Avanza Facelift (Lagi) !? Kok Nggak Ganti Model ?

Jagat internet terutama di kalangan otomotif sedang ramai membahas tentang mobil sejuta umat yang tak terkalahkan di Indonesia sejak tahun 2003 : Avanza-Xenia. Yup, bocoran model terbarunya sudah terlihat di jagat internet, nggak lagi renderan atau prakiraan model. Sudah fix.

bocoran Avanza-Xenia terbaru (oto.com)

Entah memang gambar ini sudah boleh dibocorkan, atau sengaja dibocorkan. Karena yang membagikan adalah pihak – pihak marketing Toyota dan Daihatsu juga. Mungkin mau prospek konsumen duluan ?

Sayangnya bagi yang berharap ini model baru a.k.a All New atau ubah generasi, ini masih sama Avanza generasi 2.5 dengan wajah baru saja dan tempelan aksesori nan “indah” di sekujur badan. Lampu utama model dua tumpuk macem Vellfire yang sebenernya lumayan rapih, sayang bempernya kayak terlalu rame.

Tentu, banyak dari anda yang akan riwil :

“loh, kok nggak ganti model?”

“loh, nggak berubah banyak, harga naik, ambil untung kebanyakan nih Toyota”

“wah Toyota nggak mau berbenah awas nanti ditinggalkan peminatnya liat pesaing kaya fitur dan harga setara”

dan segenap nyinyiran netizen lainnya. Apalagi mengingat kemunculan pemain – pemain baru di kelas MPV sejuta umat : Xpander, Mobilio, dan All New Ertiga yang baru lima tahun sudah ganti model. Praktis, Avanza memang banyak digunjingkan mengenai penampilan yang gitu-gitu aja dan minim inovasi.

Wajar, netizen dan calon konsumen juga pasti membandingkan dengan harga sama bisa mendapatkan apa.

Tapi bentar – bentar …

Bagaimana kalau proyek mobil kembar Toyota-Daihatsu ini sebenarnya tidak seperti yang anda pikirkan ?

Maksudnya gini, seberapa besar cinta maupun benci anda terhadap Avanza, Avanza tetap akan jadi yang nomer satu. Menggesernya bukan lagi tak mudah : nyaris impossibru. Mobil ini praktis tidak akan tenggelam oleh persaingan. Karena apa ? Karena secara praktis mobil ini nggak punya pesaing! Single fighter, kurang lebih seperti Kijang Innova yang melenggang bebas tanpa saingan.

Kijang Innova yang melenggang bebas tanpa saingan (foto : Toyota)

Loh, bentar, itu kan ada Mobilio, Ertiga, Xpander, dll, kan mereka saingan! Kelasnya sama-sama LMPV!

Eits, tidak sesederhana itu, Fernando… semua kompetitor Avanza tidak berpikir untuk membuat mobil seperti Avanza. Lihatlah Mobilio, Ertiga, Livina, Xpander… Semuanya memiliki nilai jual yang sama dan gebuk-gebukan sendiri. Kenyamanan, power, handling, kemewahan… tapi mereka semua tak mengerti bahwa cara menggebuk Avanza bukan dengan kemewahan.

Ngomonglah angka wholesale Xpander yang sempat merajai di nomer satu, itu kan wholesale, dan sudah saya pernah jelaskan di artikel lain kalau wholesale itu jumlah distribusi dari pabrik ke dealer. Angkanya segitu-segitu melulu, ya memang kapasitas produksinya mentok aja. Yang beli tetep indent nya lama. Sedangkan retailnya ? Belum tentu Avanza lebih sedikit.

Mitsubishi Xpander, yang sempat merajai wholesales kelas MPV kecil di tahun 2018 beberapa saat. (foto : tribunnews)

Mengapa kok armada rental, fleet kantor, supir taksi onlen, di tengah gempuran banyak pilihan baru tetep memilih Avanza ? Merek ? Iya pasti. Tapi yang selalu dibahas oleh pemilik Avanza adalah betapa robust – betapa badak nya Avanza (dan Xenia) mereka. Jalan disiksa puluhan ratusan ribu kilometer dengan kondisi jalan super variatif, nanjak-nanjak, offroad, supir ganti-ganti, bensin gonta-ganti, perawatan sekenanya. Dengan kata lain, kemewahan dan kenyamanan memang bukan nilai jual dari Avanza. Nilai jual Avanza adalah daya tahan (termasuk daya tahan resale valuenya.. ups).

Sampai ada guyonan bahwa situ pakai Avanza/Xenia 10 tahun ratusan ribu kilometer rasanya akan tetep gitu-gitu aja dari baru, sedangkan pake “rival” nya baru ama lawas udah kentara banget.

Jadi, sebenernya dimana rahasia kekuatan Avanza ini ? Pake obat kuat cap apa ?

Desain “Mini-Kijang”

Kita semua setuju bahwa ada otak jenius para engineer di balik suksesnya Toyota Kijang di Indonesia. Mobil ini jadi solusi transportasi keluarga Indonesia yang mendambakan mobil tangguh dan bisa muat sekeluarga. Sampai sekarang. Kijang masih jadi mobil yang “tiada duanya” – masih secara praktis belum punya saingan yang setara.

Generasi pertama Toyota Kijang, didesain sebagai mobil “kerja” dengan format pick-up (foto : carmudi)

Masalahnya, sejak Kijang kapsul, harga Kijang dianggap semakin tidak terjangkau oleh masyarakat umum, apalagi Kijang Innova, yang harga tipe entry levelnya sudah di atas 100 juta di tahun 2004. Jadi, Toyota memutar otak, melakukan joint-venture dengan Daihatsu yang merupakan anak perusahaannya membuat sebuah proyek mobil keluarga terjangkau, dan voila! Lahirlah Avanza-Xenia. Yang harga barunya saat itu dari 60 juta sampai 90 juta Rupiah.

Peluncuran Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia generasi pertama (foto : tribunnews)

Kaoru Hosokawa-san, sang maestro di balik lahirnya Toyota Avanza/Daihatsu Xenia, termasuk orang yang fasih dengan mobil – mobil sejuta umat lainnya di Indonesia seperti Kijang, Fortuner, Hilux. (foto : business.inquirer.net)

Dengan pengalaman Toyota dan Daihatsu yang sudah “ngeh” pasar Indonesia mau kayak gimana, otomatis formula Kijang pun diterapkan di Avanza-Xenia : 7-seater, penggerak roda belakang, ground clearance tinggi, meski tidak menggunakan sasis tangga seperti Kijang, Avanza-Xenia menggunakan semacam hybrid antara monokok dan ladder – keuntungannya adalah bobot yang tidak seberat ladder frame tapi tetap mendapatkan ketangguhan lebih baik dari ladder frame. Model ini juga digunakan oleh produk kembar lainnya : Rush-Terios. Sekedar FYI, saya tidak pakai istilah unibody karena unibody sebenarnya sebutan lain untuk monokok.

Sasis jenis hybrid antara ladder dan monokok (familycar.com)

Praktis, jika kita melihat Kijang sekarang melenggang tanpa persaingan, Avanza pun sebenarnya juga. Pasar Avanza dan Mobilio/Ertiga/Livina/Xpander itu sangat berbeda. Avanza/Xenia dibangun dengan pemikiran mobil “kerja” yang bisa buat keluarga. Mindset yang sama yang digunakan Toyota saat membangun Kijang – yang awalnya juga berbentuk pick-up lalu muncul Kijang berbodi station garapan Karoseri.

Kijang “Doyok” generasi kedua yang banyak di modifikasi karoseri menjadi berbodi station (foto : otomotif.babe.news)

Baru di generasi ketiga Kijang “Super” yang menawarkan bodi minibus, saat itu masih zaman “full pressed body” jadi bahan marketing. Artinya ya cetakan pabrik, bukan hasil dempal-dempul dan las-ketok (foto : seva.id)

Dan ini juga semacam menjelaskan kenapa life-span Avanza-Xenia maupun Kijang itu sangat luamaaaaa. Avanza lama yang modelnya serba bulet itu butuh 8 tahun ganti ke generasi kedua, Kijang Innova ke Reborn butuh waktu 12 tahun. Avanza generasi kedua sendiri sekarang baru masuk tahun ke-7. Ya, bisa jadi ini facelift terakhir sebelum benar – benar all new model.

Konsep Daihatsu DN-Multisix yang diduga akan menjadi gambaran seperti apa Avanza/Xenia generasi ketiga. (foto : otodriver.com)

Karena apa ? Ya karena market mobil seperti Avanza dan Kijang – yang saking nggak rusak-rusaknya, dipake sampai 8-10 tahun. Market mobil “kerja” seperti ini akan pakai mobil sampai nilai ekonomisnya benar – benar habis. Dengan kata lain, kalau nggak rusak ya nggak diganti. Orang beli mobil seperti ini orientasinya lebih ke ekonomi daripada kemewahan seperti pesaing mereka : mobil yang tahan lama, irit bbm, dan perawatan mudah. Ditambah dijual lagi gak anjlog-anjlog amat, plus brand name Toyota yang menjadi jaminan mutu bahwa ini mobil berkualitas.

Jadilah, kalau market nya seperti itu, produsen akan ngikut dan hanya akan memberikan update – update kecil tahunan sebelum berganti model beneran.

Jadi sebenarnya, agak salah kaprah membandingkan Avanza/Xenia dengan MPV seharga…

Secara tak langsung memang akan jadi perbandingan karena harga mirip, tapi kalau Avanza tidak berinovasi banyak, itu simply karena peruntukan konsumennya memang beda. Bahkan taksi yang biasa pake Vios… eh Limo saja sudah diremajakan berganti Avanza… eh Transmover.

Taksi “biru” pun berganti armada ke Avanza… eh Transmover (foto : tribunnews)

Pilihan jelas kembali pada anda. Kalau orientasi anda kenyamanan, dibawa keluar kota nggak mabok darat, tenaga yahud, handling enak, kabin mewah, ya belilah kompetitor – kompetitor Avanza.

Tapi jelas, berapapun harga Avanza terbaru nanti, mobil inilah yang akan tetap menjadi pilihan utama keluarga, perusahaan besar, armada rental, taksi konvensional, taksi onlen… karena segala kelebihan yang ditawarkan. Yakinlah, modal tampang keren dan mewah itu bukan jaminan buat menaklukkan Avanza.

Avanza memang tiada duanya… Eh itu Kijang deng.

Ancaman serius Avanza di masa depan, mungkin bukan dari rival Jepang, tapi justru dari tiongkok yang menerapkan formula hampir mirip : Wuling.

Wuling Confero, formulanya hampir sama dengan Avanza. Mampukah menjegal Toyota di masa yang akan datang ? (foto : arsip pribadi)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *