Mengenal ECU : Bikin Ribet atau Bikin Mudah ?

Sistem injeksi bahan bakar elektronik (EFI – Electronic Fuel Injection) sebenarnya sudah merupakan teknologi lama, tetapi teknologi ini baru mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an di mobil – mobil mewah, dan 1990-an mulai ke mobil yang dianggap “pasaran”. Dan seperti layaknya teknologi, makin kesini, sistemnya makin kompleks dan makin presisi.

Tetapi kadang harus kita akui perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat konsumen umum bisa dibilang “gagap” terhadap teknologi alias gap-tek. Generasi yang sekarang sudah berusia 50 sampai 70 tahun, akan menganggap sistem injeksi elektronik sebagai sesuatu yang ribet dibanding mereka zaman dulu. Dulu saking mobil itu serba manual, berbekal perkakas sederhana saja bisa benerin mobil sendiri, sekarang mesti dikit – dikit ke bengkel.

Tapi benarkah begitu ?

Istilah “ribet” itu hanya sebuah istilah ketika orang belum mengenali teknologinya. Jangankan mobil, smartphone yang – bagi anak muda – tinggal sentuh sana sentuh sini, nyatanya untuk masyarakat “senior” juga masih kerap dianggap ribet. Itu semua faktor kebiasaan saja.

Mungkin saja bagi anak muda sekarang malah akan sangat ribet jika disuruh benerin mobil sendiri. Wong jangankan setting karburator, langkah-langkah ganti ban saja banyak yang tidak bisa. Mungkin nantinya akan ada teknologi yang bisa mengganti ban sendiri cuma pakai sentuhan layar HP.

Lha, teknologi Run Flat Tyre pun sebenarnya juga supaya orang nggak perlu repot ganti ban di tengah jalan kan? Sehingga mobil masih bisa jalan meskipun bannya kecoblos paku.

Ilustrasi Mengganti ban ( https://mycarneedsa.com/blog/changing-a-flat-tyre )

Nyatanya, justru teknologi injeksi elektronik ini membuat segala sesuatunya lebih simpel. Mobil kita hari ini itu begitu pintar, tanpa harus setel-setel karburator dia sudah tau sendiri racikan bahan bakar yang pas dan bisa otomatis mengubah – ubah setelan waktu kita jalan. Pengapian pun bisa dimaju-mundurkan sambil jalan, tidak harus itu putar-putar baut distributor seperti mobil lama.

Bagi yang memiliki mobil atau motor dengan sistem karburator, akan sangat familier dengan proses memutar-mutar baut untuk mengatur campuran bahan bakar.

( http://hondaspree.net/wiki/index.php5/Carburetor_Air/Fuel_Adjustments_-_Spree )

Karena ibaratnya mobil dulu itu nggak punya “otak”, sekarang mereka sudah dibekali “otak” untuk mikir sendiri.

Otak ini bernama ECU – Electronic Control Unit. Sebuah unit processing computer yang canggih dengan segala kompleksitas sistemnya yang menerjemahkan arus – arus listrik untuk menggerakkan semua kebutuhan dari mobil.

Apa sih isinya ECU itu ?

ECU merupakan sebuah perangkat microcontroller yang tersambung ke unit – unit control module dengan berbagai macam fungsi. Modul – modul ini menggerakkan fungsi tertentu seperti pengapian, penggerak, kelistrikan, pendinginan, dll. Seperti komputer, mereka mempunya berbagai macam program di dalamnya. Memproses sekian banyak informasi dalam hitungan detik, bahkan milidetik. Bayangkan betapa canggihnya.

http://aermech.com/wp-content/uploads/2014/08/me-com-ecu-031.jpg

Informasi – informasi ini didapatkan oleh ECU dari sensor – sensor yang tersebar di berbagai komponen. Sensor akan membaca input dan melakukan penyesuaian terus-menerus berdasarkan kondisi mengemudi. Tentu saja bacaan sensor itu semua berdasarkan input yang diberikan pengemudi dari pedal gas, rem, kopling, dan transmisi. Oh ya jangan lupa, termasuk cairan – cairan seperti oli, pendingin, dan bahan bakar. Semua cairan ini juga termasuk “input” yang mempengaruhi kinerja sebuah mobil. Karena itu sudah pasti juga akan terbaca oleh sensor.

Apakah ECU bisa salah membaca ?

Mungkin saja. ECU memiliki banyak sekali parameter yang harus “dipatuhi” supaya mobil bisa bekerja dengan normal. Tetapi karena berdasarkan sinyal, terkadang ECU pun bisa salah menangkap sinyal tersebut.

Contoh paling ekstrimnya, ECU terkadang tidak bisa membedakan antara tabrakan dan hanya lupa menginjak rem waktu melindas polisi tidur. Sehingga, terkadang airbag bisa mengembang meskipun hanya mengenai polisi tidur. ECU hanya menerima informasi sebatas impact sebesar X yang berarti perlu mengembangkan airbag. Terkadang peletakan sensor juga bisa saja menyebabkan kesalahan pembacaan. Misalnya letak sensor airbag terlalu di depan atau terlalu di bawah.

Diagram cara kerja airbag.

https://cecas.clemson.edu/cvel/auto/systems/airbag_deployment.html )

Tetapi tidak perlu kuatir karena kasus salah pembacaan seperti ini sangatlah jarang untuk mobil kondisi baru, normal, 100% bone stock, tidak dimodifikasi, dan melakukan perawatan berkala sesuai standar pabrikan.

Kecuali kalau memang sudah salah desain dari pabrik atau cacat produk. Itupun biasanya diberikan PUD (Product Update) secara berkala.

Malfunction Light dan Limp Mode

Jika memang terjadi kesalahan pembacaan atau bacaan yang tidak normal, apakah pengguna mengetahuinya ? Secara ECU khan membaca ribuan data per detik ?

Untuk itulah di dashboard mobil modern diberi banyak sekali lampu indikator. Idealnya, jika semua fungsi berjalan normal, semua lampu di dashboard akan mati ketika ignition on / mesin menyala. Biasanya malfunction light ini memiliki warna kuning atau merah. Warna kuning antara lain : check engine, ABS, transmisi, stability/traction control, power steering,dll. Sedangkan warna merah untuk kerusakan yang lebih krusial serti SRS Airbag, battery, oil, temperature, dll. Pengecualian tentu saja indikator rem parkir aktif yang juga berwarna merah.

Macam – macam lampu indikator di dashboard

https://driving-school-beckenham.co.uk/dashboard-warning-lights.html )

Yang paling umum adalah check engine light, selanjutnya akan saya singkat CE supaya mudah. Tapi jangan keburu panik dulu jika CE menyala. Karena kerusakan yang mengakibatkan CE menyala ini bisa saja sesuatu yang ringan sekali hingga berat sekali. Ringan sekali misalnya sensor kotor atau basah yang menyebabkan pembacaan abnormal, salah pindah gigi di transmisi manual lalu mengakibatkan over-rev juga bisa menyebabkan CE menyala.

Check Engine Light

https://www.carmudi.com.ph/journal/check-engine-light-telling-deciphering-5-common-causes/ )

Nah, bagaimana kita mengetahui kalau ini sesuatu yang parah atau as simple as bisa kita diemin ? Ada beberapa langkah praktis yang mungkin bisa kita lakukan sendiri tanpa mesti ke bengkel :

  • Pertama, berhenti, matikan mesin, tunggu beberapa menit, nyalakan lagi. Beberapa lampu CE akibat salah pembacaan bisa saja demikian mudahnya hilang saat start ulang.
  • Kedua, jika di start-ulang berkali-kali masih menyala, coba matikan mesin, cabut terminal (-) aki beberapa detik. Pasang lagi dan start lagi.
  • Biasanya setelah langkah kedua masalah akan selesai jika itu hanya salah pembacaan. Tetapi ada kalanya CE bisa mati lalu sesekali menyala lagi. Jika hal ini terjadi, barulah kita bawa ke bengkel untuk di-scan.

Meminta scan ke bengkel terkadang gratis, kadang juga dipungut biaya. Umumnya di bengkel resmi mereka memungut biaya. Mungkin dianggap biaya sewa alat. Tetapi rata-rata bengkel umum sekarang sudah memiliki alat diagnostic sendiri juga.

Contoh diagnostic scanner di bengkel

https://www.amazon.com/Autel-MaxiSYS-Diagnostic-Universal-Generation/dp/B01BWLXXFY )

Yang dilakukan adalah membaca kode (Diagnostic Trouble Code / DTC). Kode ini berupa kombinasi huruf dan angka yang memiliki arti bermacam – macam, biasanya pada scanner bengkel akan muncul keterangan kerusakan di bagian mana. Lalu bengkel akan melakukan reset untuk melihat apakah itu sekedar error reading atau memang mobil bermasalah. Jika memang bermasalah, penyelidikan akan berlanjut ke pengecekan hardware, obviously.

Kombinasi huruf-angka yang muncul pada scanner mengindikasikan suatu error yang akan berlanjut ke penyelidikan fisik. 

( https://www.mazdabg.com/ftp-uploads/Mazda/–Repair%20Instructions–/1997-2000%20Mazda%20B25%20B30%20MPV/chiltonimages/7000/79242G99L.gif )

Bahkan supaya mengurangi effort ke bengkel, kita sendiri pun bisa menggunakan smartphone kita. Luar biasa bukan? Tinggal beli OBD II Adapter, banyak dijual di lapak online. Tinggal ketikkan keyword “ELM327 scanner” atau “scanner mobil” saja. Variasi harganya dari puluhan ribu sampai ratusan ribu. Lalu download aplikasi Torque Lite atau Torque Pro. Voila! Nggak perlu bolak-balik bengkel untuk “sewa” scanner. Tinggal dicolok ke OBD II Port di bawah dashboard lalu scan dengan aplikasi.

Torque Pro merupakan salah satu aplikasi yang dapat melakukan diagnostic berdasarkan bacaan dari portable OBDII socket. 

https://www.getjar.com/categories/tool-apps/Torque-Pro-OBD-2-and-Car-874786 )

Nah, bagaimana ternyata jika benar-benar rusak dan bukan sekedar error reading ?

ECU memiliki sebuah fail-safe system jenius bernama limp mode. Sistem ini akan membatasi parameter – parameter sebuah mobil saat malfunction light / CE menyala. Tergantung bagaimana pabrikan mengaturnya. Misal mobil hanya dapat berjalan di kecepatan 40 km/h maksimal dengan input throttle tidak lebih dari sekian %, atau sesimpel mobil benar – benar berhenti tidak mau dijalankan saking parahnya. Seringnya jika hanya sekedar error reading, mobil akan terus berjalan normal.

Biasanya, yang agak susah dideteksi adalah ketika yang menyala bukan CE tetapi ABS atau VSA / traction control. Karena kedua perangkat ini bersifat preventif, nyaris tidak memberikan indikasi apa-apa pada kinerja mobil. Biasanya error reading pada ABS / VSA terjadi karena keduanya bekerja berdasarkan sensor kecepatan roda (wheel speed sensor).

Beda kasus lagi tentu saja, jika kondisi mobil sudah dimodifikasi baik hardware maupun software seperti remapping. CE biasa terjadi akibat pembacaan parameter yang jelas tidak normal / tidak standar. Kemungkinan error reading akan lebih besar, walaupun pada kasus modifikasi ringan biasanya lampu CE tidak menyala.

Tidak puas dengan performa standar, apakah bisa mengubah program ?

Bisa sekali. Ada banyak cara, menggunakan piggyback, ada yang langsung “overwrite” ke ECU mobil (reflash atau remap). Malah justru ketimbang bermain di hardware seperti intake dan exhaust yang repot – karena harus bongkar – bongkar mesin, di mobil injeksi elektronik sekarang mengubah program lebih populer. Hasil bisa lebih maksimal dengan jeroan mesin standar, karena yang diubah langsung programnya. Mau ubah dua-duanya hardware dan software ? Lebih gede lagi pasti naiknya.

Dastek Unichip merupakan salah satu merek Piggyback yang cukup populer. Sayangnya Unichip memiliki kelemahan harus bongkar-pasang kabel karena menambahkan hardware. Bagi sebagian orang, mereka mulai lebih memilih opsi remap karena tidak menambah atau mengurangi apapun alias “tampak” standar.

https://www.amazon.ca/Unichip-1020015-Engine-Management-Piggyback/dp/B000ED811I )

Proses ECU re-mapping 

https://www.dimolanka.com/vehicle-repairs/bosch-service-center/ecu-remapping-bosch-service/ )

Diberi nama re-mapping karena ini mengubah karakteristik tenaga mobil yang ditentukan dari “map” rancangan pabrikannya. “Map” engine sendiri berisi serangkaian setting seperti throttle, timing pengapian, injeksi, campuran udara-bahan bakar (AFR – air to fuel ratio), juga boost – jika mobil dilengkapi perangkat turbo. Dalam proses re-mapping, semuanya disesuaikan ulang dan ditingkatkan parameternya sehingga hasilnya, ya angka horsepower dan torsi yang naik dari standarnya.

Tentu meningkatkan tenaga mobil jelas tidak asal. Karena itu tak semua mobil dapat menghasilkan output yang sama. Ada parameter di luar itu seperti kekuatan internal mesin dan kekuatan transmisi, bahkan kualitas BBM dan standar emisi yang berbeda – beda juga membuat terkadang tuning tidak sama hasilnya antara negara satu dengan yang lain. Jangankan negara, mobil yang sama saja belum tentu sama hasilnya.

Lalu, apakah aman melakukan re-mapping ? Bukankah standar pabrik is de bes ? 

Masalahnya waktu kita ngomong gitu, settingan mesin standar pabrik yang is de bes itu yang mana ?

Karena untuk sekarang saja, pabrikan mobil bisa punya 3 jenis output untuk 1 mesin berbeda. Misal nih, Honda Civic 1.5 Turbo biasa dengan Civic Si di Amerika itu jeroan mesinnya plek, tapi Civic Turbo biasa tenaganya 170-180hp, sedangkan Si di angka 205hp dengan mesin yang sama.

Jerohan mesin Civic Si di Amerika, identik dengan Civic Turbo biasa

http://youwheel.com/home/2016/11/17/2017-honda-civic-si-engine-exposed/ )

In fact, mesin BMW N20 saja memiliki rentang output 154hp sampai 240hp untuk satu jenis mesin yang sama. Jadi buat kalangan yang mendewakan setelan-mesin-standar-pabrik-pasti-lebih-baik, sebenarnya ya nggak juga, karena setelan mesin standar pabrik sendiri mempunyai banyak jenis output. Yang mana versi bertenaga besar dijual dengan package lebih komplet seperti sistem audio lebih premium dan kelengkapan kemewahan yang lebih banyak, sehingga harganya dikerek tinggi. Remapping adalah solusi ketika kita hanya ingin tenaga besar tapi tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk paket kemewahan lainnya.

Output bawaan pabrik juga seringnya berkompromi dengan kualitas bahan bakar di suatu negara. Karena itu ada negara yang mendapatkan output mesin sangat minim akibat kualitas BBM yang kurang baik, walaupun sebenarnya tenaganya bisa diperas lagi lebih jauh. Mesin yang outputnya dikecilkan biasanya memang lebih bisa mentolerir BBM kualitas rendah, tetapi ya tentu jika ingin tenaga maksimal, wajib menggunakan BBM kualitas tinggi juga. Termasuk jika tuning, beberapa rekan yang mengerjakan reflash atau remapping sangat – sangat menyarankan menggunakan BBM kualitas lebih tinggi dari “standar minimum” pabrikan.

Stiker rekomendasi bahan bakar yang biasa diletakkan di tutup tangki.

https://www.golfmk6.com/forums/showthread.php?t=115925&page=3 )

Problemnya, memang tak semua tuner itu kredibel. Terkadang alih – alih output besar, kurangnya knowledge tuner mengenai ECU dan batasan – batasan dari mesin secara spesifik malah bisa berakibat kerusakan serius dan mobil yang kurang enak dikendarai. Penting juga untuk mengetahui berapa besar batasan-batasan mobil kita, jangan sampai nafsu pengen tenaga besar, naiknya nggak wajar, eh baru 1 bulan pake paking / gasket bocor semua atau bilah turbo hancur berkeping – keping. Tuner yang baik tidak hanya janji-janji surga mesin naik berapa besar, ia harus mengedukasi konsumennya tentang batasan – batasan pada kenaikan performa mobil. Termasuk jika terjadi apa-apa, ia bisa memastikan program fail-safe alias limp mode aktif sebagai antisipasi ketika mesin overheating atau turbo overboost.

Atau lebih buruknya, hanya sekedar placebo effect alias “sugesti” dengan mengakali bukaan pedal gas saja. Karena itu salah satu parameter penting, bagi saya pribadi, adalah melihat hasil pengujian dyno before-after. Tidak bisa hanya claim “tenaga lebih enak” atau “bensin lebih irit” tanpa data. Seorang tuner yang kredibel tidak akan takut hasil garapannya diuji di atas mesin dyno.

Pengujian di mesin dyno berguna untuk mengetahui seberapa besar kenaikannya.

Betul, meningkatkan tenaga mobil pasti akan ada trade-off di durability atau ketahanan mesinnya. Tapi jika konteksnya mobil harian, dimana kita tidak mengeluarkan 100% dari tenaga mobil terus menerus, durability mesin tidak akan menjadi issue yang mesti ditakutkan. Tak sedikit kok yang menggunakan mobil kondisi sudah di reflash sampai ratusan ribu kilometer tanpa ada masalah. Masih sama bagusnya seperti mobil kondisi standar. Malah benefitnya mesin lebih effortless sehingga BBM jadi lebih hemat.

Final Thoughts : ECU, Bikin Rumit atau Bikin Mudah ?

Jika dilihat dari sisi efektivitas, sistem serba elektronik seperti sekarang malah justru cenderung mempermudah. Mengurangi intensitas bongkar-pasang mesin, semakin efisien waktu dan tenaga, lebih aman dan nyaman untuk konsumen awam.

Ya, mobil – mobil ini memang kebanyakan tidak bisa kita selesaikan masalahnya tanpa ke bengkel, tapi kembali pertanyaannya : dengan mobilitas masyarakat makin tinggi dan manusia yang semakin dituntut produktif, kapan kita punya waktu untuk “ngebengkel sendiri” di rumah ? Dengan jadwal yang padat dan kondisi panik, akan semakin parah bukan kalau mobil tiba-tiba rewel di jalan hanya karena setelannya nggak bener ?

Mobil injeksi masa kini justru sangat minim perawatan. Yang dilakukan di bengkel saat servis berkala biasanya hanya sebatas pengecekan komponen kelistrikan dan penggantian oli, pembersihan, serta komponen – komponen yang sudah aus saja.

https://www.readersdigest.ca/cars/maintenance/essential-car-maintenance-services/

Mobil dengan sistem injeksi justru sebaliknya, sangat minim perawatan. Ini sistem yang rumit tapi tak menuntut kita banyak ke bengkel karena semuanya sudah serba otomatis. Bahkan tidak lagi perlu itu ritual sarapan-sambil-manasin-mobil karena panasnya lama atau mobil jarang dinyalakan, cukup sekali “greng” dan komputer akan bekerja sendiri menyesuaikan.

Meski dari sisi orang hobi, ya mungkin saja setel-setel mesin itu suatu kegiatan yang menyenangkan dan karena mobil sekarang sudah canggih malah mengurangi kesenangan akhir minggu.

 

 

 

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *