Geliat Nissan di 2019 : Terbangun dari Tidur Panjang

Indonesia merupakan pasar yang sangat renyah untuk merek mobil Jepang. Sebut saja nama – nama mobil terlaris di Indonesia, dua puluh besar baik penumpang maupun komersil masih didominasi merek Jepang. Meskipun sekarang Tiongkok mulai menggeliat dengan Wuling.

Sayang, “renyah” nya pasar Indonesia belakangan ini tidak terlalu dirasakan oleh Nissan. Bahkan cenderung terpuruk, didepak oleh Wuling dari posisi 10 besar merek terlaris. Yang secara rasio, jelas enggak sehat : Wuling merangsek dengan hanya 2 produk saja saat itu : Confero dan Cortez, sedangkan Nissan punya lini produk yang sangat banyak dari harga 100 juta-an sampai 1 Miliar pun ada. Sebut saja beberapa produk best-seller seperti March, Juke, Livina, X-Trail, Serena, dll. Bahkan sempat saya buat artikel khusus membahas suramnya nasib Nissan di Indonesia, khususnya di 2 tahun belakangan. Karena di 2016 masih lumayan ada hype nya X-Trail dan CR-V sang kompetitor terdekat masih belum berubah model. Plus, ya, Wuling belum ada sih.

Seakan mati suri di 2017 sampai 2018, di tahun 2019 Nissan seakan sudah terbangun dari tidur panjang dan jajaran produk yang perlu disegarkan. Meski ya akhir tahun 2018 sebenarnya sudah bergerak kembali dengan Terra, tapi nampaknya belum cukup. Di Indonesia cara ter-ampuh untuk masuk ke pasar adalah : memperkenalkan produk MPV.

Dan itu dilakukan Nissan. Serentak mengeluarkan produk MPV terbarunya : Nissan Serena generasi terbaru (C27) dan produk yang akan menjadi backbone Nissan berikutnya : Livina.

Peluncuran Serena C27 dan All New Livina di Indonesia 

https://www.carmudi.com.ph/journal/nissan-launches-all-new-nissan-livina-nissan-serena-in-indonesia/ )

Livina yang Sempat Terlupakan

Livina adalah sebuah produk penantang yang muncul pertama kali di 2007. Di zaman itu, tak ada kompetisi berarti di pasar MPV kompak. Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia ? Saat itu belum pantas dibilang rival-nya Livina. Selisih harganya cukup jauh, secara kualitas apalagi. Livina saat itu digadang – gadang sebagai “Innova killer”, bahkan ia memiliki dua varian mesin : 1.5Liter dan 1.8 Liter untuk bersaing dengan Innova bensin yang 2.000cc, yang sayangnya gagal total. Ia tidak punya kualitas yang membuat sebuah Kijang diminati orang : durability. Sebaliknya, Livina malah terkenal kurang tahan banting soal kaki – kakinya. Belum kabin Livina yang cenderung lebih sempit juga, meski soal bantingan suspensi ia jelas juara di zaman itu.

Nissan Grand Livina saat pertama diperkenalkan.

 https://paultan.org/2007/04/08/nissan-grand-livina-to-arrive-in-2nd-half-2007/

Kepopulerannya semakin tergerus sejak mulai ramainya pasar MPV kompak. Suzuki mengeluarkan Ertiga di 2012, Honda mengeluarkan Mobilio di 2014, dan belum ngomong Avanza – Xenia yang terus berbenah dengan model dan teknologi yang makin fresh. Meski tahun 2013 sempat mengeluarkan model All-new Grand Livina dengan mesin yang cukup mutakhir teknologinya dan juga bertransmisi CVT, tetap saja pamornya kalah. Modelnya tidak terlihat segar karena hanya seperti Livina lama yang ganti lampu saja. Ditambah kemunculan Xpander dan Wuling Confero di 2017, Livina jelas makin terlupakan. Sampai ia diobral dengan diskon yang cukup fantastis untuk kelas mobil 200 juta-an.

Grand Livina Special Version, edisi terakhir sebelum berganti model.

https://otomotif.tempo.co/read/1068504/nissan-grand-livina-special-version-diluncurkan-simak-ubahannya/full&view=ok

Geliat pasar MPV kompak yang makin riuh, apalagi di tahun 2019 ini semua pabrikan seakan menyegarkan kembali produk – produknya : All New Avanza/Xenia yang mukanya nggak kalah kalo dijejerin sama Vellfire, Suzuki Ertiga dan Honda Mobilio yang melakukan minor improvement, dan masih menjadi MVP nya pasar MPV kompak : Mitsubishi Xpander, mobil pansos sejuta umat yang juga makin laris.

Toyota Avanza / Daihatsu Xenia 2019

Suzuki All New Ertiga Improvement 2019

Honda Mobilio minor change 2019

Keputusan Bisnis yang Baik?

Tak mau menyia – nyiakan kesepakatan aliansinya dengan Mitsubishi, Nissan Indonesia pun akhirnya kembali bersaing di pasar MPV kompak. Meski gosip Livina terbaru berbagi basis dengan Xpander sudah dari sejak kemunculan Xpander di 2017, tahun 2019 akhirnya diluncurkan juga Livina terbaru yang layaknya Avanza-Xenia, Livina-Xpander pun menjadi produk kembar yang siap bersaing.

Mitsubishi Xpander

Banyak yang menyambut hangat, banyak yang menyayangkan juga karena mobil ini secara teknis benar – benar 100% Xpander, hanya perbedaan di ciri exterior seperti bagian depan dan belakang yang lebih bercirikan Nissan daripada Mitsubishi. Tidak menyisakan sedikitpun ciri wajah Dynamic Shield nya Mitsubishi.

Siluet kemunculan Livina dan Serena yang menonjolkan V-Motion shape di wajah

https://www.otosia.com/berita/resmi-mengaspal-besok-all-new-nissan-livina-ditemani-serena.html )

Muka depan yang tidak memiliki ciri Dynamic Shield Mitsubishi

 ( https://otodriver.com/article/view/galeri-nissan-all-new-livina-2019-24-foto/y-72q9ArGeL38n-C9THKonbOlTk41eQV97-bifzKSOE )

model bagasi dan lampu belakang yang juga lebih bercirikan Nissan

https://otodriver.com/article/view/galeri-nissan-all-new-livina-2019-24-foto/y-72q9ArGeL38n-C9THKonbOlTk41eQV97-bifzKSOE )

Sisanya, mesin transmisi interior nyaris 100% sama plek. Bahkan mesin yang sejujurnya justru speknya lebih jadul daripada mesin HR15DE di Livina lama. 4A91 hanya menganut single VVT (MIVEC) sedangkan HR15DE sudah Dual CVTC dan Dual Injector dan tenaganya pun turun 5hp dari 109 jadi 104. Transmisi yang juga “downgrade” dari CVT ke 4-speed. Yup, karena mesin 4A91 sejatinya adalah mesin yang sudah ada dari 2003 di Mitsubishi Colt (Colt hatchback, bukan Colt T120SS apalagi Colt Diesel…)

Mitsubishi Colt yang ini, bukan pick-up

https://id.priceprice.com/Mitsubishi-Colt-8049/ )

Tetapi yah apapun itu, segmen konsumen di kelas ini tak terlalu peduli juga. Dan mengambil basis Xpander merupakan keputusan bisnis yang tepat.

Pertama, ini sangat efektif di cost dan time dimana Nissan tak perlu lagi mendesain ulang seluruh sistem yang akan makan waktu dan biaya. Tentu saja dengan prestasi penjualan yang terpuruk, Nissan jelas kesulitan mengembangkan platform baru khusus untuk pasar Indonesia. Jikalau sudah ada yang punya formula tepat untuk setidaknya bersaing dengan Avanza, ngapain harus bikin baru? Ya toh? Apalagi saudara satu aliansi sendiri.

Kedua, ketersediaan parts dan perawatan. Sudah jelas, apalagi mengingat Xpander adalah produk best-seller, ketersediaan suku cadang baik ori maupun KW – merek non OEM jelas pasti sangat banyak.

Ketiga, respon positif masyarakat terhadap Xpander, yang artinya membuat orang juga tidak ragu untuk membeli kembarannya. Artinya Livina dengan “ndompleng” ketenaran Xpander justru sudah setengah jalan dan tinggal banyak – banyakan promo dan bersaing harga.

Eh, tapi dulu Mazda juga mendompleng ketenaran Ertiga dan nggak sukses ?

Secara logika, tidak ada orang masuk ke dealer Mazda lalu mencari sebuah mobil MPV murah. Itu kasus yang berbeda. Citra merek sangat berpengaruh di sini. Mazda sudah terlanjur mem-branding dirinya sebagai mobil “premium“, itu yang membuatnya tidak sukses dalam melakukan badge engineering pada Ertiga.

Mazda VX-1, “kembaran” Ertiga yang tidak sukses

( http://mazdabdg323.blogspot.com/2016/05/mazda-vx-1.html )

Kadang kasus badge engineering itu tak selalu sukses, dan di kasus Mazda, adalah murni VX-1 yang tidak sesuai dengan karakter konsumen mereknya. Mungkin itulah yang juga membuat Mazda sekarang jual dengan harga relatif mahal 20-30 juta dari kompetitor dan menghapus semua lini MPV (Mazda VX-1, Mazda8, Mazda Biante), karena tipikal pembeli Mazda memang bukan penggemar mobil keluarga kotak dan membosankan.

Sedangkan Suzuki, ya memang orang beli merek Suzuki karena imej Suzuki itu mobil “murah” – nggak peduli meski ada lineup nya yang partnya nggak murah-murah amat, malah jauh lebih mahal di atas kompetitor, tapi citra yang dibentuk sudah “murah”. Ini juga yang membuat APV laku dan Maven enggak : Suzuki terkenal sebagai brand yang lebih “merakyat”. Mitsubishi (passenger) dan Mazda cenderung premium.

 

Mitsubishi Maven, kembaran APV yang juga tidak sukses 

https://www.otomaniac.com/harga-mitsubishi-maven/ )

Dan jujur aja, Nissan menggunakan brandname yang sudah dikenal : Livina. Itu bisa mengerek pamor seperti halnya Toyota yang kekeuh tidak mau melepas nama Kijang dari Innova. Ya karena nama – nama itu sudah familier dan orang sudah “ngeh“.

Bagaimana dengan Livina-Xpander ? 

Pertama, kedua merek ini unik, Tidak ada yang di atas maupun di bawah seperti Toyota-Daihatsu. Daihatsu cenderung seperti produk “second-tier”, bahkan di kalangan pengguna Avanza-Xenia ada yang bilang enakan naik Avanza daripada Xenia, which is 99% sugesti. 1% nya situ apes dapet unit yang memang jelek. Sugesti aja karena beli Toyota lebih mahal daripada Daihatsu. Lah, lebih enak Avanza piye toh, orang brojol di pabrik Astra Daihatsu semua.

Nissan-Mitsubishi, keduanya bisa dibilang merek “papan atas”, bahkan tidak ada yang memiliki satu sama lain karena status nya adalah “Alliance”. Di atas mereka ada Renault yang memiliki mayoritas saham, itupun tetap berstatus “Alliance”.

Logo Renault Nissan Mitsubishi Alliance 

https://en.wikipedia.org/wiki/Renault%E2%80%93Nissan%E2%80%93Mitsubishi_Alliance )

Xpander-Livina akan cenderung lebih ke saling melengkapi layaknya Alphard dan Vellfire. Produk kembar yang murni hanya selera orang yang menentukan. Ibaratnya, kalau ada orang lebih suka mukanya Livina, ya belinya Livina, dan sebaliknya. Alphard dan Vellfire kan begitu, meski keduanya satu merek. Ini enggak. Karena price positioning dan kelengkapan keduanya pun hampir-hampir mirip saja. Nggak ada beda signifikan.

SUV Kompak ?

Selain Livina, Serena, dan Terra, beberapa hari yang lalu sempat beredar spyshot pengetesan tanpa kamuflase sebuah produk SUV kompak Nissan :

Spy Shot SUV terbaru Nissan : Qashqai.

https://otodriver.com/article/view/nissan-qashqai-kepergok-uji-jalan-di-surabaya/GVsjhOw0PMdDfN15yy2-JxSeGBW_nU0ZrUvUtVoahNs )

Nissan sendiri sudah memiliki SUV kompak / crossover Juke, jadi kemungkinan mobil ini akan menggantikan posisi Juke – mengingat Juke sendiri juga tidak lagi dilanjutkan. Jikalau iya, jelas Qashqai lebih realistis dibanding Juke. Apalagi bersaing dengan pemain besar seperti Honda HR-V. Dan pasar SUV kompak memang menjadi menjadi pasar “hot” kedua setelah MPV kompak.

Nissan Juke 

https://www.leithcars.com/2017-nissan-juke-raleigh.html )

Nissan Qashqai 

https://www.express.co.uk/life-style/cars/817580/Nissan-Qashqai-2017-for-sale-UK-price-specs )

Mungkinkah Qashqai akan diluncurkan bersamaan (lagi) dengan X-Trail Facelift ?

Nissan X-Trail Facelift yang sudah diperkenalkan di Thailand dan Malaysia

https://paultan.org/2019/02/08/nissan-x-trail-facelift-launched-in-thailand-added-kit/ )

 

 

 

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *