Tiongkok adalah sebuah negara yang tak bisa diremehkan saat ini dalam hal ekonomi maupun industri. Meski tak semua barang dari Tiongkok tergolong kualitas baik, tetapi kita juga saat ini melihat produk – produk dari negara Tiongkok yang kualitasnya sudah cukup baik. Mulai dari TV, AC, gadget, dan sekarang : mobil.

Xiaomi, merek ponsel Tiongkok yang mulai mempenetrasi pasar Ponsel di Indonesia. (Wikimedia Commons) 

Mobil asal negara Tiongkok sebenarnya bukan cerita baru. Kita pernah mendengar merek – merek seperti Chery, Geely, Foton, ZNA, Great Wall. Walaupun pada akhirnya, semua merek itu akhirnya mundur karena kurang diminati dan kualitas produknya juga kurang baik.

Chery QQ yang merupakan “jiplakan” dari Daewoo Matiz / Chevrolet Spark. Sempat populer meski sekarang sudah tidak dijual lagi dan ATPMnya juga sudah tutup. (Wikimedia Commons)

The Wuling Effect : Kebangkitan Otomotif Tiongkok di Indonesia

Sampai di tahun 2017, kita mulai dihadapkan dengan merek pendatang baru : Wuling. Dengan investasi triliunan dan membangun pabrik di Indonesia, Wuling menunjukkan niatnya berinvestasi di Indonesia.

Produk pertama Wuling, Confero series (Wuling motors)

Penetrasi Wuling juga dilanjutkan dari sisi aftersales, bahkan sebelum produknya muncul logo lima berlian warna merah membentuk huruf W itu sudah perlahan – lahan menghiasi jalanan. Perlahan dealer beberapa merek sudah berubah menjadi dealer Wuling, bahkan karena Wuling merupakan subsidiary dari General Motors – merek Chevrolet, beberapa dealer Chevrolet pun juga berjualan Wuling.

Ilustrasi : Salah satu dealer Wuling di Sumatera Barat (PADEKNews)

Berkat kemunculan Wuling inilah, pabrikan Tiongkok sekarang mulai tidak malu – malu unjuk gigi di Indonesia. Merek yang cukup beruntung ikut dilirik dengan efek popularitas Wuling ini adalah DFSK – DongFeng Sokon, atau Sokonindo Automobile.

Ilustrasi : booth DFSK Indonesia di Jakarta Fair 2018 (Tribunnews)

Dongfeng sendiri merupakan salah satu korporasi besar di Tiongkok, merek ini banyak berpartner dengan merek – merek laris seperti Honda dan Nissan di Tiongkok. Di Indonesia, merek Dongfeng lebih terkenal sebagai produsen genset.

Dongfeng di Indonesia lebih dikenal sebagai merek genset (indotrading.com – Toko Anugrah Cipta Energi)

DFSK sendiri asalnya lebih berfokus ke pasar fleet angkutan – menjual mobil komersial dengan pick-up Supercab. Tetapi ia juga tidak mau kalah mencoba peruntungan di pasar mobil penumpang. Tetapi alih – alih berjualan mobil jenis MPV seperti Wuling, DFSK memulai dengan mobil SUV. Dengan pede ingin menyasar kelas Honda CR-V, Nissan X-Trail, dan Mazda CX-5.

Super Cab yang ditawarkan dalam varian mesin bensin dan diesel, bersaing dengan pemain yang lebih populer seperti Daihatsu Gran Max (DFSK Indonesia)

SUV mereka dinamakan : Glory 580. Ditawarkan dengan mesin 1.8 Liter dan 1.5 Liter Turbo, dengan transmisi manual dan CVT. Dan jika harga ketiga kompetitornya bermain di 400 – 500 juta, Glory 580 cukup seharga 250 – 300 juta-an. Di harga segini, kompetitor asal Jepangnya hanya memiliki mobil kompak seperti Honda HR-V. Jadi, harga compact crossover tapi dapat SUV medium.

Tapi tentu kita bertanya – tanya kenapa mobil ini – dan rata – rata mobil Tiongkok bisa murah, dan apakah teknologinya sudah layak saing dengan merek Jepang atau Korea ?

Gaya Desain Luar : Tiongkok, si Ahlinya Meniru.

Seribet namanya yang panjang dan susah dihafal atau diingat, Glory 580 ini tampang luarnya juga sama ribetnya. Nggak perlu jadi ahli otomotif, siapapun kita akan langsung terbayang beberapa mobil yang cukup populer melihat tampilan luarnya.

Fascia depan yang kayak campuran VW Tiguan dan Honda HR-V, Bagian samping yang kacanya mirip Hyundai SantaFe dan velgnya mirip Nissan X-Trail, praktis hanya bagian belakang saja yang enggak mirip mobil apapun.

Muka depan Glory 580 dan VW Tiguan (autotrader.com)

Profil bagian samping yang sangat mirip Hyundai SantaFe 

Model velg Glory 580 vs Nissan X-Trail Facelift

Intinya, secara tampilan mobil ini enggak terlalu menarik dan tidak unik. Istilahnya, nggak bikin “noleh” kalau ketemu di jalan. Ya memang bagaimanapun China selalu ahli dalam meniru.

Interior : Fitur Berlimpah, Sayang Kualitas tetap Berbicara. Still, ada Harga ada Barang.

Masalah krisis orisinalitas berlanjut ke interiornya. Nggak perlu banyak dibahas kayaknya ya, dari gambar di bawah ini udah keliatan sekali. Semacem gado – gado interior X-Trail dan Tiguan.

Dashboard Glory 580 (DFSK Indonesia)

Dashboard X-Trail 2015 (Nissan)

Panel – panelnya pun terlihat biasa saja, kurang presisi dan agak di bawah Wuling Cortez soal kualitas. Tombol – tombol terasa kasar dan terkesan kurang kokoh.

Setir Glory 580 vs VW Tiguan (blogmedia.dealerfire.com)

Konsol tengah Honda HR-V (autobuzz.my) dan Glory 580

 

Tapi daya tarik Glory 580 ini, seperti Wuling, juga berlimpah fitur.

Pertama, ini satu – satunya mobil di Indonesia yang punya DVR, semacam dashcam bawaan yang bisa ditampilkan dari head unitnya yang juga layarnya besar. Di negara yang “chaotic” lalu lintasnya seperti Indonesia, barang seperti ini perlu seandainya ada kejadian di jalan, bisa menjadi bukti ke polisi. Memang dashcam sudah banyak yang jual di luaran, tetapi belum ada pabrikan yang menyediakan fitur ini sebagai kelengkapan standar.

Kedua, mobil ini dilengkapi Tyre Pressure Monitoring System (TPMS), yang bahkan mobil kelas di atasnya pun belum tentu punya. TPMS ini terlihat seperti kurang penting tapi sebenarnya penting banget, utamanya untuk perjalanan jauh.

Sisanya, mobil ini punya sunroof, start-stop button, fitur keamanan standar seperti 4 Airbag dan ABS lengkap dengan kontrol stabilitas, MID yang sayangnya justru enggak ada rata-rata konsumsi bahan bakarnya, Rem parkir elektrik.

Jadi meski secara kualitas kurang, tapi soal kelengkapan ia tetap bersaing.

Drive : Di Luar Dugaan, cukup Mengejutkan.

Unit tes adalah Glory 580 tipe tertinggi 1.5 CVT Luxury berwarna putih. Pas seperti yang saya harapkan – sebagai pengguna SUV dan hatchback 1.5 Liter berturbo, penasaran dengan bagaimana rasa Turbo dari merek pendatang baru.

Dengan segala kekacauan desain dan kualitasnya, saya pikir ah mungkin rasa berkendara nya bisa jadi pelipur lara. Bagaimanapun speknya di atas kertas enggak jelek : 150 PS @ 5.600 RPM dan 220 Nm @ 1.800 – 4.000 RPM. Buat saya, rasa berkendara adalah yang paling menentukan.

Jok pengemudi belum diberi setelan elektrik dan jujur aja, plastiknya tipis, jadi cukup ngeri saya nurunin ke posisi paling rendah, ngeri tiba – tiba patah kalo terlalu kenceng. Setir pengaturannya tilt, tapi posisi duduknya lumayan nyaman dan joknya cukup suportif. Ruang kaki pengemudi luas walaupun terasa agak aneh karena tanpa footrest.

Start mesin dan mesin menderum halus – tidak ada getaran cukup berarti dan tidak ada suara – suara aneh. Tuas transmisi di posisi D dan jalan … Oleh beberapa orang dikeluhkan start awal yang cukup berat dan itu juga saya rasakan, tapi lebih ke arah respon gasnya yang agak keterlaluan. Mungkin sebagian orang juga kurang terbiasa dengan transmisi CVT sehingga nginjek gasnya “pelit” – padahal kalau agak “tega” injek gasnya, mobil ini nggak payah akselerasinya.

Memang nggak terasa menggebu – gebu seperti mesin turbo Honda, karena tenaganya juga jauh di bawah, tapi nggak payah juga. Mobil ini lebih seperti mobil bermesin 1.800cc ketimbang 1.500cc Turbo. Jambakan ketika kickdownnya juga terasa biasa aja, tapi cukupan. Nggak pelan, tapi nggak kenceng juga. Dibanding HR-V 1.8 Liter, jujur aja, masih lebih kenceng HR-V secara feel maupun real. Tapi tenang aja, mesin turbo mah naikin tenaga gampang. Tinggal kuat-kuatan komponen aja.

Soal handling juga biasa aja, setirnya ringan dan terasa jauh – kurang terkoneksi ke jalanan. Remnya terasa kasar dan kurang pakem. Bodyroll meski minim tapi chassis bagian belakang terasa kurang “nyatu”. Seperti “ketinggalan” ngikutin waktu belok. Kayak ada welding spot / titik pengelasan yang kurang.

Tapi ya sudah ini kan SUV ya, nggak terlalu penting bahas handling nya. Kenyamanan lebih penting. Nah! Di sinilah titik kelebihan Glory 580 yang mungkin bisa bikin SUV 300 juta apapun bertekuk lutut. Kalau ada satu alasan saya bakal beli Glory 580, poin kenyamanan ini yang jadi alasan utama.

Dan saya berada di track yang tepat untuk menguji bantingan Glory 580 : di salah satu komplek perumahan di Semarang dengan kontur jalanan sangat bumpy. Sengaja melewati jalanan dengan tanpa ngerem, di luar ekspektasi karakter suspensinya cenderung soft dengan redaman yang cukup, nggak terlalu ngayun, agak sedikit memberi feel seperti Honda CR-V baru.

Yang sayangnya – ada satu titik dimana ini yang membuat Glory 580 belum bisa menyamai CR-V, jangankan CR-V, dibanding HR-V saja masih belum selevel : kualitas onderstel / kaki – kakinya. Perkiraan saya, Glory 580 menggunakan bahan bushing yang kualitasnya di bawah pesaing Jepangnya, atau memang grade material kaki – kakinya Glory ini di bawah rival Jepangnya, karena meski bantingannya empuk tapi onderstelnya terasa kurang “kokoh”. Jadi selain berisik juga memberi kesan ringkih / kurang kuat.

Verdict : Mobil dengan Potensi Besar dan Perlu Banyak Penyempurnaan

Jika ada yang bertanya apakah Glory 580 mobil bagus : tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Kalau dibandingkan dengan mobil Tiongkok seperti Chery atau Geely, atau mobil Korea tahun lawas, Glory 580 masih jauh lebih baik.

Tetapi jika perbandingannya mobil Jepang, Korea, atau Amerika sekarang, Glory 580 ini hanya kalah jam terbang saja. Bagaimanapun, membuat mobil itu nggak sekedar tempel fitur sana-sini, tapi juga butuh jam terbang untuk menyempurnakan hal – hal yang kurang terlihat oleh mata konsumen : mesin, transmisi, suspensi, body. Dan DFSK memang masih perlu waktu untuk menyempurnakan keempat komponen utama ini.

Tapi bagaimanapun jika ada yang ingin mencoba sensasi lain dan bosan dengan merek itu – itu saja, Glory 580 layak dicoba. Toh garansinya 7 tahun, tidak ada salahnya kalau anda kebanyakan duit pengen coba merek Tiongkok.

Yang jelas, apresiasi setinggi – tingginya layak diberikan pada DFSK yang berani unjuk gigi dengan teknologi canggihnya, semoga pabrikan lain ke depannya enggak malu – malu buat unjuk gigi dengan teknologi mesinnya.

Cuma please, DFSK, jangan pake nama yang susah – susah. Ngeja nama merek udah susah nama produknya panjang banget lagi ada kombinasi huruf dan angka … Wuling aja rebrand Baojun 730 jadi Cortez biar gampang diinget. Belum nanti rencana sampeyan ngeluarin Glory 560, makin ribet lagi orang musti inget namanya.

Fengguang 560 yang akan menjadi Glory 560 di Indonesia, satu lagi varian SUV yang akan ditawarkan oleh DFSK. Please, ubah namanya supaya sedikit lebih gampang diinget. (cintamobil.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *