Keamanan Mobil dan Regulasi Safety

Seberapa penting tingkat keamanan sebuah mobil ?

Di Indonesia, rasanya tingkat keamanan hanya sebagai embel – embel marketing saja. Bahwa mobil yang punya kelengkapan keamanan lebih, memiliki nilai tambah tersendiri, meskipun pembelinya ya tidak terlalu peduli juga.

Nggak bisa disalahkan karena tingkat keamanan mobil di Indonesia itu jadi semakin baik karena faktor persaingan. Jumlah airbag dan peranti keamanan aktif itu menjadi komoditas jualan, akhirnya semua pabrikan berlomba – lomba menghadirkan peranti keamanan supaya meningkatkan nilai jualnya.

 

Toyota melengkapi Rush terbaru dengan 6 buah airbag, sebagai upaya supaya kompetitif menghadapi tantangan dari Mitsubishi Xpander 

Yang jadi masalah adalah ketika keamanan mobil bukan jadi komoditas jualan di suatu segmen. Yup, ambil contoh segmen mobil komersil seperti pick-up dan truk. Karena persaingan di kelas ini tidak melibatkan peranti keselamatan. Mobil komersil persaingannya lebih ke daya angkut dan kehematan ongkos operasional.

Jika mengikuti regulasi keamanan di Indonesia memang nggak salah sih karena baru mewajibkan sabuk keselamatan 3-titik saja. Ditambah, kalau truk diberi ABS dan airbag, itu juga nggak murah. Di segmen ini harga menjadi sebuah pertimbangan pelik karena digunakan untuk usaha. Apalagi pickup seperti L300, Granmax, Carry, yang harganya bisa jadi tidak kompetitif jika dilengkapi ABS dan airbag.

Suzuki Carry terbaru pun walau sudah canggih dilengkapi Immobilizer, tetap belum diberi peranti ABS dan Airbag.

Hino Ranger 500 memberikan opsi ABS karena permintaan salah satu konsumen perusahaan besar tanah air

https://www.truckmagz.com/hino-fitur-abs-bukan-jaminan-keamanan-truk/ )

Seberapa aman mobil bisa dianggap aman ?

Ya kita kadang dengan naifnya bilang “aman dan enggak tergantung supirnya”. Seakan di jalan jarang terjadi oh sh*t moment, padahal yang terjadi malah sebaliknya, kejadian sh*t happens itu banyak sekali di jalanan. Apalagi ngomong jalanan Indonesia.

Asumsikan nih kita orang yang sangat hati – hati, nyetir dengan kaidah safety driving yang baik, nyetel spion nyaris tanpa blindspot, gak melebihi kecepatan maksimum dalam kota, jalan di jalur yang semestinya, tidak nyalip – nyalip sembarangan. Apakah itu menjamin kita akan aman terus di jalan ?

Ya iya aman selama nggak ada jalan licin, motor ngelawan arus, pengemudi mabuk, angkot berhenti sembarangan, bus rem blong, truk muatan tergelimpang, pohon tumbang, lobang di jalan, kucing nyeberang jalan, mantan yang tiba-tiba muncul… eh. Di lapangan kan justru itu yang sering terjadi. Memang harus diakui selama kita nggak aneh-aneh di jalan, mobil rajin dirawat luar-dalem, tingkat resiko kecelakaan memang cukup rendah. Ya tapi mana ada yang tau kalau tiba – tiba ada truk remnya blong, ya kan ? Tetap harus prepare for the worst.

Salah satu penyebab truk kecelakaan yang paling umum adalah rem blong, dan ketika truk sudah rem blong bisa menghantam siapa saja. Tidak peduli se-aman anda mengemudi, kejadian seperti ini akan selalu ada.

http://blog.tribunjualbeli.com/2159/hati-hati-beginilah-penyebab-rem-truk-atau-bus-bisa-blong-kejadian-di-ungaran-telah-mengajarkan-kita )

Pengujian Keamanan

Apakah pabrikan menguji setiap mobil yang dipasarkan ? Pada umumnya, pabrikan pasti melakukan pengujian secara internal. Masalahnya, hasil pengujian internal pabrikan itu tidak dipublikasikan. Namanya orang jualan, nggak mungkin jelek – jeleknya ditunjukin juga.

Karena itu ada lembaga – lembaga independen yang bertugas menguji keamanan setiap kendaraan yang beredar pada suatu benua / negara. Di Amerika ada NHTSA (National Highway Traffic Safety Administration) dan IIHS (Insurance Institute for Highway Safety), di Jepang ada Japan NCAP (JNCAP), di Eropa ada Euro-NCAP, di Korea ada K-NCAP, di Australia ada A-NCAP, China ada C-NCAP, ASEAN sendiri memiliki ASEAN-NCAP, dll. Lembaga – lembaga ini pada umumnya milik pemerintah dan berwenang melakukan pengujian terhadap setiap mobil yang beredar. Meskipun ada juga yang dilakukan oleh perorangan seperti Teknikens Värld yang viral karena Mercedes A-Class lama yang terguling dan Toyota Hilux yang nyaris terguling.

Standar yang ditetapkan setiap negara pun berbeda tergantung dari regulasinya. Standar tertinggi saat ini adalah Euro NCAP yang sudah memasukkan fitur keamanan aktif seperti Lane Departure Warning, Blind Spot Monitoring, Auto Emergency Brake, dll sebagai bagian dari pengetesan. Sedangkan di ASEAN NCAP, hanya diterangkan bahwa mobil memiliki kelengkapan – kelengkapan tersebut, tapi tidak diuji seperti di Euro NCAP.

Euro NCAP memiliki standar paling lengkap dari semua pengujian tabrak.

https://www.driving.co.uk/news/new-dual-rating-crash-test-launched-to-show-benefits-of-car-safety-systems/

Lembaga – lembaga ini tidak mengatur regulasi secara spesifik, bahkan tidak memiliki wewenang untuk melarang pabrikan tertentu menjual produk yang terindikasi “berbahaya”. Tugas mereka adalah evaluasi dan memberi saran perbaikan pada pabrikan. Tentu saja, karena hasil tes mereka dipublikasikan, akan berdampak sangat signifikan apabila pabrikan mengabaikan saran dari lembaga – lembaga ini. Beberapa dilakukan perbaikan yang akhirnya membuat skor pengetesannya jadi membaik. Seperti yang dilakukan Toyota sejak Hilux terindikasi tak aman, dengan update pada sistem ESC nya.

Toyota Hilux setelah melakukan perbaikan pada sistem ESC.

Mengapa test nya harus sedemikian “nritik” sampai manuver mobil juga diuji ? Ya nggak usah jauh – jauh lah, memangnya di Indonesia kasus mobil keguling dikit ? Di negara – negara yang menyelenggarakan pengujian ini, nilai keamanan mobil tidak hanya ditentukan pada uji tabrak dan kekuatan rangka, tapi bahkan kemampuan mobil itu menghindari tabrakan. Karena tabrakan adalah worst case scenario yang bisa terjadi. Kalau itu bisa dicegah, ya sebaiknya dicegah, ya kan ?

Dan secara logika mobil yang memiliki rangka yang bagus, otomatis juga dapat melakukan manuver dengan aman. Walaupun mobil dengan suspensi dan sasis yang “kurang” masih dapat diperbaiki dengan sistem ESC jika belum terlalu parah.

Untuk Euro NCAP sendiri bahkan sudah tidak melakukan pengujian ESC (Electronic Stability Control), karena penggunaan peranti ESC di Eropa sudah diwajibkan bagi setiap mobil baru.

Di Indonesia ?

Sebetulnya kita memiliki lembaga seperti KNKT (Komite Nasional Keselematan Transportasi) dan juga ada lembaga – lembaga pelatihan seperti IDDC (Indonesia Defensive Driving Center).

KNKT adalah lembaga di bawah departemen perhubungan yang memiliki wewenang untuk investigasi dan evaluasi terhadap segala jenis kecelakaan baik di darat, laut, maupun udara.

http://indonesiabaik.id/infografis/tugas-dan-fungsi-knkt )

IDDC (Indonesia Defensive Driving Center) adalah lembaga pelatihan mengemudi yang bekerjasama juga dengan lembaga pelatihan di mancanegara. Mereka juga sering mendapat info – info terbaru mengenai standar keamanan mobil – mobil baru.

Tetapi sekali lagi karena satu – satunya sistem keamanan yang masuk regulasi adalah kewajiban sabuk pengaman saja, maka ya jelas, belum digalakkan pengujian – pengujian seperti ini. Seperti dikutip pada Tirto.id :

Di Indonesia pemasangan fitur-fitur keselamatan pada mobil memang baru bersifat opsional, kecuali untuk sabuk pengaman. Keharusan memasang sabuk pengaman diatur Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM37 Tahun 2002 tentang Persyaratan Teknis Sabuk Pengaman. Regulasi itu mewajibkan setiap kendaraan bermotor roda empat atau lebih dilengkapi sabuk pengaman. Namun, keberadaan sabuk pengaman pun baru diwajibkan di kursi sopir dan penumpang kursi depan, sedangkan untuk kursi penumpang di belakang tidak wajib. Ini tercantum jelas pada pasal 106 UU Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. 

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul “Pabrikan Mobil Diminta Lengkapi Fitur Keselamatan Meski Tak Wajib”, https://tirto.id/pabrikan-mobil-diminta-lengkapi-fitur-keselamatan-meski-tak-wajib-c977

Follow kami di Instagram: tirtoid | Twitter: tirto.id

Walaupun untuk pasar Indonesia bisa mengacu pada ASEAN-NCAP atau Global NCAP. Sempat viral kan Datsun Go tanpa Airbag yang dapat 0 bintang di Global NCAP atau Wuling Confero yang mendapat 1 bintang di ASEAN NCAP ?

Datsun Go crash test mendapatkan 0 bintang karena tanpa airbag. Belum lagi, seperti terlihat pada gambar rangkanya ikut terdeformasi.

http://www.globalncap.org/global-ncap-calls-for-urgent-withdrawal-of-datsun-go/ )

Wuling Confero mendapat 1 bintang di pengujian ASEAN NCAP karena varian yang dites adalah tanpa airbag.

https://otodriver.com/article/view/video-crash-test-wuling-confero-2018-asean-ncap/60nmbPQ7i33bsk1kAm-yD1yCrS6R_49ywm3COZjsOHs )

Memang sih makin kesini mobil penumpang peranti keamanannya makin banyak, tapi itu hanyalah akibat dari persaingan saja. Definisi mobil yang aman di setiap negara memang berbeda sesuai kebutuhan, tapi jika mau diterapkan di Indonesia, saya rasa mewajibkan ABS dan 2 airbag saja lah itu cukup. Tak harus yang terlalu muluk – muluk.

Untuk stability control agak sulit, karena kebanyakan mobil di Indonesia yang memiliki peranti stability control biasanya adalah grade / tipe tertinggi. Sedangkan untuk 2 airbag dan ABS, ah sekarang Toyota Agya saja sudah dilengkapi di semua grade. Jika sebuah LCGC saja bisa, seharusnya peranti ini menjadi mandatory equipment di setiap mobil. Rangka yang kuat dan menyerap benturan juga harusnya sudah standar, bukan pelat bodi tebal ya (cuma di Indonesia review mobil dan beli mobil selalu diketok-ketok bodinya).

Toyota Agya di Indonesia sudah dilengkapi airbag, dan mendapat skor yang cukup memuaskan (4 bintang untuk adult occupant dan child occupant protection). Sehingga, relatif aman.

http://www.aseancap.org/v2/?p=3659 )

Safety itu memang kesadaran pribadi, tapi regulasi akan membuat orang lebih aware dengan tingkat keamanan mobil yang dibelinya. Termasuk pihak penjual juga supaya berkomitmen menyediakan kendaraan yang aman.

Pada akhirnya, sistem keamanan bukan sistem yang idiot-proof. Kalau anda nyetir serampangan tetap saja resiko kecelakaan tinggi. Meski mampu beli mobil yang sistem keamanannya baik bukan berarti nyetirnya serampangan.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *