Mobil Matic yang Terkadang Membingungkan – Mengenal Jenis – Jenis Transmisi Matic

Secara umum, kita mengenal transmisi mobil itu ya manual atau matik. Nggak lebih nggak kurang. Mobil yang giginya mesti dipindahin dan ada pedal koplingnya itu namanya mobil manual, kalo pedalnya cuma dua itu matik. Se sederhana itu.

Selama ini kita cuma membedakan manual dan matik dari jumlah pedalnya – memang nggak salah, karena secara pengoperasian dan prinsip kerja keduanya memang berdasarkan pedalnya.

Masalahnya, ketika muncul iklan seperti ini :

Iklan Karimun Wagon R AGS (dealersuzukibali-mobil.com)

Sebagian dari kita bingung, “lha, memangnya apa bedanya dengan matik jenis tiptronic yang ada mode manualnya?” belum lagi bentukan transmisi yang cuma ada R-N-D-+/- , bukan P-R-N-D seperti matik biasa. Padahal, teknologi ini sebenarnya sudah ada dari luamaaaaaa banget. Tapi orang yang gak ngikutin perkembangan otomotif bakal asing dengan istilah AMT (Automated Manual Transmission), wong denger DSG atau CVT aja bingung. Ngertinya ya matik, thok.

Ya, buat yang belum tau, transmisi matik itu jenisnya ada banyak. Dulu orang hanya kenal AT (Automatic Transmission) dan MT (Manual Transmission), tapi sekarang makin kompleks dengan muncul istilah seperti CVT, DSG, AMT, dll.

So, mari kita kupas satu per satu.

  1. “Pure-bred” Automatic

Adalah transmisi matik yang memiliki desain dan konstruksi yang nyaris berbeda total dengan transmisi Manual, atau bahasa sederhananya, bukan modifikasi dari transmisi manual.

  • Automatic “Konvensional” (AT)

Jenis paling tradisional dari transmisi matik adalah “AT”. Sistem kerja matik jenis ini adalah menggunakan planetary gear atau roda gigi planet yang berbeda ukuran dan berotasi pada sebuah poros.

Sistem Planetary Gear (rohloff)

Sistem ini tersambung ke sebuah unit turbin bernama Torque Converter – makanya banyak yang menyebutnya juga transmisi Torque Converter, meski sebenarnya kurang tepat karena Torque Converter tidak eksklusif hanya ada di AT saja. CVT dan DSG juga beberapa menggunakan Torque Converter.

Potongan gambar Automatic Transmission (cars.com)

Unit Torque Converter (banks power)

Transmisi jenis AT memang bukan yang tercanggih, tapi ia terkenal paling responsif dan juga tahan banting. Konstruksi transmisi jenis ini memungkinkan pengguna memodifikasi mobil dengan torsi besar – utamanya bermesin diesel. Contoh paling mudah adalah girboks Toyota Innova yang mana versi transmisi Automaticnya justru lebih kuat di-tuning dibanding versi Manualnya. Selain itu, komponen modifikasi hardware AT sudah mulai umum ditemui – misalnya kit TransGo untuk matik Toyota Innova yang memungkinkan perpindahan gigi minim selip.

 

Kit TransGo untuk memodifikasi transmisi AT (amazon.com)

Perkembangan AT juga sangat luas, dengan menambah unit planetary gear saja memungkinkan AT memiliki lebih dari sekedar 4-5 percepatan, bahkan 10 percepatan pun sudah mulai digunakan. Mobil dengan percepatan terbanyak saat ini di Indonesia adalah beberapa lineup Mercedes-Benz dengan transmisi 9 percepatan bernama 9G-TRONIC.

Transmisi 9G-TRONIC Mercedes-Benz (autoevolution)

Tips menggunakan AT : tidak semua AT dirancang dengan logic yang sama dan kemampuan berpindah gigi yang sama. Di jalan datar mungkin tak masalah, tapi di jalan menanjak apalagi yang curam, menggunakan gigi L (Low, atau gigi 1 jika dilengkapi mode manual) adalah cara teraman supaya tidak menimbulkan stress dan panas berlebih di transmisi akibat perpindahan gigi terus-menerus.

Mobil di Indonesia dengan transmisi AT : Seluruh produk kembar Toyota-Daihatsu, IMV (Innova, Fortuner, Hilux), Camry, Alphard 3.5, Honda Freed, Accord, Mitsubishi Xpander, Pajero Sport, Suzuki Ertiga, Splash, Grand Vitara, Swift, S-Cross. Nissan March, Nissan Terra. Seluruh lineup Mazda. Seluruh lineup BMW dan Mercedes-Benz, dll.

  • Continuous Variable Transmission (CVT)

Meski banyak dibenci karena mayoritas CVT itu lemah dalam hal responsivitas, nyatanya CVT sekarang justru makin banyak dikembangkan dan makin baik kualitasnya. Yup! Ada alasan CVT merupakan jenis transmisi yang populer di kebanyakan mobil – utamanya mobil bermesin kecil.

Tampak potongan transmisi CVT (certifiedtransmissionrepair.com)

Komponen utama sebuah transmisi CVT adalah dua buah pulley berbeda ukuran dan belt atau sabuk baja. Prinsip kerjanya adalah dari perbandingan rasio pulley, karena CVT sama sekali tidak memiliki roda gigi. Otomatis, pengaturan rasio pada CVT bisa se-fleksibel dan seluas mungkin, sehingga CVT dapat mereduksi putaran mesin di kecepatan tinggi, dampaknya tentu saja konsumsi BBM yang hemat. Plus kelemahan transmisi roda gigi adalah powerloss saat berpindah gigi, berkat tidak adanya perpindahan gigi pada CVT, tentu saja : tidak ada powerloss. No shifting = no losses. Minimnya powerloss pada CVT hanya bisa ditandingi pada transmisi AT dengan gigi banyak seperti 8 – 10 gear.

Prinsip kerja dasar CVT (jp.mathworks)

Salah satu kelemahan CVT adalah dalam hal responsivitas, karena menggunakan sistem pulley, selip berlebih pada awal akselerasi, atau rubber-band effect, adalah salah satu kelemahan beberapa transmisi CVT – meski untuk CVT modern sudah banyak yang minim selip dan jauh lebih responsif.

Selain itu CVT karena tidak berpindah gigi, sehingga di beberapa mobil yang tidak memiliki fitur virtual shifting, jarum RPM akan diam di posisi limiter RPM dan mobil mendengung keras yang tentu saja tidak nyaman, meski oleh beberapa pabrikan juga sudah memiliki virtual shifting – dibuat seakan-akan mobil “berpindah gigi”.

Tetapi justru inilah yang menjadi kelebihan CVT : ia mampu menahan putaran mesin pada kondisi peak power (tenaga puncak). Dan faktanya, di tenaga puncak akselerasi terjadi paling cepat. Karena itu beberapa mobil CVT meski “rasa” nya tidak kencang, tapi jika dihitung beneran dengan stopwatch, minimal sama atau bahkan lebih cepat dibanding mobil yang sama bertransmisi manual atau AT. Contoh paling jelas adalah di Honda Brio AT (2014-2015) dan Honda Brio CVT (2016 – sekarang) yang akselerasinya lebih cepat sekitar 2 detik di versi bertransmisi CVTnya.

Honda Brio terbaru menggunakan CVT – menggantian AT di model terdahulu. Akselerasi lebih cepat dan konsumsi BBM lebih hemat. (tribunnews.com)

Belum lagi di mobil – mobil dengan turbocharger, kemampuan CVT menahan putaran mesin sangat dibutuhkan supaya mengurangi terjadinya turbo lag – kekosongan tenaga saat turbo belum “spool“. Bahkan premis CVT transmisi yang lemot pun cukup dipatahkan dengan dilarangnya penggunaan CVT pada mobil F1, karena terlalu kencang akibat mobil bisa ditahan pada posisi tenaga maksimal terus-menerus.

Williams FW15C, mobil prototype F1 dengan transmisi CVT yang di-ban karena terlalu kencang (atomictoasters)

Suzuki Swift Sport, salah satu mild-hatchback yang juga memberi opsi transmisi CVT (modifikasi.com)

Meski tentu saja, semua kembali pada bagaimana setting pabrikan.

Toyota mengembangkan CVT dengan launch gear untuk membantu start awal CVT yang terkenal kurang responsif (newsroom.toyota.co.jp)

CVT juga punya keterbatasan dalam hal tuning, tak mampu menerima torsi yang terlalu besar. Karena itu jarang ada mobil Diesel bertransmisi CVT. Ini juga yang menyebabkan Hondata, membedakan tuning Civic Turbo versi CVT dan Manual.

Tips mengemudikan CVT : berakselerasilah sehalus mungkin. CVT di kaki yang tepat akan menjadi transmisi yang sangat fleksibel dan menyenangkan. Gunakan teknik “mengurut” gas saat mengemudikan CVT, hindari berakselerasi penuh dari diam, karena mayoritas CVT tidak disetting untuk itu – meski pada faktanya beberapa mobil CVT mampu berakselerasi penuh dari diam tanpa harus mengalami selip berlebih. Tetapi jika ingin meminimalisir selip pada pengendaraan sehari-hari, teknik mengurut gas adalah cara terbaik.

Mobil di Indonesia dengan transmisi CVT : Semua lineup Honda kecuali Accord, semua lineup NissanDatsun kecuali March dan Terra, Toyota Corolla, C-HR, Yaris, Vios, Sienta, Alphard/Vellfire 2.4, Voxy. Mitsubishi Mirage, Delica, Outlander Sport, dll.

2. Manual-Based Automatic :

Jenis transmisi matik yang memiliki desain, prinsip kerja, dan konstruksi dasar transmisi manual.

Penampang dasar transmisi manual (amsoil.com)

  • Dual-Clutch Transmission (DCT)

Transmisi ini sesuai namanya merupakan transmisi manual dengan dua buah kopling. Biasanya umum juga disebut DSG (Direct-Shift Gearbox) meskipun ini adalah merek dagang eksklusif VW. Beda merek, beda pula penyebutannya.

Tampak penampang Dual Clutch Transmission (cnet.com)

Prinsip kerjanya adalah mengurangi jeda dan powerloss saat pergantian gigi, dengan 1 unit kopling untuk gigi genap dan 1 unit lagi untuk ganjil. Sehingga dampaknya saat gigi 1 aktif, gigi 2 sudah dipersiapkan. Kelebihannya, tentu saja adalah kemampuan berpindah gigi yang sangat cepat, Otomatis akselerasi dan efisiensi juga meningkat sangat banyak berkat minim selip dan power loss.

Prinsip kerja dari Dual Clutch (auto.howstuffworks.com)

Wujud fisik dari shifter DCT sebenarnya sama saja dengan transmisi matik pada umumnya, sehingga tak banyak yang menyadari bahwa ini adalah transmisi kopling ganda dan bukan matik biasa.

Sayangnya, transmisi DCT memiliki kelemahan desainnya yang rumit dan komponen yang sangat banyak, sehingga rata – rata yang menggunakan transmisi DCT adalah mobil Eropa kelas premium. Transmisi ini tentu saja karena desainnya yang kompleks memerlukan biaya yang tidak sedikit dalam pengembangannya. Pabrikan sebesar Ford saja akhirnya kembali menggunakan transmisi Automatic setelah sempat mengembangkan transmisi Dual-clutch.

Honda juga menggunakan transmisi dual-clutch pada lineup hybrid. Kalau ada yang protes kenapa nggak dimasukin ke lineup turbo nya, ya karena DCTnya tersambung ke mekanisme motor listrik. (world.honda.com)

Tips mengemudikan mobil bertransmisi DCT : 

DCT merupakan transmisi yang agak tricky cara menggunakannya. Unit kopling pada transmisi DCT itu akan selalu aktif jika mobil berada pada posisi tuas “D”, sehingga kondisi stop-and-go merupakan musuh utama transmisi DCT dan tidak jarang menyebabkan kerusakan serius karena panas berlebih. Baiknya pada saat menghadapi kemacetan, selalu oper pada posisi “N” saat berhenti lama (ini juga direkomendasikan untuk jenis lain seperti AT, CVT, dan AMT), dan merayap menggunakan mode manual saja.

Selain itu, beberapa pengguna VW menyarankan untuk menginjak rem secara penuh saat kemacetan atau menghindari “menggantung rem” supaya awet dan tidak nyendat-nyendat.

Mobil di Indonesia bertransmisi DCT : Direct Shift Gearbox (DSG) di semua lineup VW Group dan Audi, Ford Powershift (Fiesta 1.6, Fiesta Facelift 1.5, Fiesta Ecoboost, Ecosport), Porsche DoppelKupplung (PDK) di seluruh lineup Porsche.

Porsche merupakan pabrikan yang konsisten mengembangkan transmisi dual-clutch (uk.motor1.com)

  • Automated Manual Transmission (AMT)

AMT belakangan mulai populer, terutama sejak kemunculan Suzuki Karimun Wagon R AGS (Auto Gear Shift, merek dagang AMT nya Suzuki), lalu Ignis AGS, dan terakhir juga mobil dari Tiongkok : Wuling Cortez i-AMT.

Diagram sistem kerja transmisi AMT (ZF Friedrichshafen)

Penampang transmisi AMT / AGS (globalsuzuki.com)

Auto Gear Shift, yang dipopulerkan oleh Suzuki di Indonesia (Youtube – Suzuki)

Walaupun sebenarnya mereka harus sungkem sama pabrikan negara tetangga yang udah nggak berjualan disini : Proton. Yup, AMT di mobil harga terjangkau dulu pertama hadir di Proton Savvy AMT. Transmisi jenis AMT juga populer di mobil – mobil supercar seperti Lamborghini.

Proton Savvy, salah satu mobil yang sempat masuk Indonesia dengan transmisi AMT (id.priceprice.com)

Lamborghini merupakan pabrikan yang juga menggunakan AMT, tetapi transmisi Lamborghini perpindahan giginya tetap secara manual via paddle shift – sering juga disebut “flappy-paddle gearbox” (autoguide.com)

AMT pada dasarnya adalah jenis transmisi manual dengan pengoperasian kopling secara otomatis. Unit hardware nya ya plek, manual. Cuma ditambah modul kopling otomatis sehingga pengemudi bebas dari nginjek kopling.

Karena pada dasarnya adalah transmisi manual, transmisi ini bisa dibilang hemat ongkos pengembangan karena tidak harus mendesain dari nol. Selain itu, pengemudi juga tidak perlu menguasai teknik perpindahan gigi – cukup atur dengan injakan gas saja seperti transmisi otomatik. Tetapi di lain sisi itu juga yang merupakan kelemahan transmisi AMT.

Artinya, injakan kopling ditentukan by default oleh transmisi itu sendiri, ini yang menyebabkan kenapa transmisi AMT umumnya terasa agak kasar. Tak jarang juga saat kita akselerasi penuh perpindahan gigi tetap terasa kasar dan lambat. Selain itu dengan tidak adanya komponen torque converter, di perkotaan transmisi akan terasa nyendat – nyendat jika posisi transmisi berada di D atau mode otomatis.

AMT mudah dikenali dengan model tuas yang hanya memiliki R-N-D- +/- . Praktis seperti transmisi manual. Tidak ada mode P atau L.

Tuas transmisi AMT (team-BHP.com)

Tips mengemudikan mobil bertransmisi AMT :

Karena pada dasarnya ini adalah transmisi Manual tanpa kopling, untuk mendapatkan perpindahan yang halus ia mesti diperlakukan seperti layaknya transmisi manual : melepas gas sedikit setiap ingin berpindah gigi, di mode D terutama. Untuk mengurangi gejala nyendat – nyendat di kemacetan, menggunakan mode manual juga bisa membantu. Untuk berakselerasi juga lebih baiknya pindahkan ke mode manual saja. Mode otomatik di transmisi AMT pada umumnya didesain untuk berjalan santai atau cruising.

Mobil di Indonesia dengan transmisi AMT : Suzuki Karimun Wagon R dan Ignis, Wuling Cortez 1.8, Fiat dan Abarth series, semua Ferrari, semua Lamborghini.

Wuling Cortez, si pendatang baru dengan transmisi AMT (carmudi.co.id)

 

Bagaimana dengan Keawetan ?

Jujur saja bicara soal keawetan sebuah transmisi itu sangat kompleks dan banyak sekali parameternya. Sangat bergantung pada apakah rajin mengganti oli transmisi sesuai rekomendasi pabrikan, lalu kondisi jalan yang dilalui, dan sikap berkendara kita.

Memilih jenis oli transmisi yang tepat juga kunci keawetan transmisi otomatis. Kerusakan pada Honda Jazz – Honda City tahun 2003 – 2007 bertransmisi CVT adalah akibat minimnya pengetahuan user dan bengkel tentang bedanya CVTF dan ATF (Aisin Aftermarket)

Secara teori AT dan AMT bisa jadi adalah yang paling awet karena mereka yang paling basic, tetapi pernyataan ini tidak mutlak absolut dibanding DCT dan CVT, karena nyatanya banyak juga DCT dan CVT yang awet. Meski kedua jenis ini memang kerap dikenal kurang tahan banting – tapi itu kebanyakan faktor manusia yang kurang paham cara penggunaan dan perawatan yang tepat. Karena itu tugas pabrikan juga untuk mengedukasi para pengguna bahwa tak semua transmisi matik itu sama.

unit mechatronic pada transmisi dual-clutch yang kerap jadi korban pada user yang kurang mengerti cara pengoperasian DSG (carousell)

Kalaupun ada beberapa model yang kurang awet transmisinya, di luar faktor perawatan dan kondisi berkendara, salah desain pabrikan juga kerap terjadi.

Bagi saya, yang terpenting adalah kita ngerti cara menggunakannya. Dengan cara perawatan dan penggunaan yang tepat, transmisi jenis apapun akan selalu awet.

Akhir kata,

Tidak ada transmisi yang jelek, semua transmisi diciptakan sesuai dengan kegunaannya dan memiliki karakter masing – masing. Memilih yang manapun itu tergantung selera. Yang terpenting sebelum menilai sebuah mobil tentu saja adalah melakukan test drive terlebih dahulu.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *