Beli Mobil Mikir Dijual Lagi ?

Pembahasan mengenai nilai jual kembali sebuah kendaraan itu merupakan topik yang selalu jadi perdebatan di kalangan penggemar otomotif. Buat yang muda – muda, biasanya dianggap nggak relevan. “Beli mobil kan dinikmati bukan mau dijual lagi”, tapi buat yang middle-aged sampai tua, banyak yang menganggap nilai jual kembali mobil itu penting.

Apakah terjadi di Indonesia saja ? Rasanya tidak. Kalau mengikuti kanal Youtube bule – bule, depresiasi juga masuk topik dan alasan beli mobil kok. Jadi omongan “eh orang Indonesia mah baru beli mobil sudah mikir dijual lagi” itu nggak relevan sih, karena di luar negeri betapapun tidak dipikirin, tetap jadi pertimbangan.

Jadi siapa bilang cuma di Indonesia doang ?

https://www.businessinsider.sg/10-vehicles-best-resale-value-2017-8/?r=US&IR=T )

Banyak orang yang membeli mobil itu tidak berencana dipakai selama – lamanya, kecuali untuk urusan bisnis seperti mobil angkutan yang dipakai semaksimal mungkin, dijualnya, ya kalau usahanya tutup, atau bermasalah. Pada umumnya, orang akan meremajakan mobilnya sekitar 5 sampai 7 tahun, walaupun 10 tahun sampai 15 tahun juga tak kalah banyak.

Sebenarnya, ya wajar-wajar saja kita beli mobil mikir dijual lagi.

Nggak semua orang punya kondisi finansial yang baik. Keadaan hidup juga tidak selalu lurus – lurus saja. Dan jeleknya mobil semakin tua pasti makin membutuhkan biaya perawatan yang nggak murah juga. Terkadang karena dirasa sudah sangat kronis dan susah dirawat, mobil dijual, entah ganti yang baru atau ya supaya nggak berakhir mangkrak.

Dan biasanya mobil, karena nilainya besar, menjadi barang yang rawan dijual ketika sebuah keluarga atau seseorang sedang dalam keadaan membutuhkan dana yang cukup besar. Misalnya, anggota keluarga sakit dan butuh biaya pengobatan.

Tentu bakal jadi masalah apabila kita sedang-sangat-darurat-butuh-uang tapi mobil tak kunjung terjual, atau terjual dengan harga yang mengenaskan. Selain itu, karena ukurannya tidak kecil, menyimpan mobil juga nggak mudah. Parkir di pinggir jalan juga jelas menghalangi kepentingan umum. Banyak kok keluarga yang secara finansial mampu beli mobil tapi enggan karena gang rumahnya terlalu sempit. Toh sekarang ada taksi onlen.

Tapi kalaupun kita punya kondisi finansial yang baik dan hanya occasionally menjual mobil dalam kurun waktu tertentu untuk peremajaan…

Seberapa masuk akal kita berharap mobil kita harganya nggak jatuh ?

Mengharap harga jual kembali tidak masuk akal seperti Avanza pada tahun – tahun awalnya jelas tidak mungkin. Dulu seorang teman membeli Avanza tahun 2010 dijual kembali tahun 2011 beli Avanza model yang sama lagi tanpa nombok, sekarang mah boro – boro. Persaingan pasarnya makin ketat. Akhirnya harga jual Avanza pun ikut terkoreksi berkat kemunculan pilihan lain seperti Ertiga, Mobilio, Xpander/Livina, atau bahkan Wuling Confero.

Toyota Avanza generasi pertama, merupakan mobil yang resale valuenya cukup “gila”. Terutama untuk tipe paling populer, 1.3 G M/T.

https://otodriver.com/article/view/panduan-membeli-toyota-avanza-generasi-pertama/p4fe5zjmi1InnIgdQISE7Qt5jP1qByKLBdzn-aGsQiU )

Ada banyak hal yang mempengaruhi depresiasi sebuah mobil, dan kondisi pasar otomotif juga sangat dinamis. Ya, siapa yang nyangka tahun 2017 muncul brand Tiongkok yang serius kan ? Persaingan pasar jelas punya dampak yang serius pada harga jual kembali mobil. Termasuk model – model baru yang ditawarkan ATPM.

Iya, siapa yang nyangka kan merek Tiongkok ini bisa bertahan dan laris sampe sekarang ?

https://www.oto.com/berita-mobil/giias-2017-wuling-confero-cashback-3-juta-cicilan-mulai-rp-19-juta-21167258 )

Depresiasi tangan pertama

Biasanya penurunan yang paling signifikan adalah dari tangan pertama ke tangan kedua. Membeli mobil dalam kondisi gress baru dan memasukkan ke pasar mobil bekas, otomatis harganya akan terdepresiasi. Status mobilnya sudah nggak “perawan”. Mobil itungan 1 hari keluar dari showroom saja sudah dianggap seken. Harganya sudah terkoreksi. Sebanyak apa ? Tergantung mobilnya dan kondisi pasar otomotif juga. Nggak ada angka pasti untuk itu. Yang jelas penurunannya lebih signifikan daripada membeli mobil seken tangan kedua ke ketiga dan seterusnya.

Kenapa ? Karena waktu beli mobil dalam status seken, ibaratnya kita sudah membeli mobil dengan harga “pasaran bekas”. Jadi ketika dijual lagi, mungkin tidak akan turun – turun amat, karena akan terus ngikutin harga pasaran. Kalaupun turun juga karena kondisinya mungkin kurang bagus. Itupun nggak banyak sih, kecuali bekas tabrakan.

Ketika sudah berstatus “bekas”, harga mobil akan turun cukup drastis

https://www.wbur.org/hereandnow/2018/08/07/buying-used-car-tips-advice )

Secara nilai, lebih menguntungkan beli mobil seken, tapi yaa bagi sebagian orang membeli mobil dalam kondisi baru itu kesenangan tersendiri, juga kondisi mobil baru jelas lebih terjamin (bukan bekas tabrakan atau banjir, garansi ATPM masih mengcover juga seandainya dapat unit cacat).

Popularitas Mobil

Alasan paling pertama dan terutama dari diminatinya sebuah mobil di pasaran bekas adalah fakta bahwa dalam sistim ekonomi barang dengan banyak peminat pasti harganya akan lebih kuat dan lebih mudah dijual. Hukum supply-demand berlaku disini.

Merek ? No, faktor yang lebih berpengaruh dari merek adalah popularitas mobilnya sendiri. Mobil dengan demand tinggi seperti Avanza dan Kijang Innova harganya akan sangat bertahan. Bahkan Kijang Innova tipe Bensin dan Diesel saja harga jualnya selisih cukup banyak di tahun yang sama, karena tipe Diesel lebih populer.

Kijang Innova generasi lama varian diesel harganya relatif bertahan dibanding yang tipe bensin karena lebih banyak peminat.

https://otomotif.tempo.co/read/1115340/amankah-solar-b20-dipakai-innova-diesel-ini-jawaban-toyota )

Merek yang populer tidak selalu memiliki harga jual yang baik, meskipun kecenderungannya iya karena lebih populer ketimbang merek-merek yang lain. Ada juga beberapa model Toyota yang harga bekasnya tidak sekuat Avanza atau Innova, seperti NAV-1 contohnya. Sebelas-duabelas saja harga bekasnya dengan Nissan Serena, malah cenderung lebih jatuh daripada Serena. Atau Yaris yang juga bekasnya tidak sekuat Honda Jazz.

Toyota NAV-1 yang harga bekasnya masih kalah dari Nissan Serena yang lebih populer. Model mobil ini juga dianggap sudah outdated, terlalu “biasa” dibanding Serena maupun Biante.

https://id.priceprice.com/Toyota-NAV1-8165/ )

Membeli mobil yang kurang populer, selain harga jualnya jatuh, cenderung sepi peminat atau istilah dagangnya kurang likuid. Jangankan pembeli perorangan, showroom mobil bekas pun biasanya tidak mau ambil resiko karena muter barangnya lama. Nyimpen mobil kelamaan di showroom juga bisa rugi kena depresiasi. Jadi biasa untuk model kurang populer showroom nawarnya ke pengguna lumayan “sadis”.

Reputasi dan Kelas Produk

Di Indonesia umumnya mobil berjenis SUV / MPV besar bermesin bensin atau sedan besar bermesin 6 silinder ke atas harganya akan terkoreksi banyak. Karena terkena stigma bahwa mobil mewah, mesin besar, pasti boros BBM dan perawatannya mahal. Mobil bekas mewah yang depresiasinya cukup rendah adalah Toyota Harrier generasi kedua bermesin 2.4 Liter, itupun serendah – rendahnya depresiasi Toyota Harrier minimal penurunannya setahun lebih dari 50 juta. Ya 50juta terdengar banyak, tapi itu nggak sampai 10% dari harga barunya Harrier sih.

Toyota Harrier generasi kedua, harga jual kembalinya sangat tinggi untuk ukuran mobil bekas premium. Meskipun sekarang sudah tidak sekuat dulu karena faktor usia dan sudah berganti 2 generasi (Lexus RX sekarang sudah memasuki generasi ke-4)

 

Sama seperti ketika produk itu terkenal kurang awet seperti contohnya KIA Carnival lawas, harganya sekarang setara dengan motor bebek baru. Padahal secara kelas itu mobil mewah. Honda Accord bermesin V6 3.5Liter juga sekarang harga pasarannya sudah sebelas-duabelas dengan versi 2.4 Liternya. Padahal terakhir mobil ini dijual tahun 2012 selisih harga pada saat baru sekitar 200 juta-an, atau sekitar 30-40% lebih mahal dari versi 2.4 Liter yang saat itu harganya 500 juta-an.

KIA Carnival, terutama yang bermesin bensin. MPV besar, bermesin besar, dari merek Korea, reputasinya soal ketahanan dan perawatan juga kurang baik, menyebabkan mobil ini harga jualnya sangat jatuh meskipun kelasnya sebenarnya mewah.

( http://hobimobilmagz.blogspot.com/2017/04/spesifikasi-kia-carnival-tahun-2000.html )

BMW, Mercedes-Benz ? Nggak se-ngenes KIA Carnival, tapi nggak kuat-kuat banget juga. Merek Eropa pada umumnya sudah dicap “perawatannya susah” dan “rewel” akibat reputasi produk – produk Eropa era 1990 sampai 2000-an awal yang mulai banyak komponen elektroniknya.

BMW generasi E46, hanya versi 2 pintu saja yang harganya bertahan. Versi 4 pintunya bisa didapatkan dari harga semurah 80 juta-an.

https://www.bmw-m.com/en/topics/magazine-article-pool/bmw-m3-e46-portraet.html )

Selain itu pembeli merek Eropa, cenderung lebih suka membeli mobil dalam kondisi baru. Karena di kelas ini gengsi lebih main.

Sebaliknya jika itu mobil yang murah, hemat BBM dan tahan banting, harganya cenderung bertahan. Bahkan sampai pada level sungguh-terlalu seperti Avanza generasi awal dan bahkan Kijang Kapsul, terutama varian Diesel. Harga mobil – mobil ini dalam kondisi baru pun juga masih masuk daya beli masyarakat orang Indonesia sehingga model – model ini terus laris dan menyebabkan depresiasinya tidak sadis-sadis amat.

Keluar Model Baru / Varian Baru

Ketika sebuah mobil keluar model terbarunya, harga bekas biasanya cukup terkoreksi. Karena model lama jelas dianggap sudah ketinggalan zaman. Contoh adalah Honda CR-V tahun 2013 yang sekarang bisa didapatkan di harga 200 sampai 250 juta-an, padahal sebelum keluar model CR-V baru, harganya masih agak tinggi. Umumnya, harga akan terkoreksi sekitar 10% saat sebuah mobil keluar versi terbarunya. Tetapi jika hanya sekedar facelift atau update minor saja, biasanya tidak terlalu berpengaruh.

Kebijakan pemerintah juga berpengaruh dalam naik-turunnya harga jual mobil. Semisal kebijakan LCGC yang langsung juga berdampak pada pasar mobil seken. Lho, kok bisa ?

Akibat kemunculan LCGC, harga jual kembali mobil – mobil kelas 100 – 200 juta-an juga turut terkoreksi.

Seperti di poin pertama, dulu orang dengan kocek terbatas itu paling-paling beli mobil dalam kondisi bekas yang sudah terdepresiasi cukup banyak. Tetapi sejak aturan LCGC diteken, ATPM memproduksi model baru yang lebih murah, orang dengan dana terbatas pun bisa menikmati mobil baru. Nggak peduli itu mobil kelas di bawahnya, yang penting baru. Gress dari showroom. Mana promo kreditan mobil baru juga semakin tidak memberatkan. Akibatnya karena kecenderungan beralih ke mobil baru, harga mobil bekas pun terkoreksi, terutama mobil bekas di rentang kelas dan harga yang mirip.

Mobil Antik ?

Mobil antik adalah mobil dengan harga pasaran yang tergolong “gelap”. Mobil – mobil ini langka, edisi terbatas, sangat diincar orang untuk barang koleksi, tapi jumlah barangnya sedikit. Akibatnya harganya cenderung tinggi.

Di Indonesia (dan sebagian, di dunia), hal ini berlaku pada mobil – mobil seperti :

  • Jip 4×4 3-pintu lawas seperti Toyota “Hardtop” FJ/BJ40, Daihatsu TAFT, Suzuki Jimny, mobil – mobil ini dalam kondisi bahan pun bisa ditawar dengan harga tidak masuk akal, apalagi jika full orisinil dan 4×4 nya masih aktif. Dijamin penawarnya banyak dan cocok untuk barang investasi.
  • Hatchback 3-pintu seperti Honda Civic Estilo, yang sekarang pasarannya bisa lebih mahal dari Honda Brio Satya baru tergantung kondisi. Makin ori barangnya, makin mahal juga harganya. Meskipun Estilo lokal sebenarnya ya cuma versi hatchback dari Civic Genio 4-pintu bemesin D16A non-VTEC (bukan versi SiR bermesin B16A yang legendaris itu). Civic Genio nya sendiri beda nasib, harganya tidak sampai 50 juta.

Honda Civic Estilo, yang harganya sudah tinggi sekali. Btw yang di foto itu Civic EG Spoon, bukan yang dijual di Indonesia.

https://static.carthrottle.com/workspace/uploads/posts/2015/05/3565507519_e2dcbc71a8_o-5561fe8dbee0b.jpg )

  • Sport sedan dan sport car JDM (Japanese Domestic Market) – Honda Type R, Mitsubishi Evolution, Subaru Impreza WRX, Nissan Skyline series, Toyota Supra, Honda NSX, dll. Karena populasinya jarang, bahkan tak masuk Indonesia secara resmi lewat ATPM. Barangnya jadi langka sekali dan ini adalah dream car semua anak muda yang hobi ngebut berkat popularitasnya di video game.

Honda NSX, sportscar Jepang yang saking legendaris dan saking langkanya, makin gelap juga harganya. Semilyar saja nggak cukup rasanya.

https://www.carmagazine.co.uk/car-reviews/honda/honda-nsx-2016-review/ )

  • Semua mobil Eropa 2 pintu di Indonesia akan selalu layak jadi barang investasi karena diburu kolektor. Apalagi kalau sudah 2 pintu, edisi terbatas pula.
  • Mobil Klasik Amerika. Ford Mustang, atau mobil “lowrider” seperti Chevrolet Bel Air, mobil – mobil dengan ciri khas mesin V8 karburator raksasa dan bodi yang mungkin kalau parkir makan 1,5 badan jalan sendiri.

Mustang generasi pertama ini cukup langka dan harganya juga “sadis”

https://www.classicdigest.com/cars/ford/mustang/141511 )

  • Mobil – mobil Inggris seperti : Morris Mini “Mr. Bean”, beberapa tipe Jaguar dan Land Rover.

Mini yang benar-benar “mini”

https://id.priceprice.com/MINI-Mini-Classics-8040/ )

  • VW jadul seperti Kodok (bukan new Beetle), Safari, atau Kombi.
  • Lamborghini, Ferrari, atau Porsche klasik.
  • dll

Meskipun ya mobil antik bukan instrumen investasi yang bagus, karena kebanyakan barangnya langka dan sekalinya ada yang punya, jarang ada yang mau ngelepas. Kalaupun mau ngelepas harganya akan semakin meroket lagi.

Jadi, seberapa pentingkah harga jual kembali saat membeli mobil ?

Untuk segala sesuatu jelas ada plus-minus nya, semua kembali pada preferensi pribadi seseorang.

Jika anda penikmat mobil yang “kurang populer”, ya jangan minta harganya tinggi dan mudah dijual dong, memang hukum pasar selalu seperti itu, nggak bisa dilawan. Apalagi kalau sudah kelas mobil mewah, sudah harga jual kembali nggak bisa jadi itungan. Toh sebanding dengan gengsinya. Atau alternatif lainnya, mungkin membeli mobil – mobil ini dalam kondisi seken akan jauh lebih menguntungkan. Meskipun semurah-murahnya kalau itu mobil kelas mewah ya jangan berharap perawatan dan harga suku cadangnya seperti mobil baru yang seharga.

Tetapi jika anda cenderung tidak mau repot dan kondisi ekonomi juga belum sultan-sultan amat, ada baiknya beli yang mudah dijual saja. Mudah dijual disini termasuk harganya juga tidak hancur-hancur amat ya. Apalagi jika mobil dipakai operasional dan jam terbangnya cenderung tinggi, perawatan mobil yang populer akan jauh lebih mudah karena otomatis suku cadang nya tersedia dimana – mana. Akan lebih baik sabar menunggu kondisi ekonomi lebih baik daripada di tengah jalan kita yang kesulitan.

Yang jelas membeli mobil itu pasti rugi. Karena sekecil apapun depresiasi pasti tidak akan menutup biaya bensin dan perawatannya.

Beli mobil hanya akan untung kalau dipakai usaha, untuk pemakaian pribadi sih jelas ruginya.

 

 

 

 

 

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *