Memahami Toyota Supra yang Tidak Sesuai Harapan – Fact Checking Toyota Supra A90

Pabrikan Jepang begitu kental sejarahnya dengan mobil – mobil legendaris. Itulah yang membedakan pabrikan mobil Jepang dengan Korea apalagi Tiongkok.

Nama – nama seperti GT-R, Supra, Evo, WRX STi, Type-R, NSX, begitu menghiasi jPagat otomotif Jepang di era nineties. Sayangnya, masuk ke tahun 2000 ke atas, nama – nama ini sempat punah. Orang Jepang tidak lagi tertarik mengembangkan mobil performa tinggi.

Alasannya, market mereka sudah tidak berminat dengan mobil – mobil super kencang yang identik dengan boros, semua beralih ke mobil kecil dan hemat bahan bakar. Akhirnya satu per satu nama GT-R, Supra, NSX, harus terhenti pengembangannya. Evo pun terpaksa berhenti beberapa tahun silam. Praktis, Jepang tak lagi punya mobil performa tinggi atau mobil sport. Mobil Jepang, menjadi begitu “boring” karena selalu orientasinya kepada irit dan irit semata.

The JDM Sportscar Reborn : GT-R

Gairah sportscar di kalangan pabrikan Jepang dan Asia pada umumnya mulai bangkit kembali berkat lahirnya R35 GT-R di tahun 2007. Menjadi mobil yang break-through dan dipuji oleh banyak orang karena menyajikan performa sangar setara supercar seperti Porsche 911 dengan harga terjangkau. Bahkan sampai terjadi debat di kalangan fanboys 911 / Corvette / GT-R.

Hype mulai bangkit kembali. Dilanjut dengan kemunculan NSX terbaru dan Type-R terbaru. Lalu yang lama ditunggu – tunggu tentu saja : Supra.

Kebangkitan Supra merupakan sesuatu yang dinanti oleh para penggemarnya sejak kebangkitan GT-R. Karena di tahun ’90an, jika anda penggemar sportscar Jepang, GT-R dan Supra merupakan nameplate yang terus menerus bersaing. 2JZ dan RB-series menjadi mesin yang terus diperdebatkan mana yang lebih bagus.

Toyota FT-1 Concept

Isu kebangkitan Supra dimulai sejak Toyota memajang FT-1 Concept di Detroit Auto Show 2014.

Toyota FT-1 Concept 

Gambar : https://www.motortrend.com/news/toyota-ft-1-concept-first-look/

Sebelumnya, Toyota memang sepertinya sudah kembali ingin menggaet pasar anak muda. Terbukti dengan konsep desain terbaru Toyota yang sekarang lebih eye-catching dan nggak lagi terkesan mobil bapak-bapak.

Lalu munculnya sportscar hasil “duet” dengan Subaru : Toyota 86 yang menjadi salah satu sportcar terjangkau paling ikonik di abad ke-21 ini. Merupakan upaya brand Toyota untuk mengembalikan minat anak milenial kepada brand mereka. Bahkan brand luxury mereka, Lexus, sudah jauh dari kesan mobil oom – oom. Ya mobil oom – oom, tapi oom – oom trendy.

Dan isu akan kembalinya Supra, tentu saja membuat publik sangat antusias. Mengingat GT-R yang sudah melenggang lama tanpa persaingan ketat.

Toyota Supra 2020

Supra pada dasarnya punya konsep tourer, mobil untuk jalan jauh, orientasinya lebih ke kenyamanan. Bodinya besar, handlingnya tidak bagus. Tapi tenaga besar, itulah kenapa ia dijuluki “Japanese Muscle Car”.

Toyota Supra MKIV berkode JZA80 yang legendaris

Gambar : ( http://en.wheelsage.org/toyota/supra/a80/pictures/zu3o6o/

Sedangkan yang sekarang, well, the new Supra is not as Supra as you think. Bayangkan ini adalah sebuah arah baru – sebuah konsep sportscar baru dari Toyota. Anggap saja Supra adalah sebuah nameplate untuk sportscar flagship Toyota. Terlepas dari konsep apapun yang ada.

Ya kalau Mitsubishi aja naroh nama “Eclipse” dan “Evo” untuk SUV-Crossover, ini mah jauh lebih mending.

Terlalu “BMW” ?

Hampir semua keluhan tentang Supra terbaru muncul karena campur tangan BMW di dalamnya. Karena pada dasarnya yes, ini adalah hasil bagi-platform antara Toyota dan BMW. Di BMW sendiri, Supra tidak berbagi sasis dengan mobil Grand Tourer BMW seperti seri-6, tapi malah roadster kompak Z4.

BMW Z4 terbaru, yang berbagi platform dengan Toyota Supra ( https://www.caranddriver.com/news/a22748926/2019-bmw-z4-roadster-30i-m40i/ )

Saya sendiri kurang sreg, nggak se-outstanding ketika Nissan membangkitkan GT-R, atau Honda membangkitkan NSX. Keduanya muncul dari konsep yang “original” tanpa dicampur-tangan oleh merek lain.

Acura NSX 

https://www.mikehaleacura.com/inventory/new-2018-acura-nsx-awd-2d-coupe-19unc1b08jy000042 )

Nissan GT-R R35 

http://accelerationtimes.com/models/nissan-gt-r-r35-550-ps )

Tapi ayolah, please give this “Supra” a chance. Die-harder fans itu jangan terlalu egois, toh kita nggak bikin mobilnya. Mengatakan “kecewa” di awal hanya karena Supra ini sejatinya adalah BMW adalah tindakan penggemar tidak dewasa. Belum test drive, tho? Boro-boro test drive yang baru, nyetir yang lama aja belom kesampean.

Fact Checking

Pertama, chief engineer Supra adalah Tetsuya Tada, orang yang sama yang mendesain Toyota 86, dan murid langsung dari sang chief engineer Supra JZA80, Isao Tsuzuki.

Tetsuya Tada ( https://www.whichcar.com.au/features/tetsuya-tada-toyota-supra )

Berikut sebuah statement menarik dari beliau :

Another crucial factor was Subaru’s role in the joint venture as the provider of the 86’s engine and platform. It comes as no surprise that Tada is teaming up with another manufacturer on his newest sports car project to help spread costs – the Supra will share its architecture and powertrains with BMW’s next-gen Z4.

But to dismiss it as a reskinned BMW is foolish. Tada proved with the 86 that an unconventional engineering approach can result in a car with vast driver appeal – even if said car is built largely on top of recycled suspension tech and borrowed engines. He remains fiercely proud of his decision to equip the 86 with low-friction tyres from the Prius for that reason.

https://www.whichcar.com.au/features/tetsuya-tada-toyota-supra

Toyota 86, seperti yang kita tau, di era modern ini adalah sportscar yang cukup ikonik, sampai pada fakta bahwa ia sejatinya adalah sebuah Subaru, dan kita nggak peduli soal itu. Karena 86 dan BRZ memang menawarkan pengalaman yang berbeda dari sebuah sports car modern.

Toyota 86 dan Subaru BRZ

https://carfromjapan.com/article/car-comparison/toyota-86-vs-subaru-brz-comparison/

Tada ingin membuktikan bahwa meski mobil cuma hasil “sharing platform” ia tetap bisa menghasilkan pengalaman yang unik dan berbeda.

Kedua, design element di Supra baru ini beberapa juga masih mengikuti pakem desain Supra A80. Contohnya dari desain moncongnya saja sudah sedikit mengingatkan pada wajah Supra lama yang ikonik :

Gambar : https://www.topgear.com.ph/news/car-news/first-a90-toyota-supra-sold-tguk-a2603-20190122

Yep, masih ada miripnya kok. Muka depan membulat khas Supra lama masih dipertahankan.

Gambar : https://www.cnet.com/roadshow/pictures/the-toyota-supra-becomes-a-performance-icon-in-the-fourth-generation/6/

Profil kaca belakang ala liftback Supra lama masih dipertahankan, wheel arch besar pun masih ada, profil bentuk kaca sampingnya juga sekali lagi mengikuti sports car legendaris Toyota : 2000GT.

Gambar : https://www.carmagazine.co.uk/car-news/first-official-pictures/toyota/toyota-ft-1-concept-2014-first-official-pictures/

Bagian belakang Supra A80

https://www.topspeed.com/cars/toyota/1993-1998-toyota-supra-ar163626.html )

Toyota 2000GT yang design jendela nya digunakan oleh Supra terbaru, juga digunakan oleh 86

( https://autoweek.com/article/car-life/petersen-automotive-museum-will-get-two-japanese-car-exhibits-heres-first )

See? Masih banyak ciri desain Supra lama yang diterapkan meski ini sejatinya memiliki konsep yang berbeda. Dimensinya sendiri – karena ini adalah sports car, secara dimensi lebih pendek dari Supra A80. Lebih ringan, dan wheelbase juga lebih pendek. Tapi ia lebih tinggi dan lebih lebar. So, dari figur ini sepertinya cukup menarik ?

Supra A80 :

PxLxT (mm) : 4.515 x 1.811 x 1.275

Wheelbase : 2.550 mm

Bobot kosong : 1.570 kg

Supra A90 :

PxLxT (mm) : 4.380 x 1.865 x 1.295

Wheelbase : 2.470 mm

Bobot : 1.520 kg

Interior…. ya ya tentu banyak yang menyayangkan gayanya seperti BMW sekali, bahkan interface iDrive nya pun sangat BMW. Tapi kalau inget di Toyota 86 nggak ada bedanya dengan interior BRZ, ya nggak ada salahnya sepertinya. Bagaimanapun mendesain interior sendiri memang nggak mudah.

Memang soal ini… agak disayangkan sih karena interior Toyota Supra lama itu memang sangat ikonik.

https://www.carscoops.com/2019/01/2020-toyota-supra-apparently-revealed-production-form/ )

Interior Supra A80 yang seperti kokpit pesawat jet, ikonik pada masanya.

https://www.whichcar.com.au/features/9-weird-and-wonderful-interiors )

Ketiga, masih mempertahankan mesin 3.0 Liter Inline-six dan penggerak roda belakang.

Seakan ingin mempertahankan heritage Supra lama, Toyota pun tetap menggunakan mesin inline-six pada Supra ini. Dan di zaman modern ini yang masih membuat mesin inline-six hanya BMW.

Menggunakan mesin B58B30 yang sama dengan Z4 M40i, bertenaga 335hp. Mungkin tidak banyak jika dibanding GT-R atau NSX, tapi hey, Supra terbaru memang tidak diposisikan untuk bersaing dengan GT-R R35 apalagi NSX. Meski ini hanya twin-scroll turbo bukan twin-turbo seperti 2JZ, tapi dengan output sebesar ini rasanya juga tidak perlu twin-turbo. Diklaim 0-100 nya dalam 4.1 detik, bukan figur yang bombastis, tapi tidak pelan juga.

BMW B58 engine 

https://www.bmwblog.com/2016/01/21/bmw-twinpower-turbo-technology-once-again-takes-a-spot-on-2016-wards-10-best-engines-list/ )

Bagaimanapun masih sama dengan Supra bermesin 2JZ yang juga inline-six . Oh ya, buat kalian fanboy Supra yang berharap mesin 2JZ, mesin 2JZ itu buatan Yamaha bukan Toyota, dan buat standar emisi sekarang jelas enggak masuk. Tokh nggak ada yang salah dengan mesin BMW ini, tetap dari dulu BMW juga terkenal sebagai pembuat mesin inline-six terbaik. Bagaimanapun, di era sekarang sangat jarang pabrikan yang mau membuat mesin inline-six. Transmisinya sendiri menggunakan ZF 8HP 8-speed sama seperti umumnya BMW. Kok matic ? Pertanyaannya kok kaget ? memang dulu Supra nggak ada matic ? Walaupun ada kemungkinan dikembangkan Supra bertransmisi manual. Tentu saja, dengan pertimbangan pasar.

Kai added that a stick-shift Supra is possible. Market feedback will play a big role, but Kai also hinted that if it does develop one, it needs to fall within the right financial reasons. Developing a manual-transmission Supra for the masses is the most expensive option, though not necessarily the best one. Far more practical, according to Kai, would be to offer the model as a special edition with a limited number of units available. “If we limit the volume, let’s say a few hundred cars, then we can have less spent in tooling,” he said. “It could be that we introduce it as a special edition, with a special color or special wheels or something. We can combine these into a package and sell it as a limited edition.”

https://www.topspeed.com/cars/car-news/a-manual-transmission-for-the-2019-toyota-supra-is-a-possibility-but-not-a-certainty-ar182705.html

Oh ya, Supra ini juga menggunakan penggerak roda belakang, tidak AWD, karena penggerak roda belakang memang ciri khas Supra dibanding GT-R yang dari dulu juga AWD.

Supra ini juga sepertinya akan tetap memiliki varian ekonomis bermesin 2.0 Liter yang juga menggunakan mesin BMW seri B48 – sama dengan BMW 320i dan 520i. Mirip dengan Supra yang dulu juga ada tipe SZ-R yang tanpa turbo berkode 2JZ-GE.

So, saya sih nggak ngeliat ada yang salah dengan Supra baru ini dari mesin dan penggeraknya. Penggerak roda belakang dan mesin bertenaga besar, sepertinya bakal menjadi mobil yang sangat fun – mungkin seperti BMW M-series yang mudah powerslide di tikungan. Bahkan diklaim oleh Tada, Supra terbaru ini memiliki kekakuan sasis setara dengan Lexus LFA tanpa menggunakan bahan carbon fiber sama sekali. Semakin kuat bayangan saya bahwa Supra ini akan memiliki karakter BMW modern dalam handlingnya.

Yep, sepertinya Supra akan menjadi drift machine yang menyenangkan seperti BMW pada umumnya.

https://www.bmwblog.com/2018/04/14/video-bmw-m5-vs-mercedes-amg-e63-s-which-can-drift-better/

Jadi, buat para “pembenci” Supra baru…

Sejujurnya secara formula, Supra baru tidak terlalu berbeda. Hanya saja berubah konsep dari GT-Car ke Sportscar. Kebanyakan alasan orang kecewa dengan Supra baru sebenarnya muter-muter hanya karena ia sangat “BMW” saja. Well, Supra yang lama pun sebenarnya juga lahir dari platform sharing kok. Tapi ya sama produk Toyota.

Menilai mobil bagus atau jelek hanya karena ia “mirip” dengan mobil lain itu menurut saya kurang fair, apalagi kita belum pernah mendengar review atau bahkan nyetir langsung.

Sejujurnya, saya juga nggak terlalu interest. Tetap tidak bisa mengubah bayangan bahwa Supra sejatinya adalah GT Car. Di otak saya, Supra lebih cocok berbagi platform dengan Mercedes-Benz AMG GT-S. Mobil GT yang juga memiliki tenaga buas dan karakter khas AMG, lebih cocok untuk sebuah Supra.

Mercedes AMG GTS, lebih cocok untuk karakter sebuah Supra.

https://www.mercedes-benz-brampton.ca/safety-features-of-the-mercedes-benz-amg-gts/ )

Mengapa bukan LFA ? Well, karena LFA dan Supra arahnya beda. LFA lebih didesain sebagai sebuah supercar yang mesti semuanya serba sempurna baik dari performa mesin maupun kemewahan. Mobil yang sangat spesial bahkan tone suara exhaust nya saja dipikirkan. Bahkan setiap unit LFA terjual, Toyota justru merugi dan bukan untung. Karena biaya pembuatan sebuah LFA sangat mahal.

Supra, tidaklah se-spesial LFA. Ditambah karakter linear mesin N/A juga sama sekali bukan ciri khas Supra yang punya tenaga “monster”. Supra juga dari dulu tidak dibuat dengan pemikiran sebuah mobil yang eksklusif, ia masih memikirkan sisi bisnis dan ekonomi. Supra yang lama juga berbagi basis dengan Toyota Soarer dan Lexus SC, bukan platform eksklusif seperti LFA.

Lexus LFA

https://www.lexusofsarasota.com/you-can-still-purchase-the-impressive-lexus-lfa/ )

Tapi jika arah Toyota tidak seperti itu dan lebih condong ke BMW, saya rasa itu bukan sesuatu yang buruk dan perlu disesalkan oleh penggemar Toyota.

You may also like...

1 Response

  1. Mojo Berry berkata:

    Sedikit nambahin soal kontroversi desain, dulu di majalah autocar ini pernah dibahas, intinya Akio Toyoda menantang tim desain untuk membuat desain yang berani dan radikal akhirnya lahirlah FT-1 yg basis nya grand tourer. Sedangkan divisi sport nya aka ‘Gazoo’ pingin supra benchmark nya ke cayman/boxter yg notabene adalah compact sportscar terbaik saat itu #ripboxersix. Alhasil dari GT ke Compact sportscar tentu desainnya gak bakal nyambung #fansngamuk. Nah toyota ngakalain dengan ambil ‘design cue’ dr mobil legendaris satu nya lagi bisa dilihat dari desain kap rendah dan atap double bubble apalagi kalau bukan 2000gt. Toyota blunder lagi bingung apa ini mobil bakal dikasih nama supra atau nggak walaupun jadinya iya hasil final yg mirip logo dan headlamp doang imho. Kalau baca dr komen2 orang yg udah lihat langsung mk5 pada bilang lebih tjakep lihat langsung daripada di foto n believe, it looks thousand better in those matte grey 😈. Well sesuai omongan chz setidaknya syukur supra balik lagi dan hype nya terasa banget, at least gak ngulangin kesalahan NSX yang kelamaan teaser melulu akirna hype nya dah hilang duluan result=sales jeblok hehehe. Jujur saya bukan fans supra tp ‘miss’ banget jaman keemasan JDM thn 90an dan sudah move on. Next kalau bisa bahas mesin B58 apakah worthy jadi suksesor 2JZ, mengingat mk4 terkenal karena mesin nya yang ‘over engineered’. Maaf jd kepanjangan Great post btw 😅.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *