Mobil Digeber Tol Non-Stop Overheat ?

Musim mudik, apalagi lewat tol, sudah pasti mobil akan digeber kecepatan tinggi. Apalagi kalau mudiknya ujung ke ujung dari Barat sampai ke Timur. Orang justru lebih banyak kuatir dengan melajukan mobil di kecepatan tinggi ketimbang – macet berjam – jam, misalnya. Atau tanjakan curam.

Ada kekuatiran bahwa mobil tidak kuat digeber non-stop ujung ke ujung… well…

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/psj3zd377/kapolda-jateng-arus-mudik-tol-trans-jawa-sudah-turun )

Sejak tol transJawa beroperasi, ada banyak kekuatiran bahwa mobil “nggak kuat” digeber dari ujung ke ujung. Kuatir bahwa mesinnya kepanasan. Apalagi cuaca kita tropis dan tidak dingin seperti di Autobahn.

Well, iya sih bakal kepanasan, bakal overheat.

Kalau air radiatornya habis…

Premis ini akan berlaku kalau seandainya kita masih hidup di tahun ’20an atau ’30an. Dimana mobil itu masih pakai pendingin udara yang artinya tiap beberapa jam mesti kita berhenti untuk mendinginkan mesin. Pendinginan mesin mobil hanya bergantung sama angin, thok.

Ciri air cooled engine, terdapat sirip – sirip pada blok mesinnya untuk pendinginan. Masih banyak digunakan di sepeda motor, tapi di mobil sudah tidak ada.

https://auto.howstuffworks.com/air-cooled-engine.htm )

Tetapi di mobil dengan sistem liquid-cooling dan fuel injection seperti sekarang, bisa dibilang, 9-jam perjalanan tol non-stop itu jelas bukan perkara yang berat. Ya, apalagi, lewat tol.

Sistem Pendingin Mobil 

Pada umumnya mobil modern sudah menggunakan sistem pendingin cairan, dan ciri – cirinya adalah mereka mempunyai radiator. Iya, nggak ada kan mobil sekarang yang nggak pake radiator ? Ini jelas sudah bukan teknologi mewah lagi.

Sistem pendingin memiliki beberapa komponen utama :

Komponen – komponen sistem pendingin 

http://www.minneolaauto.com/cooling-system.html )

  • Radiator, yang merupakan peranti penukar panas, karena itu letaknya selalu di depan mobil. Benda ini memiliki sirip – sirip yang dialiri udara untuk menurunkan temperatur cairan pendingin. Selain itu di atasnya biasanya memiliki tutup. Tutup radiator ini menahan cairan panas bertekanan tinggi supaya tidak menguap akibat panas, sehingga selalu diberi peringatan untuk tidak membukanya saat panas. Tutup ini umurnya relatif panjang, tetapi patut diperhatikan secara berkala karena pegasnya bisa lemah dan berakibat air radiator terus berkurang.

JANGAN PERNAH membuka tutup radiator saat kondisi mesin masih panas.

https://0800radiators.co.nz/2017/09/25/auto-radiator-cap/ )

  • Cooling fan, terletak di belakang radiator. Kipas ini bekerja secara elektrik dan fungsinya adalah membantu pembuangan panas apabila temperatur kerja tinggi. Cooling fan radiator beroperasi berkala, mati-hidup-mati-hidup. Jika hidup terus atau mati terus, mengindikasikan suatu masalah. Sebaiknya panggil bengkel dan jangan dijalankan.
  • Thermostat, suatu katup yang bekerja berdasarkan sensor suhu. Benda ini akan membuka-menutup berdasarkan temperatur dari cairan pendingin / coolant. Thermostat dan cooling fan ini saling berhubungan. Kipas akan menyala ketika thermostat membuka, menandakan bahwa temperatur mesin cukup tinggi.
  • Water pump, merupakan jantung dari sistem pendinginan mesin. Fungsinya adalah sesuai namanya, mengalirkan cairan pendingin ke blok mesin, dan pada blok mesin sendiri cairan pendingin terletak pada ruang – ruang kosong bernama water jacket.
  • Hose / selang, biasanya berbahan karet karena elastis dan tahan terhadap pemuaian. Karena berbahan karet, jelas memerlukan penggantian secara berkala, apabila terindikasi ada kebocoran pada salah satu selang.
  • Reserve tank / tangki cadangan, tempat untuk “pengembalian” cairan berlebih atau memberikan suplai jika diperlukan cairan pendingin lebih. Biasanya untuk perawatan, yang perlu diperhatikan adalah level cairan pada tangki cadangan ini.

Umumnya, sistem pendinginan mesin bekerja sama juga dengan pendingin kabin / AC, sehingga ada beberapa komponen terintegrasi seperti heater core, kondensor, dan extra fan.

Sistem AC biasanya terintegrasi dengan sistem pendinginan mesin.

https://www.cars.com/auto-repair/glossary/ac-condenser/ )

Keseluruhan sistem ini bekerja untuk mempertahankan mesin untuk selalu berada dalam temperatur kerja. Sistem ini bekerja berdasarkan sensor – sensor yang juga terhubung pada ECU. Nah, bagaimana seorang yang awam, mengerti bahwa seluruh sistem ini bekerja dengan baik ?

Engine Temperature gauge (jarum teratas), memudahkan pengemudi untuk memantau temperatur kerja mesin. Posisi pada gambar adalah posisi normal (setengah kurang sedikit)

https://www.optimaforums.com/forum/5-optima-general-discussion/9897-where-should-coolant-temp-gauge-sit.html )

Beberapa mobil modelnya hanya lampu indikator seperti ini saja. Jika menyala biru artinya masih dingin, biasanya pagi hari, dan jika menyala merah artinya overheating.

https://www.lhmlakewoodford.com/service/car-dashboard-warning-lights-lakewood-co.htm )

Pabrikan mobil sudah sangat memudahkan kita dengan hanya perlu memantau kondisi temperatur melalui indikator dasbor. Temperatur kerja mesin normal adalah 80 – 90 derajat Celcius, atau di mobil yang dilengkapi indikator temperatur jarum, sedikit di bawah 1/2. Pentingnya indikator ini juga adalah mengukur apakah mobil sudah siap jalan atau belum. Jika temperatur belum naik, ya baiknya diamkan beberapa saat atau jalan pelan saja, toh RPM pada saat cold start sudah cukup tinggi untuk berjalan pelan.

Jadi ini sebenarnya adalah sistem yang sangat sophisticated dan tahan terhadap berbagai kondisi. Overheating pada mobil modern kasarannya hanya akan terjadi jika memang sistem pendingin kurang sehat. Atau, kondisi lalu lintas kurang bersahabat seperti di bawah ini :

Berita tahun 2013, sebuah Lamborghini overheat terkena “kejamnya” macet Jakarta

( https://www.viva.co.id/video/berita/30274-lamborghini-mogok-di-tol-depan-gedung-dpr )

Kejadian supercar overheat – atau malah terbakar akibat macet, sangatlah sering terjadi, apalagi di negara dengan cuaca yang sangat panas seperti Uni Emirat Arab, yang sialnya, adalah “surga” nya supercar. Ini adalah kasus khusus karena supercar rata – rata memiliki mesin dengan kapasitas besar dan performa tinggi, sistem pendinginannya juga didesain untuk berlari kencang. Kombinasi pendingin yang tidak mampu bekerja optimal saat macet + cuaca panas, jelas merupakan teror tersendiri bagi mobil – mobil “super” ini.

Tapi jelas untuk mobil yang memang didesain sebagai mobil sehari – hari, kejadian seperti ini sangat jarang sekali terjadi kecuali ada kesalahan pada sistem pendinginan, atau, cacat produksi. Toh selain cairan, oli juga memiliki fungsi sebagai pendingin.

Bagaimana dengan perjalanan jauh lewat tol ?

Sejauh perawatan sistem pendingin dan level air pendingin diperhatikan, perjalanan non-stop di tol tidak akan membebani mesin terlalu berat. Apalagi di tol kita rata – rata justru lebih banyak cruise dan tidak selalu gas pol. Ya selalu gas pol pun, nggak takut kehabisan bensin ? Belum lagi kalau kita gas pol terus otomatis juga konsentrasi sangat diperas dan bikin capek.

Di tol, mobil jelas mendapat pendinginan yang sangat-sangat optimal. Nyaris tanpa stop and go, aliran udara dan pertukaran panas berlangsung sangat baik di sana. Load mesin di tol juga cenderung rendah.

Apalagi kalau mobil anda adalah survivor dari kejadian Brexit tahun 2016 silam… Sudah pasti lulus uji “kegilaan” lalu lintas Indonesia. Jalan tol lancar mulus 9-10 jam jelas bukan apa – apa, beban mesin di kemacetan dan stop and go itu lebih ngeri.

Kemacetan parah di exit tol Brebes Timur tahun 2016 yang terkenal dengan peristiwa “Brexit”. Memakan waktu berhari – hari dan bahkan korban jiwa.

https://www.merdeka.com/dunia/empat-hal-yang-disorot-media-asing-dari-macet-horor-brexit.html )

Oh ya jangan lupa, contoh paling jelas mesin kendaraan yang non-stop menyala : bus AKAP, seringkali malah nyala lebih dari 24 jam. Kalau berhenti istirahat makan saja mesin seringkali nggak mati kok. Dan tau sendiri supir AKAP itu nyetirnya kenceng – kenceng. Mesin bus AKAP itu kalau dibilang mesin modern juga nggak modern – modern amat.

Bus AKAP, yang mesinnya setiap bekerja selalu “disiksa” lebih dari 24 jam.

http://jogja.tribunnews.com/2019/01/08/wacana-bus-trans-java-ditentang-pengusaha-bus-akap )

Ya anggep aja kalau anda punya minibus diesel sejuta umat – sebut saja namanya Kijang Innova – nggak beda – beda amat sama bus AKAP lah… Keep in mind kalau sebuah mobil keluarga itu oleh pabrikannya sudah diuji melalui berbagai kondisi ekstrem, yang lebih ekstrem dari pengendaraan non-stop di tol.

Perawatan Sistem Pendingin ?

Sebetulnya memperhatikan sistem pendingin itu tidak sulit. Kita sudah sangat terbantu dengan adanya reserve tank (tangki cadangan) dan pabrikan memang menyarankan pengguna untuk memeriksa lewat tangki cadangan saja. Tangki cadangan sangatlah mudah terlihat, yang perlu diperhatikan adalah ketinggian air di dalam tangki.

Cairan dalam tangki memiliki batas atas dan batas bawah, dan mengisinya tidak boleh terlalu penuh, tabung juga tidak boleh kosong.

( https://josephsetiawan.wordpress.com/automotive-isi-tabung-reservoir-radiator-tidak-boleh-melewati-garis-full/ )

Pabrikan memberi batas maximum-minimum. Batasan ini ada alasannya, karena terjadi sirkulasi pada sistem, harus ada yang keluar dan harus ada yang kembali, dan batasan ini merupakan batas yang diizinkan dalam siklus. Ketinggian air tidak boleh melewati batas maximum atau kurang dari batas minimum. Segera tambahkan air (distilled water, jangan air mineral karena berpotensi menimbulkan kerak / karat pada cylinder head) atau coolant waktu level cairan sudah di bawah minimum.

Air Suling / Distilled Water / Aquadest, merupakan cairan yang disarankan untuk mengisi air radiator.

https://s1.bukalapak.com/img/6246495691/w-300/aquadest_non_steril_scaled.jpg.webp )

Kalau ada gejala – gejala seperti di atas, cek kebocoran juga di selang – selang dan tutup radiator. Selang yang mulai getas juga bisa jadi penyebab kebocoran.

Kebocoran bisa jadi penyebab air radiator terus-menerus berkurang.

http://blog.belionderdil.co.id/hal-yang-menyebabkan-rusaknya-selang-radiator-serta-cara-mengatasinya/ )

Lalu yang tidak kalah penting, kipas. Karena kipas radiator bekerja secara elektris, sangat sulit memprediksi kapan kipas ini mati atau hidup. Cara termudah adalah memantau langsung dari indikator dasbor. Jika pada model gauge jarumnya tidak stabil, mungkin kipas mulai lemah. Sedangkan yang sulit adalah di beberapa mobil “murah” yang hanya dibekali lampu indikator suhu. Berikut beberapa tips pengecekan dari www.autoexpose.org :

Untuk menghindari hal itu kita harus melakukan pendeteksian sejak dini. Langkah ini bisa anda lakukan ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalan jauh menggunakan mobil misal ke luar kota.

  • Pertama, hidupkan mobil lalu hidupkan AC dalam kondisi suhu hangat.
  • Keluar dari mobil dan buka kap mesin.
  • Pada kondisi ini, kipas pendingin akan hidup dalam interval tertentu (kipas tidak selalu hidup) dan hembusan kipas juga tidak terlalu besar.
  • Lalu putar selektor suhu AC ke paling dingin, dan kembali amati kinerja kipas
  • Putaran kipas berlangsung lebih lama dan putarannya cepat (hembusan angin cukup besar)

Untuk mengetahui seberapa hembusan angin kipas memang tidak bisa dilakukan dengan indra perasa karena ini besifat relatif. Untuk lebih akurat, anda harus membiasakan diri anda melakukan pengecekan ini.

Sehingga ketika kipas lemah, anda bisa merasakan bahwa hembusan kipas tidak sekencang biasanya.

Menguras radiator juga merupakan suatu ritual wajib yang perlu dilakukan secara berkala. Biasanya dealer resmi sudah memasukkan dalam jadwal perawatan berkala. Kalaupun kuatir apakah sudah dilakukan atau belum, atau membeli mobil dalam kondisi bekas, baiknya dilakukan saja, apalagi kalau odometernya sudah gondrong (di atas 50.000 KM) atau tahunnya sudah cukup tua (di atas 5 tahun).

Selalu ingat bahwa pentingnya perawatan berkala adalah preventif, mencegah hal – hal buruk terjadi. Jangan sampai sudah kenapa – napa di jalan baru ingat ke bengkel.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *