Beberapa waktu lalu terdengar kabar bahwa CEO Renault-Nissan-Mitsubishi Alliance, Carlos Ghosn, ditangkap karena tersangkut kasus hukum. Konon katanya terkait pemalsuan slip gaji dan penggunaan fasilitas perusahaan untuk keperluan pribadi.

Carlos Ghosn (wheels24.co.za)

Ada juga yang berspekulasi bahwa ini hanyalah sebuah konspirasi untuk menjatuhkan Ghosn dari kursi CEO. Bahkan banyak media memberitakan bahwa Ghosn disebut “From Hero to Zero” , dulunya beliau-lah yang menghidupkan kembali merek Nissan ketika nyaris bangkrut di awal 2000-an, dianggap sebagai “Hero” untuk Nissan, tetapi dengan kena kasus ini tiba-tiba semua reputasi itu sirna.

Tapi siapa salah siapa benar, saya rasa biarlah itu jadi urusan internal perusahaan. Pastinya karena Nissan Motor di Indonesia dipegang oleh salah satu grup korporasi besar, jadi minim kemungkinan akan berpengaruh terhadap merek Nissan maupun merek yang terkait, seperti Datsun, di Indonesia.

Ilustrasi (merdeka.com)

Daripada membahas kasus Ghosn, saya lebih tertarik untuk membahas kiprah merek Nissan di Indonesia. Karena jujur, nasib merek Nissan di Indonesia mungkin nyaris sama dengan CEO nya : From Hero to Zero. Mungkin. Karena angka penjualan merek ini di Indonesia secara retail maupun wholesales, sangat-sangat kecil jika dibandingkan dengan ragam varian produk yang mereka punya, bahkan di bawah merek pendatang baru seperti Wuling yang hanya punya 2 produk andalan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan Nissan Motor Indonesia (NMI) semester pertama 2018 anjlok 47 persen atau 4.813 unit dibanding tahun lalu periode sama mencapai 9.146 unit. Hampir semua model performa penjualannya menurun, jika dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan, secara urutan nasional berhasil digeser oleh Wuling yang kini berada diposisi ke 10 merek mobil terlaris di Indonesia. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Penjualan Lagi Jelek, Nissan Indonesia Mencoba Bangit”, https://otomotif.kompas.com/read/2018/09/03/090200615/penjualan-lagi-jelek-nissan-indonesia-mencoba-bangit
Penulis : Aditya Maulana
Editor : Agung Kurniawan

Nissan bukan merek yang ecek-ecek kelas dua, ia adalah grup korporasi terbesar di dunia (Renault-Nissan-Mitsubishi Alliance), di negara asalnya merek ini cukup diperhitungkan bahkan bersaing dengan merek terlaris yang tentu saja : Toyota. Jika sempat berlibur ke Jepang, sangat mudah melihat mobil – mobil merek Nissan di sana, bahkan malah jauh lebih sulit ngeliat Honda, yang notabene salah satu merek terlaris di negara kita.

Hingga saat ini, Renault-Nissan-Mitsubishi Alliance termasuk 3 besar perusahaan otomotif, bersaing dengan VW Group dan Toyota (bbc.com)

It’s made up of ten brands, including Dacia, Datsun, Infiniti and Renault Samsung Motors. Combined, the firm says that with its 10.61 million passenger cars and light commercial vehicles sold in 2017, it has become “the number-one automotive group worldwide”.

But that’s a bit confusing.

Why? Because Volkswagen says it sold 10.74 million vehicles in 2017 – and some say those numbers should see it named the biggest of them all, for a second year running.

https://www.bbc.com/news/business-43028005

Tetapi dengan bantuan Datsun di pasar LCGC yang ramai pun, tetap saja serangan dari pesaing – pesaing dan pendatang baru lebih “ganas”.

Global Marketing Campaign : Nissan Intelligent Mobility

Membahas tentang penjualan, tentunya tak lepas dari marketing campaign Nissan Global bertajuk : Nissan Intelligent Mobility

Intinya, Nissan Intelligent Mobility adalah visi Nissan mengenai masa depan transportasi yang menyeluruh – mulai dari produk mobilnya sendiri, konektivitas, autopilot, konservasi energi dan lingkungan. Dunia masa depan dimana teknologi transportasi dan manusia bisa saling bersinergi satu sama lain, dan mempunyai mimpi radikal : zero fatalities (nol kecelakaan) dan zero emissions (nol emisi).

Intinya, semua yang kita inginkan tentang dunia masa depan yang jauh lebih mudah itu sudah dibayangkan Nissan, saat ini. Suatu visi yang bold dan menyeluruh, yang mungkin belum dipikirkan oleh pesaing – pesaingnya, karena pesaing – pesaing Nissan rata-rata baru membayangkan produknya, Nissan sudah membayangkan sistemnya.

Jika sempat berkunjung ke GIIAS 2017 ke booth Nissan, kita akan ditawarkan untuk menjajal permainan – permainan ringan yang merupakan display kecil tentang bagaimana Nissan berpikir tentang masa depan. Istilahnya, ya showcase kecil-kecilan tentang teknologi dengan cara yang interaktif. Belum lagi kostum yang digunakan sales Nissan dan SPG Nissan di boothnya bisa dibilang lebih kreatif dibanding booth lain, karena di saat merek lain tetap pakai seragam standar sales dan SPG nya, Nissan menggunakan seragam yang didekor khusus, yang meski dasarnya ya kemeja biasa, tapi diberi warna hitam dengan kombinasi warna biru muda yang secara tidak langsung memberikan kesan futuristik.

Nissan di GIIAS 2017, tapi yang ini bos-bos dan brand ambassadornya sih (Nissan Indonesia)

Bahkan kalau pernah iseng-iseng ikut X-Trail blind parking challenge, ya, itu bagian kecil dari teknologi masa depan Nissan. Termasuk beberapa teknologi lain yang juga disematkan seperti Active Trace Control dan Active Engine Brake.

Nissan Blind Parking Challenge (nissan)

Jadi, apa yang salah dengan marketing campaign super-kreatif ini ?

Produk vs Marketing : Terkendala Regulasi, Produk Berumur, Image Produk.

Banyak yang berspekulasi bahwa permasalahan utama Nissan adalah di pemasaran. Tetapi sebenarnya argumennya kurang kuat dan subjektif. Lha wong Nissan itu udah punya nama kok.

Global marketing campaignnya kreatif. Bahkan cenderung visioner sekali si abang Carlos Ghosn ini terhadap masa depan Nissan.

Tapi kok di Indonesia, melempem?

Yup, sayangnya strategi global tidak selalu sukses dan berdampak ke semua market. Indonesia salah satunya. Berdasarkan pengamatan, ada beberapa faktor penyebab :

Pertama, bentrok antara regulasi mobil ramah lingkungan dengan produk – produk Nissan Global sendiri. Padahal Nissan sudah sering men-display konsep mobil – mobil ramah lingkungan baik yang masih concept maupun sudah dipasarkan dan laris manis di negara asalnya. Malangnya, produk – produk ramah lingkungan inilah yang merupakan pengejawantahan – perwujudan dari visi Nissan Intelligent Mobility.

Nissan Note ePower hanya diperkenalkan sekilas saja di Indonesia. (merdeka.com)

Nissan Leaf EV yang juga salah satu produk mobil full-EV Nissan (electrive.com)

Kedua, akibat produk yang kurang bisa menyesuaikan dengan regulasi, akhirnya Nissan hanya berjualan mobil – mobil yang sudah lawas.

Maaf aja, masih pada inget dengan Nissan Livina ? Kalau punya uang 200-300 juta paling sekarang belinya Xpander atau Rush. Padahal secara teknologi, Xpander dan Rush itu kalah lah kalo sama Livina. Livina sudah Dual CVTC dan pake transmisi CVT dari jaman baheula. Xpander baru keluar tahun 2017 masih pake 4-speed. Menang tampang doank dibanding Livina.

Nissan Livina, si mobil nyaman yang terlupakan. (Nissan Indonesia)

X-Trail dan Serena sudah keluar model barunya di pasar global, juga enggak masuk – masuk itu Serena model baru dan X-Trail Facelift. Sedangkan Toyota sudah menggilas pasar MPV kotak dengan Voxy sendirian karena Biante discontinued, Honda keenakan melenggang dengan CR-V baru tanpa kompetisi berarti kecuali dari Fortuner – yang itupun beda kelas juga.

Nissan X-Trail Facelift yang punya tampang lebih modern (carmag.co.za)

Nissan Serena berkode C27, yang digosipkan akan muncul tetapi tidak kunjung keluar juga (paultan)

Nissan March – meski punya harga kompetitif untuk mobil hatchback 1.500cc, sudah keluar model baru tetapi di sini hanya sekedar facelift nambah maskara a.k.a DRL saja…

Nissan Micra / March terbaru, belum masuk juga. (carvaganza)

Tapi kan Nissan-Datsun tahun 2018 juga udah keluarin Terra dan Datsun Cross, lalu Datsun Go Facelift dengan CVT ?

Dan kita masuk ke masalah ketiga : Image

Oke… Terra sepertinya merupakan usaha Nissan membangkitkan kembali pamor mereknya, mengingat setahun penuh di 2017 Nissan praktis tidak punya produk baru.

Terra (Nissan Thailand)

Mobil ini sudah meluncur sekitar 2 bulanan lalu dan sampai sekarang – belum ada satupun yang keliatan di jalan. Menurut berita yang disadur dari metrotvnews.com, mobil ini delivery bulan 11 dan sekarang jelang bulan 12 belum terlihat di jalanan.

Menurut Rachmawan, Sales Executive yang berjaga di GIIAS 2018, Terra bisa dipesan dengan booking fee Rp5 juta. “Unit akan datang bulan November, jika pesan di GIIAS,” katanya kepada Medcom.id.

http://otomotif.metrotvnews.com/mobil/xkEnzxrK-bedah-nissan-terra-fitur-lebih-lengkap-dari-kompetitor

Jangankan di jalanan, di pameran bersama di kota saya, Semarang, Nissan tidak pernah membawa Terra.

Menurut saya permasalahan Terra itu mirip Isuzu dengan MU-X dan kembarannya dari Chevrolet : image. Nggak ada tampang-tampang mobil pejabat atau horangkayah macem Fortuner dan Pajero yang dari dulu memang image nya sudah dipoles sebagai SUV-nya orang kaya.

Isuzu MU-X. Tampangnya juga cenderung lebih utilitarian ketimbang Fortuner atau Pajero. (carguide.ph)

Sementara jujur saja, mayoritas kita akan setuju tampang luar-dalem Fortuner memang lebih ciamik dibanding Terra yang terang-terangan keliatan “memper” banget sama Navara dikasih kabin belakang. Fortuner dan Hilux aja udah kayak sodara beda bapak-ibu sekarang, Pajero malah lebih pinter muka Pajero dikasih ke Triton, bukan sebaliknya.

Mitsubishi Triton terbaru yang dikasih muka Pajero (performancedrive.com.au)

Padahal secara teknologi mesin dan transmisi, ya Terra kemana-mana sih dibanding Fortuner.

Datsun pun sebenernya punya masalah image yang nggak kalah fatal dibanding Terra. Karena di awal Datsun di-branding sebagai mobil murah, LCGC, waktu Cross muncul dengan harga di atas 150 juta ya pada teriak-teriak, wong mereknya Datsun. Giliran sodaranya di facelift dengan varian CVT, ya nasibnya agak bagus dikit, nggak se-ngenes Cross nya.

Datsun Go CVT yang ubahannya bersifat minor, juga kalah pamor dibanding pesaingnya. (pertamax7.com)

Walau sekali lagi, nggak lama dilibas sama Honda Brio terbaru yang mahal. Gengsinya merek Honda juga satu level diatas Datsun. Malah menurut saya lebih baik di-branding jadi Nissan Go atau Nissan Cross saja. Gengsi mereknya lebih ketolong. Beda logo Toyota ama Daihatsu aja nasibnya beda karena gengsi mereknya tinggian Toyota.

Nasib Nissan ke Depan

Meski saat ini penjualannya cukup lesu, tetapi berkat skema aliansi dengan Mitsubishi, ada satu titik terang yang memungkinkan merek Nissan akan kembali diminati pasar.

Dikabarkan bahwa dengan masuknya Mitsubishi ke aliansi, perakitan komponen mesin Mitsubishi Xpander akan dilakukan di pabrik Nissan, dan Xpander juga dikabarkan akan memiliki kembaran yang disebut – sebut sebagai penerus Nissan Livina.

Selain mengumumkan investasi tambahan, Mitsubishi juga mengungkap strategi baru untuk meninggikan tingkat kandungan lokal Xpander. Pada tahun fiskal 2020, mesin 1.500 cc Xpander bakal diproduksi pabrik Nissan Motor Indonesia (NMI).

Ini merupakan wujud nyata kolaborasi di Indonesia antara Mitsubishi dan Nissan yang sudah tergabung dalam aliansi bersama Renault. Belum ada informasi lebih lanjut terkait lokasi pabrik mesin yang digunakan NMI untuk memproduksi mesin Xpander.  Namun sudah diketahui, NMI memiliki pabrik di Purwakarta, Jawa Barat untuk memproduksi mesin dan transmisi.

Osamu menjelaskan, investasi produksi mesin itu dilakukan oleh Nissan, bukan Mitsubishi. Kapasitas produksi mesin ditetapkan 160.000 unit per tahun. Setelah mesin Xpander diproduksi lokal, tingkat kandungan lokal Xpander meningkat 9 persen dari 71 persen menjadi 80 persen. (fea/mik)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181003143718-384-335341/mesin-xpander-diproduksi-di-pabrik-nissan-jawa-barat

Xpander yang dikabarkan mesinnya akan dirakit di pabrik Nissan, dan digosipkan akan mempunyai kembaran bermerek Nissan (autodeal.com.ph)

Tentu saja, sebagai salah satu pemain lama dan masuk tiga terbesar di dunia, pastinya kita menantikan inovasi – inovasi terbaru dan produk – produk yang segar dari merk Nissan. Karena Nissan terbukti pernah berhasil menggebrak pasar di awal – awal 2000-an, sebut saja X-Trail di tahun 2003 dan Grand Livina di 2007.

Nissan X-Trail generasi pertama, sempat menggebrak pasar Honda CR-V sebagai SUV terlaris pada saat itu (favcars)

Semoga saja Nissan, dengan bergabungnya Mitsubishi, bisa kembali memenangkan hati masyarakat Indonesia.

Meski ya, kita cukup harap – harap cemas melihat CEO nya tersandung kasus yang sedikit banyak pasti berpengaruh terhadap performa aliansi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *