banyak, dan kabar buruknya semakin banyak populasi mobil, makin tinggi pula kemungkinan celaka nya. Nah di situlah, yang namanya safety jadi penting banget.

(aa1car.com)

Ya pabrikan mobil pasti mikir lah, gak mau nyelakain orang karena bakalnya juga jelek reputasi produknya. Masalahnya nggak cukup cuma ditulis di brosur kalo “hey mobil gue aman loh ada ABS nya ada airbag nya”, semua perlu diuji terlebih dahulu. Jadi selain tuntutan akan performa dan kenyamanan yang baik, safety juga wajib untuk mengimbangi semuanya.

Ibaratnya, orang beli gadget atau barang apapun, pasti lah yang namanya barang dipake manusia itu diuji tingkat keamanannya dan segala resiko yang mungkin terjadi. Mau emang lagi asik pake hape tiba-tiba hapenya njebluk ?

Masih bisa bilang “beli hape bukan buat dijebluk-jeblukin” ?

Arti “Bintang” di Crash Test

Dalam pemberian suatu rating, pasti ada suatu standar bawah dan atas. Dan ini yang digunakan dalam penilaian / assessment. Standar rating di tiap region pengujian pun berbeda. ASEAN NCAP beda dengan Japan-NCAP, Euro-NCAP, dll. Semua menyesuaikan dengan standar kelengkapan keamanan di tiap negara. Mobil yang bisa dapet 5 bintang di ASEAN NCAP, mungkin cuma dapet 3 atau 4 bintang di Euro-NCAP. Ya apalagi yang cuma 1 bintang ya. Eh.

Contoh hasil di ASEAN NCAP, bisa berbeda dengan di Euro-NCAP.

Jika kita spesifik ke ASEAN NCAP, jujur pengujiannya belum se kompleks di Eropa. Mungkin item yang diuji sama, tapi standarnya beda. Karena banyak negara di ASEAN juga belum mewajibkan beberapa item seperti kontrol stabilitas atau ABS/EBD, atau malah Airbags.

Di Euro-NCAP juga mencakup pedestrian safety (euro NCAP)

Di balik rating bintang itu sendiri memang harus dibaca lengkap karena ada keterangan dan poin Рpoin penilaiannya seperti : adult occupant protection (perlindungan orang dewasa), child occupant protection (perlindungan anak-anak), safety assist, safety equipment, dan sayangnya di ASEAN belum menguji untuk pedestrian protection (perlindungan pejalan kaki) yang mana sudah ada di Euro-NCAP.

Di ASEAN NCAP sendiri, yang dapat bintang nol pun, banyak merek populer seperti Datsun GO, Honda Mobilio, Renault KWID, bahkan model global seperti Suzuki Swift juga bintang nol. Kenapa ? Nah. Lanjut ke poin berikutnya.

Uji Tabrak Suzuki Swift mendapatkan 0 bintang

Varian / Model yang Diuji

Model yang diuji dan mendapatkan bintang nol, rata-rata adalah model tanpa airbags dan tanpa kelengkapan standar mumpuni (base model) sehingga ya, wajar saja dapat bintang nol. Wuling masih mending dapat bintang 1 karena sudah dilengkapi ISOFIX. Bukan, ini bukan urusan plat tebel 8 mm eh 0.8 mm nya ya. Gak ada korelasinya blas. Bahkan gak masuk ke assessment.

Uji Tabrak Suzuki Swift pasar India (global NCAP)

Sedangkan di model-model di atas yang saya sebutkan di versi yang sudah dilengkapi airbags, ratingnya bertambah jauh menjadi 2 sampai 4 bintang. So, mungkin kita lihat bagaimana hasil pengujian Confero yang dilengkapi airbag ?

Yang Lebih Penting Dilihat

Daripada debat soal bintang yang tolok ukurnya relatif, mending kita tunggu saja video nya di rilis oleh pihak ASEAN NCAP. Kenapa ? Karena itu yang lebih penting. Bintang dan angka hanyalah data di atas kertas, tapi punya makna sangat banyak.

Bagaimana struktur kabin setelah tabrakan, bagaimana deformasi pada tulangan pilar-pilar mobil, dengan melihat hal-hal ini saja kita bisa tahu apakah sebuah Wuling Confero ini aman atau tidak. Karena menilai sebuah mobil, core strength – kemampuan rangka nya itu yang terpenting. Percuma diberi airbag banyak jika rangkanya sendiri nggak bagus.

Deformasi kabin mobil lama vs mobil baru, dalam rangka perayaan 20 tahun Euro NCAP (Euro NCAP)

Buat pengguna, fans, buzzer, sales merek Wuling, jangan sedih dulu. Cortez masih dapet 5 bintang kok di pengujian NCAP di negara asalnya, ya belum diuji di ASEAN sih. Tapi setidaknya keliatan disini kabinnya masih utuh, jadi nggak perlu panas dulu lah.

Wuling Cortez crash test (C-NCAP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *