Wuling Almaz 1.5T CVT – Flagship Wuling, Wuling yang “Berbeda”

Merek Wuling di Indonesia sudah mengaspal sekitar 1 tahun lebih, dan hingga kini terhitung ada 4 varian produk yang dipasarkan : Minivan Formo (yang aslinya ya Confero trondol aja), Confero series, Cortez, dan model terbaru mereka : Almaz. Malaz ?

Almaz sendiri merupakan re-badge dari Baojun 530 di negara asalnya, tipikal Wuling yang sangat mengerti bahwa kami ini kesulitan menghapal kombinasi huruf dan angka yang ribet (Yes Glory 580, I’m looking at you). Almaz adalah nama resmi dari Wuling SUV, yang diperkenalkan pada GIIAS 2018 kemarin.

Wuling SUV, cikal-bakal Wuling Almaz.

https://otomotif.kompas.com/read/2018/08/05/084200315/spesifikasi-baojun-530-bakal-calon-suv-wuling-di-indonesia

Baojun 530, nama asli Wuling Almaz di negara asalnya.

https://otomotif.tempo.co/read/1109279/baojun-530-akan-masuk-indonesia-ini-rapor-penjualannya-di-cina )

Almaz sendiri baru meluncur di Indonesia tanggal 24 Januari 2019 kemarin. Penampakannya plek dengan Baojun 530 sak velg velg nya. Yup, nggak pakai velg 19inch yang gagah seperti Wuling SUV, dia pake velg dengan model yang wagu itu seperti Baojun 530.

Tidak tanggung-tanggung, Wuling memperkenalkan Almaz di sirkuit Sentul kepada jurnalis – jurnalis terkemuka tanah air, mungkin ya karena supaya bisa merasakan mesin turbochargednya. Yep! Mobil ini dilengkapi mesin 1.5 Liter Turbocharged yang katanya pake bahan Aviation Grade, turbo buatan Honeywell, dilengkapi CVT simulated 8-gear. Claim yang sungguh fantastis. Phew.

Keberanian Wuling meluncurkan mesin canggih secara tidak langsung mungkin dipengaruhi oleh merek sebangsanya, DFSK yang lebih dulu mengeluarkan SUV ber-turbo. Langkah yang sungguh berani dari pabrikan Tiongkok untuk melawan dominasi CR-V Turbo dan tentu saja duet Fortuner-Pajero yang selalu jadi simbol status gengsi horangkayah dan pejabat di tahun 2019. Patut diapresiasi.

Styling : Kontemporer Modern.

Jika dibandingkan dengan gaya desain DFSK Glory 580 yang agak-terlalu-generik-dan-tidak-orisinil, pendekatan desain Almaz jelas lebih kontemporer dan lebih menarik. Tampak depan dengan lampu 3 tumpuk yang lagi ngetrend, dengan yang paling atas jadi lampu kota dan bawahnya lampu utama dan foglamp jadi satu kotak. Bagaimanapun, Almaz terlihat lebih orisinil gaya designnya ketimbang Glory 580.

Lekukan bodi samping pengen keliatan modern tapi sekilas rodok wagu. Rada kayak campuran Land Rover Discovery dan Fortuner baru di pilar C nya. Cuma saya berusaha nggak asal mirip-miripin mobil ini sama mobil yang udah beredar. Toh Wuling sudah berusaha buat bikin desain yang orisinil.

lekukan garis jendela baris ketiga yang mirip dengan Toyota Fortuner.

https://cintamobil.com/review-mobil/review-toyota-fortuner-2017-indonesia-aid288 )

Detail unik : handel pintu model kotak-kotak yang senada dengan bentuk bodi, dan diberi finishing aluminium termasuk dengan tombol keyless entry nya.

Bagian belakangnya juga pengen menonjolkan kesan futuristis yang sayangnya proporsinya agak lucu. Lampu belakangnya terlalu kecil dan kurang naik dikit.

Berpikir mobil ini kecil? Weits. Bentuk Almaz memang begitu cerdas menyamarkan fakta bahwa ia sebenarnya lebih besar dari CR-V.  Almaz lebih panjang sekitar 70 mm dari CR-V, tapi ia kalah lebar 20 mm dan lebih tinggi 80 mm, memberikan kesan cingkrang pada Almaz jika dijejerin dengan CR-V. Tapi soal wheelbase ia lebih panjang 91 mm ketimbang CR-V, yang berdampak pada ruang kabin (dijelaskan di bagian interior).

Almaz (P x L x T, in mm) 4.655 x 1.835 x 1.760, wheelbase 2.750 mm

CR-V (P x L x T, in mm) 4.584 x 1.855 x 1.679, wheelbase 2.659 mm

Yep, sekilas CR-V memang terlihat lebih gambot.

Tapi aksen knalpot dua walaupun palsu – itu cukup oke dan reflektor memanjang yang juga berfungsi jadi lampu mundur itu juga cukup keren ngasih kesan berbeda.

Pe-er di exteriornya yang terbesar adalah bagian velg. Entah kenapa penggunaan velg besar di mobil ini bisa jadi opsi yang bagus. Tapi saya kok eman-eman, ban bawaan dikasih Continental ContiPremiumContact. Nah dilema lagi kan.

Interior : Lebih Premium, Gaya Desain Futuristis.

Kesan pertama interior Wuling Almaz ini adalah : futuristis! Layar tablet di tengah gede kayak Renault Koleos dan Tesla-Tesla an itu bener-bener menjadi daya tarik utama.

Layar ini ngatur fungsi audio dan AC kurang lebihnya. Fitur konektivitasnya juga diberi nama “Wuling Link” … dibaca “Wulingling“… Mirip dengan nama Chevrolet MyLink, tapi yah karena satu grup kali ya… Juga dilengkapi fitur masa kini “Camera 360view” yang berkat layar gedenya mau mundur dan maju keliatan semua, bahkan langsung nampilin 3 display dari atas, depan, dan belakang. Jenius! Walaupun interface nya agak lambat dan saya juga kurang suka sistem AC terintegrasi begini. Kalo layarnya error, njuk piye?

Urusan hiburan, mobil ini dilengkapi juga dengan speaker lansiran Infinity – memberikan kesan lagi di mobil high-end yang diberi produk audio mewah branded.

Lainnya, material plastik dan kulitnya juga lebih bagus dibanding Cortez – yang terakhir saya kurang sreg dengan material plastik yang terkesan brittle. Sayangnya di bagian tombol – tombol electric parking brake nya justru terasa agak cheap, mirip dengan Wuling Cortez.

 

Door trim dengan handel pintu besar dan aluminium finish dan warna two-tone yang senada dasbor juga memberikan kesan futuristik seperti mobil konsep.

Tombol parking brake dan lain – lain yang entah kenapa masih berasa agak murah (ya memang mobil murah sih).

Tuas transmisi yang somehow terlihat cukup mewah.

Beberapa part ngambil merupakan common part dengan Cortez, tapi Almaz seperti diberi sentuhan yang lebih premium dan juga build quality yang lebih baik. Intinya tidak meninggalkan kesan “b ajah” seperti Cortez.

Meter Cluster yang ngambil langsung dari Wuling Cortez

Setir juga langsung mengambil milik Wuling Cortez. Hanya berbeda warna saja.

Panel dasbor yang juga mirip Cortez, tetapi dengan kombinasi warna berbeda. Lebih menonjolkan kesan futuristis dan lebih classy.

Sayangnya untuk urusan ergonomi kabin, Wuling yang satu ini juga tetap tidak diberi fasilitas telescopic steering. Bahkan untuk tilt nya saja nggak bisa ke bawah banget alias terbatas. Akhirnya seating positionnya jadi terasa kurang mantep. Meski harus diakui joknya lumayan nyaman.

Belum lagi peletakan tombol – tombol yang gak intuitif blas. Mau matiin kontrol traksi? Melongok ke sebelah kanan setir : nggak ada. Pikir saya “ah masa Wuling gak punya kontrol traksi sih?”, dicari – cari ketemu ternyata DI BAWAH VENTILASI AC PENUMPANG. HHHH… Lupa kalo ini format setir kanan kali ya ? Masalahnya, di bawah ventilasi AC driver justru ada tombol hazard. Lha piye toh… Mau pake mode manual mesti oper dari posisi D gak bisa dari posisi S, yang agak aneh sebenernya.

Sepertinya Wuling lupa kalau ini format setir kanan…

Untuk urusan ergonomi baris kedua mobil ini LUAS PARAH. Kaki selonjoran bisa enak sekali padahal posisi nyetir belum saya ubah – ubah. Kursi baris kedua juga rebahnya pas yang sayangnya tidak diberi fitur recline. Tetapi ya rebahnya udah pas kok. Ini berkat wheelbase yang panjang tadi sehingga memberikan ruang lebih besar pada baris kedua. Plus, ia juga nggak punya baris ketiga, jadi lebih luas.

Yep, ini kayaknya dua jengkal juga bisa.

Bagasi yang luasnya standar aja – tapi soal aksesibilitas bagasi ini yang jadi tanda tanya. Lantainya model mendhelep dan bibirnya lumayan tinggi, jadi masuk-masukin barang berat resiko lecet. Bagasinya juga BUERAT. Nutupnya mesti pake tenaga dan kalo nggak biasa tangan bisa kecepit (yep, jari sempat kecepit tadi waktu nutup bagasi).

Bagasi yang sebenernya nggak luas-luas amat dan pintunya teramat sangat berat.

Driving & Teknis: Errrr…..

Wuling pamer bahwa mereka merancang mobil ini dengan serius, mesin yang katanya Aviation-grade (gak tau korelasinya apa), Turbo buatan Honeywell (yang lain juga pake buatan Garett, Mitsubishi, dll), CVT rakitan Bosch Holland (selucu BMW bilang girboks nya buatan ZF atau Toyota buatan Aisin). Tapi ya okelah, mungkin upaya branding bahwa mereka pake supplier yang gak main-main. Atau gak mau dikira sama kayak DFSK mesinnya. Karena sama-sama bikinan Tiongkok, mana tau yang gak ngerti ngirain sama.

Mesin 1.5 Liter Turbocharged Wuling Almaz – lupa ngambil gambarnya, ijin nyatut.

https://www.viva.co.id/otomotif/mobil/1112734-banyak-fitur-canggih-di-suv-wuling-almaz )

Figurnya ? 140PS @ 5200 RPM / 250Nm @ 1600-3600 RPM. Jika dibandingkan dengan sesama mesin 1.4 – 1.5 Turbo lain :

Chevrolet Trax 1.4 Turbo : 140 PS @ 4900 – 6000 RPM / 200 Nm @ 1850 – 4900 RPM

Volkswagen Tiguan 1.4 TSI : 150PS @ 6000 RPM / 250 Nm @ 1500 – 3000 RPM.

DFSK Glory 580 1.5 Turbo : 150 PS @ 6000 RPM / 220 Nm @ 1800 – 4000 RPM.

Honda CR-V 1.5 Turbo : 190 PS @ 5500 RPM / 240 Nm @ 2000 – 5000 RPM.

Sebenarnya bukan figur yang buruk karena agak mirip dengan VW Tiguan utamanya soal torsi. Tetapi kesan yang didapatkan ? Nope. Jauh. Ini sekali lagi bukan faktor CVT atau DSG, nyatanya CR-V pun tetap terasa kencang meski bertransmisi CVT.

Mobil ini punya respon gas yang cukup baik, bahkan tarikan awal tidak terasa begitu berat seperti halnya Glory 580. Tapi sayangnya turbo lag yang dirasakan cukup signifikan, ada feel “kosong” saat kita nginjek gas tapi belum masuk ke range kerja turbo.

Saat sudah masuk ke range kerja turbo, jujur saja enggak ada rasa “jambakan” khas mobil berturbo yang padat. Entah karena mobil ini masih masa break-in atau gimana, tapi Civic saya waktu break-in gak gini-gini amat. Lewat dari 4000 RPM mobil ini mulai kehabisan nafas. Lha, padahal Glory 580 saya rasa udah cukup lambat, ternyata ini lebih lambat lagi kickdown nya.

Bahkan waktu jalan RPM “nanggung” sekitar 2000 – 3000, transmisi akan maksa “virtual gear” untuk “pindah” ke rasio berikutnya. RPM drop, dan masuk ke rentang turbo lag lagi. Memberi kesan bahwa mobil ini tarikannya berat. Jujur untuk urusan nafas, DFSK Glory 580 masih lebih enak. Glory masih ada rasa “jambak” nya dan transmisinya lebih cerdas. Jangan sebut Tiguan, CR-V, atau Trax. Jauh. Dibanding HR-V 1.8 aja masih lebih jambak HR-V 1.8. Sesuai namanya Wuling Malaz… eh Almaz.

Sewaktu kita kickdown, transmisi juga bisa virtual shifting – menghindari dengungan-tak-terbatas-dan-melampauinya khas CVT, tapi sayangnya, virtual shifting RPMnya cuma turun dikit (500 RPM) dan kepentok lagi di redline. Yang sebenernya bukan rentang powerband. Lah, percuma dong. Di bawah turbo lag, di atas asma. Ini mobil diesel apa mobil bensin sih?

Belum ketika ngerem CVT nya beberapa saat langsung menurunkan rasio kayak mobil turun dari gigi 4 ke gigi 1 : kasar dan kurang nyaman.

OK, lalu apakah poin positif dari mobil ini ? Saya rasa (lagi-lagi) di kenyamanan. Yep. Body Almaz ini lebih composed dari mobil – mobil Tiongkok yang pernah saya rasakan sebelumnya. Suspensi juga ada rasa-rasa hampir seperti CR-V Turbo. Redamannya pas, nggak terlalu empuk seperti Glory 580 dan Cortez. Kaki-kakinya juga ada kesan kokoh, nggak fragile. Apa faktor masih baru ? Ya nggak tau juga. Mungkin juga ada faktor ban yang digunakan : Continental ContiPremiumContact! Gila! Mobil buatan Tiongkok tapi ban dikasih Conti.

Setir ringan bahkan terlalu ringan, handling ya ada bodyroll tapi secara keseluruhan lebih baik dari Glory 580. Kekedapan kabin lebih baik dari CR-V. Cukup juara senyap nya mobil ini.

Conclusion : Model Flagship, Identitas Brand Wuling ?

Meski dari segi pengendaraan Almaz termasuk kurang impresif bahkan sangat banyak kekurangannya, tapi segala improvement yang diberikan Wuling terhadap mobil ini patut diacungi jempol.

Satu hal yang bikin saya pusing mau mengkritik mobil ini terlalu keras adalah : harganya. Kalau saja harganya 400 juta, mungkin akan saya kritik keras. Tapi mobil ini harganya walaupun belum resmi – menurut salesperson ada di angka 320 juta-an. Setara dengan Honda HR-V 1.5 E.

Bahkan saya sempat pakai guyonan : mobil ini rasanya kayak CR-V dikasih mesin HR-V 1.8, tapi harganya HR-V 1.5. Susah mau bilang ini mobil jelek, ha wong murah meriah.

Bagi saya Almaz merupakan bagaimana Wuling mendefinisikan arah brand mereka ke depannya. Belum lagi dikabarkan nantinya Cortez akan mendapat update mesin 1.5 Liter Turbo dan kelengkapan setara Almaz, membuat produk – produk sebelumnya seakan adalah upaya “test the water” yang dilakukan Wuling sebelum akhirnya all-out.

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *