ATPM Jualan Mobil “Overprice” ? – Mengenal Komponen Harga Mobil

Di jagat internet, sebuah mobil sering sekali memicu perdebatan ketika sudah ngomongin harga versus kelengkapan. Memang ini hal yang wajar mengingat setiap kita beli barang – pasti liat dengan harga sekian dapet apa saja? Yep, apalagi populernya review mobil bersifat in-depth tour, kita jadi semakin mudah membandingkan kelengkapan mobil tanpa harus ke showroom.

Masalahnya, kadang perdebatan ini “terkesan” hanya mengupas soal permukaan saja. Ibarat ngupas pisang, ya baru ngebuka kulitnya dikit. Belum sampe ke dagingnya. Fiturnya apa saja, bahan interiornya gimana, rasa nyetirnya gimana. Itupun soal yang terakhir, mohon maaf, kebanyakan “komentator” ini tidak pernah nyetir mobil selain mobilnya sendiri, lebih parahnya kadang masih di bawah umur dan belum pernah nyetir. Jadi praktis cuma menilai mobilnya dapet fitur apa saja.

Padahal yang namanya mobil, ya jelas bukan mobil thok. Ada banyak komponen pendukungnya di luar mobil itu sendiri.

So, mari kita kupas sebenernya gimana sih kok bisa keluar angka sekian di price list itu ? Apakah bener pabrikan menjual mobilnya “overprice” alias kemahalan ?

BIKIN MOBILNYA DARI NOL, BAYAR INSINYUR GAK MURAH BOSS!

Perlu diingat bahwa sebenarnya dunia otomotif – ya nggak beda sama dagang. Intinya kita menjual sesuatu. Dan namanya jualan pasti cari untung. Perusahaan otomotif itu bukan badan amal atau organisasi nonprofit bos.

Caranya jualan supaya laku ? Yap, harus ada perencanaan barang yang mau dijual apa dan seperti apa. Di setiap kantor ATPM itu selalu ada divisi product planning. Merencanakan mobil seperti apa yang akan mereka jual atau masukkan. Apakah ini sesimpel menentukan fitur dan tipe yang masuk ? Tentu tidak sesederhana itu, ferguso.

Jualan mobil dengan skala internasional, itu permasalahan yang ribet. Kondisi sosial-ekonomi-geografis di sebuah negara itu bisa berbeda-beda, karakter konsumen berbeda, belum regulasi khusus di beberapa market.

Makanya muncullah beberapa produk yang memang “khusus” diciptakan untuk pasar negara tertentu. Kijang, Avanza, yep. Deretan mobil terlaris di Indonesia, ya karena mobil itu KHUSUS diciptakan untuk Indonesia dan negara berkembang lain. Yup, ada mobil – mobil yang dipersiapkan untuk pasar global, tapi tentu nggak semua model itu masuk ke selera masyarakat setempat dan mungkin dinilai secara ekonomi kurang menguntungkan.

Maruti Swift Dzire, Swift versi sedan yang lahir juga karena market India

https://www.zigwheels.com/newcars/Maruti-Suzuki/Swift-Dzire

Honda Civic generasi 8 versi Amerika, kalau di Indonesia ini Civic FD. Bahkan urusan tampang aja sampai harus “disesuaikan”.

Dalam mengembangkan mobil juga ada tahap Research and Development, bagian ini biasanya yang paling makan waktu dan uang perusahaan. Jadi yang nggampangin, tolong, mendesain mobil dari nol puthul itu SUSAH dan BIAYANYA BESAR. Ngetesnya bisa ratusan ribu sampe jutaan kilometer dengan berbagai kondisi dan tentu saja prototype mobil juga itungannya kadang nggak cuma satu dua aja, belasan atau puluhan atau bahkan ratusan. Makanya sekarang platform sharing itu sangat membantu dari sisi ekonomi karena tidak perlu mendesain benar – benar dari nol.

Termasuk kelengkapan yang masuk ? Jelas. Dan perlu diingat meski kita mendambakan mobil dengan kelengkapan mutakhir tapi kalau infrastruktur dan human resource a.k.a montir nya nggak siap terus tiba-tiba error di tengah jalan, situ mau benerin sendiri?

Terkadang ada juga kelengkapan yang memang dirasa nggak terlalu penting dan nggak signifikan tapi signifikan di cost, yang akhirnya dikurangi karena secara itung-itungan nggak akan meningkatkan atau mengurangi penjualan juga. Apalagi kalo mobil yang sudah lama beredar dan ganti generasi – kebanyakan sudah punya loyal customer, gak perlu terlalu banyak fitur yang penting maintaining customer untuk terus punya alasan beli mobil itu.

Tahap Produksi Massal yang JELAS NGGAK MURAH.

Setelah prototype sudah sempurna dan siap dipasarkan, tentu saja tahap berikutnya adalah perakitan.

Dan untuk merakit sebuah mobil tentu saja memerlukan pabrik. Dan perlu diingat bahwa pabrik ini bukan satu untuk semua negara, nggak akan cukup memenuhi permintaan pastinya. Pabrik mobil dibangun di banyak sekali tempat, dan pertimbangannya juga banyak : lokasi, kondisi sosial-ekonomi-geografis, potensi pasar, cost pekerja, dll.

Ilustrasi : pabrik Ford

Pabrik mobil pun sebenarnya tidak semuanya 100% membuat komponennya sendiri. Banyak pabrik yang hanya bersifat perakitan saja, sedangkan bahan baku dan komponen – komponennya sudah dalam kondisi siap dipasang. Utamanya, kalau mobil yang dijual semuanya model global. Sedangkan jika ada model lokalnya, tentu saja ada banyak yang menggunakan skema full-manufacturing. Di Indonesia, pabrik Astra Daihatsu adalah salah satunya karena kebanyakan model yang dijual adalah model lokal dan LCGC yang mensyaratkan lebih dari 80% konten lokal.

Mobil LCGC merupakan mobil yang disyaratkan memiliki konten lokal lebih dari 80%

https://ekonomi.kompas.com/read/2015/05/07/191351326/Industri.Otomotif.Akui.Masih.Sulit.Capai.Local.Content.100.Persen

Makanya kalaupun ada mobil yang ubah status dari CBU (Completely Built Up, Impor Utuh) ke CKD atau SKD, belum pasti harganya akan selisih banyak. Bisa jadi skema CBU lebih murah terutama jika ada perjanjian dagang khusus antar-negara. Karena fasilitas perakitan juga memerlukan biaya yang tak sedikit. Makanya, untuk model yang kurang menjadi “andalan” di suatu pasar, umumnya berstatus CBU dan stoknya jelas terbatas.

Government : Regulasi Dagang, Pajak, Perjanjian Kerjasama

Mengenai regulasi dagang yang bisa berbeda tiap negara, tentu membuat komponen harga menjadi semakin rumit. Biasanya regulasi dagang adalah mengenai penetapan pajak dan perjanjian kerjasama dagang antar-negara sehingga bea masuk komponen maupun utuhnya menjadi lebih ringan. Tetapi mengenai hal inipun juga regulasinya akan bisa berubah – ubah tergantung kebijakan pemerintah setempat.

Di Indonesia sendiri, mobil ramah lingkungan seperti Hybrid diberi pajak ganda karena dihitung memiliki dua penggerak (mesin dan motor listrik), mobil dobel gardan (4×4) juga mendapat pajak ganda. Ada juga aturan mobil di atas 3.000cc untuk bensin dan 2.500cc untuk diesel dibebani PPnBM lebih tinggi. Sebaliknya, ada di beberapa negara justru pajaknya berdasarkan emisi dan ukuran mobil seperti di Jepang.

Kei-car, mobil yang dibuat khusus karena regulasi insentif pajak di Jepang berdasarkan ukuran.

https://www.thetruthaboutcars.com/tag/honda-s660/

Perjanjian berbagi-teknologi (tech sharing) juga diterapkan di beberapa negara industri baru seperti Tiongkok dan Malaysia. Tiongkok sendiri memiliki regulasi industri yang cukup unik, bahwa setiap pabrikan mobil di sana bermitra dengan perusahaan lokal dalam merakit dan memasarkan produk.

Selain itu, regulasi Tiongkok sendiri lah juga yang memungkinkan hal – hal seperti ini terjadi :

Tiongkok yang begitu ahli dalam “meniru” desain mobil secara terang-terangan dan tidak pernah kejadian di-“sue” karena pemerintahnya sangat melindungi industri lokal.

Ini juga bikin Tiongkok tak perlu melakukan riset panjang seperti pabrikan yang sudah ada. Beberapa produk Tiongkok terkesan “mirip” meski tidak 100%, mereka sangat ahli melakukan “Reverse engineering“. Fakta ini membuat mobil Tiongkok bisa memiliki harga di bawah kompetitor dengan kelengkapan mirip. Nggak cuma mobil sih, gadget pun begitu.

Merek Tiongkok yang punya kelengkapan segudang dengan harga murah meriah dan sedang naik daun : Wuling

Pajak impor pun juga berbeda – beda antar negara. Ini yang terjadi dengan merek Korea. Salah satu yang memberatkan jualannya mobil Korea di Indonesia adalah karena pajak impor yang tinggi, dan malangnya jarang mobil Korea dirakit secara lokal (CKD atau SKD). Sedangkan pabrikan Jepang sendiri kalaupun impor ya dari negara tetangga saja, Thailand atau Malaysia misalnya. Karena ada fasilitas perakitannya di sana.

Merek Korea di Indonesia memiliki harga yang kurang kompetitif akibat regulasi pajak.

ATPM dan Dealer = TOKO! BUKAN NONPROFIT ORGANIZATION ATAU BADAN AMAL.

Dealer mobil sebenarnya tidak beda dengan anda punya toko lalu jual barang di sana dengan keuntungan sekian. Sekali lagi, dealer mobil bukan organisasi non-profit. Mereka harus untung. Nah, disini bagian paling peliknya. Yang nggak ngerti dunia bisnis mah gampang aja mengutuki dealer jual mobil kemahalan. Karena kalau kita mau berhitung, sebenarnya margin dealer dari jualan mobilnya sendiri itu sangat sedikit. Biaya operasionalnya tinggi.

Ilustrasi : Salah satu dealer Honda terbesar di Indonesia : Honda Nusantara Tebet

https://www.beritasatu.com/oto/503539-hpm-resmikan-dealer-mobil-honda-terbesar-di-indonesia.html

Seberapa sedikit ? Ya kalau pernah denger komisi sales mobil kalo jual 1 unit di merek non-premium, kebayang kan seberapa kecil margin dealer ? Belum sales mobil sebulan belum tentu dapet 1 di merek yang kurang laku. Kalo di merek yang laku, ya sukur-sukur sebulan DO 3-5 unit 1 orang.

Kabar buruknya bagi dealer, SALES ITU MANUSIA BUKAN ROBOT, jadi tetep mesti digaji meski nggak jualan. Makanya buat beberapa dealer ada aturan maksimal sekian bulan kalo nggak bisa jual 1 unit pun ya bisa didepak. Itu baru salesnya ya, belum spv nya, marketing manager nya, dll. Belum biaya bayar agensi iklan buat syuting video promosi (yang kadang pake artis ternama YANG JELAS GAK MURAH), bikin poster iklan, ngiklan di baliho gede di jalan raya, koran satu lembar penuh yang bisa jutaan, iklan TV yang nggak murah walau cuma tayang 1 menit apalagi di prime time (yang sekarang jarang karena ada youtube), jemput bola konsumen dengan pameran disana-sini. Marketing sendiri sudah habis biaya sangat banyak.

Pameran merupakan salah satu upaya menggaet konsumen, terutama pameran besar seperti GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show)

Dan atas nama persaingan, terkadang perang harga dan bonus pun tidak terelakkan. Bahkan dalam 1 merek. Loh kok bisa, bukannya OTR nya sama ? Mainnya dimana ? Ya antara situ terlalu naif untuk tidak nawar diskon dan bonus atau situ terlalu dermawan orangnya. Karena nggak usah kita nawar diskon pun kadang sales pun “perang diskon” sendiri ke pelanggan. Sudah susah jualan 1 unit, persaingan pun ketat. Kebayang betapa pusingnya ATPM dan dealer muter otak untuk dapet untung.

“Senjata” utama dealer untuk dapet untung adalah dari parts dan service. Karena divisi ini adalah divisi yang tidak pernah sepi. Di merek yang sudah cukup terkenal, untuk bisa dapet antrian awal aja mesti dateng sebelum service advisor nya dateng. Dan tau sendiri harga servis dan parts di dealer itu naudzubillah mahalnya. Tapi ya gimana, kita pelanggan juga ogah repot kan kalo mesti cari bengkel sendiri dan cari part sendiri ?

Loh, tapi sekarang servis kan banyak free nya ?

Lah iya, free itu mah judulnya aja. Kalo masih percaya servis mobil free itu “ikhlas” dari dealer mobilnya sih itung-itungan kalian nggak jalan berarti.

Gratis biaya jasa, tapi mekanik tetep digaji, listrik dan peralatan tetep bayar.

https://www.datsun.co.id/after-sales/biaya-perawatan/datsun-go-dan-go-plus.html

Dengan sedemikian peralatan mutakhir yang makan listrik gede, mekanik yang bisa puluhan jumlahnya, YA YANG BENER AJA KALO SEGITU BANYAK GRATISAN, SULTAN KALI YANG PUNYA DEALER.

Mau tau situ “bayar” bengkel nya kapan ? You guessed it. Waktu beli mobilnya. Yes. Mobil sekarang mahal ? Iya mahal, wong yang judulnya gratis gratis gratis itu makin banyak. Belum lagi, ATPM juga punya itungan sendiri dengan “garansi”. Iya partnya gratis, tapi mereka pasti udah punya itungan part apa dan berapa banyak kemungkinan part itu rusak. Belum makin larisnya jualan extended warranty dan paket servis.

Program “Paket Cermat” Honda yang mengcover seluruh biaya selama masa kepemilikan tertentu

https://fjb.kaskus.co.id/product/55b36b1ce05227e9338b456b/paket-cermat-honda/

DFSK, pabrikan Tiongkok pemain baru yang cukup “berani” dengan garansi 7 tahun

Meski terdengar “curang”, tapi sebenarnya hal-hal seperti ini nggak seburuk itu. Dengan “bayar servis” di awal, konsumen sebenarnya “agak diuntungkan” dengan nggak kena dampak kenaikan harga parts dan jasa nya. Dan enaknya apa-apa kita dibikin gampang tinggal drop mobil ke dealer ngikutin jadwal servis. Kadang bahkan nggak perlu drop, minta dijemput di rumah dan dianter pulang mobilnya juga bisa kalau kita terlalu repot.

Merek Eropa jelas paling getol dengan praktek ini : BMW misalnya. Kita selama 3 atau 5 taun ownership nya dibebaskan dari segala jenis biaya yang merepotkan dari servis sampai towing kalo mobilnya ngambek di tol minta digendong. Gratis-tis-tis. Makanya merek Eropa rata-rata mahalnya ampun meski cuma entry level. Lah iya servis mobil jangan disamain ama badan amal dong, itumah tetep bayar tapi bayar di muka. Apalagi merek Eropa yang jualan unitnya gak se-kacang goreng Avanza. Makanya selagi mobil masih baru kalau nggak pernah ke dealer resmi sih, kita yang rugi.

BMW Service Inclusive merupakan program dari BMW yang membebaskan biaya servis selama periode kepemilikan tertentu

https://www.servinkalamatas.gr/en/bmw-service-center

Jadi setiap beli mobil, jangan lupa DILIAT PROGRAM SERVIS DAN PACKAGE KESELURUHAN, jangan cuma buta sama fitur. Fitur terkadang cuma pemanis mata saja, nggak menjelaskan itung-itungan bisnis di baliknya.

Oh ya, jangan lupa kita beli mobil juga rata-rata harga yang tercantum di pricelist adalah harga OTR alias on-the road. Harga OTR adalah harga sampai mobilnya bener-bener “legal” di jalan raya a.k.a balik nama atas nama pelanggan (BBN), sekitar 10-15% tergantung daerahnya. Beli off the road a.k.a kosongan ? Bisa, tapi untuk keperluan tertentu seperti lembaga pemerintahan khusus atau penelitian di kampus – kampus misalnya.

Ngomong soal daerah, ini kita belum ngomong ongkos transport kirim mobil dari pabrik ke dealernya ya. Karena itu yang bikin harga di Jakarta dan Medan bisa beda jauh.

Kesimpulan : Nggak Sesederhana Liat Harga berbanding Fitur

Tentu saja, pendekatan pragmatis kita waktu beli mobil adalah ngeliat harga berbanding barangnya yang didapat. Tapi ya namanya pendekatan pragmatis, tentu nggak ada orang se-nganggur dan se-niat saya yang “iseng” mau itung-itungan dari bikin mobil sampai ke konsumennya. Tapi fakta objektifnya ? Ya, seperti yang sudah saya jabarkan.

Setiap merek punya policy berbeda – beda mengenai harga. Ada yang memang mahal di pajak karena impor utuh, ada yang mungkin rakitan lokal tapi mahal di program servis yang membebaskan semua biaya selama periode kepemilikan tertentu.

Di lingkungan bisnis yang memungkinkan kapitalisasi pasar, segala hal mungkin saja terjadi. Beli mobil tidak hanya beli produknya lepasan, tapi  juga beli keseluruhan layanannya.

Ya mosok mau dapet kemudahannya tapi gak mau bayarnya ?

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *