Demam Mobil Tiongkok : Mungkinkah Menguasai Pasar ?

Sejak kemunculan Wuling di tanah air, masyarakat dan pasar otomotif sedang terkena demam – mungkin yang saya sebut demam mobil Tiongkok. Ketika dulu mobil Tiongkok selalu dihujat karena kualitas dan daya tahannya yang buruk, lha kok ndilalah sekarang mereka kembali muncul dengan produk yang…. Tidak bisa dibilang kualitasnya buruk, lho.

Masih ingat dengan Chery QQ yang merupakan ripoff dari Chevrolet Spark ?

https://cintamobil.com/review-mobil/review-chery-qq-2008-aid293 )

Geely Panda yang memiliki nama asli Geely LC. Sempat mengaspal juga di Indonesia.

https://en.wikipedia.org/wiki/Geely_LC#/media/File:Geely_lc_2011.jpg )

Geely MK, saat itu dijual dengan versi sedan dan hatchback. 

( https://www.ebay.com/itm/GEELY-MK-2010-2012-FACTORY-WORKSHOP-SERVICE-REPAIR-MANUAL-/290743826122 )

Justru sebaliknya, sekarang banyak yang mulai menjadikan mobil Tiongkok sebagai benchmark atau tolok ukur.

Ya gimana enggak sih, Wuling dateng-dateng dengan Confero S yang harganya mungkin mirip-mirip aja jatuhnya sama Avanza/Xenia tipe menengah plus discount… Tapi masalahnya bukan di situ. Masalahnya adalah kelengkapan Wuling Confero itu setara bahkan lebih lengkap daripada Avanza/Xenia tipe tertinggi sekalipun. Dan cerita ini berlanjut ke lineup lain seperti Formo, Cortez, dan Almaz.

Wuling Confero S yang bentuknya memang lucu, tapi kelengkapannya setara dengan Avanza tipe tertinggi meski harganya cuma selisih sedikit dengan Avanza tipe terendah.

Bahkan tak hanya Wuling saja, DFSK juga turut mencicipi demam mobil Tiongkok ini. Setelah Glory 580 dan Supercab, kini Glory 560 juga mendobrak pasar dengan spesifikasi yang lumayan “wah”.

Glory 560 terbaru yang diluncurkan oleh DFSK Motors Indonesia 

https://www.suara.com/otomotif/2019/05/04/195400/kesan-singkat-menjajal-dfsk-glory-560-di-iims-2019 )

Pertinyiinnyi, mungkinkah baik Wuling, DFSK, maupun merek Tiongkok lain, suatu hari bakal jadi brand paling enggak nomer 2 atau 3 terlaris ?

Ya bisa saja, nggak ada yang nggak mungkin. Apalagi di era internet sekarang informasi sangat mudah didapatkan. Sekarang model marketing dengan mempopulerkan tagar sehingga viral itu sangat efektif. Yup, ini Wuling berhasil karena sebelum launching pun mereka mempopulerkan tagar #mendingWuling. Belum iklannya yang bertebaran di jagat maya.

Dan dengan banyaknya Youtuber otomotif baik yang kondang maupun yang baru – baru, informasi mengenai produk mobil baru pun tak hanya seputar dari tetangga maupun teman dekat saja. Dulu kan polanya, tetangga atau saudara beli apa, ya itu yang dibeli. Sekarang eits… liat review dulu.

Di awal-awal kemunculan merek Wuling di GIIAS 2017, mungkin demi menaikkan pengunjung booth, Wuling mengundang tiga youtuber otomotif ternama : Fitra Eri, Diandra Gautama, Motomobi.

Dan sialnya, nge-review Wuling itu susah.

Susahnya gini, ketidaksempurnaan Wuling itu gampang banget ditutupi dengan dalih “harganya murah”. Misal nih buat saya Cortez maupun Almaz yang berturbo itu tenaganya nggak terlalu memuaskan sih, CVTnya juga kurang enak, tapi waktu saya ngomong gitu saya inget price tag nya… lah iya sih memang murah. Jadi mewajarkan semua ketidaksempurnaan itu karena barangnya murah dan sudah dikasih banyak kok masih minta lebih. Akhirnya, impresi mengenai produk Tiongkok, khususnya Wuling, selalu positif.

Kalau mau ngomong Wuling cuma rame di medsos saja, kok kayaknya nggak relevan juga. Karena Wuling sejak tahun 2018 selalu masuk 10 besar, bersaing ketat salip-menyalip dengan Nissan. Jadi ini pendatang baru yang cukup patut diperhitungkan. Ya memang wholesales per bulannya cuma seribuan se-Indonesia raya, tapi lumayanlah untuk merek yang baru 2 tahun, dari Tiongkok pula.

Mengenai angka wholesales Almaz yang meroket di awal melebihi CR-V, sang pemimpin pasar, ya namanya juga awal – awal. Distribusi ke dealer pasti lebih banyak. Lah wong Datsun Cross aja di awal wholesales nya 2.000, setelah itu drop jauh banget. Jangan terkecoh angka wholesales.

Meski harus diakui, Almaz memang menggoda, terbukti dari 40% penjualan Wuling di IIMS 2019 didominasi oleh Almaz. Seperti dikutip dari otomotif.bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Wuling Motors Indonesia mencatatkan penjualan 771 unit mobil selama pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 pada 25 April dan 5 Mei, yang didominasi penjualan model sport utility vehicle (SUV) Wuling Almaz sebanyak 380 unit.

Selain Almaz, model kedua yang diminati konsumen adalah Wuling Cortez dengan produk barunya Cortez CT sebanyak 208 unit, diikuti Wuling Confero 182 unit dan 1 unit Wuling Formo.

https://otomotif.bisnis.com/read/20190506/46/919124/iims-2019-almaz-dominasi-penjualan-wuling

Seperti pasar ponsel ?

Banyak yang menyamakan Wuling dengan Xiaomi, underdog merek ponsel yang sekarang juga menjadi nomer dua di Indonesia. Tetapi menurut saya pribadi, pasar otomotif nggak bisa disamakan. Orientasi pasarnya beda.

Untuk pasar ponsel, memang yang diincar adalah fitur yang banyak karena umur pakai ponsel itu relatif rendah, dan life-cycle produknya juga tergolong cepat. Lalu, yang namanya ponsel ya pasti adu fitur, karena pointnya disitu. Mobil kan enggak.

Di pasar mobil, banyak hal yang harus diamat-amati. Orang membeli mobil itu rata-rata penggunaan jangka panjang. 5 tahun walau tak jarang juga yang lebih dari 7 bahkan 10 tahun. Tidak semua orang minat ganti mobil tiap 5 tahun sekali, kalau mobil masih jalan dan jarang ngebengkel, ya ngapain diganti to? Mobil baru nomboknya juga banyak karena depresiasi mobil lamanya juga sadis kalo udah tua.

Itulah meski Kijang Innova sudah keluar model baru, yang lama tetap banyak berkeliaran. Lah wong awetnya luar biasa gitu. Nggak peduli dari jaman ponsel masih pake Nokia sampe iPhone, Kijang Innova di rumah masih belum berganti juga.

Kijang Innova lama yang masih diminati meski versi terbarunya sudah muncul 

https://blog.mobilkamu.com/review/toyota/kijang-innova/ )

Banyak yang ngakuin Wuling mobil bagus, tapi nggak mau beli. Alasannya klasik : liat-liat dulu lah keawetannya gimana. Lho, piye?

Bagi yang kekayaannya belum level sultan, beli mobil itu nggak segampang Thanos menjentikkan jari. Karena itu orientasi beli mobil selalu dimulai dari awet lalu kedua irit, sebisa mungkin ngisinya cukup Pertalit atau Premium aja gitu lho. Fitur itu masih urusan belakang-belakang kalau memang taraf hidupnya sudah meningkat, boleh lah liat fitur.

Akan sulit untuk merangsek naik ke paling tidak, 5 besar, dalam 5 tahun saja tapi bukan tidak mungkin. Jika mobil Wuling terbukti dalam waktu 10 tahun relatif awet, bukan tidak mungkin dapat bersaing dengan Honda misalnya.

Tapi ngomong-ngomong Honda, kayaknya belakangan ini Wuling lebih tertarik bersaing dengan Honda. Sama-sama doyan Turbo dan teknologi juga. Bersaing dengan Toyota mungkin terlalu berat.

Mesin Turbo Wuling, mungkinkah Wuling ternyata lebih tertarik bersaing dengan Honda secara teknologi ?

Kok daritadi ngomongin Wuling terus, DFSK gimana ?

Jujur aja karena DFSK itu tidak segencar Wuling. Iya sih brand ambassadornya Agnezmo, tapi kayaknya yang jadi bahan marketingnya ya foto Agnezmo dimana-mana aja.

https://otojurnalisme.com/detail/dfsk/6918-bersiap-kencan-dengan-agnez-mo-yang-jadi-brand-ambassador-dfsk-glory-580?p=all

Belum lagi, desain mobilnya biasa banget, bahkan cenderung keliatan njiplak. Dealernya dikit, dan nama produknya yang bisa dieja dengan normal itu cuma pickup Supercab. Ngomongin turbo, sekarang Wuling udah ada Almaz juga. Buat saya, DFSK masih terlihat setengah-setengah dalam jualan, ngikut manfaatin hype mobil-Tiongkok-kaya-fitur-harga-murah-meriah.

DFSK Glory 580, yang pamornya cepat tergerus sejak kemunculan Wuling Almaz

Nggak jelek sih, cuma medioker aja. Meski saya juga berharap Glory 560 terbaru bisa setidaknya memperbaiki prestasi kakaknya yang kurang bagus.

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *