“Real Men use Three Pedals”

(mice cartoon)

Hampir pasti sebagian dari anda pernah melihat sticker dengan tulisan di atas menempel pada kaca sebuah mobil. Dapat dipastikan pasti itu mobil transmisi manual.

Popularitas transmisi manual di Indonesia memang tidak pernah lekang oleh zaman yang serba matic ini. Berbeda dengan motor matik – yang punya kelebihan lain selain enggak perlu ngoper gigi, misalnya punya ruang penyimpanan ekstra, mobil matik dan manual praktis tak ada yang berbeda secara fisik selain persenelengnya – dan mungkin beberapa fitur penunjang. Karena banyakan mobil manual berada di trimlevel atau tipe yang lebih murah.

Bahkan di kalangan penggemar otomotif, ledek-ledekan di kalangan fanboy mobil matic dan manual ini tak terhindarkan, bahkan cenderung pointless – wong semua tergantung selera, kok mau diperdebatkan bagusan mana. Sampai muncul sticker – sticker lain :

 

(cutting-sticker-mobil.blogspot.com)

(wongserut.wordpress)

Bahkan di kota Jakarta yang katanya lebih kejem dari ibu tiri – yang macetnya luar binasa itu, tetep aja ada yang pake mobil bertransmisi manual.

Jadi, apa sih yang bikin manual masih dicintai oleh rakyat Indonesia ini?

Biaya BBM dan Perawatan

Jujur saja alasan kebanyakan orang yang enggan membeli transmisi matik, sebagian besar menganggap matik lebih boros dan perawatannya lebih sulit. Hal ini sebenarnya benar dan tidak benar, tergantung dari jenis mobilnya.

Tapi jika kita melihat pasar mobil bertransmisi manual – yang terbesar adalah di pasar 100 – 200 juta-an, sekelas LCGC dan LMPV, yang teknologinya tidak se-mutakhir mobil harga 300 juta ke atas. Karena itu ya memang di kelas harga segini, transmisi matiknya cenderung masih teknologi zaman baheula 4-percepatan konvensional, meski beberapa model seperti Honda Brio dan Mobilio sudah menggunakan CVT – yang bisa sama bahkan lebih hemat ketimbang versi manual. Ditambah, sebenarnya hemat/boros mobil manual itu sangat relatif tergantung dari teknik memindahkan gigi.

Tetapi dengan cara nyetir yang sama, mobil matik 4 percepatan dengan manual – selisihnya bisa 1 – 2 km per liter, dan buat mobil kerja seperti taksi online maupun konvensional, memang ngaruh sih.

Mobil taksi masih mengandalkan transmisi manual – lebih hemat dan mudah di perawatan (tribunnews)

Sedangkan untuk perawatan, sejujurnya nyaris tidak ada bedanya. Semua jenis transmisi mau itu manual atau matik, tingkat keawetan selalu bergantung pada cara pemakaian yang tepat : nggak dipake ugal-ugalan, nggak disentak-sentak, berhenti dalam posisi netral, dll. Tetapi memang karena faktor orang-orang kita lebih familier dengan transmisi manual dan komponen yang lebih sedikit, merawat manual memang lebih mudah (lebih mudah, bukan lebih murah). Apalagi untuk mobil dengan jarak tempuh tinggi seperti taksi online dan armada perusahaan.

Transmisi manual, relatif lebih sederhana konstruksinya (viarohidinthea.com)

Harga

Selain faktor di atas, terkadang selisih harga varian manual dan automatic, itu cukup besar. Bisa 10-15 juta lebih murah dari yang matik. Biarpun beli kredit yang katanya dicicil enggak kerasa, tetep aja 10-15 juta itu bisa buat tambah-tambah ongkos BBM dan perawatan taksi online.

harga dan biaya operasional merupakan faktor krusial untuk orang yang menjalankan taksi online, karena itu transmisi manual masih menjadi idola (tribunnews) 

Belum ditambah, di kelas 100 – 200 juta, depresiasi harga varian manual masih lebih kuat ketimbang matik. Jadi untuk merek yang hanya bermain di kelas – kelas seperti ini, wajar jika masih menawarkan manual sebagai opsi utama, bahkan terkadang malah tidak menawarkan matik sama sekali.

Karena itu, mobil bertransmisi manual saat ini masih diminati terutama untuk armada rental mobil dan mobil dinas kantor, karena harga murah dan mudah dijual kembali.

Kaum Tradisionalis

Sebagian masyarakat punya pola pikir yang cenderung tradisional, mereka nggak anti dengan transmisi matik, tapi mereka hanya terbiasa saja dengan transmisi manual, dan merasa aneh kalo nggak nginjek kopling, jadi akhirnya beli mobil baru ya manual lagi. Mereka baru akan beli matik kalau beli mobil yang bener-bener nggak ada pilihan manualnya. Tapi selama ada pilihan manual, mereka akan beli manual.

Kijang Innova merupakan mobil dengan harga di atas 200 juta yang masih diminati varian transmisi manualnya, karena konsumen Toyota dan khususnya Kijang, rata-rata masih banyak kaum tradisionalis yang lebih menyukai transmisi manual (Toyota)

Belum lagi jika tempat tinggalnya bukan di kota yang belum tersentuh kemacetan, rasa-rasanya tidak berbeda mengemudikan matik dan manual.

Lebih “Fun

Saya sebagai pecinta transmisi matik pun, mengakui bahwa ada sensasi tersendiri saat membawa manual : rasa “fun” ! Bahkan transmisi manual di mobil angkutan seperti L300 dan Carry sekalipun.

Penyebabnya di transmisi manual kita tidak terganggu dengan yang namanya selip dari torque converter, begitu masuk gigi, injak gas, langsung josss. Secara performa terasa lebih “direct” – lebih merasa percaya diri waktu berakselerasi. Belum sensasi mengolah kopling seperti rev-matching dan launch, sensasi bleyer-bleyer di lampu merah dan feel lebih “resing“, itu tak tergantikan sekali.

Heel and toe, yang membuat membawa sebuah mobil manual jauh lebih “fun”, karena dapat eksplorasi berbagai teknik mengemudi. (dsport)

Meski yang dibawa cuma LCGC sih, tapi feel membawa mobil manual itu bikin kaki dan tangan “gatel” buat nyetir ala-ala pembalap.

Hanya Satu – Satunya Opsi

Berlaku di mobil – mobil angkutan dan komersil seperti pick-up, truk, dan bus, di Indonesia belum ada yang menyediakan varian matik. Sehingga mau nggak mau ya ambil transmisi manual.

Padahal di negara maju sudah banyak truk dan bus bertransmisi matik, bahkan beberapa juga dilengkapi Cruise Control. Meringankan pekerjaan supir. Walaupun di Indonesia kalau denger truk atau bus bertransmisi matik pasti sudah bingung dulu karena sudah terpengaruh stigma matik kurang tahan banting.

Hino merupakan salah satu merek komersial yang sudah memiliki varian truk bertransmisi automatic, seperti di seri Profia ZY dan ZS. (Hino)

Kesimpulan

Meski mobil matik sudah mulai banyak bermunculan dan trend bergeser ke matik, tapi sepertinya pergeseran trend ini lebih kentara di mobil kelas “premium” di atas 300 juta rupiah.

Sedangkan di mobil dengan harga 100 – 200 juta, porsi manual masih tetap mendominasi. Di kelas harga ini mobil masih dipandang sebagai alat transportasi dengan fungsi basic – sehingga kenyamanan bukan menjadi prioritas utama pembelinya. Berbeda dengan mobil di atas 300 juta dimana kenyamanan sudah mulai menjadi salah satu prioritas.

Di mobil kelas “mahal” sendiri, terutama yang berorientasi pada performa, beberapa masih memberikan opsi manual, meski rata-rata sudah beralih ke yang lebih canggih seperti Dualclutch, karena transmisi manual dianggap memberikan sensasi dan kendali penuh terhadap performa mobil.

Porsche meski mempunyai transmisi dual clutch yang tercanggih, tetap menyediakan varian bertransmisi manual di lini produknya (Porsche)

Akankah manual punah ? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tetapi yang pasti dalam waktu dekat ini, manual masih akan tetap punya pasar, biarpun pengembangan transmisi modern kebanyakan lebih fokus pada transmisi automatic.

Negara Lain yang Masih “Cinta” Manual

Kita nggak sendiri, masih banyak negara terutama negara di Asia yang masih mencintai transmisi manual. Contoh paling jelasnya adalah India.

Mobil – mobil yang dikembangkan dan dipasarkan di India, rata-rata hanya memiliki opsi transmisi manual. Kalaupun ada opsi matik, itu matik jenis AMT / AGS yang dasarnya – ya transmisi manual juga. Paling kentara kita bisa lihat di produk – produk Suzuki yang selalu “telat” ngeluarin varian otomatik. Karena produk Suzuki Indonesia sekarang semuanya berpatokan pada pasar India – Maruti Suzuki.

Suzuki Ignis merupakan mobil yang hanya tersedia transmisi Manual dan AMT.

Suzuki Ertiga Diesel yang didatangkan impor utuh dari India ini juga hanya tersedia transmisi manual. (Suzuki)

Selain itu, China juga masih “cinta” dengan transmisi manual. Terbukti dengan produk mobil keluaran China disini yang rata-rata hanya ada varian manual – seperti Wuling Confero dan model – model lain sebelum kemunculan Wuling.

Wuling Confero juga hanya tersedia transmisi manual

Negara Maju ? Di Inggris / UK, mobil bertransmisi manual cenderung masih banyak dan diminati terutama untuk mobil berkategori hot-hatchback. Honda Civic Type R terbaru yang masuk kategori hot-hatchback, juga diproduksi di Swindon, Inggris dan hanya memiliki varian transmisi manual saja.

Civic Type R terbaru hanya tersedia transmisi manual baik di versi manapun, bahkan dirakit di negara yang masih “betah” menggunakan transmisi manual.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *