ECU Tuning : Aman kah ?

Setelah membahas tentang ECU itu sendiri, kali ini kita akan membahas apa yang disebut dengan ECU tuning. Judul ini sengaja dibuat karena banyak sekali mitos dari para kalangan mesin-standar-pabrik-is-de-bes bahwa ECU tuning itu “merusak” mesin, dengan dalih bahwa “pabrikan sudah memperhitungkan segala sesuatu” – the most cliche reasoning I’ve ever heard, yang keluar setiap para fanatik mobil standar menyerang kalangan yang suka modif.

No. Seperti yang saya jelaskan di post sebelumnya, di zaman sekarang settingan terbaik pabrik itu yang mana – sangat tidak jelas. Karena bahkan pabrik sendiri bisa mempunyai banyak jenis output dari satu buah mesin dengan hardware yang sama persis.

https://id.pinterest.com/pin/488499890806998309/

Remapping

Mapping adalah istilah dari firmware yang digunakan oleh pabrikan, berisi serangkaian setelan pada mesin mobil yang menyebabkan mobil memiliki karakteristik tenaga/torsi tertentu. Dalam satu versi mesin saja sebuah pabrikan bisa memiliki banyak versi firmware / mapping tergantung dari banyak sekali faktor. Apakah untuk membedakan trimline seperti di kasus beberapa model BMW atau Mercedes, atau disesuaikan berdasarkan negara dimana mobil tersebut dipasarkan, kualitas BBM, atau juga karakter konsumen dan jenis serta kegunaan mobilnya.

Proses Remapping ( https://arnoldservicecentre.co.uk/easyblog/entry/what-is-remapping )

Tapi yang pasti, setelan pabrikan itu selalu punya safety margin, selalu tersedia “ruang” untuk upgrade. Dan upgrade tenaga melalui ECU adalah cara praktis yang dapat meningkatkan tenaga secara signifikan tanpa harus mengubah perangkat keras atau part dari mesin – jika tujuannya untuk pemakaian sehari – hari. Karena ia hanya mengoptimalkan setelan standar pabrik yang sudah ada.

Remapping jelas sangat praktis apabila tujuannya adalah penggunaan sehari – hari dan tuning ringan seperti penggantian exhaust dan intake, yang tidak mengubah keseluruhan sistem dari mobil. Biaya yang dikeluarkan pun lebih murah dan tampilan mesin nampak standar. Selain itu, karena remapping melakukan modifikasi pada file asli ECU, kita dapat mengakses dan mengaktifkan fitur-fitur dan setelan “tersembunyi” di dalam ECU, termasuk mengatur beberapa parameter yang tidak mungkin dilakukan dengan piggyback.

Kekurangannya, setting yang kita gunakan ya satu setelan saja, tidak bisa lebih seperti pada piggyback. Lalu karena menggunakan ECU standar jelas mempunyai batasan – batasan jika ingin modifikasi yang agak “gila”.

Ditimpakan ke mapping standar ? Berarti nggak bisa balik standar dong ? Waduuuh.

Jangan panik dulu. Bisa balik kok.

Tuner yang baik akan menyimpan stock file untuk backup. Tujuannya selain untuk balikin standar juga antisipasi ketika terjadi sesuatu di luar kendalinya, maka stock file bisa di “timpa” kan kembali. Karena ya meski mobil sama, misal nih di Kijang Innova si X gak kenapa-napa, di Kijang Innova lain punya si Y ternyata CE nya nyala karena memang ada komponen cacat pabrik, mapping standar bisa dikembalikan untuk diurusin terlebih dahulu.

Piggyback

Piggyback merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk “menipu” sinyal dari ECU. Pada prinsipnya baik remapping maupun ECU sama-sama tujuannya adalah mengubah program pada ECU yang mengakibatkan kenaikan tenaga mesin, tetapi dengan cara yang berbeda. Remapping langsung overwrite file asli ECU, sedangkan piggyback menggunakan alat untuk manipulasi sinyal ke ECU. Karena prinsipnya yang “menipu” sinyal pada ECU, maka pemasangannya pun juga memerlukan bongkar-pasang perkabelan. Bahkan pemasangannya pun harus ke authorized dealers karena mereka yang memiliki manual nya. Salah satu piggyback yang populer adalah merek Dastek Unichip.

Dastek Unichip merupakan merek piggyback yang cukup populer 

http://rbtsracing.co.za/dyna-tuning.html )

Kelebihan Piggyback adalah perangkat ini fleksibel dan memiliki banyak sekali aksesoris modul tambahan. Semisal kita ingin memasang turbo pada mobil standar tidak berturbo, maka piggyback adalah solusinya, karena ECU standar tidak kompatibel dengan turbo module, atau menambahkan fitur seperti launch control juga bisa lewat piggyback.

http://www.toyotagtturbo.com/community/index.php?threads/dastek-unichip-wiring.72106/

Selain itu, piggyback juga dapat dilepas-pasang sehingga saat mobil dijual dan ingin ganti ke mobil lain tinggal membayar biaya tuning saja. Lalu soal fleksibilitas juga, piggyback sanggup menyimpan lebih dari 2 mapping untuk berbagai kondisi. Jika mobil digunakan untuk kompetisi dan harian, penggunaan piggyback akan lebih efektif karena misalnya nih, waktu race menggunakan BBM racing dan settingan maksimum, sedangkan waktu harian cukup menggunakan BBM biasa dan settingan medium atau low jika dipakai oleh supir. Biasanya, settingan yang disimpan pada piggyback adalah kombinasi throttle mapping (SP3, SP5, SP7) dan BBM.

Map Selector, merupakan peranti yang memungkinkan untuk menyimpan lebih dari 1 map 

https://www.unichipwholesale.com/product/5-way-map-selection-switch-electronic )

Kekurangan piggyback adalah karena ini alat yang sifatnya berada di luar ECU, artinya kita tidak dapat mengakses fitur-fitur “tersembunyi” pada ECU mobil, dan parameternya juga terbatas. Lalu juga karena menambahkan hardware jelas menimbulkan kesan “tidak orisinil”. Selain itu juga biaya yang dikeluarkan sudah pasti lebih mahal. Sehingga untuk sekarang jika jerohan mesin standar, pemilik mobil cenderung beralih ke remapping.

Resiko pada mesin ?

Remapping atau piggyback akan menjadi berisiko apabila tunernya tidak memperhatikan safety margin dari mobilnya. Safety margin ini bisa dari ketahanan internal mesinnya sendiri, maupun komponen lain seperti transmisi atau turbo. Seberapa besar boost yang dapat di-handle oleh jerohan mesin, atau seberapa besar kapasitas torsi maksimum pada hardware transmisi adalah hal yang sangat riskan. Selain itu juga harus memperhatikan temperatur gas buang (EGT) dan kapasitas pendinginan.

Yang sulit adalah banyak orang mengejar performa maksimum tapi mengabaikan faktor – faktor di atas. Ingin naik di atas 50% kemampuan aslinya, dengan bonus oli bocor kemana-mana, fin turbo pecah, atau transmisi masuk ke limp mode akibat overheating karena tidak kuat menahan tenaga terlalu besar. Akhirnya remapping atau piggyback mendapat stigma “merusak mesin”, padahal tunernya sendiri yang abai.

Kerusakan head gasket dan kebocoran oli merupakan salah satu resiko tuning yang mengabaikan faktor safety.

https://www.hajes-racing.com/en/ecu-remap-guide-for-beginners-how-to-not-destroy-your-car/ )

Jadi, penting mencari tuner yang tidak hanya janji surga kenaikan tenaga besar, tapi juga tuner yang memberikan limitasi. Setiap tuner “baik” yang saya kenal selalu mengetahui batasan-batasan sebuah mesin. Misal nih, di Civic Turbo saya, limitasinya adalah pada CVT yang tidak bisa handle torsi terlalu besar, tuner saya pun sudah memberitahukan bahwa kenaikannya masih aman untuk umur CVTnya.

Peningkatan tenaga juga pastinya akan meningkatkan tingkat stress pada mesin, yang pastinya mengurangi usia komponen mesin juga. Tetapi sebenarnya, ini bukan masalah besar, kenapa?

Karena dalam kondisi normal sangat jarang sekali kita mengeluarkan 100% kemampuan mobil, jangankan 100, 50% saja juga sangat jarang. Kemampuan mobil itu paling kita pakai 20-30% saja dalam kondisi normal. Di jalan tol luar kota sekalipun biasanya load nya relatif rendah saat coasting / berjalan konstan.

Lalu ngapain di-tuning kalau bukan buat ngebut-ngebut ? Mau kemana sih kenceng-kenceng ?

Naini. Salah kaprah bahwa naikin tenaga mesin selalu tujuannya buat ngebut tanpa pernah ngerasain mobil tenaga besar.

Begini lho, seorang dosen saya pernah bilang kalau kamu bisa bikin mobil ngebut tapi bensinnya juga ngucur boros, artinya kamu nggak pinter, mesinnya nggak efisien. Tapi ketika kamu bisa bikin mobil ngebut tapi bensin nggak tambah boros, atau bahkan tambah irit, artinya apa ? Artinya kamu pinter, berhasil bikin mesin tambah efisien.

Disinilah kita suka gagal paham soal pengertian “efisiensi”. Efisiensi adalah jumlah bensin terpakai minimum dengan hasil maksimum. Di banyak kasus mobil di-remap, tenaganya lebih enteng untuk harian, malah berujung konsumsi BBM nya sama atau lebih hemat. Kenapa ? Ya karena mesinnya lebih efisien. Ditingkatkan kemampuan mengolah BBM menjadi tenaga-nya.

So, masih bilang kalau “pabrikan sudah memperhitungkan yang paling efisien” ? Karena selama ini orang mikir efisien pasti kaitannya BBM, padahal kalau mobil irit tapi nggak lari ya nggak bisa dibilang efisien juga.

Kalau pernah baca kurva dyno, ada istilah kurva “gemuk” dan “kurus”, di sinilah optimalisasi per-RPM dibutuhkan supaya kurvanya “gemuk” dan nggak kebanyakan naik-turun. Kurva “gemuk” bikin tenaga lebih ngacir dari RPM serendah mungkin, ngegasnya makin enteng, BBMnya? Jelas makin irit. Kalau nanjak biasa ngos-ngosan sampai teriak ke 3000-4000 RPM, ini 2500-3500 RPM nanjak masih enteng karena kurvanya “gemuk”.

Tuning itu nggak melulu angka horsepower dan torsi besar, tapi juga kurva.

http://ecutuninggroupohio.com/wp-content/uploads/2011/09/Mark-Lambos-Dyno-Comparison.jpg )

Jadi paham ya, tenaga lebih besar itu nggak melulu soal ngebut.

Meski ya memang sih, ngebut nya jadi lebih enak.

Opsi lain : Reflashing / Tuning Box / Standalone ?

Opsi bikin mobil kenceng lewat program sebenarnya tidak terbatas pada remapping dan piggyback saja. Banyak opsi di luaran yang lebih praktis.

Reflashing itu sebenarnya 11-12 dengan remapping, tetapi reflashing biasanya tidak customized, bahkan istilah “flash” sebenarnya merujuk ke prosedur seperti remapping : menimpa file asli ECU, tetapi reflash lebih identik dengan membeli program atau kit dari tuner luar. Meskipun juga bisa custom tune karena kondisi tiap negara beda – beda. Kita tarik data (datalogging) dari mobil via OBD II, lalu dikirim via e-mail ke tunernya, dan setelah diutak-atik, file yang sudah dimodifikasi, dikembalikan ke kita untuk kita copy sendiri, tapi umumnya setelannya ya sudah standard itu thok.

Atau ada juga yang dijual dengan hardware nya langsung seperti Hondata FlashPro untuk beberapa produk Honda. Kelebihannya jelas jika dengan tuner profesional seperti ini minim resiko, karena semisal Hondata, mereka mempunyai R&D sendiri dan pernah melakukan pengujian ketahanan CVT di Civic Turbo. Hondata FlashPro juga memungkinkan untuk custom tune meskipun sangat tidak direkomendasikan karena riskan.

Hondata FlashPro 

https://www.all4honda.com/en/hondata-flashpro-module-civic )

Ada juga yang namanya Tuning Box, mungkin sempat mendengar perangkat bernama “Race Chip” ? Ini adalah perangkat tuningbox yang cukup terkenal. Tuning box ini kelebihannya jelas, praktis. Sistemnya plug and play, sehingga mengembalikan ke kondisi standard pun relatif mudah. Chip ini berisi program yang sudah ditetapkan parameter – parameternya. Kelemahannya ya sama, program di dalamnya malah sama sekali nggak bisa diutak-atik. Fixed begitu aja. Tapi merupakan pilihan praktis untuk yang ingin “main aman”.

https://www.racechip.com/shop.html

Opsi paling mahal dan paling sulit adalah ECU Stand Alone. Ini menggantikan ECU bawaan ketika modifikasi sudah melewati batasan dari ECU asli, dan biasanya digunakan untuk modifikasi yang lebih advanced. Harganya pun bisa sangat mahal.

HKS F-Con V-Pro , salah satu brand Stand Alone ECU

https://www.hks-power.co.jp/en/product/electronics/computer/f-con/vpro-pw-set/vpro4.html )

Jadi kesimpulannya, utak-atik ECU itu aman atau tidak ?

Pertanyaan yang sama dengan “naik mobil itu aman atau tidak” ? Jawabannya : sangat tergantung pada siapa yang mengemudi. Dalam hal tuning ECU, sangat tergantung juga dengan kredibilitas tuner itu sendiri. Jelas tentu kita memerlukan informasi mengenai siapa yang kredibel urusan ECU tuning baik dengan piggyback maupun remapping.

Tapi yang jelas jika dilakukan dengan benar, yang manapun tidak akan menjadi masalah. Sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tinggal selera kita yang mana.

Yang jelas ini adalah proven method kalau menginginkan hemat BBM dan kencang, jelas nambah tenaganya, jelas prosedurnya, tidak perlu pasang-pasang alat nggak jelas atau nyampur obat ke tangki bensin yang kenaikannya mungkin saja hanya sugesti semata.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *