Bedanya Mobil Mewah dan “Mobil Biasa” ?

Murah dan mahal itu relatif. Ya ya ya. Buat sultan beli mobil Rolls Royce itu kayak beli kacang, sedangkan rakjat ketjil beli Agya pun nyicilnya berat. Tetapi kita lagi nggak mau bahas itu.

Maksudnya, relativitas murah-mahal itu relatif, tapi mewah-enggak itu jelas enggak relatif. Meski statement saya ini juga nantinya menimbulkan perdebatan “loh orang yang biasa naik motor pake Avanza aja udah dianggep mewah”, eh, nggak gitu maksudnya bambank.

Murah-Mewah itu bukan relatif. Itu adalah term dalam industri untuk pembedaan klasifikasi produk.

Apa Saja Bedanya ?

Perlu diketahui bahwa pabrikan secara sadar membedakan produk “murah” dan produk “mewah”. Ambil contoh Toyota, mereka sadar bahwa Agya itu produk “murah” dan Lexus RX itu produk “mewah”.

Mobil murah, secara industri, itu mobil yang didesain, dirancang, diukur, dengan mindset ekonomis oleh perusahaan otomotif. Tetapi se ekonomis-ekonomisnya, tetap ada pakem. Seperti pesawat low-cost carrier dengan full service. Macem Citilink dan Garuda Indonesia.

Citilink dan Garuda Indonesia merupakan maskapai yang berada pada satu atap perusahaan, tapi beda segmen. LCC seperti Citilink fasilitasnya jelas jauh lebih minim dan harganya lebih murah. Meski begitu, standar keamanannya tetap sama, hanya beda fasilitas saja.

http://www.nasionalisme.co/garuda-indonesia-dan-citilink-tambah-kursi-penerbangan/ )

Tetap hal – hal mendasar seperti safety itu dipikirkan. Tetap baut rodanya kenceng nggak kendor masangnya. Ngeremnya tetep pakai disc atau tromol nggak disuruh ngerem pakai sendal juga.

Meski kesadaran mengenai safety mobil itu baru merebak baru – baru ini. Saya juga agak kesel soal kelengkapan safety yang minim pada sebuah mobil “murah”. Nyawa orang kan ukurannya bukan duit. Minimal airbag 2 dan ABS lah ya kalau sekarang. Terus rangka yang paling enggak di pengetesan ASEAN NCAP itu 3-4 bintang dan itupun bukan issue karena rancang bangun rangkanya. Euro NCAP 3 bintang ? Lebih bagus lagi. Karena sekarang dapat 4 dan 5 bintang itu meliputi safety equipment canggih macam auto emergency braking (AEB) misalnya. Susah.

Mendapat 5-stars EURO NCAP jelas susah. Tak semua mobil di Indonesia dijual di Eropa, dan AEB juga belum menjadi standar. Jadi paling tidak kalau di Euro NCAP mendapat 5 bintang, spek Indonesia paling-paling hanya 3-4 bintang saja. 

https://paultan.org/2015/12/01/euro-ncap-to-test-autonomous-emergency-braking-aeb-systems-ability-to-detect-pedestrians/ )

Mobil “Murah” (Economy Car)

Istilahnya, mobil yang “murah” itu bisa dibilang “gantinya kaki”. Cuma buat ke titik A ke titik B. Nganter orang maupun nganter barang. Meski catatan khusus untuk mobil barang, belum ada yang tingkat keamanannya cukup memadai. Nyaris semua mobil barang atau pick-up itu tidak dilengkapi Airbag dan ABS. Kelengkapan safety untuk saat ini baru terstandarisasi karena faktor persaingan pasar saja, tapi untuk regulasi, sama sekali belum ada.

Mobil murah, pertimbangannya juga daya beli konsumen rata – rata. Karena memang ditujukan untuk pasar yang lebih luas dan seringkali menjadi “penopang” ekonomi ATPM juga. Sehingga dengan pemikiran seperti itu, “menekan ongkos sekecil-kecilnya untuk hasil sebesar-besarnya” adalah prinsip utamanya.

Datsun Cross, satu – satunya mobil “murah” di bawah 200 juta yang dilengkapi peranti kontrol stabilitas (Vehicle Dynamic Control / VDC).

Mobil ini tidak membawa profit terlalu besar untuk ATPM, tetapi ibarat berjualan ini adalah barang yang laris, dan rumusan jualan supaya laku banyak adalah bagaimana profit tidak terlalu besar tapi bisa terjual banyak. Karena barang yang begini biasanya lebih likuid, lebih cepat laku, perputaran uang-barangnya juga cepat.

Mobil – mobil ini biasanya tidak memiliki fasilitas yang terlalu sophisticated. Cenderung mengutamakan fungsi ketimbang gengsi. Bahan interior juga biasa saja, rata – rata didominasi panel plastik. Tingkat kekedapan dan kemewahan cenderung “biasa”. Bahkan terkadang mesin yang digunakan bisa bertahan 3 generasi hanya mendapat ubahan minor saja, karena ongkos mengembangkan mesin baru itu mahal, dan dengan teknologi baru artinya cost yang jatuh ke konsumen untuk perawatan juga lebih mahal. Jadi, daripada didemo, mending dibiarkan saja, toh  akan tetap laku. If it ain’t broke, don’t fix it.

Honda merupakan pabrikan yang sangat efisien memanfaatkan mesin. Mesin L15 ini sudah berusia lebih dari 15 tahun sejak 2003 pertama kemunculannya di Honda City. Meski teknologinya berubah dari i-DSI dan VTEC menjadi i-VTEC di 2008, basis mesinnya tetap sama, dan hanya mendapat ubahan di sektor transmisi saja. Digunakan oleh banyak sekali lineup Honda sejak 2003 : Jazz, City, Freed, HR-V, Mobilio, BR-V.

https://autonetmagz.com/first-impression-review-honda-mobilio-e-manual-gallery-photo/11490/honda-mobilio-l15z1-engine/ )

Dan yang lucu, banyak kritikus, reviewer, “jurnalis” otomotif zaman now, mengkritik soal penggunaan material plastik pada mobil di bawah 200 juta. Hellooooooo?

Makin parah, karena mereka cukup “berpengaruh”, akhirnya banyak yang terpengaruh juga dan mencoba jadi reviewer…. dengan cara yang sama pula. Hadeeh.

Di atas ini, sebenarnya ada juga mobil kelas “tanggung”. Mobil – mobil ini bisa dianggap mewah, tapi masalahnya tidak memiliki fasilitas dan privilege layaknya mobil mewah. Di Indonesia kelas ini biasanya rentang harga nya antara 400 juta sampai 600 juta. Mobil seperti Honda CR-V, Mazda CX-5, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, atau sedan besar sekelas Camry dan Accord.

Sebagaimanapun “premium” nya sebuah Mazda CX-5, tetap kategorinya bukan “luxury car”. Tapi dibilang Economy car juga agak lucu dalam konteks di Indonesia. Saya lebih suka menyebutnya kelas “tanggung” karena jelas ia adalah persinggungan antara mobil murah dan mobil mewah.

Dalam konteks di Amerika misalnya, masih dianggap “economy car“, tapi jelas kalau di Indonesia pakai istilah “economy” untuk sebuah Honda CR-V atau Accord jelas lucu.

Mobil “Mewah” (Luxury Car)

Definisi mobil “mewah” secara industri selalu merujuk ke mobil – mobil yang eksklusif seperti BMW, Mercedes-Benz, Lexus, Audi, Jaguar, Land Rover, dll.

Mobil mewah, bukan berarti bukan untuk cari untung. Justru terbalik, mobil mewah itu keuntungannya besar karena biaya membuatnya juga besar. Tetapi secara volume jelas kecil karena harganya mahal. Sehingga perputaran uang-barangnya lambat.

Secara teknologi, mobil dengan kasta “mewah” ini pastinya menggunakan teknologi terkini, bukan mesin yang sudah 15 tahun tidak diubah. Suspensi juga pastinya menggunakan teknologi yang cenderung baru. Kalaupun berbagi platform, pastinya tidak dengan eco car, tapi dengan produk “menengah-atas” nya pabrikan. Misalnya, nggak ada produk Lexus yang berbagi platform dengan Toyota Agya atau Avanza, minimal sekelas Alphard, atau Land Cruiser. Seperti yang terjadi pada Lexus LM (Alphard) dan Lexus LX (Land Cruiser).

Ketika Toyota Alphard belum cukup “mewah” …

https://www.topspeed.com/cars/car-news/meet-the-lexus-lma-luxurious-version-of-the-toyota-alphard-you-didn-t-know-you-wanted-ar185208.html )

Tetapi walaupun ada produk yang “kembar” atau seplatform, tetap mobil kasta “mewah” ini biasa dibedakan.

Pembedanya ? Refinery, equipment.

Mobil mewah itu pembelinya rata-rata lebih “nritik”. Lebih banyak mau ini mau itu. Makanya ketika sebuah mobil sudah masuk kasta “meVVah”, maka ia memiliki banyak kelengkapan dan opsi yang membedakannya dari mobil “murah” atau “tanggung”. Lah iya, kalau kita beli beberapa lineup Mercedes, velg standarnya bisa milih dan minta diganti kalau kita nggak suka dengan tinggal menambah sejumlah uang. Warna interior, warna seatbelt, juga bisa milih. Di mobil kayak CR-V misalnya, nggak suka velg standarnya ya beli di luar sendiri. Padahal itu udah masuk mobil kelas “tanggung”.

Mercedes-Benz sekarang bahkan sudah menggunakan platform Instagram untuk memudahkan pengguna berusia muda memilih option yang mereka inginkan.

https://creativepool.com/danielbonner/projects/mercedes-benz-us-build-your-own-gla-on-instagram-for-mercedes-benz-us )

Bahkan yang level ultra mewah seperti Rolls Royce, Bentley, Porsche, hingga Lamborghini, Ferrari, setiap mobil bisa tailor-made sesuai dengan keinginan pembelinya. Banyak equipment mobil – mobil seperti ini juga “dijual” dengan status “optional”, yang harganya juga nggak murah. Harga mobil – mobil ini juga diitung dengan acuan US$, nggak ada retail price dalam Rupiah karena impor langsung sesuai order (price by order). Rumusannya, semakin mewah sebuah mobil, makin bebas anda memilih spesifikasinya. Perbedaan lini produk hanya sebatas varian mesin dan kegunaannya saja. Misalnya Porsche 911 dari 911 Carrera biasa hingga GT3 RS yang memang spek kompetisi / balap.

Porsche adalah pabrikan yang terkenal memberikan kustomisasi sangat banyak pada setiap variannya.

https://newsroom.porsche.com/en/company/porsche-car-configurator-for-tablet-smartphone-desktop-10151.html )

Selain itu, dalam tingkat refinement juga terkadang bisa sangat berbeda, meskipun mobilnya identik dan satu platform. Misalnya untuk mengurangi getaran, bahan – bahan seremeh mounting – mounting dan bushing – bushing bisa saja dibedakan dan peredamnya bisa berbeda. Suspensi juga terkadang bisa dirancang ulang. Jadi terkadang bisa cuma beda “casing”, tapi naikannya bisa berbeda jauh sekali.

Mobil mewah memang sekali masuk duit ke ATPM untungnya besar, apalagi ditambah dengan opsi – opsinya. Masalahnya produk – produk ini kalaupun laku belum tentu sebulan sekali. Orientasi produk mewah memang bukan sales volume atau profit, tetapi lebih ke pride. Bagaimana produknya bisa me-representasikan konsumen yang disasarnya. Makanya kebanyakan produsen mobil ultra-mewah pada akhirnya mesti bergantung pada pemodal besar yang berjualan mobil “biasa”. Seperti Bentley, Porsche, Lamborghini, yang ketiganya adalah di bawah VW Group.

VW Group menaungi banyak sekali merek termasuk Porsche dan Lamborghini. Oh ya, di Indonesia saja VW dianggap mewah, kalau di Eropa ia mobil “pasaran” seperti Toyota kok. Dan memang aslinya VW bukan merek mewah.

https://www.youtube.com/watch?v=Iq1Vi8a_VHI )

Ada juga beberapa kondisi dimana merek mewah justru rugi per unit mobil terjual, setidaknya itu yang dialami oleh Lexus dan Bugatti. Lexus LFA dan Bugatti Veyron adalah kondisi dimana mobil dijual tidak untuk mencari profit, hanya bahan showcase teknologi oleh Toyota dan VW semata.

Proyek ambisius Lexus membuat sebuah supercar bernama LFA, dijual terbatas, dan setiap unit terjual Toyota justru rugi karena biaya pengembangan mobil ini sangat tinggi.

https://www.marshallgoldman.com/inventory/used-2012-lexus-lfa-rear-wheel-drive-coupe-jthhx8bh2c1000319 )

Selain produk, pelanggan mobil mewah juga sering mendapat perlakuan istimewa dari dealer atau ATPM. Misalnya dikirim suvenir saat berulang tahun – yang harganya, juga pasti nggak murah. Atau mendapat privilege dalam beberapa fasilitas seperti VIP Parking. Bukan, bukan VIP Parking di lobby hotel atau mall, tapi memang kerjasama pabrikan untuk menyediakan VIP Parking khusus untuk pengguna merek tertentu. Lexus misalnya memberikan privilege VIP Parking untuk setiap pengguna Lexus yang berkunjung di beberapa mall.

Exclusive Parking Privilege untuk pengguna Lexus, salah satu experience kelas wahid untuk para pengguna Lexus.

https://www.centralparkjakarta.com/lexusexclusiveparkingprivilege/ )

Soo… Pesannya adalah…

Kedua “kasta” mobil ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar dari tujuan mereka diciptakan. Mobil murah, jelas merupakan mobil dengan kegunaan yang lebih fleksibel dan pasar yang luas, sedangkan mobil mewah diciptakan untuk pasar yang lebih spesifik dan eksklusif.

Baik konsumen – dan reviewer khususnya – mengetahui perbedaan ini penting. Karena keduanya tidak bisa disamakan, dan cara penilaiannya juga jelas tak sama. Menilai sebuah mobil “murah” dengan standar mobil mewah : bertabur fitur, kualitas interior kelas wahid, tidak ada material plastik, jelas tak adil. Kalaupun ada mobil kelas “ekonomi” dengan kelengkapan lumayan, ya anggap saja bonus. Yang perlu dinilai dari sebuah mobil “ekonomis” adalah praktikalitas dalam kegunaan sehari – hari, drivability (rasa nyetir di kemacetan, kopling berat atau enteng, kuat nanjak atau agak loyo), konsumsi bahan bakar, perawatan. Meributkan soal kualitas kepresisian panel dalam mobil ekonomis jelas tidak relevan. Yang dicari dari mobil – mobil ini adalah fungsinya.

Sedangkan mobil mewah, jelas yang mesti dinilai adalah fasilitasnya, opsi – opsi yang ditawarkan, drivability (bagaimana respon mesin, transmisi apakah cukup halus, kekedapan kabin, bantingan), kualitas kepresisian dan penggunaan bahan luar-dalam. Perawatan dan bahan bakar jelas bukan prioritas utama pengguna mobil kelas ini, walaupun tetap perlu menguji konsumsi bahan bakar – karena mobil – mobil seperti ini menggunakan teknologi terbaru yang (pasti) diklaim hemat dan bertenaga. Sebuah claim tentu harus dibuktikan bukan ?

Yang jelas ibarat pesawat, tak mungkin membeli tiket AirAsia berharap dapat fasilitas Garuda Indonesia.

 

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *